<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title><![CDATA[MODUSACEH.COM - JERITAN HATI - RSS FEED]]></title>
<link>http://www.modusaceh.com</link>
<description>TABLOID BERITA MINGGUAN - BIJAK TANPA MEMIHAK</description>
<language>id</language>
<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 00:19:35 +0700</pubDate>
<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 00:19:35 +0700</lastBuildDate>
<copyright>Copyright (C) 2009-2010</copyright>
<generator>MODUSACEH.COM RSS Generator</generator>

  <item>
  <title><![CDATA[Sahabatku Yang Ternoda]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2308/sahabatku_yang_ternoda.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Sebut saja Safrina. Warga Desa Lambaroe Angan Darussalam Banda Aceh ini, merupakan salah satu pembaca Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH. Rubrik Jeritan Hati menjadi pilihannya. Bahkan, ditengah kesibukannya bekerja selama seminggu, dia menyempatkan diri untuk berbagi kisah kelam masa kecil sahabatnya kepada media ini. Seperti apa kisahnya? Ini dia penuturannya yang ditulis Fitri Juliana.

Sudah cukup lama Safrina tidak bertemu Santi. Sahabatnya sejak kecil, bagaimana nasib sahabatnya sekarang dan tinggal dimana dia? Safrina pun tidak pernah tahu. Baru-baru ini Santi hadir dalam mimpinya sambil menggendong anak kecil dan berjalan di keramaian. Kehadiran Santi dalam mimpinya membuat ia teringat akan penderitaan sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.

Santi merupakan sahabat Safrina sejak kecil. Mereka tinggal sekampung walau agak jauh. Safrina dan Santi tinggal di sebuah desa kecil yang berhutan dan sangat jauh dengan perkotaan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 02 Feb 2010 21:06:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Tangisan Batin Seorang Ibu]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2251/tangisan_batin_seorang_ibu.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Akhirnya Raudiah (nama samaran), perempuan setengah abad itu tinggal sendirian di gubuknya. Ketika anak-anaknya menikah. Ada kesunyian dan kesepian yang ia rasakan, menjelang masa uzurnya.

Penduduk Hagu Tengah, Kota Lhokseumawe, Kecamatan Banda Sakti, Aceh Utara itu terduduk pilu, sambil melipat pakaian yang baru saja ia angkat dari jemuran kain.

Raudiah pun bercerita kepada media ini, sebulan lalu. Katanya setiap orangtua akan seperti dirinya. Setelah anak-anak mereka besar dan menikah, maka akan ditinggal pergi anak-anak mereka.

Janda tua beranak lima itu, tidak pernah menuntut apapun pada anak-anaknya. Bersama suaminya, Hasan (samaran), mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anak mereka. &ldquo;Bapak anak-anak saya itu orangnya sangat ulet dalam mencari uang. Apa pun ia kerjakan, asal halal. Semua dilakukan agar anak-anak bisa mengecap pendidikan hingga kejenjang lebih tinggi. Namun sayang sebelum sempat melihat.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 12 Jan 2010 20:24:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Hidayah Mendekatkan Diriku Kepada Allah]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2186/hidayah_mendekatkan_diriku_kepada_allah.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Kata orang bijak, lebih betuah seorang bandit kemudian bertaubat dan menjadi alim, dari pada seorang alim berprilaku seperti bandit. Nauzubillahminzalik.

Siapa tak kenal Iwan (nama samaran&mdash;red), warga Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Dia seorang pemabuk yang kerap buat onar di kampungnya.&nbsp; Tiap malam dia teler karena meneguk minuman haram. Bersama anggota &ldquo;gengnya&rdquo;, dia juga ngelinting ganja dan menghisapnya. 

Tapi itu dulu. Sekarang Iwan sudah taubat. Hidayah Allah diraihnya. Iwan berubah menjadi manusia taat. Kini, setiap waktu Iwan menuaikan kewajibannya, shalat lima waktu. Bila waktunya tiba, Iwan hadir di barisan shaf terdepan.

Perubahaan sikap, perilaku dan ibadah ayah tiga anak ini mengundang tanda tanya sebagian warga kampung tersebut. Pemabuk itu telah kembali ke jalan yang benar.

Kepada media ini, pria berusia 40-an dan berprofesi sebagai penarik beca mesin itu.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 24 Dec 2009 01:29:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Semoga Pahit Itu Berbuah Manis]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2144/semoga_pahit_itu_berbuah_manis.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Kemiskinan telah mencerai-beraikan Dolah (nama samaran) dengan kedua anaknya, Nisah (nama samaran) berusia 8 tahun dan Ayub (nama samaran) berumur 5 tahun. Sejak bercerai dengan istrinya yang sudah kawin lagi itu, Dolah pun menjadi orangtua tunggal bagi kedua anaknya.

Sepanjang perjalanan dari Kota Lhokseumawe ke Banda Aceh dengan kenderaan tumpangan L-300, Dolah bercerita dan berkeluh kesah kepada MODUS ACEH, sepekan lalu, tentang kehidupan rumah tangganya yang sudah kandas selama tiga tahun itu.

Pria berusia 30 tahun itu sangat sedih dengan nasib kedua anaknya itu, yang ia titipkan pada orangtuanya yang kini sedang sakit-sakitan. &ldquo;Dulu semasa nenek mereka (sebutan kedua anaknya) belum sakit-sakitan. Kedua anak saya ada yang mengurusnya. Sekarang, sejak nenek mereka sakit, apapun keperluan mereka seperti mencuci pakaian, cuci piring, sudah mereka lakukan sendiri,&rdquo; ujar Dolah miris. 

Ketika melihat anaknya yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 09 Dec 2009 23:10:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Nafsu Telah ‘Membutakan’ Aku]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2123/nafsu_telah_‘membutakan’_aku.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">&ldquo;Pergaulan dan seks bebas di kota Metropolitan seperti Jakarta, telah &lsquo;membutakan&rsquo; dan menghambakan aku pada nafsu. Bagiku uang segala-galanya untuk aku bisa merengkuh surga duniawi, cerita Budi (nama samaran) kepada MODUS ACEH, Kamis, 26 November 2009.

Pria asal Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) yang sudah hijrah ke Jakarta sejak 1997 itu terduduk lesu. Bisa jadi, dia sedang mengenang kembali &lsquo;piringan hitam&rsquo; masa lalunya. Namun tak berlangsung lama, sebab Tuhan telah menyadarkannya lewat tragedi tsunami 26 Desember 2004 silam, yang telah meluluh lantak tanoh endatu nya (nenek moyangnya) Aceh.

&ldquo;Sehari setelah tsunami, aku mencari pesawat untuk bisa terbang segera ke Kota Banda Aceh. Namun di hari naas itu, malamnya aku menangis pilu dan shalat, yang entah sudah berapa rakaat aku jalankan. Kemudian berdoa seraya mohon pengampunan-Nya. Waktu itu aku di Jakarta,&rdquo; cerita pria berusia 35.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 03 Dec 2009 14:31:55 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Ibuku Meninggal Disantet]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2104/ibuku_meninggal_disantet.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Burung gagak hitam &lsquo;bernyanyi&rsquo; menyeramkan di atas atap rumah berseng yang sudah agak karatan, Jumat malam, akhir Oktober 2006 silam. Kemudian terbang meninggalkan rumah yang tidak pernah sepi dari suara jeritan tengah malam. Wanita itu menahan sakit karena santet atau kena jampi.

Sebut saja Nurjanah (bukan nama sebenarnya). Wanita berusia 53 tahun itu meninggal du-nia akhir Oktober 2006 lalu, setelah berbulan-bulan menahan sakit. Secara medis, dokter yang didatangi angkat tangan alias tak mampu mengobati Nurjanah. Selain penyakitnya aneh, juga tak tampak kalau ia sakit. &ldquo;Para tetangga menyarankan agar kami membawa ibu ke dukun atau paranormal saja,&rdquo; sebut Lia (samaran) anak Nurjannah.

Menurut sejumlah para normal, Nurjanah kena jampi-jampi atau ilmu hitam yang dilakukan tetangganya. Sebab, tetangganya itu sakit hati&nbsp; dengan ibunya. Pemicu rasa sakit hati itu menurut cerita Lia, berawal dari perkataan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 25 Nov 2009 15:07:13 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Wandanil Itu Temanku]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2079/wandanil_itu_temanku.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Kami memanggil Anita (nama samaran) dengan sebutan Wandanil (sebutan untuk wanita kelaki-lakian). Anita sejak kecil memiliki kelainan. Ia menganggap dirinya seorang lelaki. Anita sejak kecil mempunyai dua kelamin, perempuan dan pria (hermaprodit).

Ini sebuah kisah nyata. Anita menceritakannya kepada wartawan media ini, beberapa tahun lalu (Agustus 2000&mdash;red). Kisah miris ini diungkapkan Anita di Sungai Petani, Kedah, Malaysia. Anita dan wartawan media ini, sama-sama bekerja di salah satu kilang elektronik, di kawasan industri Ria Jaya, Sungai Petani, Kedah, Malaysia.

Waktu itu, wartawan media ini berstatus sebagai ketua asrama yang menampung sekitar ratusan ribu pekerja perempuan yang datang dari Sumatera Utara dan Aceh. Anita salah satunya, ia berasal dari sebuah gampong di pedalaman Sigli, Pidie. 

Anita akan merubah dirinya menjadi lelaki sejati dengan mengoperasi salah satu alat kelaminnya. Waktu itu, Pakcik (sebutan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 18 Nov 2009 15:02:30 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[KARMA]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2040/karma.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Isa (nama samaran) hanya mampu menangis ketika mengetahui Mawar (nama samaran), putri satu-satunya itu hamil di luar nikah. Dia sadar, mungkin inilah karma yang harus dia tebus.

Isa, pria berusia 35 tahun itu menarik dalam-dalam asap rokok kretek. Matanya menerawang jauh, seolah mencari celah untuk memulai pembicaraan dengan MODUS ACEH. Setelah mematikan rokok, Isa memulai percakapannya. &ldquo;Dulu, sewaktu saya masih SMA, usai menonton film porno di kamar. Orangtua saya sedang tidak di rumah. Hanya saya dan pembantu. Entah setan apa yang merasuk dalam diri saya, saya menarik pembantu ke kamar. Saya memperkosa dia dan meminta untuk tutup mulut, tidak menceritakan hal ini kepada kedua orangtua dan kakak saya,&rdquo; cerita Isa, memulai pembicaraan.

Lalu, dengan terbata-bata, Isa memulai kembali kisahnya. Sebut saja Wati (samaran), itulah nama pembantu kami. Wati anak yatim yang diambil ibu di kampung untuk kerja di rumahnya yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 05 Nov 2009 14:57:14 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Kau dan Aku, Pacar Selingkuhanmu]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/2023/kau_dan_aku_pacar_selingkuhanmu.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Baru hitungan minggu hubungan asmara Mia (nama samaran-red) dan Haris (nama samaran-red) terjalin, berakhir di tengah jalan. Mia merelakan Haris kembali ke pangkuan pacarnya, Nita (nama samaran-red).

Haris tidak sanggup melukai hati Nita dan ingin kembali kepangkuan gadis itu lagi. Maklum, saat diputuskan Haris, Nita dalam keadaan sakit. Tragedi cinta itu terjadi persis diujung September 2007 silam. 

Seperti diceritakan Mia kepada media ini, Selasa, 20 Oktober lalu. Awalnya Haris memutuskan Nita&mdash;perempuan berdarah Aceh yang telah dipacari Haris selama tiga tahun di Jakarta. Setelah Mia menuntut kejelasan statusnya sebagai selingkuhan Haris.

&ldquo;Kapal cinta Haris dan Nita sudah mulai oleng sebelum aku mengenal Haris,&rdquo; demikian Mia membuka awal ceritanya kepada media ini. Lanjutnya, &ldquo;perkenalanku dengan Haris berawal dari pertemuanku dengan adik kelasku Budi yang waktu itu berkunjung ke kost-anku di.....</div>]]></description>
  <pubDate>Fri, 30 Oct 2009 16:23:22 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Aku Dihina, Dibuang, dan Dianggap Sampah]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/jeritan_hati/1996/aku_dihina_dibuang_dan_dianggap_sampah.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">&ldquo;Aku sering tidur di luar karena bibi mengunci pintu rumah. Ini disebabkan karena aku terlambat&nbsp; pulang dari mengajar ngaji . Para tetangga yang kasihan melihat keadaanku, menyuruh aku tidur di rumah mereka.&rdquo;

Wajar kalau Dana merasa dihina, dibuang, dan dianggap sampah oleh keluarga dan kedua orangtua. Seharusnya pada usia yang masih kecil, ia menjadi tanggungjawab ayahnya untuk menafkahinya baik untuk sandang, pangan, maupun pendidikan. Namun itu tidak ia peroleh sama sekali, malah dia terus dipojokkan dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya. 

Tepat 9 Oktober lalu, via phone Dana mencurahkan semua jeritan hatinya selama ini kepada MODUS ACEH, katanya agar orangtua jangan pilih kasih dalam memberi kasih sayang kepada anak-anak mereka. Karena anak adalah titipan dari Allah SWT yang harus dijaga dan dirawat. Serta &lsquo;dipupuk&rsquo; menjadi anak yang saleh, berbakti kepada orangtua, bangsa, dan agama......</div>]]></description>
  <pubDate>Fri, 23 Oct 2009 16:03:25 WIT</pubDate>
  </item>
  
</channel>
</rss>