TKW di Arab Saudi
Diantara Kekerasan Seksual dan Hukum Pancung
Keputusan Tuti mengais rezeki di negeri orang, Arab Saudi mengikuti langkah orang tuanya. Warjuki pernah menjadi supir di negeri ‘petro dolar’ itu. Sementara Iti bekerja sebagai pembantu.
Warjuki menceritakan, Tuti mulai bekerja di Arab Saudi tahun 2009 lalu. Tugasnya, mengurus orang jompo di keluarga majikannya. Dua bulan pertama, ia mengaku betah. Pada November 2009, ia menelepon rumah, mengaku sehat dan dalam kondisi baik.
Namun, tiga bulan kemudian, Tuti kembali menelepon, mengaku lelah dan ingin kabur. Sekitar Mei 2010, Tuti menelpon ke orangtuanya dan mengatakan akan mengirim uang. Namun, uang tersebut tak pernah sampai.
Meski membuat nyawa majikan melayang, menurut orang tuanya, Tuti tidak bermaksud membunuh. Ia hanya membela diri atas kekerasan seksual yang dilakukan sang majikan. “Perlawanan inilah yang menyebabkan majikannya terbunuh.” Setiap kali Tuti melaksanakan tugas, majikan lelakinya selalu menggeranyang. “Mencium, bahkan memperkosanya saat bekerja.”
Lalu terjadilah malapetaka itu. Pada Selasa 11 Mei 2010, Tuti memukul majikannya itu dengan kayu, menghindari pemerkosaan. Ia mengikat kaki dan tangan pria tersebut, juga menutup matanya. Saat itu dia belum meninggal. “Kabar menyebutkan bahwa majikannya itu baru meninggal 3 jam kemudian di rumah sakit,” demikian pengakuan Tuti pada rekannya, Rohidin.
Setelah memukul majikannya, Tuti lari, membawa uang gaji senilai 31.500 real Saudi dan sebuah jam tangan dari rumah keluarga majikannya itu. Dalam pelariannya, ia dihampiri oleh seorang laki-laki asli Arab Saudi yang mengendarai mobil sedan berwarna putih. Singkat cerita, ia yang sedang panik memutuskan ikut karena dijanjikan diantar sampai Mekkah.
“Tapi dalam perjalanan orang tersebut bukannya mengantarkan Tuti ke Mekah tapi malah membawa dan menaruh Tuti di rumah kosong. Kemudian orang tersebut menjemput 8 orang temannya.”
Nestapa itu kembali menimpa Tuti. “Tuti diperkosa secara bergantian hingga waktu subuh tiba. Setelah 9 orang ini memperkosa, Tuti baru diantar ke Mekkah dan diturunkan di dekat Masjidil Haram, kemudian 9 orang tersebut langsung pergi dengan membawa tasnya.” Kini, keluarga Tuti hanya bisa berharap bantuan pemerintah untuk merayu keluarga korban. “Tinggal satu lagi yang belum terima dan memaafkan Tuti yaitu yang bernama Naif Al-Otaeibi.”
Wakil Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Ramses D Aruan, meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turun tangan dan bicara terkait vonis hukuman pancung, yang mengancam nyawa pekerja Indonesia di Arab Saudi, Tuti Tursilawati.
“Pemerintah harus kuat. Presiden harus turun tangan dan bicara soal itu. Tidak bisa hanya sekelas Menteri atau Satgas. Ini bukan hanya persoalan Kemenlu dan Satgas, tapi persoalan bangsa, dan Presiden harus bicara,” ujarnya di Gedung Kemenlu, Jakarta Pusat, Kamis, 13 Oktober 2011.
Keringanan hukuman untuk Tuti saat ini terhalang maaf keluarga sang majikan. Menurut Ramses, kendala itu bisa diatasi. Caranya, Presiden bisa menghubungi keluarga korban lewat Raja Arab Saudi. Kata dia, mungkin dengan itu keluarga bisa memaafkan dan membatalkan hukuman pancung terhadap Tuti. “Itu sudah dilakukan oleh Gus Dur. Tapi itu belum dilakukan sekarang, nggak tahu kenapa,” kata dia. Pemerintah juga diharapkan bisa menfasilitasi agar keluarga Tuti bisa meminta maaf kepada keluarga korban di Arab Saudi.
Sementara di Senayan, nasib Tuti juga jadi perhatian para wakil rakyat. Wakil Ketua DPR Taufik Kurniawan mengatakan DPR akan membantu pemerintah memintakan pengampunan baginya.
Taufik mengatakan, tim khusus TKI yang dipimpinnya sudah menyepakati, DPR mengirim surat pada parlemen Arab untuk memintakan pengampunan dari keluarga korban pembunuhan, atau majikan Tuti. “Surat resmi dari DPR itu akan disampaikan pada parlemen sana atau dewan syuro, yang dijadikan bahan pertimbangan disampaikan pada Raja Arab Saudi,” kata Taufik di DPR, Kamis 13 Oktober 2011.
Menurut dia, sebenarnya upaya pemerintah telah maksimal. Namun, persoalan ada di hilir. Yakni, pengampunan dari keluarga majikan. “Ini dari hasil rapat kemarin, posisi dari Raja Arab sudah membantu pengampunan itu tapi masalahnya keluarga sana belum mau berikan pengampunan. Dari kerajaan saudi pun sudah ajukan permintaan pengampunan dari keluarga sana.“
Tak hanya Tuti yang terancam pancung. Wakil Ketua Umum Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI), Ramses D Aruan mengatakan ada 41 orang warga negara Indonesia yang terancam hukuman mati di Arab Saudi. Dari jumlah itu, 26 orang segera dieksekusi oleh pengadilan setempat.
“Sudah vonis semua. Tuti adalah salah satu WNI yang benar-benar dalam posisi kritis dan akan sangat sulit diselamatkan,” kata Ramses.
Menurut data SBMI, lanjut Ramses, sejak tahun 1999 hingga 2011 sudah ada 303 buruh migran Indonesia yang terancam hukuman mati di luar negeri. “Sampai saat ini, belum ada informasi tertulis yang didapatkan oleh keluarga mengenai upaya penyelamatan yang dilakukan oleh BNP2TKI, Kemenlu, Kemenakertrans, dan Satgas Hukuman Mati,” kata dia.
Berdasarkan temuan SBMI, lanjut Ramses, pada Juli 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mengirim surat kepada Raja Saudi, Malik Abdullah Bin Abdul Aziz terkait hukuman mati WNI. Isi surat itu tentang permintaan pengampunan kepada empat orang TKW yang dipidana mati atas tuduhan sihir. Keempat WNI itu adalah Warnah Bin Warta Niing, Sumartini Binti Manaungi Galisung, Aminah Binti H. Budi, dan Darmawati Binti Tarjani.***
Berita Terkini
Riswan Metro Dilaporkan ke Panwaslu Simeulue
Senin, 16 April 2012 jam 19:53:40 WIB
Unjukrasa Tolak Kenaikan Harga BBM berlanjut di Banda Aceh
Rabu, 28 Maret 2012 jam 12:37:38 WIB
Ribuan Konstituen Dukung Darmuda
Senin, 12 Maret 2012 jam 15:22:43 WIB
Penumpang Kapal Ditemukan Tewas
Kamis, 08 Maret 2012 jam 17:28:01 WIB
Penetapan Nomor Urut Cagub/Cawagub PA tak Semarak
Kamis, 08 Maret 2012 jam 14:13:19 WIB
Organda Minta Tertibkan Angkutan Liar.
Kamis, 08 Maret 2012 jam 13:16:35 WIB
Haba Ulee Kareng
Di Tapal Batas
ADA begitu banyak pertanyaan sederhana yang bisa kita...
Suci Hati Bersih Jiwa
BELUM lagi kasus heboh Nazaruddin reda, kembali kita...
Lakon Pemimpin
ADU kuat antara Walikota Lhokseumawe Munir Usman dan Wakil...
Millata Abraham
KETIKA masih kanak-kanak, saya biasa membuat jengkel orang...
Boikot Media!
Muhammad SalehPERNYATAAN boikot media yang...
Wartawan Jahat!
Belum sempat trauma penganiayaan wartawan di Simeulu...
Berita Terbaru
Peluru GLM Pencabut Nyawa
Muhamad Daud Hanafiah (58 tahun), penderes getah karet di...
BOM Waktu dari Simeulue
Lima hari tidak beroperasi, ratusan penumpang Kapal KMP...
Partai SIRA Pecah Dukungan Nazar Terbelah
Setelah Ketua Umum DPP Partai SIRA, Taufik Abda...
Ketika SIRA Harus Memilih
Sejumlah petinggi Partai SIRA memilih mundur dari...
Nazar Tawarkan Saya Uang!
Entah berpengaruh atau tidak, yang pasti perseteruan...
SIRA Sudah tak Asin Lagi
Konflik di tubuh Partai SIRA sudah terjadi sejak era...
Berita Terpopuler
Darah Haid Pertanda Penyakit
Hampir separuh populasi wanita dewasa mengalami...
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa...
ISTRIKU KABUR DENGAN SEPUPUKU
Manusia kalau selalu diperbudak oleh hawa nafsunya, maka...
Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit
Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang...
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
MEMBANGUN UNIVERSITAS BERKELAS DUNIA
Idealnya, institusi pendidikan tinggi ditujukan tidak hanya...
Berita Terakhir Dibaca
Diantara Kekerasan Seksual dan Hukum Pancung
Dia melawan ketika diperkosa majikan. Sang majikan tewas....
Mutasi Pati Polri | Inspektur Jenderal Adityawarman Kapolda Aceh
Mabes Polri kembali mengelar mutasi sejumlah perwira...
Masyarakat Menuding PT PIM Membantah
HARI masih terlalu pagi, saat puluhan warga yang berada di...
Ayo Awasi Persidangan Gus Mus
Sidang lanjutan kasus kasbon Bireuen yang melibatkan...
Rapor Merah untuk Nurdin-Busmadar
LSM GaSAK Bireuen menilai, kinerja Pemerintah Kabupaten...
Mereka Menilainya Dari Aspek Apa?
Bagaimana evaluasi akhir tahun terhadap kinerja Pemkab...









