Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH juga tersedia selengkapnya di sini!

Structured settlements Mesothelioma Acne Life Insurance Asbestos Bextra Bankruptcy Car Insurance Dental Plans Private Jets Debt Consolidation Credit Cards Canadian Pharmacy Online Trading Equity Line Credit Loans Mortgages Pay Day Loans Cash Advance Equity Loans Reduce Debt Refinance Jet Charter Rehab Wrongful death Legal Advice Taxes Investing Bonds Vioxx IRA Rollover Refinance Quotes Adult Education Distance Learning Alcohol Treatment Depression Drug Rehab Extra Money Cell Phone Plans Calling Cards VOIP Weight Loss Homeowner’s Insurance Rewards Cards Spam Filter Lasik Facelift Teeth Whitening Annuity Anti Virus Protection Adult Diaper Free Credit Report Credit Score Satellite Anti Spam Software Dedicated Hosting Domain Name Need Money Bachelor Degree Master Degree Doctorate Degree Work at Home Quick Book Spyware Eloan Malpractice Lawyer Lenox China Cancer Payperclick Personal Injury Attorney Lexington Law Video Conferencing Transfer Money Windstar Cruise Casinos Online Laptop Computer Online Banking Borrow Money Low Interest Credit Cards Personal Domain Name Cellular Phone Rental Internet Broker Term Life Cheap Hosting University Degrees Online Online Marketing Consolidate Business Credit Web Host Death Insurance Yellow Page Advertising Travel Insurance Register Domain Credit Counseling Email Hosting Trans Union Consumer Credit Blue Cross Helpdesk Software Purchase Structured Settlements Mesothelioma Lawyers San Diego Secured Loan Calculator Structured Settlement Investments Endowment Selling Mesothelioma Patients Mesothelioma attorney san diego Austin Texas dwi lawyers New York Mesothelioma Lawyers Phoenix dui lawyers Secured Loans Insurance Auto Phoenix dui attorney car free insurance online quote students debt consolidation loans Pennsylvania mesothelioma lawyers data recovery Denver adverse credit remortgages bad credit remortgages data recovery service los angeles Consolidating Students Loan Students Loan Consolidation Rates Boston dui lawyers memphis car insurance conference calling companies dui attornes los angeles georgia car accident lawyers san diego dui defense Phoenix arizona dui lawyers Los angeles dwi attorneys Student Consolidation Loans free quote for car insurance irs tax lawyers nj auto insurance dui san diego Los Angeles Criminal Defense Attorney Consolidating Private Student Loans Personal Injury Lawyer Chicago Personal Injury Attorney Pennsylvania Auto Insurance
MODUS ACEH

Index Dibalik Berita

RSS Feed
Portujal FC.

Turnamen Sepak Bola Portujal Cup 2011

Dari Ulee Jalan Untuk Lhokseumawe

Kamis, 05 Januari 2012 jam 00:53:50 WIB
Muhammad Saleh bersama pesepakbola Nasional Kurniawan Dwi Julianto.

Muhammad Saleh, SE:

Insya Allah, Kita Benahi!

Kamis, 05 Januari 2012 jam 00:50:05 WIB
Muhammad Saleh bersama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Mawardi Nurdin dan Anggota DPR RI Asal Aceh Mirwan Amir.

Siapa Muhammad Saleh?

Kamis, 05 Januari 2012 jam 00:45:42 WIB

Pupus Duka Saat Bertemu Keluarga

Rabu, 28 Desember 2011 jam 13:12:36 WIB

Setelah tujuh tahun dinyatakan hilang akibat bencana gempa dan tsunami. Seorang bocah perempuan akhirnya kembali ke kampunng halamannya. Dia mengaku diasuh ibu angkat dan dijadikan pengemis di Banda Aceh.Hanya berselang satu hari setiap perayaan Natal tanggal 25 Desember, warga Aceh tak akan pernah lupa dengan tragedi yang memilukan, yaitu bencana gempa dan tsunami, 26 Desember 2006 silam. Dan, sejak tujuh tahun lalu, seremoni sekaligus ritual tersebut, menjadi agenda tetap,...

Duh, Aceh Belum Tetapkan UMP 2012

Rabu, 28 Desember 2011 jam 13:09:16 WIB

Hingga 23 Desember 2011, ada enam provinsi yang belum menetapkan Upah Minimum Provinsi  (UMP) 2012. Salah satunya Aceh.Nama Provinsi Aceh, sederet dengan lima provinsi lainnya yaitu, Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Papua yang belum menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP). Sementara, Jawa Barat, Jawa Tengah  dan Jawa Timur tidak menetapkan UM.Hai itu diakui Kepala Pusat Humas Kemenakertarns Suhartono. Itu sebabnya sebut Suhartono,...

Lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Batu Bara (PLTGB) di Simeulue.

Panas Dingin Tersengat Perkara Lama

Kamis, 22 Desember 2011 jam 10:53:54 WIB
Ayah Banta Bungkam Kapolda Mendua
Edisi
4
Ayah Banta Bungkam Kapolda Mendua
Mei 2012






Edisi
37
Tahun
IX
Kamis, 05 Januari 2012 jam 00:45:42 WIB
 

Muhammad Saleh bersama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Mawardi Nurdin dan Anggota DPR RI Asal Aceh Mirwan Amir.
Muhammad Saleh bersama Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Ketua DPD Partai Demokrat Aceh Mawardi Nurdin dan Anggota DPR RI Asal Aceh Mirwan Amir.
Foto: Dok
Lahir dari keluarga sederhana di Kawasan Kampung Jawa Lama, Gang PU, Kota Lhokseumawe, 10 Juli 1968. Jejak langkahnya telah menghantarkan calon Walikota Lhokseumawe 2012-2017 ini ke seluruh Indonesia serta beberapa negara Eropa. Tangan dinginnya di bidang kewartawanan telah melahirkan prestasi. Siapa dia?

JARUM jam telah bergerak ke pukul 01.00 Wib, Kamis dini hari lalu. Tapi, mantan wartawan Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh dan Majalah Forum Keadilan Jakarta ini, masih tampak semangat memimpin rapat kecil Tim Pemenangannya di Seuramoe Rakyat (Posko) Tim Sukses Muhammad Saleh, SE – Jafar SAg (SAFAR) di Jalan Darussalam, Gang Habib II, Desa Hagu Selatan, Lhokseumawe.

Tak ada isyarat lelah di wajahnya. Hanya saja, sesekali dia mengeluarkan joke-joke kecil, yang membuat peserta rapat tertawa. “Jangan terlalu serius. Mari kita hadapi semua perjalanan dan persoalan Pemilukada ini dengan selalu tertawa dan tersenyum,” ajak Saleh. Beberapa anggota Timses yang mulai kantuk, seketika melek kembali.

Pulangnya Saleh ke Lhokseumawe sebagai calon Walikota Lhokseumawe dan menggandeng Jafar S.Ag, putra kelahiran Batupahat Timur sebagai Wakil Walikota Lhokseumawe Periode 2012-2017, telah membuat aura Pemulikada di kota tersebut, semakin bergairah. Maklum, dari sembilan kandidat yang lolos, pasangan Muhammad Saleh, SE – Jafar SAg tak bisa dianggap enteng dan remeh. Dari hari ke hari, arus dukungan kepada putra daerah ini, terus meningkat. “Alhamdulillah dan amin. Ini berkat masyarakat, kawan-kawan, sahabat serta keluarga besar saya dan Jafar. Saya yakin, warga Kota Lhokseumawe mulai bisa memilah dan memilih, siapa figur yang tepat untuk Walikota dan Wakil Walikota Lhokseumawe, lima tahun mendatang,” kata Saleh, merendah.

Siapa Muhammad Saleh? Saleh begitu dia disapa, lahir hari Sabtu, sekira pukul 05.00 Wib (subuh), tanggal 10 Juli 1968, di Kelurahan Kampung Jawa Lama, Gang PU, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Dia anak kedua belas dari 13 bersaudara, pasangan almarhum Abdullah Amin dan almarhumah Hajjah Nuriyah. Ayahnya, Abdullah Amin, adalah seorang veteran pejuang Kemerdekaan Indonesia dan peternak kambing, yang puluhan tahun menjadi salah seorang tokoh masyarakat di Kampung Jawa Lama.

Seperti umumnya anak-anak lain, masa kecil Saleh dihabiskan untuk bermain dan sekolah di SD Muhammadiyah Lhokseumawe. Kampung Jawa Lama, yang merupakan kawasan tepi pantai yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Karena itu jangan heran, setelah pulang sekolah, Saleh terbiasa untuk berenang, tarik pukat serta memancing di laut. Termasuk bermain sepak bola dan bola voli di tepi pantai.

Malam harinya, tetap digunakan untuk belajar dan mengaji bersama ibundanya di rumah dan pada almarhum H. Muhammad Ridwan (Kek Abu), ayah dari almarhum Ramli Ridwan, mantan Bupati Aceh Utara dan Pj Gubernur Aceh.

Setelah tujuh tahun di SD Muhammadiyah atau tamat tahun 1981, Saleh melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Lhokseumawe. Di sekolah ini, dia terlibat aktif sebagai anggota Pramuka. Bakat kepemimpinannya mulai terlatih dalam wadah organisasi ini. Hingga menjelang akhir pendidikan di SMP, Saleh terpilih sebagai Pratama atau Pimpinan Utama Pramuka di Gugus Depan sekolahnya, SMP Negeri 2 Lhokseumawe.

Selama menekuni Pramuka, Saleh terpilih untuk mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan. Bersamaan dengan itu, tiga hari dalam sepekan, Saleh berlatih ilmu bela diri Pencak Silat beraliran Minang (Padang) pada Padepolan SILAT TUWO di Lhokseumawe. Padepokan ini didirikan Mayor TNI (Purn) Nawawi. Selanjutnya berlatih olah raga Anggar (Fencing) hingga kelas dua SMA. Lalu, dia sempat beralih ke olahraga bela diri karate dan kempo di Komplek PT Arun, Batuphat, Lhokseumawe.

Setamat SMP tahun 1983, Saleh remaja melanjutkan sekolah di SMA Malikussaleh Lhokseumawe. Bakat kepemimpinannya semakin terasah. Di SMA inilah, dia mulai akrab dengan berbagai organisasi pemuda. Saleh terpilih untuk mengikuti pendidikan Kepemimpinan Pemuda dan Siswa yang dilaksanakan KNPI Aceh Utara, saat itu dipimpin almarhum Drs Hasan Basri A. Thaleb dan siswa kader Golkar di Aceh Utara dibawah kepemimpinan H. Zulkifli Hanafiah. Dia kemudian terpilih sebagai peserta terbaik dan berhak mengikuti pendidikan serupa di Banda Aceh.

Sebelumnya, sejak kelas satu SMA, Saleh ikut menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu, organisasi ini dipimpin Tarmizi AR. Di organisasi inilah, mental dan ideologi ke-Islaman dan Ke-Indonesiaannya di tempa. Saleh mengikuti berbagai pelatihan. Diam-diam, Saleh mendalami berbagai gerakan dan aliran pemikiran Islam. Bersamaan dengan itu, dia juga ikut dalam berbagai kegiatan Remaja Islam di Lhokseumawe hingga tamat SMA tahun 1987.

Perpaduan bakat kepramukaan dan organisasi tadi, membuat Saleh remaja bercita-cita menjadi seorang taruna AKMIL TNI-AD. Namun, keinginan itu tidak terlaksana karena keterbatasan dana orang tuanya. Lalu, dia mendaftar sebagai mahasiswa di Akademi Sekretari dan Manejemen Tanah Rencong Lhokseumawe. Lalu, melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi (S-1). Dia memilih Fakultas Ilmu Administrasi Niaga di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.

Seiring berjalannya waktu, sebagai mahasiswa, Saleh tak bisa melepaskan diri dari dunia aktivis. Dari PII dia terjun ke Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI, Saleh dikenal aktif. Berbagai pendidikan perkaderan diikutinya. Baik di Aceh, Jakarta serta beberapa kota lain di Indonesia. Jenjang terakhir adalah, pendidikan dan latihan (Pusdiklat) di Bandung, Jawa Barat.

Sebagai instruktur perkaderan HMI, Saleh dikenal sebagai tutor: Dinamika Sistem, Mental - Ideologi serta Strategi Taktik (Stratak) Gerakan. Selain mengikuti beberapa pendidikan dan pelatihan jurnalistik (wartawan) di Lhokseumawe, Banda Aceh dan Jakarta. Karena itu jangan heran, saat Aceh berstatus Daerah Operasi Militer (DOM), Saleh dan kawan-kawan, menggelar berbagai aksi demontrasi di Lhokseumawe dan Banda Aceh. Isu yang diusung adalah, meretas jalan perdamaian untuk Aceh.

Di kampus (ASM Tanah Rencong dan Unima—red), Saleh sempat dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT). Di luar kampus, Saleh menjadi Wakil Ketua HMI Cabang Lhokseumawe beberapa periode. Bakatnya yang kuat di organisasi ekstra kampus, beberapa organisasi kepemudaan di Aceh Utara, kemudian melirik Saleh. Lalu, dia diajak untuk menjadi Pengurus DPD KNPI Aceh Utara dibawah kepemimpinan M Johan SH serta Terpiadi A. Madjid, DPD AMPI Aceh Utara yang dipimpin Shalahuddin Ghafur serta DPD Pemuda Panca Marga Aceh Utara yang dikomandoi Harry Azhary Nur.

Nah, pada tahun berikutnya, dia memilih tinggal dan menetap pada kakak perempuannya di Komplek PT Arun, Batuphat. Kakaknya itulah yang membiayai Saleh untuk terus kuliah. Di tengah perjalanan karir aktivisnya, seorang alumni HMI, H. Kertasih Suherman yang bekerja di PT. Arun, merekrut Saleh menjadi salah seorang karyawan kontrak di Bagian Humas PT Arun, NGL. Co di Blang Lancang, Aceh Utara.

Bakat aktivis dan kepemimpinan tak juga pudar, apalagi kendur. Di Komplek PT Arun, Saleh aktif di Remaja Islam PT. Arun (Remais), wadah organisasi putra-putri keluarga PT Arun. Bersamaan dengan itu, sempat menjadi Ketua Remais PT Arun dan penyiar di Radio Istiqamah BDI PT. Arun. Profesi itu hanya sempat dijalaninya selama tiga tahun. Setelah itu, dia hijrah dan menjadi wartawan Harian Serambi Indonesia, liputan Lhokseumawe dan Aceh Utara.

Selama satu tahun di Aceh Utara, karir kewartawanannya terus meningkat. Saleh dipromosikan sebagai wartawan Serambi Indonesia di Banda Aceh. Berbagai liputan politik, hukum dan investigasi, dilakukan dengan tajam dan akurat. Bersamaan dengan itu, Saleh pindah kuliah dari Unimal ke Universitas Abulyatama, Aceh Besar. Dia lulus tahun 1999. Rentang waktu yang cukup panjang, tentunya.

Bersamaan dengan itu, bakat aktivisnya belum juga hilang. Pada Januari 1996, dia menikah dengan Agusniar. Putri dari almarhum H Muchtar Yusuf – Hj Mardiah, seorang karyawan PT Arun NGL. Co atau anak dari Tgk Yusuf Wahi, seorang tokoh DI/TII angkatan Tgk Daud Bre-eh, di Kuta Binjai, Aceh Timur. Ayah dari ibunya adalah almarhum Tgk Daud, salah seorang tokoh masyarakat (ulama) di Bagok, Aceh Timur.

Tahun 1998, dia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh (1998-2000). Kondisi dan situasi konflik Aceh yang terus membara, membuat Saleh berada pada posisi sulit. Begitupun, semangatnya untuk melawan berbagai pelanggaran HAM dan demokrasi di Aceh, tetap jalan. Ini dibuktikan dengan ikut melahirkan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) bersama Muhammad Nazar Cs (Wagub Aceh yang kini maju sebagai Cagub Aceh—red) serta menggalang berbagai aksi solidaritas untuk Aceh. Termasuk melakukan serangkaian aksi demontrasi di Aceh dan Jakarta. Menjadi wartawan, aktivis serta ayah dari satu anak saat itu, ditekuninya secara bersamaan.

Persis tahun 2000, Saleh terpilih menjadi salah seorang anggota Tim Penasehat Presiden RI, BJ Habibie Untuk Urusan Aceh. Dia bersama sejumlah tokoh Aceh lainnya, duduk dan berpikir untuk penyelesaian konflik Aceh. Ada almarhum Usman Hasan (mantan Dubes RI Untuk Meksiko), A. Rahman Ramli (mantan Dubes RI Untuk USA), Prof Dr Bachtiar Aly (mantan Dubes RI Mesir), Soerjadi Soedirja (mantan Mendagri), almarhum Prof Dr Ismail Suni (mantan Dubes RI untuk Arab Saudi), Dr Ir. Mustafa Abu Bakar (mantan Pj Gubernur Aceh/Kabulog RI dan Meneg BUMN), HT. Ir Suryansah (mantan Dirut PT KKA) serta sejumlah nama lainnya seperti Fachri Aly. Tugas negara itu hanya setahun disandangnya. Setelah Habibie turun dan digantikan Abdurrahman Wahid (Gusdur—2000), tim ini dibubarkan.

Entah karena pemikirannya yang selalu kritis, terutama saat berdebat mengenai kondisi dan situasi Aceh, Saleh sempat mendapat ancaman dan teror dari banyak pihak. Posisi ini akhirnya membuat Saleh membawa istri dan kedua anaknya saat itu ke Jakarta.

Saleh akhirnya pamitan dari Harian Serambi Indonesia dan bekerja pada Majalah Berita Mingguan GAMMA, Jakarta. Di majalah yang kini sudah tutup itu, dia sempat menghabiskan waktu satu tahun. Bersamaan dengan itu, dia direkrut menjadi staf ahli Dr Ahmad Farhan Hamid (anggota DPR-RI, Fraksi PAN, asal Aceh). Kemudian pindah ke Majalah Berita Mingguan Forum Keadilan, Jakarta. Pada kedua majalah nasional ini, Saleh meniti karir mulai dari wartawan hingga redaktur. Terakhir di MBM Forum Keadilan, Saleh duduk sebagai Redaktur Hukum, Politik, Kriminal dan Pertahanan. Dia sempat mengikuti serangkaian pelatihan investigasi tentang drugs (narkoba) serta liputan di daerah konflik.

Ditengah kesibukannya sebagai wartawan. Tahun 2000, Saleh kembali melanjutkan kuliah. Dia mendaftar pada Program Pasca Sarjana (S-2) Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Setelah mengikuti serangkaian test akademik, Saleh dinyatakan lulus. Begitupun, pendidikan itu mengalami kegagalan, karena ketiadaan biaya. Saat itu, Gubernur Aceh dipegang Abdullah Puteh.

Berbeda dengan mahasiswa Aceh lainnya, Saleh tak mendapat perhatian dan bantuan dari Pemda Aceh/Abdullah Puteh. Itu disebabkan, Saleh dinilai bertentangan dengan Puteh, karena terus memberitakan indikasi keterlibatan Puteh dalam beberapa kasus di Majalah GAMMA dan Forum Keadilan.

Atas saran teman-temannya, tahun 2002, Saleh kembali mengikuti test pendidikan S2 di UI, jurusan yang dipilih adalah KRIMINOLOGI. Seperti pendidikan awal, nasibnya gagal juga. Menjelang masa akhir, ketersediaan dana menjadi hambatan. Maklum, hidup di Jakarta dengan satu istri, dua anak plus kuliah, tentu sangat berat.

Tinggal di Jakarta, tak membuat batin Saleh tenang, melihat kondisi Aceh yang terus bergejolak. Berbagai aksi masyarakat Aceh di Jakarta, Bandung dan beberapa daerah lain, ikut difasilitasinya. Bersama ribuan masyarakat Aceh di Jawa, Saleh menggalang berbagai aksi solidaritas. Tentu saja secara diam-diam.

Tepat tahun 2003, saat Aceh ditetapkan sebagai daerah Darurat Militer (DM-I), Saleh tak kuasa menahan gejolak batinnya untuk kembali ke Aceh. Akhirnya, dengan tekad kuat dan penuh resiko, berbagai tabungan serta bantuan sejumlah kolega di Jakarta dan Aceh, dia kembali ke Aceh. Uniknya, dia justeru melawan arus dengan membuka media cetak lokal bernuansa hukum, politik, kriminal dan HAM serta demokrasi. Namanya: Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, persis 16 April 2003. Salah satu sosok yang paling berjasa lahirnya MODUS ACEH adalah, Terpiadi A Madjid serta Tuanku Mirza Keumala. Padahal, saat itu, jangankan media lokal, media nasional pun ekstra hati-hati dalam memberitakan kasus dan peristiwa Aceh.

Hadirnya Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, yang konsen pada masalah politik, hukum dan HAM serta demokrasi ini, menimbulkan berbagai sikap pro-kontra di Aceh. Banyak pihak meragukan konsistensi dan sikap Saleh sebagai pimpinan redaksi, sekaligus pemilik. Begitupun, konsistensi Saleh pada masalah hukum, politik, HAM dan demokrasi, terjawab juga. Dan, membuat media ini selalu mendapat tempat di hati rakyat Aceh. Termasuk meraih penghargaan Adi Warta Sampoerna serta Muchtar Lubis Award untuk liputan investigasi terbaik tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011.

Berhentikah Saleh beraktivitas? Tidak juga. Saat Dr Ir. Mustafa Abu Bakar menjadi Pj Gubernur Aceh, Saleh diajak serta untuk menjadi salah seorang Staf Ahli Gubernur Aceh, Bidang Media, Pemuda dan Olah Raga. Bersamaan dengan itu, Saleh tercatat sebagai staf ahli Kepala BPKS Sabang dibawah kepemimpinan T. Saiful Ahmad (Bidang Komunikasi). Saat itulah, Saleh menjadi salah seorang anggota tim delegasi Pemerintah Aceh dan BPKS Sabang untuk melakukan kunjungan ke Dublin Port, Irlandia serta Belgia. Sebelumnya, Saleh pernah menjabat sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT Kertas Kraf Aceh, HT. Suryansyah (tahun 2006-2007).

Saat Aceh dilanda gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam, Saleh sering diajak berdiskusi berbagai hal oleh Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mangkusubroto serta Sekretaris BRR NAD-Nias saat itu, Ramli Ibrahim. Dia banyak memberi masukan dan pemikiran informal tentang proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Hasilnya, Saleh berhasil melobi pimpinan BRR NAD-Nias saat itu, untuk meningkatkan kualitas SDM wartawan di Aceh dengan menggaet kerjasama BRR NAD-Nias dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta. Tujuannya, melatih sejumlah jurnalis dan pejabat Humas di Aceh pada lembaga tersebut di Jakarta.

Dan, awal Januari 2008 lalu, Saleh bersama Dr Ahmad Farhan Hamid (anggota DPR-RI asal Aceh), mendirikan partai lokal di Aceh. Namanya, Partai Bersatu Atjeh. Saleh duduk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Sementara Farhan sebagai Ketua Umum. Di partai ini, Saleh bersama Farhan mengarap berbagai konsep. Mulai dari AD/ART hingga flatporm partai. Begitupun, dalam perjalanannya, Saleh banyak berbeda pendapat dengan Farhan Hamid, terutama visi dan misi dalam melihat berbagai persoalan sosial, budaya dan politik Aceh, termasuk gaya dan pola kepemimpinan Wakil Ketua MPR-RI tersebut. Akhirnya Saleh memilih mundur dari partai lokal tersebut.

Sementara, tugasnya sebagai Pimpinan Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, terus berjalan. Kecuali itu, dia masih memberikan berbagai materi pada pelatihan kewartawanan bagi mahasiswa, wartawan serta aktivis. Saleh sering menjadi narasumber bagi sejumlah media cetak maupun elektronik, baik lokal, nasional maupun Internasional. Dia memiliki pikiran serta gagasan yang tajam serta kritis tentang politik, hukum, sosial dan budaya Aceh.

Di sektor olahraga, Saleh sempat menjadi Ketua Umum Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Aceh. Kemudian melaju ke posisi Wakil Sekretaris Umum KONI Aceh saat dipimpin Tantawi Ishak, mantan Sekdaprov Aceh. Saat ini masih dipercaya sebagai Sekretaris Umum KONI Aceh dibawah pimpinan H. Zainuddin Hamid (Let Bugeh) dan Ketua Pengprov. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh.

Dalam hal beragama, Wakil Sekretaris MPW Pemuda Pancasila Aceh dan Pengurus PSSI Aceh Bidang Promosi dan Media ini dikenal sebagai sosok anak muda Aceh yang menghargai pluralisme, moderat serta toleran.***
Efendi Noerdin
Komentar ditutup.

Tarik Ulur Qanun KKR, Menanti Komitmen Zaini-Muzakir
Edisi
3
Tarik Ulur Qanun KKR, Menanti Komitmen Zaini-Muzakir
Mei 2012

Berita Terkini

Menurut Anda siapakah yang bakal menjadi gubernur Aceh mendatang?

Polling tidak aktif!

Haba Ulee Kareng

Berita Terbaru

Berita Terpopuler

Berita Terakhir Dibaca



<Sabtu, 19 Mei 2012 Jam 19:53
Sedang diakses oleh 27 orang. Hari ini 405 orang. IP Address Anda 38.107.179.238. Anda pengunjung ke 533460.