Ulee Balang Itu bernama:
Teuku Ben Mahmud
Lahir di Gampong Cot, Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, sekitar tahun 1860. Ayahnya, Teuku Ben Abbas, berasal dari Kampung Lhang, Tijue, Pidie. Dia adalah, Teuku Ben Mahmud, pejuang sekaligus ulee balang yang sangat di takuti marsose Belanda, karena kepiawaannya dalam bergerilya.
Namanya, memang tidak setenar pahlawan Aceh lainnya, sekaliber Teuku Umar, Teuku Chik Di Tiro, Panglima Polem dan. Namun, dedikasi dan pengorbanannya dalam melawan penjajahan Belanda patut di perhitungkan. Buktinya, Belanda memberikan gelar kepadanya sebagai gerilyawan ulung dan pemberontak (pejuang) berkaliber internasional.
Teuku Ben Mahmud, merupakan pemimpin gerilyawan yang paling dicari Belanda ketika itu. Maklum, daerah gerilya yang dia lakukan mulai dari Kuala Batu (Abdya) hingga ke Hulu Singkil (Aceh Singkil). Di bantu beberapa panglimanya, seperti H. Yahya dari Alue Paku, Sayed Abdurrahman dari Terbangan, Teuku Ben Mahmud berjuang melawan serdadu Belanda.
Oktober, 1900, Blangpidie dikuasai marsose Belanda. Sejak itu pula, Teuku Ben Mahmud, memutuskan untuk bergerilya ke berbagai daerah. Marsose Belanda, dibawah komando Letnan Helb kalang kabut dibuatnya. Simak saja, tepatnya, 7 April 1901, dengan kekuatan sekitar 500 orang pejuang, Teuku Ben Mahmud melakukan penyerangan terhadap marsose Belanda. Alhasil, serdadu Belanda pun kucar kacir dibuatnya.
Berikutnya, sekitar tahun 1905, Tangsi Blangpidie jadi target. Dengan kekuatan sekitar 200 orang, tangsi itu pun di gempur pejuang di bawah komando Teuku Ben Mahmud. Namun, untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Dalam penyerangan ini, 47 orang pasukan Teuku Ben Mahmud, syahid di tangan marsose.
Walau demikian, tak membuat Teuku Ben Mahmud dan pasukannya patah arang. Semangat jihad dalam rangka membasmi marsose Belanda di “Bumi Aceh” tetap berkobar. Strategi bergerilya pun dilanjutkan guna menyusun serangan demi serangan.
Sebelumnya, sekitar tahun 1895, Teuku Ben Mahmud juga menyerang Tapaktuan, karena diduga bekerjasama dengan marsose Belanda yang saat itu dipimpin Teuku Larat. Dalam penyerangan itu, Cut Intan Suadat, putri dari Teuku Larat juga ikut ditawan.
Namun, akhirnya, Cut Intan Suadat dinikahkan dengan Teuku Banta Sulaiman yang tak lain adalah putera dari Teuku Ben Mahmud. Penyerangan tersebut dikenal dengan perang “Jambo Aye”, itu disebabkan panglima yang memimpin serangan itu adalah Tengku Jambo Aye, berasal dari Seunagan, Nagan Raya (dulu Aceh Barat).
Marah, bingung, kalang kabut, itulah yang dialami marsose Belanda saat menghadapi Teuku Ben Mahmud dan pasukannya. Namun, bukan Belanda namanya, kalau tidak memiliki akal yang licik. Berbagai cara dan upaya dilakukan guna melumpuhkan perlawanan yang dilakukan Teuku Ben Mahmud.
Mulai dari penyanderaan sampai bujukan agar Teuku Ben Mahmud mau turun gunung. Tepat, sekitar tahun 1908, Kapten W.B.J.A Scheepens, seorang ahli tentang sejarah dan budaya Aceh serta mahir berbahasa Aceh, berusaha membujuk Teuku Ben Mahmud agar mau turun gunung. Teuku Ben Mahmud dan 160 orang pasukannya turun gunung, dengan syarat pasukannya yang sudah dibuang keluar daerah agar dikembalikan lagi.
Setelah turun gunung dan dalam pengawasan serdadu Belanda, tawaran untuk mengendalikan Zelfbestuurder Blangpidie pun diberiakan oleh Belanda. Namun, itu ditolaknya, dan diserahkan kepada putranya, Teuku Banta Sulaiman.
Turun gunung dan dipaksa bekerjasama dengan Belanda, bukan berarti kebenciannya terhadap Belanda pudar. Secara diam-diam, Teuku Ben Mahmud tetap memberikan semangat kepada kader-kader muslimin agar tetap melakukan perlawanan.
Mata-mata serdadu Belanda jadi target untuk dibunuh. Rupanya, gerak gerik Teuku Ben Mahmud pun tercium pihak marsose. Dianggap membahayakan, akhirnya marsose Belanda mengasingkan Teuku Ben Mahmud dan beberapa pengikutnya ke Ambon pada tahun 1911.
Setelah Teuku Ben Mahmud diasingkan, jabatan hulubalang Negeri Blangpidie dilanjutkan putranya, Teuku Banta Sulaiman. Namun, dia pun dicurigai oleh Belanda dan diasingkan ke Aceh Timur tahun 1919. Lalu, dipindahkan ke Kuta Raja hingga masuknya Jepang ke Aceh.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Untuk Generasi Baru Sepak Bola Aceh
Hampir setiap kabupaten/kota di Aceh terdapat Sekolah Sepak...
Teuku Ben Mahmud
Marsose Belanda menyebutnya sebagai seorang gerilyawan...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Mampu Menerobos Daerah Terpencil
SELAMA delapan tahun hadir di tengah-tengah masyarakat...
Uang Palsu di Tanoh Endatu
Peredaran uang palsu (upal) kembali marak. Sejumlah kasus...









