<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title><![CDATA[MODUSACEH.COM - JERITAN HATI - RSS FEED]]></title>
<link>http://www.modusaceh.com</link>
<description>TABLOID BERITA MINGGUAN - BIJAK TANPA MEMIHAK</description>
<language>id</language>
<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 03:59:33 +0700</pubDate>
<lastBuildDate>Sun, 01 Aug 2010 03:59:33 +0700</lastBuildDate>
<copyright>Copyright (C) 2009-2010</copyright>
<generator>MODUSACEH.COM RSS Generator</generator>

  <item>
  <title><![CDATA[Islam Cahaya bagi Diriku]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2769/islam_cahaya_bagi_diriku.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">&nbsp;

Hubungan cinta yang sudah terjalin dengan harmonis dalam waktu tiga hari, kandas di tengah perjalanan karena perbedaan keyakinan dan campur tangan orangtua. Jumat pekan lalu di Mapoltabes Banda Aceh, sebut saja Fransiscus (nama samaran-red) menceritakan sekelumit masalah hidup yang dihadapinya tersebut. Fransiscus adalah pemuda kelahiran Palembang dan sekarang tinggal di Medan, Sumatera Utara. Kepada Syamsul Bahri dari MODUS ACEH, Fransiscus pun menceritakan bait demi bait pengalaman hidupnya tersebut.
Aku berasal dari keluarga yang berada. Jika dilihat dari garis keturunan keluarga, aku adalah penganut non muslim. Aku sempat mengenyam pendidikan komputer dan internet, serta bekerja di salah satu perusahaan swasta di Medan. Namun sayang, karena sesuatu hal, aku terpaksa meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu. 
Kisah pilu hidupku sebenarnya bermula sejak berada di Banda Aceh dan bertemu dengan perempuan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Sat, 31 Jul 2010 00:33:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Pengalaman Hidup Membuatku Tegar]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2611/pengalaman_hidup_membuatku_tegar.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Sebut saja Abdullah. Lelaki tua yang bekerja sehari-harinya sebagai pengemis ini, hidup dijalanan demi mendapatkan sebungkus nasi dan kebutuhan lainnya.

Kamis pagi kemarin dengan menumpang labi-labi (angkot) jurusan Ule Lhee, seorang laki-laki tua dengan berpakaian agak sedikit compang-camping menceritakan tujuannya berangkat ke Sabang, yaitu untuk mencari sanak keluarganya, tanpa harus membayar ongkos apapun yang dikendarainya.

&ldquo;Ongkos ke Ulee Lhee Rp. 5.000 dan naik kapal cepat Rp. 50.000 serta naik kapal lambat Rp.18.000.....&rdquo; jawab lelaki tua yang berusia 90 tahun saat wartawan media ini bertanya.

&ldquo;Orang cari rezeki sekarang kebanyakan tidak benar, apapun cara ia lakukan demi uang, bahkan menipu orang sekalipun,&rdquo; tutur Abdullah (samaran-red) mengawali cerita hidupnya kepada Shanti dari MODUS ACEH.

***

Aku bekerja sebagai pengemis di Aceh. Namun tempat yang pernah kusinggahi untuk mengemis.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 19 May 2010 19:05:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Hidayah Allah Jadikan Aku Seorang Muslim]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2586/hidayah_allah_jadikan_aku_seorang_muslim.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Dilahirkan dari keluarga non muslim, bukan berarti tidak ada kesempatan untuk menjadi muslim dan menyandang status muallaf. Ketika hidayah Allah datang, tak ada kekuatan apapun yang bisa membendungnya. Inilah kisah hidup seorang pria, sebut saja Ibrahim.

Pria bermata sipit itu, keluar dari ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh, Rabu (5/4) pekan lalu. Dia baru saja usai mengikuti persidangan. Sambil berjalan, dia menceritakan kisah kesuksesannya kepada wartawan MODUS ACEH.

&ldquo;Orang tua saya keduanya lahir di China, tepatnya Ibukota Beijing. Setelah menikah, mereka&nbsp; merantau sampai ke Sabang dan lahirlah aku,&rdquo; tutur Ibrahim yang sebelumnya bernama Yon Yang (samaran-red), mengawali kisahnya. 

Walaupun aku dilahirkan ke dunia ini bernafaskan agama Budha yang taat, namun aku selalu berteman dengan kalangan muslim. Dan, semua temanku sangat baik menerima aku. Tidak ada yang mengejekku, seperti halnya yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 12 May 2010 19:30:05 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Penjara Suami di Tanganku]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2564/penjara_suami_di_tanganku.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Percekcokan dan pertengkaran sering terjadi dalam berumah tangga. Bagi sebagian orang, itu dianggap lumrah. Celakanya, terkadang merambah pada kasus KDRT (kekerasan dalam rumah tangga).

Awal kejadian naas ini muncul ketika suamiku, sebut saja&nbsp; Fadli (samaran&mdash;-red) pulang tengah malam dan mendapatiku (Indah, samaran-red) sedang berada dalam kamar. Sebenarnya aku dan Fadli sudah lama pisah ranjang karena Fadli telah mengucapkan kata talaknya terhadapku.

Sedangkan aku tidur di kamar anak-anak. Sejak aku ditalaknya, aku memilih tidur bersama anak-anak dengan bersenda gurau dan bermain bersama mereka. &ldquo;Bukan kali pertama ia mengucapkan kalimat talaknya terhadap diriku. Bahkan ketiga kalinya ia mengucapkan kata-kata yang sangat dibenci dalam Islam tersebut. Tetapi, Fadli sering mengucapkannya dalam keadaan tak sadarkan diri (mabuk&mdash;-red),&rdquo; kenang Indah mengawali kisah hidupnya kepada MODUS ACEH,&nbsp; usai.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 05 May 2010 20:19:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Aku Bercerai Demi Anak]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2545/aku_bercerai_demi_anak.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Sepuluh tahun ditinggal suami karena nikah lagi, Aku menggugat cerai suamiku sesuai saran anak.

Senin pekan lalu di Pengadilan Agama Mahkamah Syari&rsquo;ah Banda Aceh, sebut saja Ida (nama samaran-red) menceritakan sekelumit masalah hidup rumah tangganya dan alasan ia bercerai. Ida adalah gadis Batak yang lahir di Aceh dan dibesarkan di Medan, Sumatera Utara. Kepada MODUS ACEH, Ida pun menceritakan bait demi bait pengalaman pilu hidupnya tersebut.

Aku berasal dari keluarga yang berada. Dan jika dilihat secara garis keturunan, keluargaku masih ada hubungan dengan silsilah keturunan raja batak. Aku sempat mengenyam bangku kuliah selama empat semester di salah satu perguruan tinggi swasta di Aceh. Namun sayang, karena sesuatu hal aku tidak dapat menyelesaikan kuliahku.

Kisah pilu hidupku sebenarnya bermula sejak aku tamat sekolah menengah atas (SMA). Saat itu, aku menjalin hubungan dengan seorang pria Batak yang selama ini telah.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 28 Apr 2010 20:48:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[AKU TERBELENGGU DENGAN DOSA MEREKA]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2503/aku_terbelenggu_dengan_dosa_mereka.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Citra (samaran-red) adalah anak pertama dari dua bersaudara dengan status tidak jelas, karena terlahir dari hubungan diluar nikah, 25 tahun silam. Namun Citra tidak begitu saja menyerah dengan statusnya itu. Walau banyak orang yang tidak menyukainya, namun didunia pendidikan ia mampu berprestasi.

&ldquo;Usiaku memang masih muda, tapi perjalanan hidupku sangat berliku-liku,&rdquo; ucap Citra ketika mengawali ceritanya kepada media ini.

Aku adalah anak dari orang tuaku yang lahir tanpa status. Padahal aku adalah anak dari seorang mahasiswi Fakultas hukum di Yogyakarta. Sedangkan ayahku mahasiswa Fakultas Ekonomi juga di tempat yang sama.

Menurut cerita nenekku, mereka sudah berpacaran sejak ibuku duduk kuliah di semester lima. Mereka saling mencintai. Tapi nenek melarangnya, apalagi menikah karena harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu.

Pada suatu hari mereka pergi berlibur ke pulau Dewata, Bali. Beramai-ramai mereka.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 14 Apr 2010 22:22:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Kepemilikan Rumah Menuai Masalah]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2459/kepemilikan_rumah_menuai_masalah.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Tidak dulu tidak juga sekarang, masalah harta sering jadi rebutan, terutama warisan. Walau agama sudah menjelaskan secara gamblang, namun tetap menjadi persoalan yang pelik.

Sebelum Ayah dan Ibu meninggal, hari-hari yang dijalani Adly (samaran) terasa indah. Tak ada pertikaian dan selisih paham sesama anggota keluarga. Semua terlihat akur dan saling bahu membahu. &ldquo;Anggota keluargaku sebelumnya berjumlah tujuh orang, dan kini hanya tinggal empat orang, setelah tiga kakak dan ayahku meninggal dalam musibah gempa tsunami yang melanda Aceh 2004 lalu.&rdquo; Kenang Adly selaku pihak yang tergugat di Pengadilan Agama Banda Aceh kepada wartawan MODUS ACEH, Selasa pekan lalu.

Ibuku sudah meninggal sejak sepuluh tahun silam, tepatnya tahun 2000. Dan lima tahun berikutnya disusul Ayah dan tiga kakak kandungku juga meninggal, dalam musibah tsunami. Kini yang tersisa hanya aku (Adly-red) dan ketiga adikku; Asma, Hendra dan Susi.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 31 Mar 2010 22:11:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Rumah Tanggaku Kandas di Tangan Ibu]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2443/rumah_tanggaku_kandas_di_tangan_ibu.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Rumah tangga bahagia yang dibangun Lia (samaran) dan Johan (samaran) selama dua tahun, kandas di tengah jalan. Itu disebabkan, campur tangan orangtua. 

Awalnya, hari-hari dijalani Lia dan Johan serta putrinya yang baru berusia satu setengah tahun, baik-baik saja tanpa ada masalah. Meski hidup sederhana, mereka tak pernah kekurangan. Lia pun tak pernah mengeluh, namun petaka itu datang setelah ibunya Lia ikut dan tinggal bersama mereka. Suasana rumah berubah total. Lia dan suaminya sering ribut sehingga Johan tak betah tinggal di rumah. &ldquo;Ibuku sering sekali mencampuri urusan rumah tangga kami dan suka sekali membesar-besarkan masalah yang kecil sehingga suamiku tidak tahan dengan sikap ibu,&rdquo; begitu cerita Lia kepada wartawan MODUS ACEH, usai mengikuti sidang gugatan cerai di Mahkamah Syariah Banda Aceh, pekan lalu.

Semakin lama, ulah ibuku kian menjadi-jadi dan membuat suamiku berang. Suatu hari ibu menagih kembali.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 24 Mar 2010 20:43:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Sahabatku Yang Ternoda]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2308/sahabatku_yang_ternoda.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Sebut saja Safrina. Warga Desa Lambaroe Angan Darussalam Banda Aceh ini, merupakan salah satu pembaca Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH. Rubrik Jeritan Hati menjadi pilihannya. Bahkan, ditengah kesibukannya bekerja selama seminggu, dia menyempatkan diri untuk berbagi kisah kelam masa kecil sahabatnya kepada media ini. Seperti apa kisahnya? Ini dia penuturannya yang ditulis Fitri Juliana.

Sudah cukup lama Safrina tidak bertemu Santi. Sahabatnya sejak kecil, bagaimana nasib sahabatnya sekarang dan tinggal dimana dia? Safrina pun tidak pernah tahu. Baru-baru ini Santi hadir dalam mimpinya sambil menggendong anak kecil dan berjalan di keramaian. Kehadiran Santi dalam mimpinya membuat ia teringat akan penderitaan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.

Santi merupakan sahabat Safrina sejak kecil. Mereka tinggal sekampung walau agak jauh. Safrina dan Santi tinggal di sebuah desa kecil yang berhutan dan sangat jauh dengan perkotaan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 02 Feb 2010 21:06:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Tangisan Batin Seorang Ibu]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2251/tangisan_batin_seorang_ibu.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Akhirnya Raudiah (nama samaran), perempuan setengah abad itu tinggal sendirian di gubuknya. Ketika anak-anaknya menikah. Ada kesunyian dan kesepian yang ia rasakan, menjelang masa uzurnya.

Penduduk Hagu Tengah, Kota Lhokseumawe, Kecamatan Banda Sakti, Aceh Utara itu terduduk pilu, sambil melipat pakaian yang baru saja ia angkat dari jemuran kain.

Raudiah pun bercerita kepada media ini, sebulan lalu. Katanya setiap orangtua akan seperti dirinya. Setelah anak-anak mereka besar dan menikah, maka akan ditinggal pergi anak-anak mereka.

Janda tua beranak lima itu, tidak pernah menuntut apapun pada anak-anaknya. Bersama suaminya, Hasan (samaran), mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. &ldquo;Bapak anak-anak saya itu orangnya sangat ulet dalam mencari uang. Apa pun ia kerjakan, asal halal. Semua dilakukan agar anak-anak bisa mengecap pendidikan hingga kejenjang lebih tinggi. Namun sayang sebelum sempat melihat.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 12 Jan 2010 20:24:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
</channel>
</rss>