“Secara normal, Aceh tertutup bagi orang asing dan untuk mengabarkan Injil. Karena bencana, mitra kami menyarankan untuk menyediakan pintu masuk, mengabarkan Injil”.
ITULAH pernyataan resmi World Help dalam websitenya awal Januari beberapa waktu lalu, ketika mereka memulai aksinya di Banda Aceh. Laporan itu menyebutkan sejumlah misionaris siap masuk Aceh menjalankan misinya. Hal yang sama juga dilakukan oleh The Advancing Native Missions Organization (ANM). Direktur ANM untuk Indonesia, Paulus Wibowo, yang juga pemimpin Pusat Pelatihan Misionaris Yogyakarta (YMTC) secara aktif membuat laporan kondisi relawannya di Aceh dan Sumatera Utara kepada ANM pusat di Amerika. “Untuk sementara waktu, kita sudah mempelajari bahwa semua misionaris kita di Sumatra Utara baik dan dilindungi oleh Tuhan, kita taksir, kebutuhan mereka sampai segalanya kembali normal akan menelan biaya sekitar 600 sampai 1.500 USD,” tulisnya.
Kemudian, Baptist News, sebuah media Kristen dalam laporannya pada 7 Januari 2005 lalu, juga melaporkan hal yang sama. Meski dari sumber dengan nama samaran Julian. Dalam tulisan itu Julian meminta para aktifis dan elemen gereja untuk datang ke Aceh dan menunjukkan nilai Kristen. “Kita memerlukan para dokter, perawat dan orang-orang dengan keahlian khusus. Selain dari itu, kita memerlukan lebih banyak orang yang mau bekerja untuk pekerjaan-pekerjaan kotor. Ini pekerjaan keras dibanding yang kamu bayangkan,” tulisnya.
Masih dalam tulisan tersebut, sebagaimana dikutif hidayatullah. com, Julian menambahkan. “Kita mendapat suatu kesempatan untuk membentuk kembali persepsi masyarakat tentang kekristenan. Mereka telah menganggap kami seperti halnya orang asing lainnya. Dan di Aceh, rekonstruksi kembali tempat ini akan memerlukan waktu beberapa tahun,” lanjutnya. Itulah, gambaran semangat kaum misionaris dalam membawa misi kristenisasi ke Aceh pasca tsunami.
Namun, tak semua kalangan gereja yang menyetujui hal tersebut. Sebut saja apa yang dilakukan oleh Presiden untuk Bantuan Kemanusiaan dan Pembangunan Internasional nonreligius, Pendeta Artur Keys. Ia amat takut terhadap sikap para evangelis (pengabar Injil) di Aceh.
Menurutnya, tindakan evangelis yang berambisi mengajak masuk warga muslim Aceh ke dalam ajaran Kristen, akan menimbulkan reaksi yang tidak menyenangkan. Namun, kesempatan memang kerap datang di kala sempit. Masamasa darurat yang dialami oleh masyarakat Aceh pasca-tsunami, merupakan sebuah kesempatan yang baik bagi kaum misionaris untuk melakukan misi kristenisasinya. Mereka memanfaatkan kesempatan itu dengan kedok ‘berbagai kasih’ melalui berbagai bantuan kemanusiaan. Hal ini sebagaimana pernah dikupas oleh koran The Baltimor Sun. Dalam ulasannya, koran ini mengkritik hadirnya beberapa kelompok evangelis yang mencampurkan gerakan bantuan kemanusiaan dengan misionaris Kristen di Aceh dan kawasan Asia yang terkena gelombang tsunami.
Menurut The Baltimor Sun, misi tersebut dilakukan dengan berbagai cara, seperti adopsi anak-anak yatim, penempelan panflet-panflet religius pada kotak bantuan, yang intinya, membantu sambil menyebarkan misi Kristus. “Mereka tidak akan pernah menyerah untuk menanamkan tujuan gereja,” ujar Scott Moreau, editor Evangelis Missians Quarterly, sebuah penerbitan Kristen.
Juru bicara World Relief, Chis Pettit menyebutkan, model kerja kelompok atau relawan kemanusiaan Kristen tersebut, sama seperti apa yang pernah terjadi pada kerusakan di Kamboja pascaperang pada awal tahun 1990. Beberapa tahun setelah krisis, para pekerja kemanusiaan dari World Relief, misalnya, menghidupkan kembali hubungan mereka dengan penduduk sekitar dan kemudian membangun tempat-tempat ibadah berupa gereja. Petit mengatakan, sekarang sudah ada sekitar 300 gereja di Kamboja tempat di mana dulu mereka pernah bekerja.
“Menurut sejarah, pendekatan yang terbaik adalah untuk menyediakan
bantuan dan membangun kepercayaan, dan kemudian melalui kepercayaan itu, peluang bisa muncul. Kita menanam benih itu,” ujar Petit, sebagaimana dilansir swaramuslim.org. Namun ada juga di antara mereka yang bekerja dengan model halus. Datang ke lokasi bencana, kemudian bekerjasama dengan partner lokal, agar misi mereka tidak tampak kentara dalam masyarakat.
Model seperti ini, tulis suaramuslim.com dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari kelompok Kristen Fundamentalis asal Virginia, AS, World Help. Begitu juga dengan Caritas. Project Manager Agen Kesejahteraan Karita Katolik Australia, Jamie Isbister, memberikan taktik kepada pihak-pihak Kristen jika ingin masuk ke Aceh. “Hendaknya para agen bantuan yang berasal dari Barat, tidak gampang dibaca oleh warga setempat jika ingin masuk ke Aceh meskipun melalui cara bantuan kemanusiaan. Dengan perkiraan 35.000 anak-anak yatim piatu, ada juga rasa takut masyarakat bila hadirnya rumah yatim piatu itu akan digunakan untuk membawa mereka pada agama Kristen,” ujar Isbister pada Australians Christian Lobby, Selasa 11 Januari 2005 lalu.
Karena itu pula, Isbister menyarankan agar para relawan misionaris yang datang ke Aceh untuk memiliki kiat yang baik dan kepekaan religius. Supaya masyarakat tidak salah baca dan akan dianggap sebagai usaha untuk mengajak keluar dari Islam, kutip Isbister. “Jika tidak, dikhawatirkan kesempatan emas itu akan mudah.
Penyebaran agama Kristen atau lazim disebut kristenisasi, dilakukan dengan sangat rapi dan terorganisir. Ratusan organisasi baik nasional maupun internasional m e n g e m b a n g k a n perluasan agama tersebut dengan berbagai misinya.
Sebuah organisasi kemanusiaan dari kelompok Kristen Evangelis di Philadelphia, misalnya, melepas tim relawan dan armada kemanusiaan untuk dikirim ke zona krisis di Asia Tenggara. Kemudian, pascabencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004 lalu, kelompok religius asal Amerika ini juga melaporkan telah menerjunkan 55 agen anggotanya yang berangkat ke lokasi korban tsunami. Mereka terdiri dari tim kemanusiaan Palang Merah, the American Jewish World Service, dan Lutheran World Relief.
Meski mengirim relawan, namun demikian, mereka mengaku bantuan itu tidak mengaitkan misi atau mengajak masuk agama tertentu. Tetapi sebagian lainnya, justru terang-terangan membantu sambil mengajak memeluk agamanya. Beberapa kelompok itu adalah kelompok evangelis seperti Southern Baptists International, Gospel for Asia (GFA), dan The Christian and Missionary Alliance. “Bencana ini salah satu kesempatan terbesar Tuhan yang diberikan pada kami untuk berbagi cinta Nya dengan orang-orang,” ujar Presiden Gospel for Asia KP Yohannan dalam Philadelphia Inquirer. Koordinator Southern Baptist, Pat Julian mengatakan, tsunami telah menyediakan kesempatan fenomenal bagi para penginjil untuk menyebarkan misinya. Masih menurut Yohannan, 14.500 misionaris di India, Sri Lanka dan Pulau Andaman sedang melakukan pekerjaaannya menjalankan misi dan membagikan Injil dan buku-buku keagamaan kepada orang-orang yang selamat. Isinya,
“Bagaimana cara menemukan harapan di saat seperti ini melalui kata-kata Tuhan,” katanya seperti dikutip news-leader.com, 10 Januari lalu. Di markas besarnya di Carrollton, Texas, Yohannan mengkoordinir 10 juta USD untuk membawa air bersih, makanan, pakaian, obat-obatan untuk para pengungsi di Asia. GFA juga berencana membangun 10 rumah yatim piatu masa depan untuk 10.000 anak-anak Sri Langka yang kini telah kehilangan orangtua. “Pemerintah Sri Langka telah mendukung kami untuk meneruskan proyek rumah yatim piatu ini,” kutipnya dalam situs resmi GFA di www.gfa.org.
Di Andhra Pradesh, India, kelompok-kelompok misi ini berencana membangun komunitas Kristen untuk menggantikan desa dan kampung pantai laut yang telah hancur itu. Dalam sebuah situsnya, seorang pejabat kementrian India James Rebbavarapu mengatakan, sebuah regu insinyur asal Amerika telah menyetujui untuk mendesain tiap 400 kampung dengan sebuah pusat geraja di tengahnya.
Kent Craig of the Association of Baptist for World Evangelism (Asosiasi Baptis Kent Craig untuk penyebaran agama Kristen dunia—red) mengatakan sedang menyiapkan ratusan missionaries yang berserak di 11 negara-negara di wilayah Pasifik. “Walaupun ada musibah tsunami, semua personil kami mengatakan segalanya telah aman,” ujarnya.
Direktur The Advancing Native Mission Organization (ANM) untuk Indonesia, Paulus Wibowo di Yogjakarta, melaporkan setiap aktivitas ANM di Aceh ke kantor pusatnya di Amerika. ANM merupakan sebuah misionaris internasional yang memiliki anggota tersebar di seluruh dunia, yang membantu menyebarkan Injil ke seluruh dunia dengan dukungan sekitar 3.500 misionaris dan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.
Pendeta Ross Naylor-Tatterson asal Belanda pun menggalang kerja sama dengan salah satu jaringan rumah yatim piatu terbesar swasta di Indonesia untuk misi tersebut. Mereka datang dengan bendera Youth With A Mission (YWAM). “Kami berusaha untuk menguatkan YWAM, yang mempunyai pengalaman dengan anak yatim piatu, dan untuk merespon dengan krisis yang besar ini,” kata Naylor-Tatterson, seperti dikutip Kristianipos.com. Selain itu ada lagi organisasi Compassion International. Pasca musibah gempa dan tsunami akhir tahun lalu, mereka langsung membuka programnya di India, Thailand dan Indonesia.
Organisasi ini memfokuskan programnya pada para pengungsi yang kehilangan anggota keluarganya. Seperti kantor agensi lainnya, Compasion International juga memberikan dana kemanusiaan untuk membantu para korban.
Di India, Compasion International bekerjasama dengan Persekutuan Penginjilan EFICOR (Evangelical Fellowship of India Committee on Relief) dan ESAF (Evangelical Social Action Forum) dan telah menyumbangkan 24.000 dolar langsung lewat mereka setelah mendengar berita bencana tsunami terjadi di Asia. Di Indonesia, Compasion International bekerjasama dengan Gereja Holy Christ.
Ada juga Mission Aviation Fellowship (MAF), sebuah regu spesialis di seluruh dunia, yang sering keluar masuk daerah-daerah terpencil dengan menggunakan pesawat terbang di tempat terpencil. Lebih dari 450 misionaris anggota MAF, termasuk 30 warga Kanada beserta keluarganya. Mereka, melaksanakan tugas khusus membantu para pendeta dengan cara memberi bantuan radio komunikasi, ilmu penerbangan dan internet.
Lalu ada lagi Wold Help, yang merupakan salah satu di antara ratusan relawan kemanusiaan yang datang ke Aceh dengan alasan membantu pengungsi. Tapi beberapa waktu lalu, koran besar AS, The Washington Post memberitakan, organisasi misionaris ini justru telah membawa lari 300 anak-anak yatim piatu Islam korban tsunami-Aceh menuju Jakarta dan selanjutnya akan memasukan anak yatim itu ke yayasan dan sekolah Kristen.
WorldHelp mengaku telah mengumpulkan 70.000 USD dalam donasinya dan mengharapkan bisa naik menjadi 350.000 USD untuk membangun rumah yatim piatu di Jakarta. Sejak didirikan tahun 1991, WorldHelp kini memiliki tenaga full timier sebanyak 100 di AS dan mendapat dukungan misionaris lokal di hampir 50 negara, termasuk Indonesia. Mitra utama World Help Indonesia adalah Henry dan Roy Lanting, seorang yang kini menjalankan rumah yatim piatu dan sebuah sekolah dekat Jakarta.
Ada lagi The International Bible Society. Selain membantu mengirim relawan kemanusiaan pada para pengungsi, organisasi ini juga menyediakan sekitar 100.000 salinan buklet berjudul, “When Your Whole World Changes” yang dibagi-bagikan oleh para agen relawannya di negara-negara yang terkena musibah. Buklet ini meliputi jalan lintas mengenal Injil dan cara kebaktian, berbagi harapan, dan nasehat dari Bible. Ada pula kelompok lain seperti, Lutheran World Federation (LWF) dan The Advancing Native Missions Organization (ANM).
Selain ikut mengirimkan obat dan dokter, dia juga mengirim makanan dan pakaian pada korban orang yang selamat, LWF juga diberi tempat perlindungan di gereja-gereja setempat. Sedang ANM, mengirim bantuan dan mengirim 3500 misionaris lokal di lebih dari 60 negara-negara dunia. Juga ada Mercy and Grace, sebuah lembaga nirlaba Kristen, dan Christian Mission International Aid (CMIA).
Mereka juga mengirim relawan yang berkompeten di bidang pendidikan. Lalu ada lagi Asia Harvest Partners, Malaysia, yang juga dating ke Indonesia. Melalui mitra beberapa penginjil di Jakarta, mereka datang ke Aceh dengan tenaga 150 dokter langsung dari Jakarta. “Mereka telah melakukan usaha koordinasi di Aceh, Indonesia.
Ada sekitar 150 dokter Kristen dan sukarelawan dari Jakarta tiba di Aceh yang membantu dengan obat, makanan, air dan tenda, dan lain-lain,” ujar Paul Hattaway, seperti dilansir Hidayatulah.com.
Selain itu ada lagi Samaritan’s Purse, yang ikut mengirimkan material bantuan ke Indonesia dan Sri Langka. “Aku akan berharap bahwa mereka akan mengenali Tuhan yang aku kenal, “ ujar President
Samaritan’s Purse, Franklin Graham. Franklin adalah putra pendeta Billy Graham. Samaritan’s Purse menyediakan 4 juta USD untuk kesehatan, makanan, medis dan pemondokan kelompknya di Sri Lanka dan Indonesia.
Kelompok Evangelis terkenal di AS, mengatakan pihaknya sudah masuk ke Aceh. Pendeta Franklin Graham mengatakan Aceh memang terlalu sensitif, tetapi mereka sudah melakukan upaya-upaya besar di sana. Samaritan juga menyebarkan Kristen di Iraq begitu AS menjajah negeri itu.
Saat AS menyerang Iraq, penginjil itu mengaku, prioritas agenda kerja mereka adalah memberi bantuan pangan bagi rakyat Iraq, membangun kampkamp penampungan, serta memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya bagi rakyat Iraq yang telah dihancurkan oleh perang. Namun mereka menegaskan, bahwa jika keadaan telah pulih, mereka juga akan menyebarkan ajaran Kristen terhadap rakyat Iraq.
Koordinator Southern Baptist, Pat Julian juga mengatakan, tsunami telah menyediakan kesempatan fenomenal bagi para penginjil untuk menyebarkan misi. Yohannan mengirim 14.500 misionaris ke tempat-tempat yang dilanda gempa. “Kami juga ingin mengenalkan nilai-nilai Kristen pada mereka... sehingga mereka bisa melihat sesuatu yang lain bahwa kita dekat dengan cinta Kristus,” ujar William Suhanda yang memimpin kelompok Misionaris Light of Love for Aceh, seperti dikutip The Observer beberapa waktu lalu.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |