<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title><![CDATA[MODUSACEH.COM - TARIKH NANGGROE - RSS FEED]]></title>
<link>http://www.modusaceh.com</link>
<description>TABLOID BERITA MINGGUAN - BIJAK TANPA MEMIHAK</description>
<language>id</language>
<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 11:12:01 +0700</pubDate>
<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 11:12:01 +0700</lastBuildDate>
<copyright>Copyright (C) 2009-2010</copyright>
<generator>MODUSACEH.COM RSS Generator</generator>

  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Cut Ali Serta Taktik Perang Gerilya]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2385/teuku_cut_ali_serta_taktik_perang_gerilya.html]]></link>
  <description><![CDATA[<img src="http://www.modusaceh.com/files/thumbs/rssaea338cc8710f47ca994c13b0a120719.jpg" alt="" title="" align="right" hspace="8" /><div align="justify">Pejuang itu bernama Teuku Cut Ali. Dia dilahirkan di Desa Kuta Baro, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, tahun 1795. Ayahnya, Teuku Cut Hajat, ibunya Nyak Puetro. Teuku Cut Ali, salah satu keturunan Raja Trumon.

Kakeknya, Teuku Nyak Dhien, Raja keenam yang pernah memimpi Kerajaan Trumon.Trumon, merupakan salah satu daerah termasyur dan makmur di Wilayah Aceh Selatan. Itu disebabkan, karena Kerajaan Trumon, merupakan sembilan dari kerajaan Aceh yang memiliki Cap Sikureng (Cap Sembilan). Trumon, mempunyai mata uang sendiri dan tidak saja diakui di Aceh, tapi juga dunia.

Sejak kanak-kanak, Teuku Cut Ali, sudah memiliki bakat seorang pejuang. Itu, terlihat dari sikapnya yang tegas dan setia kepada teman. Teuku Raja Angkasah, merupakan teman akrab Teuku Cut Ali, mereka sama-sama.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 03 Mar 2010 22:49:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Mujahidah dari Tanah Rencong]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2366/mujahidah_dari_tanah_rencong.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Cut Nyak Meutia Binti Teuku Ben Daud lahir pada tahun 1870 di Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Beliau syahid sebagai pahlawan bangsa pada 25 November 1910 dalam pertempuran melawan marsose belanda pimpinan Sersan Mosselman. 

Dihulu sungai peuto atas keputusan para pengikutnya, beliau dimakamkan di tempat kejadian. Beliau seorang yang taat dan patuh kepada kedua orang tuanya serta berjiwa pahlawan sejak kecil. Wanita kelahiran Pirak tersebut adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial belanda. Pameo yang mengatakan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungi tidak selamanya benar. Itu dibuktikan oleh Cut Nyak Meutia, wanita asal Nanggroe Aceh Darussalam, yang terus berjuang melawan Belanda hingga tewas diterjang tiga peluru di tubuhnya.

Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah Aceh yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 24 Feb 2010 22:26:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Riwayat Budjang Selamat Pendiri Kota Krueng Geukueh]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2307/riwayat_budjang_selamat_pendiri_kota_krueng_geukueh.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Disekitar tahun 1946-1949, Tgk. Budjang beserta keluarga berpindah-pindah tempat tinggal. Mulai dari Purwokerto, Jogjakarta, dan Semarang. Hidup berpindah-pindah tersebut semata-mata untuk mengikuti irama perjuangan bangsa Indonesia yang ingin mengusir kembali penjajah dari bumi Indonesia.

Pada awal tahun 1950 tibalah keluarga Tgk. Budjang di Medan dan ditempatkan di sebuah rumah di jalan Padang Bulan. Di rumah inilah beliau bertemu dengan putranya yang pertama Tjut Babujudjang yang diantar oleh iparnya Cut Sayidah. Dan pada waktu di rumah ini pula datang kendaraan jemputan dari Gubernur Aceh yang akan membawanya kembali pulang ke tanah asalnya.

Setelah melewati perjalanan panjang melintasi kota-kota pesisir timur Aceh, tibalah rombongan di Kuta Maharaja Lhokseumawe. Sebelum perjalanan diteruskan ke Kutaradja, Tgk. Budjang menyempatkan datang ke Krueng Geukueh. Di depan rumah adiknya yang bernama Tjut Ayan, Tgk. Budjang yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 02 Feb 2010 21:06:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Riwayat Budjang Selamat Pendiri Kota Krueng Geukueh]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2293/riwayat_budjang_selamat_pendiri_kota_krueng_geukueh.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Pada Senin, 18 Januari 2010 sekitar pukul 13.35, dengan ditemani seorang penduduk Keude Krueng Geukueh saya menyambangi sebuah rumah di belakang Mesjid Besar Bujang Salim yang terletak di Keude Krueng Geukueh.

Rumah berwarna kuning tersebut tidak besar, di halaman tumbuh beberapa tanaman, seperti pohon jeruk bali (giri bali). Penghuni rumah yang saya datangi adalah Hj. Cut Atjeh Neksom. Ia adalah anak bungsu dari Budjang Selamat atau orang-orang di Keude Krueng Geukueh lebih mengenal dengan sebutan Bujang Salim, salah seorang tokoh besar di sana, sekaligus pendiri Keude Krueng Geukueh.

Tujuan saya menemui Hj. Cut Atjeh Neksom adalah untuk meminta izin karena ingin menulis sejarah atau riwayat kehidupan dari tokoh besar Budjang Selamat. Setelah lama menunggu di depan rumah, saya hanya bertemu oleh salah seorang laki-laki, yang memperkenalkan dirinya sebagai cucu dari Budjang Selamat. &nbsp;

Setelah berbasa-basi sejenak dan.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 27 Jan 2010 22:25:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Tentang Pendidikan Anak-Anak Amphon Tjhik Peusangan]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1942/tentang_pendidikan_anak-anak_amphon_tjhik_peusangan.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Assalamu&rsquo;allaikum Wr. Wb.

Pertama-tama kami bersyukur dengan adanya Tabloid MODUS ACEH yang dapat menyampaikan pesan-pesan kebaikan, akan tetapi sejak tulisan pertama sampai ketiga ini... kami mendapatkan cerita &ldquo;FIKSI&rdquo; yang menggunakan kalimat-kalimat yang tidak memberikan KESAN kebaikan/pembenaran seperti:

    Bagian pertama &ldquo;.....Uleebalang yang Bunglon...&rdquo; apakah penulis dapat konfirmasi dari keluarga Uleebalang yang disebut dalam tulisannya?
    Bagian kedua &ldquo;......Putra mahkota.......dengan pakaian kumuh....&rdquo; apakah penulis juga mengenal pribadi Putra Mahkota yang dia tulis?
    Bagian ketiga &ldquo;.....seluruh putra-putri Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah menyelesaikan pendidikan menengah di HBS di Kota Medan&rdquo; ini yang menjadi perhatian kami untuk menyanggah tulisan saudara HAMDANI, karena ketidaktahuan dan tidak mengeceknya sebelum di muat.

Kami adalah putra tertua dari.....</div>]]></description>
  <pubDate>Sun, 27 Sep 2009 03:51:04 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[DILARANG SEKOLAH DI AKADEMI MILITER BELANDA]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1890/dilarang_sekolah_di_akademi_militer_belanda.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Setelah resmi menjadi zelfbestuur Peusangan, Teuku Tjhik Peusangan&nbsp; memantapkan&nbsp; hati untuk tetap menghadapi Belanda dengan cara diplomatis. Sungguh pahit rasanya berada sebagai orang yang terpojokkan dalam berhadapan dengan kekuasaan Belanda.

Walaupun demikian, segala pahit getir yang sudah dialami bangsa Aceh &nbsp;dalam perang melawan Belanda, disimpan dilubuk hatinya yang sangat dalam. Uleebalang Peusangan ini sudah bertekad menggusur Belanda melalui ilmunya sendiri. Maka, tak ada jalan lain kecuali secara sungguh-sungguh&nbsp; mengambil-alih ilmunya sebanyak-banyaknya. Jalan&nbsp; terbuka secara legal yang diakui Belanda adalah melalui pendidikan formal. 

Untuk menembus rasa kecurigaan dan kebencian yang sudah berurat-akar dalam hati sanubari rakyat Aceh dalam perang melawan Belanda, maka Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah segera mengambil jalan pintas. Uleebalang ini menunjukkan sendiri contoh tauladan cara menghadapi.....</div>]]></description>
  <pubDate>Fri, 04 Sep 2009 16:11:55 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Zelfbestuurder Van Peusangan]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1869/zelfbestuurder_van_peusangan.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Selain mengurus Nanggroe Peusangan bersama sang paman, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah juga&nbsp;harus menghidupi dirinya sendiri. Orang-orang pun lantas bertanya, bagaimana ia menafkahi hidupnya?

Ternyata tak ada perlakuan istimewa bagi penguasa Nanggroe Peusangan itu. Seperti masyarakat kebanyakan lainnya, mereka juga harus mencari nafkah sendiri untuk menghidupi diri dan keluarganya. Di atas lahan miliknya, Teuku Tjhik M. Djohan Alamsjah berusaha mencukupi segala kebutuhannya dengan cara bertani. Belakangan, dari hasil cucuran keringatnya dalam bertani inilah, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah &nbsp;dapat membangun sebuah rumah panggung model Aceh yang terbuat dari kayu di Matang Glumpang Dua pada tahun 1907. Rumah ini berkolong satu meter, berdinding papan, dan beratap sirap dari daun rumbia.

Setelah merasa mapan dan akil baligh, pada tahun 1908, Teuku Tjhik Djohan Alamsjah mulai mencari pasangan hidupnya. Beberapa kaum.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 27 Aug 2009 14:02:40 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah (Ampon Tjhik Peusangan)]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1851/teuku_tjhik_muhammad_djohan_alamsjah_(ampon_tjhik_peusangan).html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Dalam masa berkecamuknya &nbsp;perang antara Kerajaan Aceh melawan Belanda (1873-1942), lahirlah seorang bayi sehat dan rupawan.&nbsp; Bayi ini dilahirkan pada tanggal 25 Juni 1890 di desa Pulo Iboh, di tepi kota Matang Glumpang Dua.

Ibunya, Potjut Unggaih, seorang putri bangsawan, putri uleebalang Meureudu. Ayahnya, Teuku Tjhik Sjamaun, uleebalang Nanggroe Peusangan. Dua sejoli itu memberi nama anaknya, Teuku Muhammad &nbsp;Djohan Alamsjah. Kemudian setelah memegang jabatan uleebalang dan menunaikan ibadah haji, cucu Teuku Tjhik Muhammad Hasan itu diberi nama, Teuku &nbsp;Hadji Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah Perkasa Alam. Dalam perjalanan sejarah Aceh abad ke XX, Teuku Tjhik Muhammad Djohan Alamsjah tampil sebagai salah seorang uleebalang Aceh terkemuka. Teuku Muhammad Djohan Alamsjah merupakan turunan generasi ke-IX pengungsi imperium Abbasiyah yang terdampar di Bandar Aceh pada abad ke-13 itu.

Teuku Tjhik Sjamaun. Isteri.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 20 Aug 2009 15:15:30 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Cut Nyak Manyak Keumala Putrie (Cut Djariah Azwar)]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1604/cut_nyak_manyak_keumala_putrie_(cut_djariah_azwar).html]]></link>
  <description><![CDATA[<img src="http://www.modusaceh.com/files/thumbs/rss05ca3d8e767a9163267b488791f400d2.jpg" alt="Cut Nyak Manyak Keumala Putrie (Cut Djariah Azwar)" title="Cut Nyak Manyak Keumala Putrie (Cut Djariah Azwar)" align="right" hspace="8" /><div align="justify">Cut Nyak Manyak Keumala Putri atau Cut Jariah Azwar lahir di Kutaraja (Banda Aceh) pada tanggal 5 Mei 1926. Ayahnya bernama Teuku Ali Basjah, seorang Oeleebalang (kepala pemerintah otonom), Pekan Bada, Aceh Besar sedangkan ibunya bernama Cut Nyak Zainab atau Cut Nyak Leumiek.

Menginjak usia dewasa, tepatnya pada tanggal 9 September 1941 Cut Nyak Manyak Keumala Putri dinikahi oleh Teuku Hamid Azwar, putera dari Teuku Ampon Tjhik Mohammad Ali Basjah, Oeleebalang Samalanga, Aceh Utara.

la termasuk pengarang produktif dengan sajak-sajaknya yang memberi semangat untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Sajak-sajak perjuangannya terkumpul dalam Kumpulan Sajak Indonesia.

Pernikahannya dengan Teuku Hamid Azwar dikaruniai lima orang buah hati, yakni Teuku.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 03 Jun 2009 12:32:15 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Pocut Meuligo]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/1582/pocut_meuligo.html]]></link>
  <description><![CDATA[<img src="http://www.modusaceh.com/files/thumbs/rssPocut Meuligo.jpg" alt="Pocut Meuligo" title="Pocut Meuligo" align="right" hspace="8" /><div align="justify">Paling tidak sejak lima ratus tahun lalu, menjadi pemimpin bukan hal baru bagi perempuan Aceh. Pada saat Belanda hendak memasuki Samalanga, seorang pemimpin wanita pewaris kerajaan Samalanga bernama Pocut Meuligo yang masih remaja belia telah berhasil mempertahankan wilayahnya. Ia bertindak tegas kepada setiap pria yang mangkir dan kewajiban perang.

Pocut Meuligo termasuk dalam deretan wanita pejuang seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutiah, dan Tengku Fakinah. Wanita yang juga dipanggil dengan Pocut Maligai ini dengan gagah berani telah mempertahankan Samalanga dan serangan Belanda selama beberapa tahun bahkan seorang jenderal Belanda harus kehilangan satu matanya ketika berusaha merebut Samalanga. Adalah Jenderal van der Heijden yang menjadi korban kegagahan pasukan Pocut Meuligo......</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 27 May 2009 13:20:53 WIT</pubDate>
  </item>
  
</channel>
</rss>