Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:58
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 46 Tahun VII | Rabu, 10 Maret 2010 Jam 09:12
Kilas Balik

Rekam Jejak Densus 88

Tim Riset MODUS ACEHSudah dibaca sebanyak 172 kali.

Detasemen Khusus 88 atau Densus 88 adalah satuan khusus Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk penanggulangan teroris di Indonesia. Pasukan khusus berompi merah ini dilatih khusus untuk menangani segala ancaman teror, termasuk teror bom. Beberapa anggota juga merupakan anggota tim Gegana.

Detasemen 88 dirancang sebagai unit antiteroris yang memiliki kemampuan mengatasi gangguan teroris mulai dari ancaman bom hingga penyanderaan. Unit khusus berkekuatan diperkirakan 400 personel ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak (penjinak bom), dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu.

Satuan ini diresmikan oleh Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Firman Gani pada tanggal 26 Agustus 2004. Detasemen 88 yang awalnya beranggotakan 75 orang ini dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi Tito Karnavian yang pernah mendapat pelatihan di beberapa negara.

Angka 88 berasal dari kata ATA (Anti Terror Act), sebuah undang-undang anti teror US, yang jika dilafalkan dalam bahasa Inggris berbunyi Ei Ti Ekt. Pelafalan ini kedengaran seperti Eighty Eight (88). Jadi, arti angka 88 bukan seperti yang selama ini beredar bahwa 88 adalah representasi dari jumlah korban bom Bali terbanyak (88 orang dari Australia), juga bukan pula representasi dari borgol.

Pasukan khusus ini dibiayai pemerintah Amerika Serikat melalui bagian Jasa Keamanan Diplomatik (Diplomatic Security Service) Departemen Negara AS dan dilatih langsung oleh instruktur dari CIA, FBI, dan U.S. Secret Service. Kebanyakan staf pengajarnya adalah bekas anggota pasukan khusus AS. Pusat pelatihannya terletak di Megamendung, 50 kilometer selatan Kota Jakarta.

Satuan pasukan khusus baru Polri ini dilengkapi dengan persenjataan dan kendaraan tempur buatan Amerika Serikat, seperti senapan serbu Colt M4, senapan penembak jitu Armalite AR-10, dan shotgun Remington 870. Bahkan dikabarkan satuan ini akan memiliki pesawat C-130 Hercules sendiri untuk meningkatkan mobilitasnya.

Semua persenjataan yang diberikan, termasuk materi latihan, diberitakan sama persis dengan apa yang dimiliki oleh satuan khusus antiteroris AS.

Burung Hantu tak Pernah Tidur
Struktur organisasi Densus 88 AT Polri memiliki empat pilar pendukung operasional setingkat subdetasemen (subden). Yakni, subden intelijen, subden penindakan, subden investigasi, dan subden perbantuan. Di bawah subden terdapat unit-unit yang menjadi fondasi pendukung operasi Densus 88 AT Polri.

Selain itu, ada dukungan persenjataan dan peralatan pendukung yang boleh dikata sangat canggih. Namun, di luar ‘’kehebatan” dan kepiawaian Densus 88, mereka mempunyai beban yang sangat berat. Terutama yang bergerak di bawah tanah sebagai tim intelijen maupun tim kontraintelijen. ’Istilahnya, gaji dan tunjangan sama dengan polisi lalu lintas, tapi tugasnya tak kenal waktu, 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Dalam setiap penugasan, anggota unit intelijen Densus 88 bisa menjadi apa saja. Mereka juga mempunyai berbagai identitas palsu untuk kepentingan penyidikan. Buktinya, saat sukses menggulung komplotan Wahyu dan kawan-kawan di Plumpang, 21 Oktober tahun lalu, tim menyamar menjadi tukang penjual air mentah selama berhari-hari. Unit yang lain menyamar sebagai tukang pengangkut sampah dan tukang ojek.

Pada 2006, Densus 88 AT Polri hampir menangkap Noordin M. Top dalam penggrebekan di Dusun Binangun, Wonosobo, Jawa Tengah. Sayang, Noordin dapat meloloskan diri. Dalam penyergapan yang disertai dengan tembak-menembak tersebut, Densus 88 AT Polri berhasil menangkap dua orang dan menembak mati dua tersangka yang lain.

Sebelum menggerebek, tim menyamar sebagai kernet dan sopir di pool PO DAMRI yang letaknya tak jauh dari rumah target. Setahun kemudian, tepatnya 22 Maret 2007, Densus 88 AT Polri membongkar jaringan persenjataan dan bom terbesar sejak 30 tahun terakhir di kawasan Sleman, Jogjakarta.

Untuk menyukseskan misi, perawakan anggota Subdenintel Densus 88 jauh dari kesan polisi. Tampilan juga jauh dari kesan reserse biasa. Misalnya, reserse lazimnya mengenakan baju bebas (preman) dengan lengan digulung, rambut dikucir belakang, dan sepatu kulit.

Anggota Densus 88 AT Mabes Polri yang beroperasi di lapangan diberi privilege tidak perlu apel rutin sebagaimana polisi lain. ’Tapi, handphone tak boleh mati 24 jam. Tim lapangan juga punya tempat kumpul yang dirahasiakan. Itulah ‘kantor’ kedua mereka.

Untuk memperkuat pemahaman mereka tentang jaringan terorisme, anggota juga mempelajari buku-buku JI.

Karena sifat tugasnya yang mobile, sering anggota Densus 88 mempunyai problem internal rumah tangga. Terutama mereka yang bertugas beberapa bulan dan jarang bertemu dengan istri dan anaknya. ‘’Bagi yang punya pacar, pasti tak langgeng. Tapi, itu sudah risiko penugasan. Mereka paham sepenuhnya dan tak mengeluh,” kata Kadivhumas Mabes Polri, saat dipegang Irjen Pol Nanan Soekarna yang  mengakui kehebatan Densus 88. ‘’Kalau tidak hebat, bukan khusus dong,” katanya, tersenyum.

Operasi Yang Diketahui

9 November 2005
Detasemen 88 Mabes Polri menyerbu kediaman buronan teroris Dr. Azahari di Kota Batu, Jawa Timur yang menyebabkan tewasnya buronan nomor satu di Indonesia dan Malaysia tersebut.

2 Januari 2007
Detasemen 88 terlibat dalam operasi penangkapan 19 dari 29 orang warga Poso yang masuk dalam daftar pencarian orang di Kecamatan Poso Kota. Tembak-menembak antar polisi dan warga pada peristiwa tersebut menewaskan seorang polisi dan sembilan warga sipil.

9 Juni 2007
Yusron al Mahfud, tersangka jaringan teroris kelompok Abu Dujana, ditangkap di desa Kebarongan, Kemrajan, Banyumas, Jateng

8 Agustus 2009
Menggerebek sebuah rumah di Jati Asih, Bekasi dan menewaskan 2 tersangka teroris

8 Agustus 2009
Mengepung dan akhirnya menewaskan tersangka teroris di Temanggung.

17 September 2009
Pengepungan teroris di Solo dan menewaskan 4 tersangka teroris salah satu diantaranya adalah Noordin Mohammed Top.***

Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: