<?xml version="1.0" encoding="iso-8859-1"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
<channel>
<title><![CDATA[MODUSACEH.COM - KOLOM - RSS FEED]]></title>
<link>http://www.modusaceh.com</link>
<description>TABLOID BERITA MINGGUAN - BIJAK TANPA MEMIHAK</description>
<language>id</language>
<pubDate>Sun, 01 Aug 2010 03:48:23 +0700</pubDate>
<lastBuildDate>Sun, 01 Aug 2010 03:48:23 +0700</lastBuildDate>
<copyright>Copyright (C) 2009-2010</copyright>
<generator>MODUSACEH.COM RSS Generator</generator>

  <item>
  <title><![CDATA[Tinju Politik]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2782/tinju_politik.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Oleh: Otto Syamsuddin Ishak*
Gara-gara sudah tujuh bulan berlalu, namun serapan APBA baru 20 persen, maka Kepala Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) menjadi sasaran bogem politik berbagai pihak. Densus 88 yang berikhtiar melindunginya, tapi itu hanyalah dari tinju para preman. Itu pun dengan gaya mengancam bahwa kalau kepala SKPA tidak melapor ke polisi, maka ia mendukung aksi premanisme itu. 
Siapakah yang bertanggungjawab untuk melindungi SKPA dari tinju politik? Lalu, bagaimana dengan bos SKPA itu sendiri? Kenapa SKPA dibiarkan menjadi sasak tinju politik? Pantaskah sikap bos yang membiarkan di antara 43 SKPA itu dibogem oleh pihak lain?
Di akhir 2009, Aliamin, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadyah mengatakan rendahnya daya serap APBA 2007-2009 adalah menjadi tanggungjawab Sekda sebagai koordinator SKPA, sehingga ia mengusulkan untuk menggantikan Sekda. Lalu bagaimana dengan Penanggungjawabnya SKPA itu.....</div>]]></description>
  <pubDate>Sat, 31 Jul 2010 23:36:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Waspadai “Salop Politek” 2011]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2767/waspadai_“salop_politek”_2011.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">&nbsp;
Akhir-akhir ini ada kalangan yang rajin mengaitkan diskursus tentang fenomena Aceh dengan Pilkada 2011. Mereka &ndash;dengan gaya bahasa himbauan&mdash; mengatakan: &ldquo;hati-hati terhadap opini ini karena ada kaitan dengan kepentingan politik dalam Pilkada 2011.&rdquo; Bila Irwandi menyatakan itu dalam upayanya untuk melegitimasi hasil survei TII tentang persepsi korupsi, maka Akhiruddin menyatakannya dalam konteks kompetisi yang sedang berlangsung di dalam tubuh BPD Aceh. Namun, keduanya sama-sama tidak menjelaskan identitas kompetitor yang berlatar belakang politik Pilkada 2011 itu.
Dan, Akhiruddin tidak sedang menyatakan adanya indikasi korupsi sebagaimana lazimnya, tetapi bahkan justru sedang mendukung kesuksesan pimpinan BPD yang baru selesai menjabat saat ini. 
Kisah sukses yang mengagumkan itu, menurut Akhiruddin (Analisa, 12 Juli 2010, Waspadai Upaya Jadikan BPD Aceh &quot;Mesin Uang&quot;), karena BPD.....</div>]]></description>
  <pubDate>Sat, 31 Jul 2010 00:30:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Bohong atau Khilaf?]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2744/bohong_atau_khilaf?.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Oleh: Otto Syamsuddin Ishak*
Bayangkanlah, andaikan Menneg BUMN Mustafa Abubakar tak menyebutkan soal dana abadi pendidikan tersebut, adakah Pemerintah Aceh, dalam hal ini Gubernur Irwandi, akan mengatakannya kepada rakyat Aceh? Sementara, dalam kesaksian Mukhlis Mukhtar, dana tersebut sudah dibicarakan antara Mustafa dan Irwandi-Nazar menjelang penyerahan jabatan gubernur. 
Maka, gara-gara Mustafa Abubakarlah sehingga pemerintahan Irwandi Nazar sibuk menjelaskan besaran dan sumber dari dana itu. Celakanya, hitungan besaran dana dari Mustafa Abubakar tidak disepakati oleh Irwandi, sementara Nazar hanya berandai-andai saja tentang keberadaan dana abadi tersebut. 
Dari perhitungan Mustafa besaran dana sekitar Rp 2,4 triliun rupiah dengan dana hasil deposito sekitar Rp 13-14 miliar per tahun sejak 2005. Mustafa tak menyebut darimana saja sumber dana tersebut. Lalu, dana itu didepositokan di mana, dan atas nama siapa?.....</div>]]></description>
  <pubDate>Thu, 15 Jul 2010 00:13:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Cermin Buruk Irwandi-Nazar]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2734/cermin_buruk_irwandi-nazar.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Transparency International Indonesia (TII), setelah mempublikasikan Indek Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 2009, minggu lalu mempublikasikan IPK Aceh. Bila yang sudah reguler tentang IPK level nasional, maka sekarang juga dilakukan untuk level provinsi, dan Aceh menjadi subyek prioritas utamanya, &nbsp;Indonesia
Survei itu, menurut TII, &ldquo;untuk mendapatkan gambaran tentang situasi korupsi yang terjadi pada lembaga/institusi pemerintahan di level propinsi Aceh. Pentingnya survei ini sebagai referensi masalah dan rekomendasi strategi untuk menguranginya.&rdquo; 
Sebenarnya, publikasi hasil survei ini sudah dikomunikasikan secara informal dengan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf beberapa bulan lalu. Namun, Irwandi meresponnya secara negatif. Rupanya respon negatif itu berlanjut dengan ketidakhadirannya dalam acara Peluncuran: &quot;Survei Barometer Korupsi Aceh 2010&quot; pada 22 Juni 2010 lalu, yang merupakan &ldquo;cermin.....</div>]]></description>
  <pubDate>Sun, 11 Jul 2010 01:52:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Sentrisme Penguasa]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2696/sentrisme_penguasa.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">&ldquo;Saya berharap Gubernur (Irwandi Yusuf) tidak hanya berpikir untuk Kabupaten Bireuen, dan Wakil Gubernur (Muhammad Nazar) juga bukan saja ke Pidie Jaya,&rdquo; demikian kata Walikota Banda Aceh, Mawardy Nurdin.

Opini Mawardy penting untuk dipertimbangkan, sekalipun ia tidak menjelaskan &ndash; mungkin juga media tidak mengutip &mdash; dari pertanda-pertanda apa saja hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa penguasa Aceh kini, Irwandi menjadi bersikap &ldquo;Bireuen sentris&rdquo;, dan Nazar menjadi &ldquo;Pidie Jaya sentris&rdquo;. 

Padahal sekitar 200-an tahun lalu, kata Anthony Reid, Aceh merupakan salah satu arena politik kosmopolitan. Aceh menjadi area &ldquo;melting pot&rdquo; (tempat bercampur) bagi multibangsa dengan aneka budayanya, dan multi aliran keagamaan, yang bahkan berlaku di dalam kehidupan ber-Islam sendiri &mdash; yang terbesar untuk kawasan Asia Tenggara. &nbsp;

Melting pot dalam kontek bangsa,.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 23 Jun 2010 20:41:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Elite 1600]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2683/elite_1600.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Seorang rekan, bahkan beberapa rekan dari luar Aceh namun terlibat dalam urusan Aceh semasa konflik dan rekonstruksi pasca bencana gempa dan tsunami, rupanya sangat memperhatikan gaya hidup sejumlah orang Aceh.

Suatu hari, ia pun bertanya: mengapa Polem Itam memanjangkan kuku ibu jarinya, atau Polem Puteh memanjangkan kuku jari kelingkingnya? Mengapa Polem Abu dan rekan-rekannya mengenakan cicin batu yang diikat suasa di jari manisnya? 

Bahkan, mereka sering memainkan dengan asyik (membersihkan) kukunya, bahkan sampai berbunyi (karena kuku-kuku beradu); atau mereka asyik memutar-mutar atau mempermainkan cincinnya, bisa juga asyik menggosok-gosokan cincinnya di baju bagian dadanya, seraya sesekali menguapkan dengan mulutnya. 

Fenomena demikian, rupa-rupanya, sudah disaksikan Farncois de Vitre dan rombongannya yang tiba di Aceh pada 23 Juli 1601.&nbsp; Hal pemeliharaan kuku adalah adat hidup golongan bangsawan Aceh. Kondisi kuku.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 16 Jun 2010 21:01:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Asal Orang Aceh]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2649/asal_orang_aceh.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Upanya, ikhtiar pencarian asal-usul orang Aceh sudah sangat lama dilakukan, jika dibandingkan dengan munculnya perdebatan siapa yang paling Aceh, yang celakanya, adalah klaim pribumi di antara orang Aceh sendiri di pasca perang. Paling tidak, upaya itu sudah dilakukan oleh Snouck Hurgronye dan Denys Lombard. Hurgronje mencoba menelusuri dalam berbagai sumber tertulis, khususnya dari sajak-sajak kepahlawanan. Walau pada akhirnya, ia berkesimpulan masih belum menemukannya juga.

Orang Mante yang disebut-sebut oleh para informan sebagai manusia pertama di Aceh, ternyata mereka hanya ada dalam kisah-kisah lisan orang Aceh saja. Meski pun, bukan berarti mereka tidak ada. Namun, apa yang telah dilakukan oleh Hurgronje tetap saja memberikan pada kita sebuah gambaran yang samar-samar tentang asal-usul orang Aceh. 

Lombard mendapat sumber lain, yakni mitos tentang asal-usul orang Aceh dari keturunan Imael dan Hagar. Kisah lainnya, berasal.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 02 Jun 2010 22:47:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Perempuan 1600]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2631/perempuan_1600.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Ketika Bupati Aceh Barat mempersoalkan perihal pemakaian celana oleh perempuan di wilayahnya, dan &ldquo;memaksa&rdquo; dengan kebijakan politik yang berdalihkan pada agama untuk perkara mengenakan rok&ndash;yang hingga kini masih berlarut-larut penerapannya- maka publik pun berpaling ke masa lalu. Mereka kembali melihat pada cara berpakaian moyang perempuannya. Lalu, publik pun berkata: Bupati Ramli harus terlebih dahulu mengganti celana Cut Nyak Dhien dengan rok!

Tafsir lain bahwa, fenomena ini merupakan sebuah pertunjukan bagaimana laki-laki generasi dewasa ini di Aceh merasa begitu otoritatif untuk mengatur bentuk atau mode (bukan norma) berpakaian perempuan. Jilbab didefinisikan sebagai mode, bukan sistem nilai atau norma dasar dalam berpakaian. Nilai-nilai agama tidak cukup lagi mengaturnya; dan pada saat yang sama, laki-laki (pejabat) telah menjadikan dirinya sebagai tangan tuhan&ndash;bahkan negara pun dihasratkannya untuk.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 26 May 2010 20:56:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Negeri Achai]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2624/negeri_achai.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Pada masa perang lalu, sebagian kecil orang tertarik dengan perdebatan bagaimana menuliskan kata Aceh. Ada yang menuliskannya dengan Acheh, Atjeh dan Aceh. Pertengkaran bisa menghebat karena cara penulisan diklaim menentukan kadar keacehannya.

Mungkin juga hal itu tidaklah sepelik yang dimaknakan oleh yang mereka pertengkarkan. Mungkin Aceh mewakili penulisan ejaan baru; Atjeh mewakili penulisan ejaan lama, dan Acheh bukan mewakili ejaan Melayu. Sebetulnya kepelikan &ndash; akibat sok paling politis dan keacehan itu&mdash; semakin berkurang manakala kita telusuri pada sejumlah artikel tentang sejarah Aceh. 

Dennys Lombard memberikan catatan khusus tentang penyebutan beberapa nama tempat di Aceh. Dalam bukunya: Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636), bahkan ia meletakkan bagian aneka penulisan kata Aceh di bagian awal bukunya itu.

Sebelumnya, apa yang kita kenal sekarang sebagai Perlak (840-1292), oleh Marco Polo.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 19 May 2010 19:05:00 WIT</pubDate>
  </item>
  
  <item>
  <title><![CDATA[Aceh 1899]]></title>
  <link><![CDATA[http://www.modusaceh.com/html/news/kolom/2603/aceh_1899.html]]></link>
  <description><![CDATA[<div align="justify">Masa lalu, rupa-rupanya, tak hanya bisa ditemukan dalam buku-buku sejarah semata. Aceh masa lalu juga bisa kita temukan dalam catatan para petualang yang ditulis dalam bentuk novel; dan para petualang itu pun tak harus dimonopoli oleh mereka yang berasal dari bangsa-bangsa Portugis, Belanda, serta Inggris.

Begitulah, sampai pada suatu ketika saya menemukan Aceh seputar 1899 di dalam karya Karl May, Dan Damai Di Bumi! Penulis berkebangsaan Jerman. Hal ini penting untuk diketahui karena kala itu bangsa Jerman telah memiliki kesadaran politik akan keunikan dirinya diantara bangsa-bangsa Eropa lainnya yang sedang mengklaim sebagai bangsa Barat yang lebih berbudaya daripada bangsa-bangsa Timur. Seputar zaman itu, memang kolonialisme Barat sedang berada di puncaknya.

Karl May menuliskan karyanya itu atas dasar pengalaman petualangannya sendiri. Anehnya, ia menulis dengan perspektif perdamaian. Tentunya, ini sebuah cara pandang yang.....</div>]]></description>
  <pubDate>Wed, 12 May 2010 19:30:05 WIT</pubDate>
  </item>
  
</channel>
</rss>