EMI SUNARTI, hanya bisa pasrah dan mengeluarkan air mata. Istri korban perampokan komplotan bersenjata api, yang diduga jenis AK-47 itu, masih tampak trauma.
Sesekali, wanita yang sedang hamil sembilan bulan ini tak kuasa berbicara, saat diminta untuk bercerita tentang motif dibalik tewasnya Supriono, sang suami tercinta. Beberapa patah kata keluar dari mulutnya. Menurut Emi, pembunuhan suaminya memang sudah direncanakan. “Jika bukan direncanakan, tidak mungkin suami saya dibunuh, kalau komplotan tersebut mau uangnya, tentu menggasak uangnya saja,” kata Emi Sunarti, Kamis pekan lalu di rumahnya, di Desa Babussalam, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara.
Menurut Emi, sebelum suaminya dibunuh Jumat, 14 Oktober lalu, sekitar pukul 19.30 WIB, Supriono menggunakan baju kaos oblong putih dan celana pendek warna hijau.
Jumat malam, dua pekan lalu itu, Supriono kelahiran 2 Desember 1976 ini, sedang menyelesaikan pekerjaan dengan sebuah laptop. Maklum, selain berpropesi sebagai toke getah, Supriono juga dipercaya sebagai bendahara desa serta Wakil Ketua Koperasi Unit Desa (KUD) Tani Jaya.
Malam itu, suasana hening dan sepi. Tiba-tiba, dari arah depan rumahnya datang enam “tamu” tak diundang dengan sepeda motor. Setelah memarkirkan sepeda motor mereka, empat orang diantaranya turun dan langsung menuju depan pintu rumah. Tanpa curiga, Supriono yang sedang menyelesaikan tugasnya, langsung membuka pintu.
Bersamaan dengan itu, empat pria yang kemudian diduga melakukan perampokan, langsung masuk ke dalam rumah. Tanpa basa-basi, komplotan bersenjata itupun menodong korban. “Serahkan uang yang kamu tarik di bank tadi,” kata salah seorang pria dari mereka pada Supriono. Emi sendiri mengaku ikut mendengar langsung ucapan perampok tersebut.
Mendapat ancaman serius itu, Supriono ketakutan. Dia menjawab: tidak ada uang pada saya. Merasa ada yang tidak beres, Emi keluar dari gudang atau garasi menuju suaminya. “Ada apa ini Bang,” tanya Emi kepada Supriono.
Kehadiran Emi tak membuat para perampok kecut. Sebaliknya, dengan berani bertanya dan mengancam korban. “Brangkasnya mana?” tanya perampok itu lagi. Kembali dijawab korban. “Kami tidak memiliki berangkas”.
Entah merasa dipermainkan, antara kawanan perampok dengan Supriono sempat terjadi perang mulut. Bersamaan dengan itu, mereka mengeluarkan dua pucuk senjata api laras panjang, diduga jenis AK-47 dan satu pucuk pistol jenis Colt CPP dan diarahkan ke badan Supriono.
Melihat keadaan tersebut, Emi bergegas mencarikan uang yang disimpan suaminya tadi. Akhirnya, Emi menemukan sebuah kalengan yang berisikan uang arisan kaum ibu-ibu desa tersebut dan langsung diambilnya.
Dalam kalengan itu, Emi menjumpai uang sekitar Rp 15 juta dan langsung diserahkan kepada rampok. “Ini tidak cukup, yang ditarik tadi mana,” tanya mereka yang terkesan sudah tahu persis kalau korban pagi harinya ada menarik uang di bank.
Suasana semakin tegang dan panas. Satu pria berbadan besar kerap bertanya kepada Supriono, sementara dua temannya mengarahkan senjata ke Supriono. “Sedangkan satunya lagi memegang sebongkah batu yang hendak ditimpahkan pada kepala Supriono,” cerita Emi, Kamis pekan lalu.
Karena ancaman itulah, Emi pun kembali mencarikan uang untuk diserahkan pada perampok tadi. Hasilnya, tak lama kemudian uang dengan nilai Rp 15 juta pun didapatkannya dalam sebuah laci kamar tidur dan langsung diserahkan kepada kawanan perampok.
Tak cukup itu, para kawanan bandit ini tetap ngotot dan meminta uang yang ada dalam brangkas. Belum aksi mereka tuntas, satu diantara enam anggota kompolotan malam itu, kemudian mengeluarkan satu tembakan, persis mengenai bagian kiri tangan korban dan aquarium ikan, dekat pintu garasi ruang tamu, kaca pecah dan berhamburan di lantai.
Saat itu, Emi sempat menghindar ke kamarnya, sementara Supriono suaminya mencari jalan keluar untuk mengelak. Namun, takdir berkata lain, dari arah jalan depan halaman rumahnya, ternyata masih ada dua orang anggota perampok dalam posisi siap siaga dan langsung memuntahkan peluru senjata laras panjang yang mengakibatkan dada kiri Supriono tembus ke bagian rusuk belakang.
Setelah yakin korban tewas, kawanan perampok itu kabur. Baru kemudian, Emi berani keluar dari kamarnya dan melihat badan suaminya bersimbah darah.
Kabarnya, begitu mendengar suara letusan senjata api dari rumah Supriono, beberapa warga sempat keluar rumah dan hendak menuju rumah korban, tapi dihalau oleh dua pria bersenjata api. Malam itu, Supriono yang sudah tidak bernyawa, sempat menjadi tontonan warga sekitar lima jam, sebelum pihak Kepolisian sampai ke Tempat Kejadian Perkara (TKP).
Istri korban, Emi mengungkapkan, malam itu juga suaminya dibawa ke rumah sakit dengan harapan bisa tertolong. Namun, ia bersama keluarga serta tetangga tak diizinkan menyentuh korban dengan alasan polisi belum datang.
Warga sekitar sempat kecewa kepada aparat Kepolisian dari Polres Aceh Utara, yang terkesan lambat datang ke TKP. “Sebenarnya, kami sempat kejar-kejaran dengan perampok. Namun, setelah kami ketahui mereka ada senjata api, kami mundur kembali,” kata salah seorang warga di sana, Kamis pekan lalu.
Sejumlah sumber di TKP kepada media ini menjelaskan, hingga Jumat pekan lalu, polisi sudah mengetahui ciri-ciri si pelaku. Dua diantaranya sudah terindifikasi.
Paska penembakan, polisi dari Resort Aceh Utara, melakukan penyisiran. Hasilnya, dua unit sepeda motor yang diduga milik pelaku, yakni Revo berwarna hitam plat putih BL 6701 XD, dan sepmor Matic Honda Spacy tanpa nomor berwarna putih, berhasil diamankan. Termasuk, sepucuk senjata pistol yang sempat mengancam Emi berserta empat butir peluru yang masih aktif.
Selain itu, anggota polisi dari Polres Aceh Utara, sudah berhasil mengamankan barang bukti lain. Misalnya, satu kertas jimat, sepatu PDL, dua unit helm berwarna biru dan hitam serta satu jaket kulit berwarna hitam putih yang diduga, digunakan pelaku beberapa hari, setelah kejadian.
Kapolres Aceh Utara AKBP Farid Bakhtiar Effendi, saat dijumpai media ini, Kamis pekan lalu, tidak bersedia berkomentar panjang. “Kasus tersebut masih dalam penyelidikan, lebih lengkapnya tanyakan Kasat Reskrim saja,” katanya.
Sementara, AKP Marzuki SH MH, kepada MODUS ACEH menjelaskan, pihaknya sedang mengupayakan penyelidikan lebih lanjut. “Kita sedang berkerja, kita juga sedang menyelidiki kasus ini, namun maaf saja untuk saat ini saya sedang berada di Sigli,” ungkap Kasat Reskrim Polres Aceh Utara ini. Kalau begitu, kita tunggu saja hasil kerja polisi.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Uang Raib Nyawa Melayang
Seorang toke getah di Aceh Utara, tewas setelah ditembak...
Inflasi, Suatu Dilema Perekonomian
Perekonomian Nanggroe Aceh Darussalam menjelang kuartal...
Antara Santet dan Pemburu Hantu
Tindakan anarkis yang dipicu isu santet, kembali terjadi di...
Hasan... Oh... Hasan...!
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Aceh, Hasan...
Pak Dewan Kepincut Ranum Perawan
Awalnya suka sama suka. Kemudian menabur janji. Tak...
Teror Granat di Pagi Buta
Teror granat kembali mengguncang Kota Lhokseumawe. Kali...









