Hawa dingin menusuk tulang di Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen, Sabtu malam, pekan lalu. Maklum, desa tersebut letaknya persis di bibir pantai, yang tentunya selalu diterpa angin laut.
Makanya, kebanyakan warga di sana malam itu lebih memilih cepat-cepat ke peraduan. Tak terkecuali Aisyah, salah seorang warga setempat. Perempuan berusia sekitar 60 tahun itu, juga hendak tidur. Apalagi waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB.
Namun, niat perempuan itu untuk merebahkan badannya di pembaringan, tiba-tiba terganggu. Masalahnya, sayup-sayup dari kejauhan, Aisyah mendengar suara gaduh. Seketika dia beranjak ke ruang tamu, agar pendengarannya lebih jelas. Ternyata suara berisik itu semakin mendekati rumahnya.
Beberapa saat kemudian, sejumlah orang sudah berada di halaman rumahnya. Mereka membawa parang, pentungan dan benda tajam lainnya. Dalam waktu sekejap, jumlah mereka semakin banyak. “Keluar...! keluar kau sihir....!” teriak mereka ramai-ramai. Sebagian di antara mereka ada yang melempari rumah itu dengan batu. “Tamtum! Tamtum! Tamtum...!” terdengar suara dinding dan atap rumah dihujani batu.
Aisyah semakin ketakutan di dalam rumah bersama seorang cucunya. Dia sudah pasrah dan tak dapat berbuat apa-apa lagi. Untunglah dalam kerumunan warga, ada perangkat desa. Mereka cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan mengamankan Aisyah bersama cucunya dari amukan massa. Namun Aisyah sempat juga terkena timpukan batu di bagian kepalanya.
Sementara massa semakin ramai memenuhi jalan dan halaman rumah Aisyah. Massa yang semakin beringas, kemudian membakar rumah yang selama ini didiami Aisyah bersama suaminya, Ismail Abdullah (70) dan satu unit rumah semi permanen. Satu unit lagi rumah anak mereka, milik Ilyas (40) yang berada dalam satu kompleks, juga ikut dibakar massa. Tapi kedua rumah tersebut, sudah beberapa lama tidak ada penghuninya.
Dalam waktu sekejap, rumah semi permanen (rumah dasar milik Ismail Abdullah) beserta isinya ludes dilalap si jago merah. Sedangkan dua unit rumah permanen lagi milik Ismail dan anaknya, Ilyas, tinggal beton dan atapnya saja. Seisi kedua rumah tersebut, juga habis terbakar. Termasuk menghanguskan puluhan goni berisi padi yang berada di dalam rumah Ismail. Tidak berhenti sampai di situ saja. Sejumlah pohon kelapa dan pinang yang ada di halaman rumah, juga ikut mereka tumbangkan ke atas atap ketiga bangunan tersebut.
Sebenarnya, saat api baru saja menjalar, tiga unit mobil pemadam kebakaran (damkar) Pemkab Bireuen sudah meluncur ke lokasi. Namun warga yang sedang beringas, tidak mengizinkan petugas damkar menjalankan tugas mereka. Alasannya, agar mereka terhindari dari ekses tindakan massa yang sedang mengamuk.
Tak dapat berbuat banyak, para petugas dakmar kemudian balik arah dan kembali ke markas mereka. Aparat Kepolisian dari Polsek Jeumpa, juga tidak mampu menghentikan tindakan anarkis itu. Mereka hanya berjaga-jaga dan mengamankan lokasi, agar aksi mereka tidak meluas.
Tak pelak, massa yang jumlahnya diperkirakan mencapai ribuan orang itu, begitu leluasa melempar benda apa saja ke dalam kobaran api. Akibatnya, lidah api semakin membumbung tinggi. “Tum...! Tum...Tum....!” terdengar suara letusan membahana dari dalam kobaran api, yang memecahkan kesunyian malam.
Massa baru membubarkan diri menjelang subuh. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan tertib. Pagi harinya, aparat Kepolisian langsung memasang police line dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Lalu, apa yang memicu tindakan anarkis massa terhadap kediaman Ismail sekeluarga? Berdasarkan keterangan sejumlah warga desa setempat, pemicunya karena isu santet. Mereka menuding, selama ini Ismail mengamalkan ilmu hitam atau santet.
Dengan ilmu santetnya itu, dia diduga telah banyak mengguna-gunai warga desa pesisir itu. Para santri Darul Islam di desa tersebut, juga sering kesurupan yang diduga disantet Abdullah. Sehingga keberadaannya di sana sangat terganggu dan meresahkan masyarakat setempat. “Warga marah, karena kalau ada orang sakit dan kesurupan, selalu menyebut-nyebut dia sebagai pelaku santet,” ungkap seorang perempuan setengah baya kepada MODUS ACEH, ketika sedang menonton aksi pembakaran rumah Ismail sekeluarga malam itu.
Menurut perempuan yang tidak ingin namanya dipublikasikan tersebut. Dua pekan lalu rumah dasar milik Ismail Abdullah tadi, juga sudah pernah dibakar massa. Namun yang terbakar hanya bagian dapurnya saja. Ismail juga hendak dihakimi massa. Untunglah ketika itu polisi cepat-cepat datang dan langsung mengamankannya ke Mapolsek Jeumpa.
Sejak saat itu, masyarakat melarang Ismail pulang ke rumahnya. Makanya buat sementara waktu, dia di amankan dan tinggal bersama salah seorang putrinya yang sudah berkeluarga di sebuah desa di Kecamatan Kota Juang.
Namun, setelah Ismail tidak berada lagi di kampung, isu santet belum lenyap juga. Masyarakat di sana masih saja ada yang sakit atau kesurupan yang diduga kena santet. Puncaknya Sabtu malam itu, belasan santri di Dayah Darul Islam kesurupan. Mereka tumbang seorang demi seorang. “Dalam kondisi kesurupan, para korban menyebut-nyebut Ismail yang menyuruh datang dan merasuki mereka,” ujar seorang perangkat desa yang juga tidak ingin disebut namanya.
Makanya, kata dia, masyarakat berkeyakinan, Ismail telah menyantet mereka lagi. Apalagi sebelumnya sempat berkembang kabar, ada yang melihat Ismail sudah pulang ke rumahnya malam itu. Spontan saja, masyarakat tersulut emosi dan melampiaskan kemarahan mereka, dengan membakar rumah Ismail sekeluarga.
Kapolres Bireuen, AKBP Yuri Karsono, Sik, melalui Kapolsek Jeumpa, Iptu Syamsul, SH, yang dikonfirmasi MODUS ACEH di ruang kerjanya, Minggu, 16 Oktober lalu mengatakan. Sejauh ini pihaknya masih mengumpulkan bukti-bukti berdasarkan pengaduan Aisyah, istrinya Ismail Abdullah, terhadap pembakaran rumah mereka sekeluarga. “Dalam waktu dekat ini, kami akan memanggil mereka-mereka yang terlibat dalam aksi pembakaran tersebut,” ujar Syamsul.
Selama ini, jelas Syamsul, keluarga Ismail, termasuk Ilyas dan adiknya, Nurdin, telah mereka amankan pasca insiden sebelumnya, yaitu sekitar dua pekan lalu. Namun yang mengherankannya, kenapa tiba-tiba Sabtu malam itu massa kembali membakar rumah keluarga Ismail Abdullah.
Padahal, kata Syamsul, pihaknya hendak melakukan pertemuan dengan perangkat Desa Batee Timoh, tokoh ulama serta keluarga Ismail Abdullah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut secara kekeluargaan. Sebab, menurut pengakuan Ismail, dirinya tidak mengguna-gunai para warga maupun santri Dayah Darul Islam. “Tapi tiba-tiba mereka sudah bertindak dan main hakim sendiri. Makanya, kasus pembakaran rumah itu tidak dapat ditolerir dan tetap kami proses sesuai aturan hukum yang berrlaku,” tegas Syamsul.
Tindakan kekerasan yang dipicu isu santet, memang bukan kali ini saja terjadi di Kabupaten Bireuen. Nur Asmah (40) juga sudah pernah mengalaminya. Rumahnya di Desa Tanoh Anoe, Kecamatan Jangka, juga dibakar massa pada 28 Februari 2008. Perempuan itu juga dituding mengamalkan ilmu hitam dan sering menyantet masyarakat setempat.
Kemudian Nur Asmah sekeluarga diusir dan tidak dibenarkan lagi tinggal di desa tersebut. Sehingga Nur Asmah terpaksa hengkang dari desa itu. Akibatnya, dia bersama beberapa anaknya yang masih kecil-kecil, terkatung-katung dan tidak punya tempat tinggal lagi.
Hal yang sama juga dialami Nurqadimah binti Adam alias Mak Bagok (49), warga Desa Blang Bladeh, Kecamatan Jeumpa. Rumahnya dibakar sejumlah warga setempat pada 4 Februari 2009. Para pelaku juga menganiaya Mak Bagok sampai babak-belur. Sehingga, perempuan itu menderita luka-luka cukup parah di sekujur tubuhnya.
Penyebabnya, Mak Bagok juga dituduh sebagai dukun yang sering menyantet warga setempat. Kasus tersebut kemudian berakhir dengan perdamaian. Begitupun, Mak Bagok sekeluarga tetap diusir dan harus meninggalkan desa itu.
Peristiwa yang lebih tragis lagi dialami Abu Bakar bin Ishak alias Baka Bayak (72), warga Desa Juli Keudee Dua, Kecamatan Juli. Dia juga harus meregang nyawa, karena dituduh sebagai dukun santet.
Baka Bayak dibacok tetangganya sendiri, Salahuddin (30), pada 28 Januari 2009 di areal persawahan desa tersebut. Salahuddin menuduh Baka Bayak telah menyantet istrinya, sehingga dia menderita gatal-gatal. Tersangka kemudian berhasil ditangkap polisi dan diproses hukum.
Yang lebih ekstrim lagi dialami Sulaiman Rasyid (50). Petani itu ditembak hingga tewas pada 21 Desember 2009 di kawasan jalan desanya, Lheue Barat, Kecamatan Jeunieb. Pelakunya, Bahagia bin Murjani (23) bersama rekan-rekannya yang juga warga setempat. Sama juga seperti para koban tadi. Bahagia nekat mengahabisi Sulaiman, karena dia dituduh telah menyantet keluarganya.
Bukan hanya itu, masih ada beberapa lagi kasus penganiayaan dan pembakaran rumah di Kabupaten Bireuen yang bermotifkan santet. Pihak kepolisian setempat sudah mengupayakan berbagai cara untuk meredam berbagai tindak kekerasan yang diakibatkan isu santet.
Bahkan ketika Kapolres Bireuen masih dijabat AKBP. T. Saladin, SH, sampai membentuk “Tim Pemburu Hantu”. Tujuannya, untuk mengantisipasi tindakan anarkis di kalangan masyarakat yang kerap termakan isu santet.
Anggota tim ini direkrut dari para Teungku Imum, ulama dan kalangan pesantren yang ada di Kabupaten Bireuen. Setiap permasalahan yang berkaitan dengan ilmu kebathinan di kalangan masyarakat, dapat melaporkan kepada pihak kepolisian.
Baru kemudian polisi menurunkan Tim Pemburu Hantu itu. Merekalah nanti yang akan menanganinya dengan ilmu kebathinan. “Dengan begitu, kita harapkan tindakan anarkis atau main hakim sendiri dapat dihindari,” begitu penjelasan Saladin ketika itu, ketika ditanya alasannya membentuk tim tersebut.
Hasilnya, memang tidak sia-sia. Tindakan main hakim sendiri yang dipicu isu santet, dapat diminimalisir. Tapi sayangnya, seiring pemindahan tugas Saladin sebagai Kapolres Bireuen pada Juni 2010, Tim Pemburu Hantu itu pun, dengan sendirinya lenyap begitu saja. Akibatnya, tindakan kriminal di kalangan masyarakat yang termakan isu santet, bermunculan lagi.
Agaknya, perlu dipertimbangkan untuk “membangkitkan” kembali Tim Pemburu Hantu. Sebagai upaya pencegahan, agar tindakan anarkhis yang dipicu isu santet, tidak terjadi lagi.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Antara Santet dan Pemburu Hantu
Tindakan anarkis yang dipicu isu santet, kembali terjadi di...
Hasan... Oh... Hasan...!
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Aceh, Hasan...
Pak Dewan Kepincut Ranum Perawan
Awalnya suka sama suka. Kemudian menabur janji. Tak...
Teror Granat di Pagi Buta
Teror granat kembali mengguncang Kota Lhokseumawe. Kali...
“Mungkin Ini Shock Therapy Buat Saya...”
Empat hari paska kejadian penggranatan rumah milik Ketua...
Dibalik Teror Aceh
Akhir-akhir ini telah terjadi beberapa kejadian yang...









