Rebutan Mobil Dinas
Adu Kuat Dua Pejabat
JIKA pegawai adu jotos dengan tukang parkir. Itu biasa. Tapi, jika Wakil Bupati Aceh Utara Syarifuddin nyaris adu fisik dengan Kepala Dinas Bina Marga setempat, Muhammad Tanwier atau akrab disapa Baong, nah, ini baru luar biasa. Faktanya, tontonan yang tak patut untuk dicontoh ini justeru terjadi, Jumat pekan lalu, usai rapat di Gedung DPRK Aceh Utara di Lhokseumawe.
Pemicunya sepele. Hanya gara-gara pinjam-meminjam mobil dinas. Namun, kedua pejabat tadi sepertinya tak mau mengalah dan saling mempertahankan egois. Akibatnya, mereka mengaku merasa tidak dihargai. “Saya telepon tidak diangkat. Saya SMS (pesan singkat—red) tidak dibalas. Akhirnya, atas perintah Pak Bupati (Ilyas A Hamid—red), mobil itu saya tarik dan ambil kembali,” begitu ungkap Kadis Bina Marga Aceh Utara Muhammad Tanwier kepada media ini, Sabtu pekan lalu.
Pecahnya peristiwa memalukan ini, semakin menambah citra tak elok terhadap perilaku para pejabat di Aceh Utara. Sumber media ini di Pemkab Aceh Utara menceritakan, berbagai kejadian serupa sebenarnya sering terjadi. Hanya saja tak sampai muncul ke publik. “Tapi, kejadian kemarin sudah anti klimaks. Keduanya sudah sampai ke umbun-umbun dan terjadilah kejadian tersebut. Yang sangat memalukan, kejadian itu berlangsung di DPRK, di hadapan wartawan pula,” sebut salah seorang anggota DPRK Aceh Utara kepada media ini.
Wakil Bupati Aceh Utara Syarifuddin rupanya punya alasan lain. Katanya, apa yang dia lakukan, merupakan bentuk lain dari pembinaan terhadap bawahan. “Yang jelas saya bukan preman. Apa yang saya lakukan untuk menegakkan wibawa pimpinan. Bayangkan, selama ini Baong tak pernah mau datang bila saya panggil,” kata Wabup Syarifuddin.
Sumber MODUS ACEH di DPRK Aceh Utara menjelaskan. Insiden ini terjadi usai pertemuan tertutup antara keduanya dengan ketua dan anggota DRPK Aceh Utara di gedung dewan, persis menjelang waktu shalat Jumat. Saat keluar dari Ruang Legislasi—tempat pertemuan membahas pekerjaan proyek multiyears—Syarifuddin terlihat menarik tangan Baong. Seketika itu juga, Wabup berjalan menggiring Baong hingga ke bagian belakang gedung dewan. Gerak langkah keduanya diikuti pengawal Wabup dan sejumlah wartawan.
Persis di depan ruang kerja sekretaris dewan, Baong menghentakkan tangannya sehingga terlepas dari pegangan Syarifuddin. Dalam kondisi yang tampak sarat emosi itu, keduanya saling menatap tajam dan berdiri amat rapat. Lalu, terdengar ucapan dari Wabup dan Kadis. Keduanya, saling memperingatkan untuk menghargai satu sama lain. Selanjutnya, saat yang paling tepat, tiba-tiba datang Ketua Komisi C DPRK Khaidir Abdurrahman untuk melerai. Kemudian, Khaidir mengajak Wabup Syarifuddin ke ruang kerja Ketua DPRK Jamaluddin Jalil. Sedangkan Baong langsung ‘diserbu’ wartawan dan diminta penjelasan terkait insiden tak pantas itu.
Selain Wabup Syarifuddin, Ketua DPRK Jamaluddin Jalil dan Ketua Komisi C Khaidir Abdurrahman, dalam pertemuan di ruang kerja ketua dewan usai insiden tersebut, juga tampak Asisten I Setdakab Aceh Utara T Mustafa dan Asisten II Isa Ansari.“Saya fasilitasi pertemuan dengan memanggil Pak Mustafa dan Pak Isa Ansari sebagai ‘orangtua’. Saya katakan kepada Pak Isa Ansari, saya beri waktu empat hari untuk mendamaikan Pak wabup dengan Kadis Bina Marga. Pak Isa Ansari bersedia. Katanya, saat pak bupati pulang dari kunjungan ke lapangan, akan dilaporkan tentang masalah itu meski pak bupati sudah tahu. Jadi kita harapkan persoalan ini tidak berlanjut lagi, harus selesai dengan cepat,” kata Khaidir Abdurrahman usai pertemuan itu.
Lantas, apa yang menjadi pemicu hingga keduanya saling bersitegang? Kadis Bina Marga, Muhammad Tanwier kepada media ini bercerita. Katanya, Wabup Syarifuddin ada meminjam mobil dinasnya pada Selasa (24/5) untuk keperluan ke Kecamatan Matangkuli meninjau lokasi banjir. “Saat Wabup datang ke rumah saya minta pinjam mobil, saya salami dan mencium tangan beliau sebagai atasan saya. Katanya saat itu, Wabup hanya pinjam mobil satu atau dua hari saja,” ujar Baong.
Begitupun, memasuki hari ketiga, Wabup Syarifuddin tak juga mengembalikan mobil Ford Everest yang dipinjamnya. “Sejak mobil dinas saya dipakai Wabup, terpaksa saya menumpang mobil Bupati untuk bersama-sama ke lokasi. Saat itu, Pak Bupati yang meminta saya untuk menarik mobil tersebut,” ungkap Baong.
Selasa sore, kata Baong, dirinya meminta sopirnya menghubungi ajudan Wabup untuk menanyakan keberadaan mobil tadi. Ajudan Wabup meminta Baong menghubungi langsung Wabup. “Saya hubungi (telepon) beberapa kali tidak diangkat. Esoknya (Rabu) saya coba hubungi lagi, tapi tak diangkat. Saya telepon ajudan Wabup minta nomor lain, tapi tidak aktif. Saya telepon ajudan Wabup minta ngomong dengan Wabup. Ajudannya bilang, Wabup sedang rapat,” katanya.
Rabu malam, Baong menghubungi Bupati Ilyas A Hamid menyampaikan bahwa mobil dinasnya dipakai Wabup. Kamis pagi, kata dia, Bupati menelepon dirinya mengajak ke Kecamatan Nisam dan Sawang melihat lokasi jalan. “Pak Bupati tanya apa sudah ada mobil, saya bilang belum. Tunggu biar dijemput. Sampai di pendopo, Bupati tanya lagi tentang mobil saya. Pak Bupati bilang, minta kembali mobil, kalau tidak dikasih, tarik kembali,” kata Baong.
Menurut Baong, Kamis jelang Magrib, dirinya menelepon Wabup, tapi tak diangkat. Sambil menuju pendopo, Baong singgah ke Makodim yang bersebelahan dengan pendopo Bupati/Wabup Aceh Utara. “Saya sampaikan ke Pak Dandim tentang masalah mobil itu, agar beliau tak salah pengertian kalau terjadi ribut-ribut di pendopo. Lalu, saya ke pendopo untuk menghadap Wabup. Keluar seorang pria tinggi tegap yang tak saya kenal, mengaku ajudan Wabup. Pria itu bilang, pesan Wabup datang besok (Jumat) ke kantor,” katanya.
Masih kata Baong. “Saya bilang tolong sampaikan ke Wabup, saya perlu mobil ke lapangan besok pagi dengan Pak Bupati. Pria itu masuk lagi dan sesat kemudian keluar dengan mengatakan mobil tak bisa diserahkan. Saya bilang, Anda siapa.Anda tahu nggak saya siapa? Pria itu bilang, pokoknya mobil nggak bisa dibawa. Kebetulan saya punya kunci serap. Saya buka plat merah BL 5 K (plat mobil dinas Wabup—red), saya titipkan pada Satpol PP dan selanjutnya saya bawa mobil dinas saya. Jadi saya sudah berusaha menjumpai Wabup, bahkan menunggu 1,5 jam,” tambah Baong.
Terkait soal sikapnya selama ini yang tak pernah menghadiri rapat evaluasi bersama Wabup. Baong menjelaskan.“Mungkin saat diundang saya tidak ada di tempat, sedang di lapangan atau ada pekerjaan di kantor, tapi tetap saya utus staf terkait untuk hadir,” ujarnya.Baong juga mengaku agak kaget pada Rabu kemarin saat mendapat pertanyaan dari wartawan bahwa mobilnya disita Wabup. Sopirnya juga menanyakan hal itu. Bagi Baong, informasi tersebut sesuatu yang aneh, karena selama ini Wabup sering meminjam mobil dinasnya mengingat kendaraan 4×4 milik Pemda yang mampu mengatasi area medan terjal memang terbatas.
Lantas, benarkah Wabup sempat menarik tangan Baong?“Saya jadi nggak enak dipegang terus. Saya bilang pada Wabup, bapak mau ajak saya kemana saja, saya ikut. Tapi tak perlu pegang tangan seperti ini. Lalu, Wabup bilang.“Kamu tahu saya Wabup, tolong hargai saya sebagai Wabup”. Saya tanggapi.“Bapak tahu saya kepala dinas, tolong hargai saya sebagai kepala dinas”. Saat itu saya sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi,” kata Baong.
Menariknya, Baong juga mengungkapkan, kendaraan dinas dump truk bantuan BRR NAD-Nias, untuk kepentingan pembangunan di Aceh Utara, saat ini masih ditangan Wabup. Mobil itu, kata dia, dipinjam Wabup sejak pameran Aceh Utara di Krueng Geukuh tahun 2009 lalu. “Beberapa kali Kabid Peralatan Dinas Bina Marga minta kembali mobil itu, tapi sampai hari ini tak dikembalikan, dan masih parkir di pendopo Bupati/Wabup,” papar Baong.
Menurut Baong, dia pantas untuk khawatir, sebab dirinya sempat dipanggil tim penyidik Polres Aceh Utara, terkait soal aset negara. “Saya pernah dipanggil pihak Polres Aceh Utara tentang aset alat berat, karena tidak ada satu unit pun. Kita bilang pada polisi bahwa masih pada Wabup,” katanya.
Tuntaskah masalah? Tunggu dulu. Wabup Aceh Utara Syarifuddin kepada MODUS ACEH menjelaskan. “Saya bukan tidak beri izin diambil kembali mobil itu, tapi saya bilang besok jumpai saya di kantor, karena tadi malam saya lelah baru pulang pimpin rapat dua kali. Saat dia datang, saya masih di kamar,” kata Syarifuddin.
Menurut Syarifuddin, dalam masa dua tahun terakhir dirinya membuat rapat evaluasi kinerja SKPK, tapi Baong tidak pernah hadir sekalipun. “Saya tanya ke Sekda, ternyata Sekda juga menghadapi hal yang sama. Kita telpon pun dia (Baong) nggak diangkat. Maka, untuk pembinaan, saya pikir dengan menyita mobilnya maka dia akan jumpai saya agar bisa kita minta penjelasannya mengapa tidak pernah hadir kalau saya buat rapat evaluasi,” katanya.
Mengenai mobil dump truk milik Dinas Bina Marga, Syarifuddin mengaku bukan tidak mau mengembalikan. Tapi pihak dinas itu tidak pernah meminta dan mengambil kembali, sehingga kendaraan tersebut masih parkir di pendopo.Syarifuddin mengaku akan berkoordinasi dengan Bupati Ilyas Hamid dan juga DPRK terkait pembinaan untuk Baong.
Begitu kuatkah Baong atau selama ini memang kurang setoran kepada Wabup? Sepertinya memang demikian. “Kalau mau setoran lebih, jadilah Bupati jangan Wakil,” begitu kata Baong sambil tertawa dan mengaku saat itu sedang berada di Medan. Alamak!***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Adu Kuat Dua Pejabat
Wakil Bupati Aceh Utara nyaris bentrok dengan Kadis Bina...
Menuntut Ganja Bisa Halal
Saat pemerintah gencar memberantas narkotika jenis ganja....
Belanda: Surga Pecandu Ganja
Di Belanda orang bebas mengisap ganja. Di negara dengan...
Fatwa Ulama Ganja Tetap Haram!
Sampai abad Ketiga Hijriah, fiqh tidak pernah berbicara...
Turba, Menyerap dan Mengevaluasi APBA 2008
Terhitung 6-12 Maret 2009, anggota DPR Aceh kembali...
Sejarah Ganja di Aceh
Berdasarkan tinjauan historis, tanaman ganja pertama kali...









