<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title><![CDATA[MODUSACEH.COM - TARIKH NANGGROE - RSS FEED]]></title>
<link>http://www.modusaceh.com</link>
<description>TABLOID BERITA MINGGUAN - BIJAK TANPA MEMIHAK</description>
<language>id</language>
<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 04:01:06 +0700</pubDate>
<lastBuildDate>Sun, 01 Aug 2010 04:01:06 +0700</lastBuildDate>
<copyright>Copyright (C) 2009-2010</copyright>
<generator>MODUSACEH.COM RSS Generator</generator>

  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Markam]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2563/teuku_markam.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya di Indonesia. Dia menyumbang 38 kilogram emas untuk puncak Tugu Monumen Nasioanal (Monas). Kejayaannya runtuh pada masa Orde Baru. 

Teuku Markam merupakan salah satu saudagar Aceh yang sukses dimasanya. Ada 38 kilogram emas yang dia sumbangkan untuk membalut puncak Tugu Monas Jakarta, yang merupakan simbol kebesaran Indonesia.

Masyarakat hanya mengetahui, emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun, tak banyak yang tahu, kalau Teuku Markamlah yang dimaksud. Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia.

Tentu saja banyak bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Teuku Markam dalam sebuah legenda.

Di masa Orde Baru (Orba),.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 05 May 2010 20:19:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Sejarah Teungku Abdullah Lam U]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2544/sejarah_teungku_abdullah_lam_u.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Teungku Abdullah Lam U adalah ulama pendidik melalui pendekatan Syair. Beliau adalah sosok Intelektual di Aceh Besar dan kharismatik, serta disegani. Merupakan salah satu ulama besar, yang mengajarkan Ilmu-Ilmu Agama.

Teungku Abdullah Lam U, lahir di Lam U, Aceh Besar, pada akhir abad ke-19, tepatnya 1888 Masehi (1305 Hijriah). Pada masa kelahirannya, kerajaan Aceh baru, beberapa tahun memulai perang melawan aggressor Belanda. Jadi, dalam kondisi demikianlah ulama ini tumbuh dan berkembang serta dibina oleh ayahnya sehingga menjadi ulama yang memiliki nama yang cukup populer, khususnya di bidang keagamaan.

Aceh menjadi salah satu daerah di Nusantara yang memiliki khazanah intelektual muslim yang patut diperhitungkan. Abad ke-17 merupakan puncak zaman keemasannya. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya ulama-ulama besar, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Al Raniri, dan Abdur-Rauf Singkel.

Abu Lam U adalah.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 28 Apr 2010 20:48:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Ben Mahmud]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2526/teuku_ben_mahmud.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Marsose Belanda menyebutnya sebagai seorang gerilyawan ulung dan paling ditakuti. Tahun 1911, dia dan pengikutnya ditangkap dan diasingkan ke Ambon.

Lahir di Gampong Cot, Kuta Tinggi, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya, sekitar tahun 1860. Ayahnya, Teuku Ben Abbas, berasal dari Kampung Lhang, Tijue, Pidie. Dia adalah, Teuku Ben Mahmud, pejuang sekaligus ulee balang yang sangat di takuti marsose Belanda, karena kepiawaannya dalam bergerilya.

Namanya, memang tidak setenar pahlawan Aceh lainnya, sekaliber Teuku Umar, Teuku Chik Di Tiro, Panglima Polem dan. Namun, dedikasi dan pengorbanannya dalam melawan penjajahan Belanda patut di perhitungkan. Buktinya, Belanda memberikan gelar kepadanya sebagai gerilyawan ulung dan pemberontak (pejuang) berkaliber internasional.

Teuku Ben Mahmud, merupakan pemimpin gerilyawan yang paling dicari Belanda ketika itu. Maklum, daerah gerilya yang dia lakukan mulai dari Kuala Batu.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 21 Apr 2010 21:29:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Sejarah Ulama Aceh di Mesir]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2502/sejarah_ulama_aceh_di_mesir.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Sejarah ulama Aceh yang belajar-mengajar dan mencari Ilmu serta membina kader-kader Islam, mahsyur hingga ke pelosok Nusantara. Diantaranya Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi.

Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, tidak banyak dikenal oleh generasi Aceh kini. Padahal karya Tajul Muluk, sering dibaca sampai sekarang. Sebelum berangkat ke Mekkah beliau berguru pada Syeikh Ali Asyi di Aceh, dan sewaktu beliau berada di Mekkah diantara guru gurunya adalah, Syeikh Daud bin Abdullah Al Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani. 

Kedua ulama ini memang sangat disegani, tidak hanya di tanah Arab, tetapi juga di rantau Melayu, seperti di Aceh, Pattani, dan Kelantan. Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, agaknya tidak lepas dari jaringan keilmuan Nusantara ini. Kendati, sampai sekarang hampir tidak ada peneliti yang berani melakukan pengkajian terhadap biografinya secara lengkap.

Aceh, pulau jawa, sumatera, dan juga Kalimantan, ada kitab.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 14 Apr 2010 22:22:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Tgk. Abdul Aziz Samalanga]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2458/tgk_abdul_aziz_samalanga.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Setelah tujuh tahun belajar di Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Abon kembali ke Samalanga, untuk mengabdi dan membangun Dayah Mudi Mesra.

Mendengar namannya, Abon &ldquo;Aziz&rdquo; Samalanga, sejenak kita teringat kepada salah satu Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Mudi Mesra, yang terletak di Salamanga, Kabupaten Bireuen.Pasalnya, ditangan beliaulah dayah tersebut menjadi maju, berkembang dan terkenal.

Nama lengkapnya, Tgk. Abdul Aziz bin M.Shaleh, dilahirkan di desa Kandang, Samalanga, Kabupaten Bireuen, tahun 1351 Hijjriah atau bertepatan dengan 1930 Masehi. Sejak kecil, Abon diasuh dan dibesarkan oleh kedua orang tuanya di Jeunieb, salah satu kecamatan di Kabupaten Bireuen. 

Ayahandanya, pernah menjadi kepala kantor urusan agama (KUA) di Jeunieb, dan juga salah satu pendiri Dayah &ldquo;Atiq Jeunieb. Namun, santri dan masyarakat sekitarnya, memanggilnya dengan sebutan Abon (abi).

Tahun 1937, Abon belajar di Sekolah.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 31 Mar 2010 22:11:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Kerajaan Trumon dan Benteng Kuta Batee]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2442/kerajaan_trumon_dan_benteng_kuta_batee.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Memiliki cap sikureng (cap sembilan) dan mata uang sendiri yang di akui dunia, membuat kerajaan Trumon dikenal bangsa Asia dan Eropa. Bahkan mempunyai armada dagang bernama Diana dan Le-Xemie yang membawa lada ke Penang, India dan Timur Tengah.

Henurut H. Muhammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, dijelaskan, kerajaan Trumon didirikan Tengku Djakfar atau lebih dikenal dengan sebutan Teuku Raja Singkil sekitar abad ke - 18. Beliau putra dari Ja Johan, salah satu keturunan Ja Thahir dari Bagdad yang menetap di Batee, Pidie. Tengku Djakfar adalah murid dari Tengku di Anjong Peulanggahan.

Setelah belajar dan memperdalam agama Islam, beliau di utus gurunya untuk berangkat ke sebelah Barat Aceh.&nbsp; Tengku Djakfar, memilih Ujong Serangga, Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, sebagai tempat mengembangkan ilmunya. 

Di Ujong Serangga, Tengku Djakfar mengajar agama Islam, hingga pada akhirnya memperoleh gelar labai (tengku atau.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 24 Mar 2010 20:43:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Raja Angkasah dan Perang di Bakongan]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2411/teuku_raja_angkasah_dan_perang_di_bakongan.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Teuku Raja Angkasah, mendeklarasikan perang melawan Kompeni Belanda. Hingga akhirnya syahid di Buket Gadeng, Kecamatan Bakongan Kabupaten Aceh Selatan, 25 Oktober 1925.

Postur tubuhnya memang kecil, tapi bukan berarti tidak punya nyali dan keberanian. Sejak kecil, sahabat Teuku Cut Ali ini, sudah memiliki keberanian dan kelebihan. Kelihaian dalam memainkan pedang, menjadikan putra dari Teuku Abdurrahman itu disegani kawan-kawan seperjuangannya. Belanda menjulukinya sebagai &ldquo;Harimau Sumatera&rdquo; karena keperkasaannya.

Teuku Raja Angkasah mulai memimpin perang melawan marsose Belanda awal tahun 1925. Dalam perang tersebut, banyak marsose Belanda tewas ditangan Raja Angkasah. Hampir setiap hari,&nbsp; ada marsose Belanda yang terbunuh. Keadaaan ini, jelas membuat militer Belanda gusar dan gamang, hingga berujung didirikannya markas marsose Belanda di Bakongan.

Sebelumnya, markas marsose khusus itu hanya ada lima di Aceh,.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 10 Mar 2010 23:12:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Teuku Cut Ali Serta Taktik Perang Gerilya]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2385/teuku_cut_ali_serta_taktik_perang_gerilya.html]]></link>
  <description><![CDATA[<img src="http://www.modusaceh.com/files/thumbs/rssaea338cc8710f47ca994c13b0a120719.jpg" alt="" title="" align="right" hspace="8" /><div align="justify">Pejuang itu bernama Teuku Cut Ali. Dia dilahirkan di Desa Kuta Baro, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan, tahun 1795. Ayahnya, Teuku Cut Hajat, ibunya Nyak Puetro. Teuku Cut Ali, salah satu keturunan Raja Trumon.

Kakeknya, Teuku Nyak Dhien, Raja keenam yang pernah memimpi Kerajaan Trumon.Trumon, merupakan salah satu daerah termasyur dan makmur di Wilayah Aceh Selatan. Itu disebabkan, karena Kerajaan Trumon, merupakan sembilan dari kerajaan Aceh yang memiliki Cap Sikureng (Cap Sembilan). Trumon, mempunyai mata uang sendiri dan tidak saja diakui di Aceh, tapi juga dunia.

Sejak kanak-kanak, Teuku Cut Ali, sudah memiliki bakat seorang pejuang. Itu, terlihat dari sikapnya yang tegas dan setia kepada teman. Teuku Raja Angkasah, merupakan teman akrab Teuku Cut Ali, mereka sama-sama.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 03 Mar 2010 22:49:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Mujahidah dari Tanah Rencong]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2366/mujahidah_dari_tanah_rencong.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Cut Nyak Meutia Binti Teuku Ben Daud lahir pada tahun 1870 di Pirak, Kecamatan Matang Kuli, Aceh Utara. Beliau syahid sebagai pahlawan bangsa pada 25 November 1910 dalam pertempuran melawan marsose belanda pimpinan Sersan Mosselman. 

Dihulu sungai peuto atas keputusan para pengikutnya, beliau dimakamkan di tempat kejadian. Beliau seorang yang taat dan patuh kepada kedua orang tuanya serta berjiwa pahlawan sejak kecil. Wanita kelahiran Pirak tersebut adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional yang hingga titik darah penghabisan tetap memegang prinsip tak akan mau tunduk kepada kolonial belanda. Pameo yang mengatakan wanita sebagai insan lemah dan harus selalu dilindungi tidak selamanya benar. Itu dibuktikan oleh Cut Nyak Meutia, wanita asal Nanggroe Aceh Darussalam, yang terus berjuang melawan Belanda hingga tewas diterjang tiga peluru di tubuhnya.

Sebelum Cut Nyak Meutia lahir, pasukan Belanda sudah menduduki daerah Aceh yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 24 Feb 2010 22:26:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Riwayat Budjang Selamat Pendiri Kota Krueng Geukueh]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/tarikh_nanggroe/2307/riwayat_budjang_selamat_pendiri_kota_krueng_geukueh.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Disekitar tahun 1946-1949, Tgk. Budjang beserta keluarga berpindah-pindah tempat tinggal. Mulai dari Purwokerto, Jogjakarta, dan Semarang. Hidup berpindah-pindah tersebut semata-mata untuk mengikuti irama perjuangan bangsa Indonesia yang ingin mengusir kembali penjajah dari bumi Indonesia.

Pada awal tahun 1950 tibalah keluarga Tgk. Budjang di Medan dan ditempatkan di sebuah rumah di jalan Padang Bulan. Di rumah inilah beliau bertemu dengan putranya yang pertama Tjut Babujudjang yang diantar oleh iparnya Cut Sayidah. Dan pada waktu di rumah ini pula datang kendaraan jemputan dari Gubernur Aceh yang akan membawanya kembali pulang ke tanah asalnya.

Setelah melewati perjalanan panjang melintasi kota-kota pesisir timur Aceh, tibalah rombongan di Kuta Maharaja Lhokseumawe. Sebelum perjalanan diteruskan ke Kutaradja, Tgk. Budjang menyempatkan datang ke Krueng Geukueh. Di depan rumah adiknya yang bernama Tjut Ayan, Tgk. Budjang yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Tue, 02 Feb 2010 21:06:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
</channel>
</rss>