JARUM jam telah bergerak ke pukul 01.00 Wib, Kamis dini hari lalu. Tapi, mantan wartawan Harian Serambi Indonesia, Banda Aceh dan Majalah Forum Keadilan Jakarta ini, masih tampak semangat memimpin rapat kecil Tim Pemenangannya di Seuramoe Rakyat (Posko) Tim Sukses Muhammad Saleh, SE – Jafar SAg (SAFAR) di Jalan Darussalam, Gang Habib II, Desa Hagu Selatan, Lhokseumawe.
Tak ada isyarat lelah di wajahnya. Hanya saja, sesekali dia mengeluarkan joke-joke kecil, yang membuat peserta rapat tertawa. “Jangan terlalu serius. Mari kita hadapi semua perjalanan dan persoalan Pemilukada ini dengan selalu tertawa dan tersenyum,” ajak Saleh. Beberapa anggota Timses yang mulai kantuk, seketika melek kembali.
Pulangnya Saleh ke Lhokseumawe sebagai calon Walikota Lhokseumawe dan menggandeng Jafar S.Ag, putra kelahiran Batupahat Timur sebagai Wakil Walikota Lhokseumawe Periode 2012-2017, telah membuat aura Pemulikada di kota tersebut, semakin bergairah. Maklum, dari sembilan kandidat yang lolos, pasangan Muhammad Saleh, SE – Jafar SAg tak bisa dianggap enteng dan remeh. Dari hari ke hari, arus dukungan kepada putra daerah ini, terus meningkat. “Alhamdulillah dan amin. Ini berkat masyarakat, kawan-kawan, sahabat serta keluarga besar saya dan Jafar. Saya yakin, warga Kota Lhokseumawe mulai bisa memilah dan memilih, siapa figur yang tepat untuk Walikota dan Wakil Walikota Lhokseumawe, lima tahun mendatang,” kata Saleh, merendah.
Siapa Muhammad Saleh? Saleh begitu dia disapa, lahir hari Sabtu, sekira pukul 05.00 Wib (subuh), tanggal 10 Juli 1968, di Kelurahan Kampung Jawa Lama, Gang PU, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.
Dia anak kedua belas dari 13 bersaudara, pasangan almarhum Abdullah Amin dan almarhumah Hajjah Nuriyah. Ayahnya, Abdullah Amin, adalah seorang veteran pejuang Kemerdekaan Indonesia dan peternak kambing, yang puluhan tahun menjadi salah seorang tokoh masyarakat di Kampung Jawa Lama.
Seperti umumnya anak-anak lain, masa kecil Saleh dihabiskan untuk bermain dan sekolah di SD Muhammadiyah Lhokseumawe. Kampung Jawa Lama, yang merupakan kawasan tepi pantai yang berhubungan langsung dengan Samudera Hindia. Karena itu jangan heran, setelah pulang sekolah, Saleh terbiasa untuk berenang, tarik pukat serta memancing di laut. Termasuk bermain sepak bola dan bola voli di tepi pantai.
Malam harinya, tetap digunakan untuk belajar dan mengaji bersama ibundanya di rumah dan pada almarhum H. Muhammad Ridwan (Kek Abu), ayah dari almarhum Ramli Ridwan, mantan Bupati Aceh Utara dan Pj Gubernur Aceh.
Setelah tujuh tahun di SD Muhammadiyah atau tamat tahun 1981, Saleh melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Lhokseumawe. Di sekolah ini, dia terlibat aktif sebagai anggota Pramuka. Bakat kepemimpinannya mulai terlatih dalam wadah organisasi ini. Hingga menjelang akhir pendidikan di SMP, Saleh terpilih sebagai Pratama atau Pimpinan Utama Pramuka di Gugus Depan sekolahnya, SMP Negeri 2 Lhokseumawe.
Selama menekuni Pramuka, Saleh terpilih untuk mengikuti berbagai kegiatan kepramukaan. Bersamaan dengan itu, tiga hari dalam sepekan, Saleh berlatih ilmu bela diri Pencak Silat beraliran Minang (Padang) pada Padepolan SILAT TUWO di Lhokseumawe. Padepokan ini didirikan Mayor TNI (Purn) Nawawi. Selanjutnya berlatih olah raga Anggar (Fencing) hingga kelas dua SMA. Lalu, dia sempat beralih ke olahraga bela diri karate dan kempo di Komplek PT Arun, Batuphat, Lhokseumawe.
Setamat SMP tahun 1983, Saleh remaja melanjutkan sekolah di SMA Malikussaleh Lhokseumawe. Bakat kepemimpinannya semakin terasah. Di SMA inilah, dia mulai akrab dengan berbagai organisasi pemuda. Saleh terpilih untuk mengikuti pendidikan Kepemimpinan Pemuda dan Siswa yang dilaksanakan KNPI Aceh Utara, saat itu dipimpin almarhum Drs Hasan Basri A. Thaleb dan siswa kader Golkar di Aceh Utara dibawah kepemimpinan H. Zulkifli Hanafiah. Dia kemudian terpilih sebagai peserta terbaik dan berhak mengikuti pendidikan serupa di Banda Aceh.
Sebelumnya, sejak kelas satu SMA, Saleh ikut menjadi kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Saat itu, organisasi ini dipimpin Tarmizi AR. Di organisasi inilah, mental dan ideologi ke-Islaman dan Ke-Indonesiaannya di tempa. Saleh mengikuti berbagai pelatihan. Diam-diam, Saleh mendalami berbagai gerakan dan aliran pemikiran Islam. Bersamaan dengan itu, dia juga ikut dalam berbagai kegiatan Remaja Islam di Lhokseumawe hingga tamat SMA tahun 1987.
Perpaduan bakat kepramukaan dan organisasi tadi, membuat Saleh remaja bercita-cita menjadi seorang taruna AKMIL TNI-AD. Namun, keinginan itu tidak terlaksana karena keterbatasan dana orang tuanya. Lalu, dia mendaftar sebagai mahasiswa di Akademi Sekretari dan Manejemen Tanah Rencong Lhokseumawe. Lalu, melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi (S-1). Dia memilih Fakultas Ilmu Administrasi Niaga di Universitas Malikussaleh Lhokseumawe.
Seiring berjalannya waktu, sebagai mahasiswa, Saleh tak bisa melepaskan diri dari dunia aktivis. Dari PII dia terjun ke Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di HMI, Saleh dikenal aktif. Berbagai pendidikan perkaderan diikutinya. Baik di Aceh, Jakarta serta beberapa kota lain di Indonesia. Jenjang terakhir adalah, pendidikan dan latihan (Pusdiklat) di Bandung, Jawa Barat.
Sebagai instruktur perkaderan HMI, Saleh dikenal sebagai tutor: Dinamika Sistem, Mental - Ideologi serta Strategi Taktik (Stratak) Gerakan. Selain mengikuti beberapa pendidikan dan pelatihan jurnalistik (wartawan) di Lhokseumawe, Banda Aceh dan Jakarta. Karena itu jangan heran, saat Aceh berstatus Daerah Operasi Militer (DOM), Saleh dan kawan-kawan, menggelar berbagai aksi demontrasi di Lhokseumawe dan Banda Aceh. Isu yang diusung adalah, meretas jalan perdamaian untuk Aceh.
Di kampus (ASM Tanah Rencong dan Unima—red), Saleh sempat dipilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT). Di luar kampus, Saleh menjadi Wakil Ketua HMI Cabang Lhokseumawe beberapa periode. Bakatnya yang kuat di organisasi ekstra kampus, beberapa organisasi kepemudaan di Aceh Utara, kemudian melirik Saleh. Lalu, dia diajak untuk menjadi Pengurus DPD KNPI Aceh Utara dibawah kepemimpinan M Johan SH serta Terpiadi A. Madjid, DPD AMPI Aceh Utara yang dipimpin Shalahuddin Ghafur serta DPD Pemuda Panca Marga Aceh Utara yang dikomandoi Harry Azhary Nur.
Nah, pada tahun berikutnya, dia memilih tinggal dan menetap pada kakak perempuannya di Komplek PT Arun, Batuphat. Kakaknya itulah yang membiayai Saleh untuk terus kuliah. Di tengah perjalanan karir aktivisnya, seorang alumni HMI, H. Kertasih Suherman yang bekerja di PT. Arun, merekrut Saleh menjadi salah seorang karyawan kontrak di Bagian Humas PT Arun, NGL. Co di Blang Lancang, Aceh Utara.
Bakat aktivis dan kepemimpinan tak juga pudar, apalagi kendur. Di Komplek PT Arun, Saleh aktif di Remaja Islam PT. Arun (Remais), wadah organisasi putra-putri keluarga PT Arun. Bersamaan dengan itu, sempat menjadi Ketua Remais PT Arun dan penyiar di Radio Istiqamah BDI PT. Arun. Profesi itu hanya sempat dijalaninya selama tiga tahun. Setelah itu, dia hijrah dan menjadi wartawan Harian Serambi Indonesia, liputan Lhokseumawe dan Aceh Utara.
Selama satu tahun di Aceh Utara, karir kewartawanannya terus meningkat. Saleh dipromosikan sebagai wartawan Serambi Indonesia di Banda Aceh. Berbagai liputan politik, hukum dan investigasi, dilakukan dengan tajam dan akurat. Bersamaan dengan itu, Saleh pindah kuliah dari Unimal ke Universitas Abulyatama, Aceh Besar. Dia lulus tahun 1999. Rentang waktu yang cukup panjang, tentunya.
Bersamaan dengan itu, bakat aktivisnya belum juga hilang. Pada Januari 1996, dia menikah dengan Agusniar. Putri dari almarhum H Muchtar Yusuf – Hj Mardiah, seorang karyawan PT Arun NGL. Co atau anak dari Tgk Yusuf Wahi, seorang tokoh DI/TII angkatan Tgk Daud Bre-eh, di Kuta Binjai, Aceh Timur. Ayah dari ibunya adalah almarhum Tgk Daud, salah seorang tokoh masyarakat (ulama) di Bagok, Aceh Timur.
Tahun 1998, dia terpilih sebagai Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Aceh (1998-2000). Kondisi dan situasi konflik Aceh yang terus membara, membuat Saleh berada pada posisi sulit. Begitupun, semangatnya untuk melawan berbagai pelanggaran HAM dan demokrasi di Aceh, tetap jalan. Ini dibuktikan dengan ikut melahirkan Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA) bersama Muhammad Nazar Cs (Wagub Aceh yang kini maju sebagai Cagub Aceh—red) serta menggalang berbagai aksi solidaritas untuk Aceh. Termasuk melakukan serangkaian aksi demontrasi di Aceh dan Jakarta. Menjadi wartawan, aktivis serta ayah dari satu anak saat itu, ditekuninya secara bersamaan.
Persis tahun 2000, Saleh terpilih menjadi salah seorang anggota Tim Penasehat Presiden RI, BJ Habibie Untuk Urusan Aceh. Dia bersama sejumlah tokoh Aceh lainnya, duduk dan berpikir untuk penyelesaian konflik Aceh. Ada almarhum Usman Hasan (mantan Dubes RI Untuk Meksiko), A. Rahman Ramli (mantan Dubes RI Untuk USA), Prof Dr Bachtiar Aly (mantan Dubes RI Mesir), Soerjadi Soedirja (mantan Mendagri), almarhum Prof Dr Ismail Suni (mantan Dubes RI untuk Arab Saudi), Dr Ir. Mustafa Abu Bakar (mantan Pj Gubernur Aceh/Kabulog RI dan Meneg BUMN), HT. Ir Suryansah (mantan Dirut PT KKA) serta sejumlah nama lainnya seperti Fachri Aly. Tugas negara itu hanya setahun disandangnya. Setelah Habibie turun dan digantikan Abdurrahman Wahid (Gusdur—2000), tim ini dibubarkan.
Entah karena pemikirannya yang selalu kritis, terutama saat berdebat mengenai kondisi dan situasi Aceh, Saleh sempat mendapat ancaman dan teror dari banyak pihak. Posisi ini akhirnya membuat Saleh membawa istri dan kedua anaknya saat itu ke Jakarta.
Saleh akhirnya pamitan dari Harian Serambi Indonesia dan bekerja pada Majalah Berita Mingguan GAMMA, Jakarta. Di majalah yang kini sudah tutup itu, dia sempat menghabiskan waktu satu tahun. Bersamaan dengan itu, dia direkrut menjadi staf ahli Dr Ahmad Farhan Hamid (anggota DPR-RI, Fraksi PAN, asal Aceh). Kemudian pindah ke Majalah Berita Mingguan Forum Keadilan, Jakarta. Pada kedua majalah nasional ini, Saleh meniti karir mulai dari wartawan hingga redaktur. Terakhir di MBM Forum Keadilan, Saleh duduk sebagai Redaktur Hukum, Politik, Kriminal dan Pertahanan. Dia sempat mengikuti serangkaian pelatihan investigasi tentang drugs (narkoba) serta liputan di daerah konflik.
Ditengah kesibukannya sebagai wartawan. Tahun 2000, Saleh kembali melanjutkan kuliah. Dia mendaftar pada Program Pasca Sarjana (S-2) Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia (UI). Setelah mengikuti serangkaian test akademik, Saleh dinyatakan lulus. Begitupun, pendidikan itu mengalami kegagalan, karena ketiadaan biaya. Saat itu, Gubernur Aceh dipegang Abdullah Puteh.
Berbeda dengan mahasiswa Aceh lainnya, Saleh tak mendapat perhatian dan bantuan dari Pemda Aceh/Abdullah Puteh. Itu disebabkan, Saleh dinilai bertentangan dengan Puteh, karena terus memberitakan indikasi keterlibatan Puteh dalam beberapa kasus di Majalah GAMMA dan Forum Keadilan.
Atas saran teman-temannya, tahun 2002, Saleh kembali mengikuti test pendidikan S2 di UI, jurusan yang dipilih adalah KRIMINOLOGI. Seperti pendidikan awal, nasibnya gagal juga. Menjelang masa akhir, ketersediaan dana menjadi hambatan. Maklum, hidup di Jakarta dengan satu istri, dua anak plus kuliah, tentu sangat berat.
Tinggal di Jakarta, tak membuat batin Saleh tenang, melihat kondisi Aceh yang terus bergejolak. Berbagai aksi masyarakat Aceh di Jakarta, Bandung dan beberapa daerah lain, ikut difasilitasinya. Bersama ribuan masyarakat Aceh di Jawa, Saleh menggalang berbagai aksi solidaritas. Tentu saja secara diam-diam.
Tepat tahun 2003, saat Aceh ditetapkan sebagai daerah Darurat Militer (DM-I), Saleh tak kuasa menahan gejolak batinnya untuk kembali ke Aceh. Akhirnya, dengan tekad kuat dan penuh resiko, berbagai tabungan serta bantuan sejumlah kolega di Jakarta dan Aceh, dia kembali ke Aceh. Uniknya, dia justeru melawan arus dengan membuka media cetak lokal bernuansa hukum, politik, kriminal dan HAM serta demokrasi. Namanya: Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, persis 16 April 2003. Salah satu sosok yang paling berjasa lahirnya MODUS ACEH adalah, Terpiadi A Madjid serta Tuanku Mirza Keumala. Padahal, saat itu, jangankan media lokal, media nasional pun ekstra hati-hati dalam memberitakan kasus dan peristiwa Aceh.
Hadirnya Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, yang konsen pada masalah politik, hukum dan HAM serta demokrasi ini, menimbulkan berbagai sikap pro-kontra di Aceh. Banyak pihak meragukan konsistensi dan sikap Saleh sebagai pimpinan redaksi, sekaligus pemilik. Begitupun, konsistensi Saleh pada masalah hukum, politik, HAM dan demokrasi, terjawab juga. Dan, membuat media ini selalu mendapat tempat di hati rakyat Aceh. Termasuk meraih penghargaan Adi Warta Sampoerna serta Muchtar Lubis Award untuk liputan investigasi terbaik tahun 2008, 2009, 2010 dan 2011.
Berhentikah Saleh beraktivitas? Tidak juga. Saat Dr Ir. Mustafa Abu Bakar menjadi Pj Gubernur Aceh, Saleh diajak serta untuk menjadi salah seorang Staf Ahli Gubernur Aceh, Bidang Media, Pemuda dan Olah Raga. Bersamaan dengan itu, Saleh tercatat sebagai staf ahli Kepala BPKS Sabang dibawah kepemimpinan T. Saiful Ahmad (Bidang Komunikasi). Saat itulah, Saleh menjadi salah seorang anggota tim delegasi Pemerintah Aceh dan BPKS Sabang untuk melakukan kunjungan ke Dublin Port, Irlandia serta Belgia. Sebelumnya, Saleh pernah menjabat sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT Kertas Kraf Aceh, HT. Suryansyah (tahun 2006-2007).
Saat Aceh dilanda gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam, Saleh sering diajak berdiskusi berbagai hal oleh Kepala BRR NAD-Nias Kuntoro Mangkusubroto serta Sekretaris BRR NAD-Nias saat itu, Ramli Ibrahim. Dia banyak memberi masukan dan pemikiran informal tentang proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh. Hasilnya, Saleh berhasil melobi pimpinan BRR NAD-Nias saat itu, untuk meningkatkan kualitas SDM wartawan di Aceh dengan menggaet kerjasama BRR NAD-Nias dengan Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta. Tujuannya, melatih sejumlah jurnalis dan pejabat Humas di Aceh pada lembaga tersebut di Jakarta.
Dan, awal Januari 2008 lalu, Saleh bersama Dr Ahmad Farhan Hamid (anggota DPR-RI asal Aceh), mendirikan partai lokal di Aceh. Namanya, Partai Bersatu Atjeh. Saleh duduk sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen). Sementara Farhan sebagai Ketua Umum. Di partai ini, Saleh bersama Farhan mengarap berbagai konsep. Mulai dari AD/ART hingga flatporm partai. Begitupun, dalam perjalanannya, Saleh banyak berbeda pendapat dengan Farhan Hamid, terutama visi dan misi dalam melihat berbagai persoalan sosial, budaya dan politik Aceh, termasuk gaya dan pola kepemimpinan Wakil Ketua MPR-RI tersebut. Akhirnya Saleh memilih mundur dari partai lokal tersebut.
Sementara, tugasnya sebagai Pimpinan Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, terus berjalan. Kecuali itu, dia masih memberikan berbagai materi pada pelatihan kewartawanan bagi mahasiswa, wartawan serta aktivis. Saleh sering menjadi narasumber bagi sejumlah media cetak maupun elektronik, baik lokal, nasional maupun Internasional. Dia memiliki pikiran serta gagasan yang tajam serta kritis tentang politik, hukum, sosial dan budaya Aceh.
Di sektor olahraga, Saleh sempat menjadi Ketua Umum Olahraga Tarung Derajat (Kodrat) Aceh. Kemudian melaju ke posisi Wakil Sekretaris Umum KONI Aceh saat dipimpin Tantawi Ishak, mantan Sekdaprov Aceh. Saat ini masih dipercaya sebagai Sekretaris Umum KONI Aceh dibawah pimpinan H. Zainuddin Hamid (Let Bugeh) dan Ketua Pengprov. Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh.
Dalam hal beragama, Wakil Sekretaris MPW Pemuda Pancasila Aceh dan Pengurus PSSI Aceh Bidang Promosi dan Media ini dikenal sebagai sosok anak muda Aceh yang menghargai pluralisme, moderat serta toleran.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Siapa Muhammad Saleh?
Lahir dari keluarga sederhana di Kawasan Kampung Jawa Lama,...
Pupus Duka Saat Bertemu Keluarga
Setelah tujuh tahun dinyatakan hilang akibat bencana gempa...
Panas Dingin Tersengat Perkara Lama
Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana membangun...
Kalau Saya Punya Tanah Kenapa Rupanya?
Akibat adanya larangan publikasi terkait dipilihnya Desa...
Karya Nyata Menghasilan Prestasi
Setelah melalui proses penjurian yang cukup memakan waktu...
Menebar Janji Menarik Simpati
Banyak cara dilakukan bakal calon (balon) Walikota...









