Hanya berselang satu hari setiap perayaan Natal tanggal 25 Desember, warga Aceh tak akan pernah lupa dengan tragedi yang memilukan, yaitu bencana gempa dan tsunami, 26 Desember 2006 silam. Dan, sejak tujuh tahun lalu, seremoni sekaligus ritual tersebut, menjadi agenda tetap, untuk mengenang tragedi dahsyat tersebut. Maklum, tanggal 26 Desember 2006 lalu, gempa bumi 9,3 Skala Ritcher dan gelombang tsunami setinggi 9 meter menghantam Bumi Serambi Mekkah tanpa ampun.
Akibatnya, korban jatuh bergelimpangan. Sebagian di antara mereka terseret ombak dan tak pernah ditemukan lagi hingga saat ini. Tujuh tahun telah berlalu dan Aceh telah bangkit dari duka. Tapi siapa sangka, ternyata tsunami Aceh masih menyisakan kisah mengharu-biru, sekaligus bukti atas keajaiban Tuhan.
Dari Desa Ujong Baroh, Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh, Aceh Barat, keajaiban itu dibuktikan Allah SWT dengan mengembalikan seorang bocah yang sejak tujuh tahun lalu ikut terserang tsunami dan menghilang bersama ombak. Namanya, Meri Yulanda alias Wati.
Saat itu, Wati masih berumur 7 tahun. Ibu Wati, Yusnidar, panik saat gelombang tsunami melanda desa mereka. Di tengah kepanikan hebat itu, Yusnidar berhasil merangkul ketiga anaknya, termasuk Wati. Mereka, bersama-sama menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi. Tapi entah bagaimana, Wati terlepas. Yusnidar pun pasrah menerima kenyataan bahwa sang anak hilang terbawa arus tsunami. Kisah Wati, rupanya jadi perhatian The Telegrap, salah satu media terkemuka di Belanda.
Nah, Rabu, 21 Desember lalu, Wati yang kini sudah menginjak remaja berusia 14 tahun, muncul kembali di kampung halamannya, tepat tujuh tahun setelah menghilang tanpa ada kabar. Seorang kenalan keluarga membawa Wati yang kini berkulit lebih gelap, ke rumah kakeknya, Ibrahim.
Sang Kakek kemudian membawa Wati ke rumah kedua orang tuanya, Yusnidar dan Yusuf, di Meulaboh. Pertemuan antara orang tua dan anak ini berlangsung penuh haru. Setelah bertahun-tahun mereka berpisah, siapa sangka nasib mempersatukan ketiganya kembali. Yusnidar dan Yusuf mengenali Wati dari tahi lalat dan luka kecil di sikunya.
Sebelumnya, Wati ditemukan sedang duduk termenung di sebuah warung kopi. Saat ditanya, dia mengaku baru saja tiba dari Banda Aceh dan sedang berusaha untuk pulang kampung. Tapi Wati tak tahu bagaimana caranya. Yang dia ingat hanya nama Ibrahim, sang kakeknya.
Memang, pasca tsunami, Wati yang tersesat ternyata dipingit seorang janda di Banda Aceh. Dia, dipaksa menjadi pengemis. Wati mengaku, selama dijadikan pengemis di Banda Aceh, ia sering disiksa ibu asuhnya. Wati pun pulang ke Ujong Baroh dalam kondisi pinggang terkilir dan rambut gundul.
Kakek Wati, Ibrahim Nur (60 tahun) menyatakan, Wati mengalami penyiksaan dari ibu asuhnya. Dia dipaksa mengemis di jalan-jalan protokol di Banda Aceh. Menurut Ibrahim, Wati bahkan dipaksa mengemis hingga larut malam. “Kalau tidak mendapat uang, dipukul,” kata Ibrahim seperti diwartakan laman VIVAnews, Jumat 23 Desember 2011. Lalu, dia mengenang, saat tsunami terjadi, Wati masih berusia 7 tahun. Ia bersama kakaknya, Yulisa (saat itu berusia 13 tahun) diselamatkan oleh ayah mereka, dan ditempatkan di atas sebuah rumah toko.
“Ayah mereka meninggalkan keduanya untuk menyelamatkan salah seorang tetangga yang hanyut dibawa gelombang. Tapi saat ayah mereka kembali, Wati dan Yulisa telah hilang,” ujar Ibrahim. Kisah Ibrahim ini agak berbeda dengan versi yang dimuat oleh The Telegraph. Tapi intinya, Wati hilang bersama tsunami.
Masih kata Ibrahim, baru minggu ini ia tahu Wati ternyata selamat dari gelombang tsunami, dan sempat terkatung-katung berhari-hari di Kota Meulaboh. Di Terminal Meulaboh, tutur Ibrahim, Wati bertemu seorang wanita yang membujuknya untuk ikut ke Banda Aceh.
Ibrahim menyatakan, pihak keluarga sudah mencari Wati dan Yulisa hampir ke seluruh wilayah Aceh Barat dan Banda Aceh pada masa tanggap darurat. Upaya pencarian itu, kata Ibrahim, tak membuahkan hasil sehingga kedua kakak-adik itu diyakini hilang.
Meri akhirnya kembali pulang ke pangkuan keluarganya, karena menurut Ibrahim, janda yang mengasuhnya tak sanggup lagi mengurus Wati. Sang janda rupanya merasa merugi karena Wati kerap pulang tanpa membawa uang hasil mengemis.
Ibrahim menuturkan, Wati mengaku tak tahan lagi disiksa dan dipaksa mengemis. Ibu asuhnya lantas mengantar Wati ke Terminal Batoh Banda Aceh, sambil memberikan alamat kedua orang tuanya. Si ibu asuh rupanya mengenal orang tua kandung Wati, karena kakek Wati, Ibrahim, termasuk tokoh ternama di kampungnya.
Sesampai di Terminal Meulaboh, papar Ibrahim, Wati kemudian berjalan kaki tanpa tahu tujuan pasti. Seorang tukang becak kemudian membantunya mencari alamat orang tuanya, sambil mengantar Wati kembali ke rumah, pada Rabu 21 Desember 2011 lalu. “Wati diantar ke rumah kepala desa, dan setelah diberitahu identitas orang tua Wati, saya dipanggil untuk menjemputnya,” jelas Ibrahim.
Ibu kandung Wati, Yusnidar, yakin seratus persen bahwa Wati adalah anaknya. Keyakinannya itu berdasarkan tanda lahir Wati berupa bercak hitam di pinggul, leher, serta tahi lalat di pelipis kanan. “Yusnidar kan ibunya, tentu punya pandangan sendiri. Kalau saya masih perlu mencari tahu lagi,” kata Ibrahim.
Kini, untuk memperingati kembalinya Wati, sekaligus untuk memperingati tujuh tahun tsunami, pihak keluarga akan menggelar syukuran selama dua hari berturut-turut, dimulai sejak Minggu 25 Desember 2011 ini. Pihak keluarga berdoa, semoga kembalinya Wati membuat kakak Wati, Yulisa, turut kembali.
Polisi saat ini sedang mengembangkan kasus Wati untuk melacak keberadaan ibu asuhnya yang telah menyiksa dan memaksa Wati menjadi pengemis selama tujuh tahun terakhir. Polisi telah meminta keterangan Ibrahim dan kedua orang tua kandung Wati.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Pupus Duka Saat Bertemu Keluarga
Setelah tujuh tahun dinyatakan hilang akibat bencana gempa...
Panas Dingin Tersengat Perkara Lama
Perusahaan Listrik Negara (PLN) berencana membangun...
Kalau Saya Punya Tanah Kenapa Rupanya?
Akibat adanya larangan publikasi terkait dipilihnya Desa...
Karya Nyata Menghasilan Prestasi
Setelah melalui proses penjurian yang cukup memakan waktu...
Menebar Janji Menarik Simpati
Banyak cara dilakukan bakal calon (balon) Walikota...
Seakan-akan Air Tidak Dibutuhkan
Sumber air bersih cukup tersedia di Kabupaten Bireuen....









