Partai Demokrat, Nazaruddin dan Fulus Wisma Atlet
Katakan Bisa untuk Korupsi!
ENTAH sudah direncanakan lebih dulu atau kebetulan saja, yang pasti mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin, dengan mulus melangkah, melawati pintu penjagaan (baca x-ray—red) di Terminal Keberangkatan Internasional, Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, selanjut terbang ke Singapura, 23 Mei 2011, lalu. Padahal, sehari sebelumnya sudah terbit surat permohonan pencekalan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke pihak Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM. Sayang, petugas imigrasi di bandara internasional tersebut, terkesan ogah untuk melirik politisi muda ini. Hingga kini tidak jelas jejaknya di negeri yang menjadi surga bagi para koruptor itu.
Nah, persis 23 Juli 2011, genap sudah dua bulan Nazaruddin kabur. Lagi-lagi, kepergiaan anak muda asal Simalungun, Sumatera Utara tersebut, belum terhendus aparat penegak hukum, baik kepolisian maupun Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang muncul ke publik melalui media adalah, pernyataan normatif. Seolah-olah, kedua institusi ini sudah bekerja ekstra keras untuk menangkap Nazaruddin.
***
Awalnya, sejumlah petinggi Partai Demokrat berdalih Nazaruddin ke Singapura karena ingin berobat. Namun, publik tidak yakin alasan tersebut. Kepergian Nazaruddin ke Singapura dianggap upaya menghindar dari jerat perkara yang melilitnya. Nazaruddin menjadi tersangka kasus suap pembangunan proyek Wisma Atlet di Jakabaring, Palembang senilai Rp 191 miliar.
Sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Demokrat mengirim tim untuk menemui Nazaruddin di Singapura. Tim itu terdiri: Jhony Allen, Jafar Hafsah, dan Sutan Bhatoegana. Ketiganya bertemu Nazaruddin di sebuah tempat. Kepada utusan Demokrat itu, Nazaruddin berjanji akan kembali ke Indonesia jika telah selesai menjalani rangkaian pengobatannya dan mengklarifikasi seputar kasus yang melilitnya.
Sayangnya, utusan Demokat itu tidak menjelaskan alamat Nazaruddin di Singapura. Sementara publik mendesak Nazaruddin kembali ke Indonesia karena statusnya sebagai tersangka. Kini, Nazaruddin justru dengan bebas melakukan serangan via BlackBerry Messenger dan wawancara ekseklusif dengan berbagai stasion televisi swasta dari Singapura yang kemudian memunculkan kepanikan sejumlah petinggi Partai Demokrat.
Dari persembunyian, dia menuduh koleganya turut menerima suap. Nama-nama pentolan Partai Demokrat seperti Ketua Umum Anas Urbaningrum, Sekretaris Dewan Pembina Andi Mallarangeng, Wakil Sekjen Angelina Sondakh, Ketua Fraksi Demokrat di DPR Mohammad Jafar Hafsah, dan Mirwan Amir disebut-sebut terkait dengan kasus suap wisma atlet. Bahkan, dia juga menyebut politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Wayan Koster dan semua pemimpin Badan Anggaran DPR kecipratan suap proyek tersebut. Mereka yang disebut-sebut terlibat dalam skandal suap pun membantah tudingan Nazaruddin.
***
Bagi Demokrat, kasus Nazaruddin bagai tsunami yang dapat menggulung Demokrat. Sejak awal kasus ini mencuat, isu perpecahan pun menghantam partai berlambang “bintang mercy” itu. Meski kemudian semua petinggi Demokrat menangkis isu adanya perpecahan. Isu adanya perpecahan sempat berembus kencang karena adanya konflik laten antara kubu Anas Urbaningrum, Marzuki Alie, dan Andi Malarangeng usai pemilihan kongres pemilihan Ketua Umum Partai Demokrat beberapa waktu lalu.
Saat Nazaruddin kabur ke luar negeri, publik pun tersentak oleh sepak terjangnya di sejumlah proyek berskala besar di negeri ini. Belumlah beres dengan perkara wisma atlet, Nazaruddin diketahui pernah memberi uang kepada Sekretaris Jenderal Mahkamah Konstitusi Janedri M Gaffar dalam dua amplop senilai Sing$120 ribu atau Rp816 juta. Kabar itu disampaikan Ketua MK Moh Mahfud MD kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu melalui surat. Nazaruddin memberi uang itu tidak menyebut ada kepentingan perkara yang ditangani MK. Namun, Mahfud menduga Nazaruddin berupaya mengooptasi MK.
Lalu, temuan Komite Pemantau dan Pemberdayaan Parlemen Indonesia (KP3-I) yang melapor dugaan penyelewenangan tender di Kementerian Kesehatan ke KPK juga menyeret Nazaruddin. Politisi keturunan timur tengah itu diduga merekayasa lelang lewat PT Buana Ramosari Gemilang.
Koordinator Divisi Investigasi dan Publikasi KP3-I Leonardus Pasaribu menilai janggal karena PT Buana Ramosari Gemilang yang tidak memiliki kompentensi mengerjakan proyek kesehatan justru memenangkan tender. Sepupu Nazaruddin, M Nasir bersama Mindo Rosalina Manulang yang menjadi tersangka dalam kasus suap proyek wisma atlet Sesmenpora dan Marisi Matondang, diduga memainkan peran dalam memenangkan tender.
Tak hanya itu, istri Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni yang kini buron diduga terlibat dalam kasus suap pengadaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Neneng beberapa kali mangkir dari panggilan KPK untuk diperiksa. Dia diduga menjemput suaminya di Singapura.
***
Dalam wawancara dengan Metro TV, Selasa petang (19/7/2011), mantan Bendahara Umum DPP Partai Demokrat M Nazaruddin mengaku masih berada di luar negeri. Ia mengajukan sejumlah syarat untuk kembali ke Tanah Air. Salah satunya, jika ada bukti yang menunjukkan bahwa ia menerima aliran dana “haram”. “Kalau ada bukti bahwa ada aliran uang ke saya, saya akan kembali ke Indonesia,” kata Nazaruddin, dalam wawancara tersebut.
Hal lainnya, seperti pernah diungkapkan kepada sejumlah media, Nazaruddin kembali menguak adanya permainan dalam sejumlah proyek di pemerintahan oleh para elite Demokrat. Ia banyak mengungkap aliran uang ke Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Anas Urbaningrum. Puluhan miliar, kata Nazaruddin, digelontorkan untuk pemenangan Anas.
“Dari proyek Ambalat, untuk pemenangan Anas Rp 50 miliar. Dibawa dengan mobil boks yang dibawa Ibu Yuliani. Dan Ibu Yuliani sekarang dilindungi Anas,” papar anggota Komisi VII DPR itu.
Selain itu, kata Nazaruddin, ada pula uang sebesar Rp 35 miliar yang digunakan untuk pemenangan Anas. “Semua tahu, uangnya dari proyek mana, dari siapa ngambil-nya,” ujar Nazaruddin.
***
Sejak meninggalkan Tanah Air pada 23 Mei 2011, Nazaruddin kerap memberikan kejutan melalui pernyataan-pernyataannya yang diungkapkan melalui pesan BlackBerry Messanger kepada sejumlah wartawan. Kini, ia telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap proyek wisma atlet Sea Games. Statusnya sebagai kader Demokrat juga telah resmi lepas, setelah ia mendapatkan peringatan ketiga dan dipecat dari partai bentukan Susilo Bambang Yudhoyono tersebut.
Seperti diwartakan situs INILAH.COM, M Nazaruddin terus bernyanyi. Kali ini dia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memeriksa pimpinan Banggar dari Partai Demokrat Mirwan Amir. “KPK harus panggil Mirwan Amir. Karena dia yang terima uang itu,” kata Nazaruddin melalui pesan singkatnya kepada wartawan, di Jakarta, Senin (20/6/2011).
Nyanyian merdu Nazaruddin, terkait pernyataan Mirwan Amir atau akrab disapa Ucok, anggota DPR-RI asal Aceh yang membantah tudingan Nazaruddin terkait aliran dana proyek pembagunan Wisma Atlet SEA Games, di Palembang.
Menurut Nazaruddin, anggota Banggar Fraksi Demokrat Angelina Sondakh dan anggota Banggar Fraksi PDIP I Wayan Koster sama sekali tidak menikmati ataupun mendapat bagian dari aliran dana proyek pembagunan Wisma Atlet. “Kalau Angelina dan Wayan hanya lewat saja,” ujarnya.
Nazaruddin menambahkan saat pertemuan dengan Tim Pencari Fakta Fraksi Demokrat, Mirwan mengakuinya. “Waktu di pertemuan itu Mirwan mengaku itu,” paparnya. Dia mengungkapkan otak dari semua kasus suap Sesmenpora itu adalah Wakil Ketua Badan Anggaran (Banggar) dari FPD Mirwan Amir. “Otaknya Si Mirwan. Angelina Sondakh dan Wayan Koster hanya lewatan. Mirwan yang menikmatinya bersama dengan semua pimpinan Banggar lainnya. Uang sebanyak Rp 8 miliar dibagi-bagikan ke semua pimpinan Banggar,” ujar Nazaruddin melalui Blackberry Messenger (BBM), Senin (20/6).
Nazaruddin meminta KPK memanggil Mirwan Amir dengan alasan telah menerima uang suap terkait pengesahan anggaran oleh Banggar. Dia pun meminta Tim Pencari Fakta (TPF) Fraksi Partai Demokrat untuk membuka keterangan Angelina Sondakh mengenai aliran uang proyek SEA Games di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
“Saya minta teman-teman TPF mereka harus jelaskan sesuai fakta, jangan ditambahkan dan jangan dikurangi, sesuai apa yang disampaikan Angelina ke TPF. Dalam penyelidikan TPF Itu jelas Mirwan Amir telah mengakui bahwa dia yang menerima semua uang itu,” tegasnya.
Nazaruddin menegaskan, klarifikasi Angelina ke TPF disaksikan Ketua Fraksi Demokrat Jafar Hafsah, Wakil Ketum Max Sopacua, Ketua TPF Benny K Harman, termasuk dua anggota TPF Edi Ramli Sitanggang dan Ruhut Sitompul. Wakil Ketua Badan Anggaran DPR dari Fraksi Demokrat Mirwan Amir dan Ketua Komisi X Mahyuddin, Nazaruddin menegaskan, juga hadir.
“Jadi, ini tanyakan dan suruh mereka jujur. Apa yang dijelaskan Angelina kepada tim TPF, dan setelah itu Mirwan Amir terima uang dia. Jelaskan uang itu ke mana saja. Lebih baik Anda telefon Ruhut, Max dan tim TPF yang lain. Tanyakan kebenaran yang saya sampaikan ini,” ujar Nazaruddin menyarankan.
Benarkah tuduhan Nazaruddin bahwa otak dibalik semua praktik culas itu diperankan Mirwan Amir, politisi asal Aceh? Inilah yang belum terjawab hingga saat ini. Usaha dan upaya media ini untuk konfirmasi langsung kepada Mirwan Amir atau akrab disapa Ucok Kuala Tripa ini, tak menuai hasil.
Nomor telpon seluler 08118890777 diberikan salah seorang kolega Ucok (anggota DPR-RI) asal Aceh, juga tak tersambung. Termasuk pesan singkat (SMS) yang dikirim sejak berita ini terkuak, hingga Sabtu malam lalu tak mendapat jawaban.
Sebelumnya, kepada VIVAnesw.com, 5 Juli 2011, Mirwan Amir yang berulangkali dituding Muhammad Nazaruddin terlibat dalam kasus anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga. Mirwan membantah semua tudingan bekas Bendahara Umum Partai Demokrat itu. “Itu semua kebohongan dari Nazaruddin,” kata Mirwan di Jakarta, Selasa 5 Juli 2011.
Mirwan menduga, Nazar melontarkan tudingan itu karena mentalnya terganggu akibat kasus yang melilitnya. “Ini ada sedikit mentalnya terganggu dengan keadaan seperti ini, jadi sudah ngarang-ngarang semua,” ujarnya.
Mirwan mengaku tak khawatir oleh tudingan Nazaruddin itu. Dia yakin itu tidak benar. Sehingga, dia mendukung pelaporan Nazaruddin ke polisi. “Kan itu Ketua umum mewakili semua. Kenapa kita harus khawatir,” ujarnya. “Lebih baik dia pulang dan membuktikan semuanya.”
Sebelumnya, Nazaruddin menuding sejumlah elit Demokrat turut menikmati dana suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang. Petinggi Demokrat, seperti Angelina Sondakh, Mirwan Amir, Jafar Hafsah, Andi Mallarangeng, hingga sang Ketua Umum Anas Urbaningrum ditudingnya ikut menikmati uang itu.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Katakan Bisa untuk Korupsi!
Mantan Bendahara Partai Demokrat Nazaruddin akhirnya buka...
Mirwan (Ucok) Amir, Politik dan Bisnis
Bagi sebagian pengusaha, politisi dan pimpinan daerah di...
Adu Kuat Dua Pejabat
Wakil Bupati Aceh Utara nyaris bentrok dengan Kadis Bina...
Menuntut Ganja Bisa Halal
Saat pemerintah gencar memberantas narkotika jenis ganja....
Belanda: Surga Pecandu Ganja
Di Belanda orang bebas mengisap ganja. Di negara dengan...
Fatwa Ulama Ganja Tetap Haram!
Sampai abad Ketiga Hijriah, fiqh tidak pernah berbicara...









