Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:51
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 45 Tahun VII | Rabu, 3 Maret 2010 Jam 08:49

Atas Nama Jamaah Islamiyah

Shaleh L.Seumawe dan Dadang HeryantoSudah dibaca sebanyak 190 kali.

Desa Jalin, Aceh Besar, diduga jadi markas latihan anggota Jamaah Islamiyah (JI). Sepasukan anggota Brimob dikerahkan. Empat pelaku diciduk. Seorang warga sipil tewas, dihantam timah panas petugas.

Berawal dari informasi intelejen. Lalu, Kapolda Aceh Irjen Polisi Adityawarman menduga, sejak September 2009 lalu, polisi sudah mencium adanya pergerakan kelompok yang diduga anggota Jamaah Islamiyah (JI) di Aceh.

Tak main-main, dengan mimik serius, mantan Kapolda Maluku itupun berhitung. Katanya, ada sekitar 50 orang dengan kekuatan 17 pucuk senjata M-16. Mereka bergerak berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain untuk latihan militer. “Terakhir terdeteksi berada di kawasan hutan Jalin,” kata Kapolda saat jumpa pers pekan lalu di Mapolda Aceh.

Sebagai unit di bawahnya, jajaran Polres Aceh Besar mengirim satu unit kecil untuk mencari tahu tentang eksistensi kelompok yang diduga erat hubungannya dengan teroris itu, Senin pekan lalu. Hasilnya, keberadaan tim pengintai, kata sumber itu, tercium kelompok yang diduga teroris tadi. Kelompok sipil bersenjata inipun berusaha melakukan penyergapan.

Kalah jumlah dan persenjataan, tim pengintai merasa terpojok. Kasat Intel Polres Aceh Besar yang memimpin saat itu, buru-buru mengontak markas dan minta pengiriman bantuan. “Kasat intel sangat panik dan nyaris menangis ketika itu,” kata sumber media ini.

Tapi, sumber lain mengungkapkan, satu anggota intel Polres Aceh Besar, dinyatakan hilang, saat melakukan pengintaian. Lalu, dibantu satuan Brimob, Polres Aceh Besar melakukan penyisiran. Tujuannya, selain mencari teman mereka yang hilang, juga menditeksi secara utuh adanya kemungkinan warga sipil yang diyakini sebagai anggota Jamaah Islamyiah (JI) sedang berlatih perang di kawasan Desa Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar.

Sayang, sejauh ini belum ada keterangan yang akurat, terkait pengepungan itu. Sumber MODUS ACEH dari jajaran Polres Aceh Besar mengatakan, tim ini dipimpin langsung Kasat Intel Polres Aceh Besar AKP Afriadi. Informasi awal, kata dia, dari laporan masyarakat ketika melihat salah seorang dari anggota kelompok itu turun ke desa untuk membeli perlengkapan logistik. Warga juga kerap mendengar suara letusan senjata dari dalam hutan. Itu sebabnya, warga melaporkannya pada polisi. Pengintaian pun dilakukan.

Kerja keras itu rupanya tak sia-sia. Empat pria yang diduga sebagai anggota JI, diciduk. Mereka adalah, Ismed Hakiki (40) dan Zakky Rahmatullah (27). Keduanya, asal Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Dua lainnya asal Kabupaten Aceh Besar, Yudi Zulfahri (27) warga Perumnas Lambheu, Kecamatan Darul Imarah dan Masykur Rahmat (21), warga Gampong Miruek, Kecamatan Krueng Barona Jaya.

Kini, keempatnya dalam pemeriksaan dan tahanan Mapolda Aceh. Disebut-sebut, Ismed Hakiki menggunakan nama palsu. Nama aslinya adalah Syeilendra Sapta Utama alias Sapta. Diduga, dia terlibat sejumlah aksi bom bunuh diri di Jawa. ”Ada beberapa nama lain yang dia gunakan. Nama itu dipalsukan saat mau ke Aceh,” ungkap sumber media ini.

Dari empat tersangka, polisi mengaku memperoleh berbagai barang bukti. Misalnya, seragam PDL loreng dari luar negeri, ransel, tenda, uang, kepingan CD yang berjudul perlawanan kaum tertindas, dan sejumlah buku panduan dan perlengkapan yang dimiliki oleh kelompok teroris.

Kamis pagi pekan lalu, polisi kembali menciduk seorang tersangka teroris lainnya. Dia bernama Surya. Polisi mengaku menemukan satu pucuk senjata api jenis M-16 beserta 17 butir peluru, satu senapan angin, satu senapan kayu yang biasa digunakan untuk latihan militer dan tas berisi seragam militer.

Sayang, succses story polisi tadi, harus dibayar dengan hilangnya nyawa Kamaruddin (36) alias Raja Rimba, anggota KPA Wilayah Aceh Besar. Saat konflik, korban tercatat sebagai anggota GAM Gajah Kheng, Aceh Besar. Bersama Raja Rimba, ada Suheri (14) yang ikut tertembak timah panas di paha. Kebetulan, Suheri berboncengan dengan Kamaruddin. Sepeda motor satunya, dikendarai Abdul Majid berboncengan bersama rekannya. Syukur, dia selamat. Kini, Suheri dalam pengobatan dan pengawasan tim Polda Aceh. Dia di rawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Banda Aceh. Tak seorangpun diperbolehkan menemui Suheri, termasuk para wartawan.

Sebelum naas, Senin sore pekan lalu, keempat mereka pergi mencari ikan di Krueng Linteung, Jalin, Aceh Besar. Sungai ini memang dikenal dengan ikan kerlingnya. Jenis ikan ini sangat digemari warga di sana karena dagingnya gurih dan manis.

Dalam perjalanan mencari ikan inilah mereka berpapasan dengan beberapa oknum polisi berpakaian preman. “Saat itu polisi bertanya ke mana tujuan kami,” kata Abdul Majid. “Kami menjawab mau mencari ikan ke Krueng Linteung.”

Polisi tak melarang. Keempat pria inipun melanjutkan perjalanan. Persis pukul 16.00 wib, mereka tiba di tujuan. Selanjutnya, mencari ikan hingga larut malam. Sekitar pukul 23.00 wib, kata Abdul Majid, mereka memutuskan untuk menyudahi pencairan ikan. Kamaruddin mengangguk setuju. Mereka bergegas pulang. Abdul Majid dan rekannya berjalan di depan. Kamaruddin bersama rekanya, Suheri menyusul di belakang. Tiba-tiba, dor..dor..dor..!! mereka dihujani peluru saat sedang melintasi di jembatan Krueng Lintueng. “Kami ditembaki tanpa peringatan,” ungkap Abdul Majid.

Kamaruddin langsung merintih kesakitan. Dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu timah panas persis mengenai dada. Satu peluru lagi melukai kakinya. “Suheri juga terkena tembakan di paha,” kata Abdul. Tapi, Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman berpendapat lain. “Dalam keremangan malam itu, anggota kami mengira warga sipil yang terlihat membawa senapan ikan itu adalah bagian dari kelompok itu. Mereka sempat diminta berhenti. Mungkin karena merasa tak salah apa-apa, langsung saja mereka meluncur sehingga terjadilah penembakan,” kata Kapolda seraya meminta maaf.

Esok harinya, Raja Rimba di kebumikan. Ratusan pelayat, terutama anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Pusat dan Aceh Besar, tumpah ke rumah korban. Ada rasa duka mendalam dari raut wajah mereka. Kapolres Aceh Besar AKBP Agus Susanto Atas nama Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman datang melayat. Kepada keluarga korban, dia minta maaf.

Hari ketiga, jalan menuju rumah duka tampak sudah diblokade para sahabat Raja Rimba. Bahkan, wartawan tak diperbolehkan masuk. Penjagaan berlapis. “Permintaan maaf Kapolda dapat kami pahami, tapi alasan penembakan rekan kami, itu yang belum dapat kami terima. Benarkah mereka sudah meminta korban berhenti atau jangan-jangan sengaja di tembak,” kata seorang rekan korban kepada media ini.

Sejauh ini, suasana duka dan mencekam, masih membalut sekitar rumah duka. Begitupun, aparat kepolisian dilaporkan masih terus mengepung kawasan pegunungan sekitar Desa Jalin, Kecamatan Jantho, Aceh Besar. Tujuannya,  untuk mempersempit ruang gerak sekelompok orang bersenjata yang diduga teroris sedang melakukan pelatihan militer. Sejak operasi itu dilancarkan, Senin (22/2) malam, jumlah tersangka yang diamankan sudah lima orang plus satu pucuk senjata M-16 dan barang bukti lainnya. Kapolda Aceh dan Kabid Humas, Kombes Pol Farid Ahmad, tak mau berkomentar banyak. Alasannya, kasus ini sudah diambil alih Mabes Polri. 

Dari Jakarta berhembus kabar, Mabes Polri mengirimkan pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror ke Aceh terkait penangkapan kelompok yang diduga anggota jaringan teroris. “Kita kirim pasukan Densus ke Aceh untuk bekerjasama dengan kepolisian daerah setempat,” kata Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ito Sumardi usai membuka pertemuan ke-5 Senior Official Meeting on Transnational Crime on Counter Terrorism di Hotel Santika, Jalan Kartika Plasa, Kuta, Bali, Kamis (25/2). Pasukan korps burung hantu itu ditugaskan untuk operasi penyisiran ke lokasi-lokasi yang dipakai sebagai tempat persembunyian kelompok bersenjata. Apalagi dari penyelidikan intelijen, diduga masih ada anggota mereka yang belum tertangkap.

Kepada masyarakat di Aceh, Ito mengingatkan agar segera melapor ke polisi terdekat jika menemukan hal-hal yang mencurigakan. Ini karena ancaman terorisme masih cukup eksis dan berlangsung secara sistemik.  Ito menambahkan, Polri sedang mengembangkan penangkapan kelompok bersenjata di Aceh dengan jaringan terorisme. “Kita terus dalami, terutama kaitannya dengan kelompok teroris lama maupun kelompok yang sudah keluar dari lembaga pemasyarakatan yang kemudian membentuk jaringan baru,” ujar jenderal bintang tiga ini.

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Edward Aritonang di Kampus PTIK, Jakarta Selatan, Jumat (26/2) mengatakan, jumlah tersangka teroris yang melakukan pelatihan militer di Aceh (yang sudah ditangkap) menjadi lima orang. Kuat dugaan, sebagian diantaranya berasal dari Timur Tengah. “Jumlah tersangka memang bertambah, tapi sampai sekarang masih kita dalami,” ujar Edward.

Berdasarkan ciri-ciri fisik dan sejumlah dokumen yang disita, Edward tidak menyangkal apabila di antara para tersangka merupakan warga negara asing. Hanya saja polisi belum mengonfirmasi kebenaran informasi tersebut ke perwakilan negara yang bersangkutan di Indonesia. “Apa betul? atau dokumennya palsu, atau hanya mengaku saja. Jadi belum bisa disimpulkan dari negara mana. Tapi kalau indikasinya luar negeri memang benar,” terangnya.

Mengenai adanya dua warga sipil yang tertembak, seorang di antaranya tewas yaitu Kamaruddin (37), ketika penyergapan pada Senin (22/2) malam, menurut Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Edward Aritonang, sudah ada yang turun untuk melakukan pemeriksaan. “Kalau salah tembak, ya yang salah akan diambil langkah penindakan serta sanksi,” ujar Edward.

Nah, jika janji Edward itu benar, maka tak ada alasan bagi Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman untuk tertutup dalam peristiwa itu, khususnya motif dibalik tertembaknya Kamaruddin alias Raja Rimba. Keterbukaan ini penting, untuk menghalau pihak yang ingin memanfaatkan situasi dan kondisi Aceh yang kini telah aman, untuk kembali terjebak pada pusaran konflik. karena itu, permintaan maaf saja tak cukup Pak Kapolda.***


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: