Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH juga tersedia selengkapnya di sini!

Structured settlements Mesothelioma Acne Life Insurance Asbestos Bextra Bankruptcy Car Insurance Dental Plans Private Jets Debt Consolidation Credit Cards Canadian Pharmacy Online Trading Equity Line Credit Loans Mortgages Pay Day Loans Cash Advance Equity Loans Reduce Debt Refinance Jet Charter Rehab Wrongful death Legal Advice Taxes Investing Bonds Vioxx IRA Rollover Refinance Quotes Adult Education Distance Learning Alcohol Treatment Depression Drug Rehab Extra Money Cell Phone Plans Calling Cards VOIP Weight Loss Homeowner’s Insurance Rewards Cards Spam Filter Lasik Facelift Teeth Whitening Annuity Anti Virus Protection Adult Diaper Free Credit Report Credit Score Satellite Anti Spam Software Dedicated Hosting Domain Name Need Money Bachelor Degree Master Degree Doctorate Degree Work at Home Quick Book Spyware Eloan Malpractice Lawyer Lenox China Cancer Payperclick Personal Injury Attorney Lexington Law Video Conferencing Transfer Money Windstar Cruise Casinos Online Laptop Computer Online Banking Borrow Money Low Interest Credit Cards Personal Domain Name Cellular Phone Rental Internet Broker Term Life Cheap Hosting University Degrees Online Online Marketing Consolidate Business Credit Web Host Death Insurance Yellow Page Advertising Travel Insurance Register Domain Credit Counseling Email Hosting Trans Union Consumer Credit Blue Cross Helpdesk Software Purchase Structured Settlements Mesothelioma Lawyers San Diego Secured Loan Calculator Structured Settlement Investments Endowment Selling Mesothelioma Patients Mesothelioma attorney san diego Austin Texas dwi lawyers New York Mesothelioma Lawyers Phoenix dui lawyers Secured Loans Insurance Auto Phoenix dui attorney car free insurance online quote students debt consolidation loans Pennsylvania mesothelioma lawyers data recovery Denver adverse credit remortgages bad credit remortgages data recovery service los angeles Consolidating Students Loan Students Loan Consolidation Rates Boston dui lawyers memphis car insurance conference calling companies dui attornes los angeles georgia car accident lawyers san diego dui defense Phoenix arizona dui lawyers Los angeles dwi attorneys Student Consolidation Loans free quote for car insurance irs tax lawyers nj auto insurance dui san diego Los Angeles Criminal Defense Attorney Consolidating Private Student Loans Personal Injury Lawyer Chicago Personal Injury Attorney Pennsylvania Auto Insurance
MODUS ACEH

Index Utama

RSS Feed
Majelis Tinggi Partai, Muhammad Nazar saat melantik Ketua Umum DPP Partai SIRA, 2007

Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah

Minggu, 12 Pebruari 2012 jam 00:33:36 WIB
Kampanye Partai SIRA 2009

Ketika SIRA Harus Memilih

Minggu, 12 Pebruari 2012 jam 00:21:48 WIB

Muhammad MTA:

Nazar Tawarkan Saya Uang!

Minggu, 12 Pebruari 2012 jam 00:10:12 WIB
SU-MPR (Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum 1999) di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh.

SIRA Sudah tak Asin Lagi

Minggu, 12 Pebruari 2012 jam 00:00:38 WIB
Pasangan Muzakir Manaf dan Zaini Abdullah.

Melirik Taktik Si Partai Dominan

Sabtu, 11 Pebruari 2012 jam 22:10:25 WIB

Struktur TNA-TNI Sama

Sabtu, 11 Pebruari 2012 jam 21:57:15 WIB
Ayah Banta Bungkam Kapolda Mendua
Edisi
4
Ayah Banta Bungkam Kapolda Mendua
Mei 2012






Edisi
52
Tahun
VI
Rabu, 15 April 2009 jam 00:39:56 WIB
 

Persis, 9 April 2009 lalu. Seluruh rakyat Indonesia, tak kecuali Aceh, menggunakan haknya, mengikuti Pemilu Legislatif. Pemilu ke-10 dalam sejarah republik Indonesia ini, dimulai sejak Pemilu pertama tahun 1955.

Pertanyaan menarik adalah, apa makna Pemilu 2009 bagi rakyat Aceh? Maklum, selain memilih 38 caleg dari partai nasional, juga calon legislatif (caleg) yang diusung oleh enam partai politik lokal (parlok). Tentu saja, keunggulan ini tidak dimiliki provinsi lain.

Banyak yang memprediksi, untuk tingkat kabupaten/kota serta DPR Aceh, caleg parlok akan mengalahkan partai nasional. Dan, prediksi itu, selangkah lagi menjadi kenyataan.

Pemilu tahun ini merupakan Pemilu bersejarah di Aceh, pasca konflik dengan ditandatanganinya perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005 antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebelumnya, banyak pihak berharap, Pemilu tidak digelar di bawah ujung bedil. Para pemilihnya benar-benar merdeka menentukan hak pilih.

Maklum, sekedar mengulang saja. Ada beberapa kali pesta demokrasi ini, yang digelar di Aceh, sejak Orde Baru berkuasa, berada di bawah konflik. Sebut saja, era Daerah Operasi Militer dan Darurat Militer. Bahkan, Pemilu 1955 yang diakui sebagai Pemilu yang paling demokratis, kondisi Aceh saat itu dalam pusaran konflik DI/TII.

Pemilu 1955 berlangsung dua kali. Pertama, pada 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR. Kedua, 15 Desember 1955 untuk memilih anggota Dewan Konstituante. Pemilu tersebut, terlaksana ditengah letusan senjata. Sebab, 21 September 1953, mantan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo Teungku Muhammad Daud Beureueh, memproklamirkan berdiri Negara Darul Islam.

Untuk menumpas pemberontakan ini, Pemerintah mengirim empat batalyon tentara dan 13 batalyon Mobrig (Brimob) dengan harapan pemberontakan dapat dipadam pada akhir 1954. Nyatanya,  gerakan ini terus bergulir hingga akhirnya berdamai pada 1959. Bahkan, di Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur, Pemilu terpaksa ditunda pelaksanaan karena kawasan itu dibawah kendali tentara DI/TII.

Pemilu pertama pada zaman Orde Baru dilaksanakan, 5 Juli 1971. saat itu, kondisi politik dan keamanan di Aceh relatif tenang dalam arti tidak ada kekerasan bersenjata. Tapi, enam tahun kemudian digelar Pemilu pada 2 Mei 1977. Lima bulan sebelum pesta demokrasi ini digulirkan, DR Hasan di Tiro mendeklarasikan Aceh Merdeka, 4 Desember 1976.

Keputusan itu, dijawab pemerintah Jakarta dengan pengiriman tentara. Seperti Pemilu 1955, letusan bedil, ancaman kepada warga kerap terjadi di tiga daerah konsentrasi itu yakni di Pidie, Aceh Utara dan Aceh Timur. Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dengan lambang Ka’bah memetik kemenangan di Aceh. Jangan tanya Golkar, ketika itu masih menjadi barang asing di tanoh endatu: Aceh.

Pemilu kempat sejak Orde Lama dihancurkan, 4 Mei 1982. Kondisi Aceh seperti Pemilu 1955. Anggota Aceh Merdeka yang kemudian populer dengan sebutan GAM memilih tiarap. Ratusan anggota GAM mengikuti latihan militer di Kamp Tazura di Libya. Di Masa damai, PPP mendulang kemenangan di Tanah Rencong.

Menariknya, Pemilu kelima diadakan pada 23 April 1987. Di permukaan, kondisi Aceh tenang. Namun siapa duga, ABRI sejak 1982-1989 melancarkan Operasi Siwah untuk mencari sisa-sisa anggota GAM. Gubernur Aceh Prof Ibrahim Hasan gencar mengadakan kampanye untuk kemenangan Golkar. Dia berhasil memperkenal Golkar yang asing hingga akrab pada masayarakat.

Hasilnya, partai berlambang pohon Beringin ini bisa berdiri tegak di Serambi Mekkah. Sebuah stiga kemudian dimunculkan militer. Mau tenang dan aman, pilih Golkar. Kalau tidak, dicap GPK alias Gerombolan Pengacau Keamanan. Nama lain untuk gerilyawan GAM.

Pemilu keenam, 9 Juni 1992. Sejak Mei 1989 - 7 Agustus 1998, TNI menerapkan Operasi Jaring Merah yang lebih populer dengan Daerah Operasi Militer (DOM). Tak ayal, kampung-kampung yang dimenangi PPP, warganya terus melaksanakan ronda malam. Dalihnya, kampung itu tidak pro kepada Pemerintah yang diwakili Golkar. Sebaliknya, bila Golkar menang, warga lega karena bebas dari patroli militer.

Setali tiga uang dengan Pemilu 1992 , Pemilu ketujuh pada 29 Mei 1997 berlangsung dalam situasi tidak kondusif. Penduduk cukup pintar agar kekerasan berkurang dengan menusuk nomor dua yakni Golkar. Dalam kondisi konflik, terbukti Golkar meraih kemenangan di Aceh yakni pada Pemilu 1992 dan 1997.

Nah, 21 Mei 1998, reformasi datang. Pemilu kedelapan digelar pada 7 Juni 1999. Status DOM yang memberangus kebebasan berekspresi dicabut pada 7 Agustus 1998. Kalangan sipil menyerukan boikot Pemilu karena Pemerintah tidak serius mengurus pelanggaran HAM di masa DOM dan tuntutan lainnya. Hasilnya, 30 persen pemilih yang ke bilik suara. Pada era reformasi itu, PPP menoleh kemenangan di sana.

Pemilu di bawah bayang-bayang militer seperti pada Pemilu 1992 dan 1997, terulang lagi pada Pemilu 5 April 2004. Inilah masa getir proses berdemokrasi di Aceh. Sebab Pemilu ini dilaksanakan pada masa Darurat Militer yang dimulai sejak 19 Mei 2003 hingga status itu dicabut pada 2005 atau pasca tsunami 26 Desember 2004. hasilnya, Partai Golkar kembali unggul di daerah paling ujung barat dari Pulau Sumatera ini.

Lantas, bagaimanakah dengan Pemilu 9 April 2009 di Aceh, yang diikuti enam partai lokal? Walau banyak pihak telah memprediksikan akan dimenangkan Partai Aceh. Tetap saja kerinduan rasa aman dan tentram, tanpa ada rasa takut, menjadi harapan mayoritas rakyat Aceh.

Semua partai yang berkompetisi tunduk kepada asas Pancasila dalam kerangka NKRI. Sejurus dengan itu, mantan kombatan GAM, menutup rapat-rapat atau bahkan mengunci kotak peluru dan mengantikannya dengan kotak suara melalui Partai Aceh, guna mendapat mandat dari rakyat.

Apapun hasilnya, yang menang dan terpilih, harus siap menerimah amanah. Yang kalah, tetap saja terhormat.***
Rizki Adhar/dari berbagai sumber
Komentar ditutup.

Tarik Ulur Qanun KKR, Menanti Komitmen Zaini-Muzakir
Edisi
3
Tarik Ulur Qanun KKR, Menanti Komitmen Zaini-Muzakir
Mei 2012

Berita Terkini

Menurut Anda siapakah yang bakal menjadi gubernur Aceh mendatang?

Polling tidak aktif!

Haba Ulee Kareng

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

Berita Terakhir Dibaca



<Selasa, 22 Mei 2012 Jam 11:39
Sedang diakses oleh 39 orang. Hari ini 259 orang. IP Address Anda 38.107.179.236. Anda pengunjung ke 534772.