Kisah Duka TKW Di Arab Saudi
Saat Tuti Menghitung Hari
SETELAH tragedi Ruyati binti Satubi yang dipancung di Arab Saudi, satu lagi tenaga kerja wanita asal Indonesia yang terancam hukuman mati. Dia adalah Tuti Tursilawati. Perempuan ini berasal dari Desa Cikeusik RT 01 RW 01 Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Berbeda dengan Ruyati yang tewas tanpa pembelaan maksimal, Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengaku, pihaknya sedang mengupayakan pembebasan Tuti. Begitupun, pernyataan tersebut tak membuat H Ali Warjuki, ayah Tuti puas. “Selamatkan anak saya dari hukum gantung,” katanya dengan suara bergetar.
Mata pria ini sayu berkaca-kaca. Ia seorang buruh tani. Datang jauh dari Desa Cikeusik, Majalengka Jawa Barat, Kamis 13 Oktober 2011, berjam-jam ia di Kementerian Luar Negeri Jakarta. Warjuki, ayah Tuti meminta bantuan terhadap nasib anaknya.
Sang anak, yang mengantang nasib di Arab Saudi menjadi pembantu rumah tangga itu, kini di pintu kematian. Ia sudah masuk dalam daftar tunggu dan siap dipenggal Algojo Arab Saudi. Wanita pendiam ini dijatuhi hukuman mati alias qhisas atas perbuatannya membunuh majikan pria.
Dan, hari kematian itu sudah ditentukan. Tinggal menghitung hari. Keluarga korban yang bersikeras tidak memberi ampun dan menolak diyat atau ‘uang darah’, menuntut Tuti segera dieksekusi usai musim haji tahun ini, atau sekitar 6 November 2011 mendatang.
Menurut Warjuki, putrinya tak tahu ancaman eksekusi pancung itu. “Di sana dia tidak tahu bahwa akan dipancung. Dia tidak akan tahu, yang tahu keluarga di Indonesia saja,” ungkap Warjuki, dengan mata sendu.
Duka dan bingung juga dirasakan sang ibu, Iti Sarmini. Kabar putrinya bakal dipancung bagai petir di siang bolong. Sama seperti Warjuki, Iti juga sudah memutuskan bahwa kegelisahan dan tangis keluarga di Majalengka tidak ditularkan kepada Tuti yang sedang mendekam di penjara Kota Thaif. “Ayahnya cuma tanya kabar. Tidak tanya bagaimana hukuman. Takut dia nggak kuat terima omongan dari bapaknya,” kisah Iti sembari menangis.
Seperti diwartakan situs VIVAnews.com. Iti mengaku memendam rindu pada putrinya. “Terakhir ketemu ya dulu, waktu berangkat saja, sampai sekarang belum ketemu lagi. Sudah sekitar 2 tahun 1 bulan,” katanya. Putra semata wayang Tuti juga belum mengetahui nasib tragis yang mengancam ibunya. “Dia belum tahu ibunya dimana atau bagaimana, karena dia masih kecil, belum tahu apa-apa,” kata Iti. Kini baik Warjuki, maupun Iti hanya bisa berharap pada pemerintah agar anak mereka bebas dari hukuman pancung.
Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Jumhur Hidayat menjelaskan, ia sudah bertemu dengan keluarga TKW kelahiran 1984 itu, yang diwakili ayahnya, H Ali Warjuki. Dalam pertemuan itu, keluarga Tuti Tursilawati memohon kepada pemerintah untuk memberi perhatian khusus atas kasus yang menima Tuti termasuk melakukan pembelaan secara maksimal.
“Pemerintah akan melakukan penanganan dan mengambil langkah-langkah keras untuk melakukan pembelaan terhadap nasib Tuti di Arab Saudi,” ujar Jumhur, dalam rilis yang diterima VIVAnews.com, Senin 10 Oktober 2011.
Jumhur juga menyampaikan, BNP2TKI telah berkoordinasi dan mendapatkan informasi perkembangan kasus yang dihadapi Tuti dari Konsulat Jenderal RI di Jeddah dan dari Humphrey Djemat selaku juru bicara Satuan Tugas WNI/TKI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri.
Ia menceritakan, Tuti Tursilawati diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Arunda Bayu, 5 September 2009 dengan nomor paspor AN 169210. Ia dipekerjakan pada keluarga majikan, Suud Malhaq Al Utaibi di Kota Thaif, Arab Saudi.
Pada 11 Mei 2010, Tuti Tursilawati diketahui melakukan pembunuhan terhadap Suud Malhaq Al Utibi dengan cara memukulkan sebatang kayu. Tuti mengaku terpaksa, sebab majikannya diduga akan melecehkannya.
Setelah majikannya tewas, Tuti kemudian kabur dan membawa uang senilai 31.500 Real Saudi berikut satu buah jam tangan dari rumah keluarga majikannya itu.
Tuti lantas ditangkap polisi. Dalam pemeriksaan aparat berwenang di hadapan penyidik badan investigasi kepolisan setempat pada 18 Mei 2010 yang didampingi pihak Konsulat Jenderal RI Jeddah, Tuti mengakui seluruh perbuatannya. “Pelaku juga ditahan di penjara Kota Thaif sampai saat ini,” kata Jumhur.
Dia menambahkan, proses peradilan terkait kasus Tuti Tursilawati pun telah berjalan hingga akhir di samping melibatkan peran Lembaga Ishlah wal-’afwu (lembaga perdamaian dan pemaafan). Lazimnya berlaku di Arab Saudi untuk mengupayakan perdamaian dengan keluarga korban. “Namun demikian sejauh ini keluarga korban belum dapat memaafkan pelaku serta menolak digantikan dengan pembayaran denda dalam bentuk diyat,” jelasnya.
Jumhur mengatakan, melalui pengacaranya keluarga korban telah mengajukan permohonan kepada otoritas pengadilan di Arab Saudi agar dilaksanakan hukuman mati (qishash) terhadap Tuti Tursilawati setelah berakhirnya musim haji tahun 2011 ini.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Saat Tuti Menghitung Hari
Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia di Arab Saudi masih...
Diantara Kekerasan Seksual dan Hukum Pancung
Dia melawan ketika diperkosa majikan. Sang majikan tewas....
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
Masyarakat Menuding PT PIM Membantah
HARI masih terlalu pagi, saat puluhan warga yang berada di...
Ayo Awasi Persidangan Gus Mus
Sidang lanjutan kasus kasbon Bireuen yang melibatkan...
Rapor Merah untuk Nurdin-Busmadar
LSM GaSAK Bireuen menilai, kinerja Pemerintah Kabupaten...









