SEKILAS, bagi yang kurang dekat mengenalnya, pria tampan ini memang terkesan tertutup dan sombong. Maklum, kendati berstatus sebagai pengusaha, Mirwan Amir atau akrab disapa Ucok Kuala Tripa, kerap memilih dalam berteman. Sebaliknya, bila sudah akrab, justeru berbeda. Dibalik kesan kurang elok tadi, sesungguhnya Ucok adalah sosok humoris dan elegan.
Entah karena berasal dari keluarga terpandang, putra almarhum Kolonel TNI (Purn) Amir Yahya ini lebih banyak menghabiskan waktunya di luar Aceh. Selain mengenyam pendidikan luar negeri, dia juga menetap di Jakarta. Dia baru kembali ke Aceh jika ada urusan bisnis, termasuk mengelola Hotel Kuala Tripa, peninggalan sang ayah serta beberapa sektor bisnis lainnya. Tentu, sebelum luluh lantak dihamtam gempa berkekuatan 9,6 skala rihter, 26 Desember 2004 silam (cek lagi).
Tak seperti pengusaha Aceh lainnya. Saat di Banda Aceh, Ucok pun enggan keluar dari hotel. Dia lebih senang memanggil sohib dekatnya sesama pengusaha dan menghabiskan waktu berjam-jam di salah satu kamar hotel yang menjadi rumah keduanya.
Sebelum gempa dan tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004 silam. Hotel Kuala Tripa merupakan satu-satunya hotel bintang tiga?? di Banda Aceh. Maklumlah, hotel ini memiliki berbagai fasilitas seperti kolam renang dan pub. Karena itu jangan heran, hotel ini menjadi pilihan bagi tim juru runding (damai) antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia saat itu. Termasuk tempat bermalamnya para tim negosiator dari Jakarta dan luar negeri.
Saat Aceh dilanda konflik, Hotel Kuala Tripa juga menjadi tujuan alternatif bagi anak muda dan pengusaha di Aceh untuk menghabiskan waktu malam mereka. Sebab, di bagian lantai dasar hotel ini, dibuka disktotik dengan minuman keras siap saji hingga menjelang pagi. Ketika itu, tak ada yang berani protes, apalagi demontrasi.
***
Berbilang bulan dan tahun, Hotel Kuala Tripa menjadi saksi bisu dari proses sejarah panjang dan perundingan damai para pihak yang bertikai saat itu. Makanya, hotel ini menjadi pilihan utama bagi anggota tim juru runding, pemantau asing serta sejumlah pejabat Indonesia termasuk para jenderal TNI-Polri. Salah satunya adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamaman (Menkopolhukam) yang saat itu dipegang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini Presiden RI.
Seiring bergulirnya waktu, Ucok kian intensif menjalin komunikasi dengan berbagai pejabat militer dan tinggi negara. Termasuk SBY. Berbekal statusnya sebagai anak purnawirawan ABRI (sebutan saat itu—red), Ucok dengan mudah menyesuaikan diri. Padahal, di organisasi FKPPI Aceh (kumpulan anak purnawirawan ABRI-Polri—red), Ucok tidak memegang tumpuk pimpinan tinggi alias strategis. Tapi, begitulah garis tangan. Situasi dan kondisi Aceh yang kacau balau, termasuk munculnya berbagai dugaan praktik Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN) yang dilakonkan Gubernur Aceh Abdullah Puteh, diam-diam telah mengasah sikap kritis Ucok.
***
Ada banyak kisah yang muncul. Pergesekan Ucok dengan Abdullah Puteh saat itu, disebut-sebut terkait dengan masalah proyek. Mantan Ketua DPP KNPI ini, kabarnya kurang melirik Ucok. Tapi, sangkaan ini dibantah Ucok saat itu. Sebaliknya, keterpanggilan Ucok untuk mengkritisi pemerintahan Puteh, diakui sebagai bentuk kepeduliannya terhadap kondisi Aceh yang kian remuk akibat konflik.
Menurut Ucok saat itu, salah satu pemicu konflik Aceh adalah, karena pemerintah kurang peduli terhadap rakyat. Akibatnya, angka pengguran tinggi dan sektor ekonomi kecil tersumbat. Rakyat menjadi putus asa. Maka, muncul berbagai bentuk atau apresiasi masyarakat untuk melawan Jakarta.
Walau tak terlibat dalam partai politik, tak berarti Ucok buta politik. Berkat hubungannya dengan banyak politisi, membuat Ucok kian akrab dengan dunia pelanggi ini. Diam-diam, Ucok menjalin hubungan harmonis dengan Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan, khususnya SBY. Banyak laporan tentang Aceh yang disuplay Ucok kepada SBY. Termasuk berbagai dugaan praktik KKN yang merambah daerah ini.
Sebaliknya, SBY meminta tanggapan Ucok atas berbagai kejadian dan peristiwa di Aceh. Maklum, selain “markas” perudingan di Hotel Kuala Tripa, Ucok pun semakin dekat dengan para elit dari dua kelompok yang bertikai saat itu.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat SBY gemas dan geram dengan kepemimpinan Abdullah Puteh, Ucok melihatnya sebagai peluang. Berbagai masalah yang melanda pemerintah Puteh, dilaporkan Ucok ke SBY. Tapi, laporan Ucok tak membuat Puteh tergeser. Itu disebabkan, laporan SBY kepada Megawati mentok di tengah jalan.
Puncaknya, SBY paham benar jika Puteh begitu dekat dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Tak lama kemudian, SBY mundur dari kabinet Megawati dan membentuk partai politik yang kemudian diberi nama: Partai Demokrat. Di masa transisi itulah, Ucok kian memperkuat posisinya untuk melawan Abdullah Puteh. Bahkan, dalam wawancara khusus dengan media ini, Ucok dengan lugas mengakui bahwa dialah dibalik berbagai aksi pendongkelen Abdullah Puteh dari kursi Gubernur Aceh.
Hiruk pikuk parpol baru paska reformasi, membuat Ucok kian berkibar. Lalu, SBY mendirikan Partai Demokrat. Singkatnya, SBY meminta Ucok untuk mendirikan Partai Demokrat di Aceh. Tak lama proses itu berlangsung, Ucok menarik kembali sohib dekatnya. Dia pun dinobatkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat Aceh pertama.
Dan, diluar dugaan Partai Demokrat (PD) mendapat kepercayaan rakyat hingga Ucok terpilih sebagai anggota DPR-RI dari Aceh. Padahal, dia sangat minim pengalaman dalam politik. Bersamaan dengan itu, SBY terpilih sebagai Presiden RI, mengantikan Megawati Soekarnoputri. Posisinya sebagai wakil rakyat dan orang dekat SBY, membuat Ucok lebih didengar, terutama soal Aceh. Hasilnya, Ucok berhasil melangserkan Abdullah Puteh dari kursi Gubernur Aceh, setelah terkait masalah hukum pengadaan Heli?????
***
Tak berhenti di sini. Posisi Ucok sebagai wakil rakyat, semakin memperkokoh dirinya sebagai orang dekat Istana dan SBY. Itu sebabnya, proses suksesi Partai Demokrat Aceh, lebih diperankan Ucok. Salah satunya, memuluskan langkah Mawardy Nurdin sebagai Ketua Umum, mengantikan Nova Iriansyah (cek lagi) yang belakangan terhembus kabar sudah bergesek dengan Ucok. Sejurus dengan itu, berbagai bisnisnya terus berkembang. Termasuk beberapa cafe dan nigt club di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Ucok juga yang membawa pengusaha mata sipit asal Jakarta, untuk membangun Hotel Grand Nanggroe di Banda Aceh.
Ada gula tentu datang semut. Pasca gempa dan tsunami Aceh, 26 Desember 2004 silam. Proses perbaikan pembangunan Aceh dilakukan BRR NAD-Nias. Ucok kembali tampil ke panggung, menkritisi berbagai proses yang terjadi. Maklum, posisinya di Komisi V dan Badan Anggaran DPR-RI, membuat Ucok lebih leluasa.
Sejumlah kepala daerah (Bupati/Walikota) serta kepada dinas dan instansi terkait di Pemerintah Aceh, juga tak tinggal diam. Mereka ramai-ramai ke Jakarta dan merapat ke Ucok. Tujuannya, melobi Ucok agar menurunkan berbagai anggaran proyek ke Aceh. Hasilnya, memang banyak yang gol alias sukses. Nama Ucok kian harum di Aceh, khususnya para pejabat.
***
Menjadi wakil rakyat asal Aceh, tak serta merta membuat Ucok sering pulang ke bumi Serambi Mekkah. Jika tak ada keperluan mendesak atau urusan partai, Ucok boleh disebut jarang pulang. Kecuali menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Ucok, menunjukkan perannya. Akibatnya, banyak kader Partai Demokrat Aceh yang mengaku kecewa. Termasuk, bila mereka ke Jakarta, Ucok termasuk kurang tanggap atau sulit dijumpai. Kecuali orang-orang khusus atau yang lebih dekat dengannya. Tapi, situasi ini tak membuat Ucok kehilangan kuku dan popularitas. Buktinya, saat Pemilu Legislatif 2009 lalu, Ucok kembali terpilih sebagai wakil rakyat Aceh ke Senayan.
Setali tiga uang, menjadi anggota DPR-RI dengan posisi basah, membuat Ucok memegang peran penting di DPP Partai Demokrat. Proses suksesi di tingkat nasional, Ucok dinilai sangat berperan, terutama dalam melanggengkan langkah Anas Urbaningrum sebagai Ketua DPP Partai Demokrat, mengantikan??? yang juga abang ipar SBY.
Kabarnya, Ucok tak hanya mengalang suara Aceh untuk Anas, tapi juga dana. Tak jelas, dari mana semua dana politik itu diperoleh Ucok. Terakhir baru terkuak. Sebagian diperoleh dari praktik permainan fee di Badan Anggaran DPR-RI. Itu selaras dengan pengakuan Muhammad Nazaruddin, mantan Bendahara Partai Demokrat yang kini dijerat sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasaan Korupsi (KPK) dalam proyek Wisma Atlet Sea Games di Palembang, Sumatera Selatan.
Akankah Ucok terjerat seperti Nazaruddin? Sejauh ini dia masih aman-aman saja. Namun, tak mudah bagi wartawan untuk memintanya bersuara. Alasannya ya itu tadi, terkesan tertutup dan eksklusif.
Sumber media ini di DPR-RI menyebutkan, sejak kasus ini terkuak, Ucok relatif susah ditemui. Telpon selulernya juga jarang aktif. Bisa jadi, dia mengunakan beberapa nomor lain. Begitupun sebut sumber itu, sesekali Ucok bisa ditemui di Cafe miliknya di Kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Satu tempat hiburan yang menyediakan berbagai minuman keras dan perempuan cantik dengan suasana ibukota yang bebas dari Syariat Islam.***
Inilah Profil Mirwan Amir
Nama: Mirwan AmirFraksi: F-PD
Partai: PD
Daerah Asal Pemilihan: NAD2
Komisi: Komisi V
Alamat: Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Pusat
DATA PRIBADI
Nama Lengkap & Gelar: Mirwan Amir
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Tempat & Tanggal Lahir: Medan, 07 Mei 1961
Agama: Islam
Status Pernikahan: Menikah
Nama Istri: Agnes Widiyasari R
Pekerjaan Istri: Pegawai BUMN Garuda
Jumlah Anak: 5 (lima) Orang
Alamat Kantor:
Gedung DPR/MPR RI
Gedung Nusantara I Lt. 10 R. 1011 Jaln Gatot Subroto No. 6 Jakarta Jakarta
Alamat Rumah:
- Rumah Jabatan Anggota DPR RI Blok B - 7 Ulujami/Pos Pengumben, Jakarta Barat
- Jalan Kesatria No. 10 Geuceu Komplek
- Jalan Tgk. Abd. Ujung Rimba No. 24 Banda Aceh
RIWAYAT PENDIDIKAN
- Hawaii Pacific College 1985-1988
- SD Lakseumana Kamalahayati 1973
- SMP Negeri I Banda Aceh 1977-1980
- SMA Negeri I Banda Aceh 1980-1983
- Universitas Trisakti 1980-1983
RIWAYAT PEKERJAAN
- Direktur CV. Nacita 1988-Sekarang
- Manager PT. Kuala Tripa 1988-1999
- PT. Tripa Bangun Pratama 1989-Sekarang
- Direktur PT. Tripa Wisata Tours 1995-Sekarang
- Direktur PT. Kuala Tripa 1999-Sekarang
- Direktur Hotel Sabang Hill 2002-Sekarang
PENGALAMAN/JABATAN PADA ORGANISASI
- Ketua I PHRI 1991-1997
- Seulawah Golf Club
- Wakil Bendahara FKPPI
- Kadin - Kompartemen Perhubungan dan Pariwisata
- Ketua Partai Demokrat
KEANGGOTAAN/JABATAN DI DPR
- Komisi V
- Fraksi P-Demokrat
- Panitia Anggaran
JUMLAH KEKAYAAN PADA SAAT PENCALONAN
Harta Tidak Bergerak:
- 2 Tanah Rp. 860.000.000
- 3 Mobil Rp. 1.000.000.000
- Pertanian, Peternakan, dll Rp. 0
- Batu dan Logam Mulia Rp. 115.000.000
Giro dan Kas Setara lain Rp. 0
Piutang Rp. 750.000.000
Hutang Rp. 0
Total Kekayaan: Rp. 27.725.000.000
SUMBER PENGHASILAN (Selain Gaji Sebagai Anggota Legislatif)
- Direktur PT. Nacita
- Direktur Kuala Tripa
- Direktur PT. Trida Wisata
- Direktur Hotel Sabang Hill
- Direktur PT. Paviliun Seulawah
HAL YANG INGIN DIPERJUANGKAN SEBAGAI ANGGOTA DEWAN:
Perbaikan tingkat pendidikan dan kesehatan khususnya di Propinsi Aceh dan Pemberantasan korupsi khususnya di Provinsi Aceh
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Mirwan (Ucok) Amir, Politik dan Bisnis
Bagi sebagian pengusaha, politisi dan pimpinan daerah di...
Adu Kuat Dua Pejabat
Wakil Bupati Aceh Utara nyaris bentrok dengan Kadis Bina...
Menuntut Ganja Bisa Halal
Saat pemerintah gencar memberantas narkotika jenis ganja....
Belanda: Surga Pecandu Ganja
Di Belanda orang bebas mengisap ganja. Di negara dengan...
Fatwa Ulama Ganja Tetap Haram!
Sampai abad Ketiga Hijriah, fiqh tidak pernah berbicara...
Turba, Menyerap dan Mengevaluasi APBA 2008
Terhitung 6-12 Maret 2009, anggota DPR Aceh kembali...









