Edisi 46 Tahun VII | Rabu, 10 Maret 2010 Jam 09:12
Briptu Boas Woisiri
Dari Timur Berakhir di Barat
Dadang HeryantoSudah dibaca sebanyak 105 kali.

MODUS ACEH | Rizki Adhar
Suasana di Rumah Sakit Bhayangkara Banda Aceh saat dilakukannya otopsi terhadap beberapa jenazah anggota polisi yang tewas dalam kontak senjata dengan kelompok yang diduga teroris di hutan Lamkabeue, Kecamatan Seulimuem, Aceh Besar, beberapa waktu lalu.
Tiga anggota polri tewas dalam operasi penyergapan kelompok Teroris Aceh. Satu diantaranya Anggota Densus 88.
Dari tiga anggota Polri yang gugur dalam pertempuran di Kawasan Kemukiman Lamkabeu, Seulimum, Aceh Besar, Kamis pekan lalu, nama Briptu Baos Woisiri alias Boy lebih banyak menjadi buah bibir. Tewasnya anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror ini, kerap menjadi bahan laporan banyak wartawan di dalam negeri.
Kedatangan jenazahnya juga disambut langsung Kapolri Jenderal Bambang Hendarto Danuri dan Menkopolhukam Joko Suyanto di Jakarta. Markas Komando Brimob Kelapa Dua Depok juga memperketat penjagaan menjelang kedatangan jenazah Briptu Boas di Bandara Soekarno Hatta, Sabtu malam pekan lalu.
Sedikitnya belasan personel Provost Brimob diterjunkan untuk menjaga pintu gerbang dan menyeleksi setiap tamu, dan kendaraan bermotor keluar dan masuk. “Nanti akan ada pemakaman khusus di Taman Makam Polri Cikeas,” kata Kepala Korps Brimob Brigjen Pol Imam Sujarwo.
Ratusan anggota Bhayangkari dan Bhayangkara tampak memenuhi Aula Soemarto tempat jenazah disemayamkan. Karangan bunga pun penuh menghiasi pintu masuk Aula.
Penghormatan dan perhatian ini memang pantas disematkan bagi anggota Brimob yang lahir di Jayapura, Papua, 6 April 1975 itu. Apalagi, tugas yang diembannya jelas untuk kepentingan negara: menumpas teroris yang sedang tumbuh di Aceh.
Tak seperti Boas, dua anggota Brimobda Aceh, Bripda Darmansyah dan Bribda Hendrik Kusumo, yang juga tewas dalam pertempuran itu, agak jarang disebut-sebut. Entah karena bukan anggota Densus 88, yang jelas profil kedua anggota Brimobda Aceh ini tak pernah dikupas media dan jarang dibicarakan para petinggi polri.
Boas berdomisili di Komplek Gegana Blok G Nomor 2 Mako Brimob, Kelapa Dua. Dia dikabarkan sempat mendapat pelatihan anti teror di Amerika. “Dia sangat heroik mengejar (teroris),” kata Kadivhumas Irjen Pol Edward Aritonang di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu pekan lalu. Sayangnya, Boas lengah setelah berhasil menembak satu anggota kelompok teroris. Boas akhirnya tertembak dan langsung tersungkur. “Mungkin, dia kurang memperhitungkan situasi lingkungan kemudian dia kena tembak,” imbuh jenderal bintang dua ini.
Jenazah Boas sempat akan dievakuasi rekan-rekannya. Namun, karena serangan kelompok teroris begitu sengit, jenazah Boas sempat tertahan di lokasi. “Temannya berupaya mengevakuasi juga kena tembak,” jelas Edward.
Rumaninta, istri Briptu Boas Woasiri, benar-benar syok mendapat kabar suaminya tertembak di medan pertempuran. Kehilangan suami tercintanya, Rumaninta mesti rela membesarkan Imanuel, anaknya yang berusia enam tahun, seorang diri. Ini jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi, Rumaninta sedang hamil muda. “Itu sebabnya, dia sangat syok,” kata Adik sepupu Rumaninta, Catur kepada wartawan.
Rumaninta sempat pula dilarikan ke RS Bhayangkara Brimob, Kelapa Dua, Depok karena kondisinya semakin tak stabil. Pihak keluarga, kata Catur, khawatir kesehatan janin Rumaninta terganggu karena terus menangisi suaminya.
Begitupun, tiga anggota Polri yang tewas dalam operasi penumpasan teroris ini dipastikan akan diberikan penghargaan kenaikan pangkat satu tingkat. Hal ini disampaikan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Edward Aritonang. “Kapolri akan memberikan kenaikan pangkat anumetra,” ujarnya. Kenaikan pangkat Anumerta adalah kenaikan pangkat yang diberikan kepada seorang anggota polisi yang gugur saat bertugas. Pangkat Boas sebelumnya Brigadir satu naik menjadi Brigadir.
Begitu pula dengan Bribda Darmansyah dan Hendrik Kusumo. Masing-masing dinaikan pangkatnya menjadi brigadir satu. “Anggota yang gugur, hak-haknya akan diberikan pensiun, tunjangan kematian, boleh menempati asrama sampai batas waktu tertentu, dan kesejahteraan lain akan dipikirkan pimpinan,” kata Kepala Korps Brimob Brigjen Mabes Polri Brigjen Pol Imam Sujarwo.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |