Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:51
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 45 Tahun VII | Rabu, 3 Maret 2010 Jam 08:49

Akhir Perjalanan Raja Rimba

Shaleh L.Seumawe, Dadang Heryanto dan Fitri JulianaSudah dibaca sebanyak 173 kali.

Disangka teroris, polisi menembak mati Kamaruddin alias Raja Rimba. Kapolda Aceh Irjen Pol Adityawarman minta maaf. Sahabat korban mengaku belum bisa menerima.

“Dia sudah pergi dengan tenang dan tak mungkin bisa hidup kembali. Yang mungkin dilakukan adalah, mengungkap motif dan pelaku penembakan. Jika terbukti bersalah, pelaku penembakan harus ditindak sesuai hukum berlaku. Itu yang kami mau. Kapolda harus mengusut kasus ini,” begitu ucap seorang rekan Kamaruddin alias Raja Rimba kepada media ini pekan lalu.

Masih kata rekan Kamaruddin, sebagai manusia, pihaknya dapat menerima dan memahami permintaan maaf Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman. Sebaliknya, sebagai aparat penegak hukum, mereka minta jenderal bintang dua itu mengusut tuntas peristiwa tersebut. “Sebab, dari penyelidikan kami di lapangan, ada yang menyebutkan korban tidak diberi peringatan dan langsung ditembak.Jika ini benar, maka pelakunya harus ditindak. Bukan sebaliknya ditutup-tutupi,” ujarnya.

Bukan hanya itu, secara logika sebut sumber itu, sulit diterima akal jika polisi melakukan penyergapan dan membiarkan warga sipil masuk ke lokasi. “Faktanya jelas, sore hari mereka berpapasan dengan polisi berpakaian preman dan mempersilahkan mereka mencari ikan. Kalau memang kawasan itu mau dikepung, harusnya di sterilkan dulu. Pengalaman saat konflik dulu. Kami sering berhadapan dengan pengejaran dan pengempungan,” ungkap sumber itu yang tak bersedia namanya ditulis.

Paska tewasnya Kamaruddin alias Raja Rimba, berbagai reaksi muncul. Salah satunya dari Koalisi NGO HAM Aceh. Para aktivis ini menilai, kejadian salah dor itu merupakan bukti dari kelalaian polisi dalam menjalankan tugas.

Menurut Koalisi NGO HAM Aceh, operasi tersebut mengabaikan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2009 tentang prinsip-prinsip HAM dalam kegiatan kepolisian. “Seharusnya polisi sebelum mengepung harus mengevakuasi masyarakat sipil dari daerah target operasi.  Sehingga tidak ada korban sipil yang berjatuhan.

Bukan hanya itu, satuan operasi itu dinilai sangat tidak profesional, karena telah melakukan tidak pidana kelalaian yang mengakibatkan korban jiwa. ”Hal tersebut harus dipertanggungjawabkan kepolisian di hadapan hukum,” kata Kepala Divisi Hak Sipil dan Politik Koalisi NGO HAM Aceh, Zulfikar Muhammad.

Hasil investigasi pihaknya, kata Zulfikar, saat pulang mencari ikan, Kamaruddin tak membawa senjata tembak ikan. Fakta ini, kata dia, berbanding terbalik dengan keterangan Kapolda. “Sebagaimana yang disebut-sebut polisi sebagai alasan salah tembak. Padahal, saat itu almarhum hanya mengendarai sepeda motor sendiri dan berada pada urutan paling belakang dari rombongan,” ungkap Zulfikar Muhammad.

Sekedar mengulang. Senin sore pekan lalu, Kamaruddin bersama tiga rekannya, pergi mencari ikan di Krueng Linteung, Jalin, Aceh Besar. Sungai ini memang dikenal dengan ikan kerlingnya. Ikan jenis ini sangat digemari warga di sana karena dagingnya yang gurih dan manis.

Dalam perjalanan mencari ikan inilah mereka berpapasan dengan beberapa oknum polisi berpakaian preman. “Saat itu polisi bertanya ke mana tujuan kami,” kata Abdul Majid, rekan Kamaruddin. “Kami menjawab mau mencari ikan ke Krueng Linteung”.

Saat pulang malam hari, dua sepeda motor berjalan beriringan di kawasan Desa Jalin, Jantho, Aceh Besar. Satu diantaranya dikendarai Kamaruddin, 36 tahun. Dikalangan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA), pria ini dikenal dengan sebutan Raja Rimba. Kamaruddin membonceng Suheri (14). Sepeda motor yang satunya, dikendarai Abdul Majid berboncengan bersama rekannya. Tiba-tiba, dor..dor..dor..!! mereka dihujani peluru saat sedang melintasi di jembatan Krueng Lintueng. “Kami ditembaki tanpa peringatan,” kata Abdul Majid.

Kamaruddin langsung bersimbah darah. Dua peluru bersarang di tubuhnya. Satu timah panas persis mengenai dada. Satu peluru lagi melukai kakinya. “Suheri juga terkena tembakan di paha,” kata Abdul Majid.

Abdul Majid tak menyangka, peluru polisilah yang mengenai Kamaruddin dan Suheri. Keduanya segera dilarikan ke rumah sakit. Sayang, nyawa Kamaruddin tak tertolong. Korban yang akrab di sapa Raja Rimba itu tewas dalam perjalanan menuju Banda Aceh malam itu juga. Sementara Suheri, masih dalam perawatan di Rumah Sakit Bhayangkara, Banda Aceh.

Sehari berselang, Polda Aceh buru-buru gelar jumpa pers. Dihadapan wartawan yang hadir, Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman mengakui, anggotanya yang menembak Kamaruddin dan Suheri. “Ini terjadi diluar dugaan, kami minta maaf,” kata Kapolda.

Bermula dari informasi intelejen. Menurut Kapolda, sejak September tahun lalu, polisi sudah mencium adanya pergerakan kelompok yang diduga anggota Jamaah Islamiyah. Sebanyak 50 orang dengan kekuatan 17 pucuk sejata, mereka bergerak berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya untuk latihan militer. “Terakhir terditeksi berada di kawasan hutan Jalin,” kata Kapolda.

Kapolres Aceh Besar mengirim satu unit kecil untuk mencari tahu tentang eksistensi kelompok yang diduga erat hubungannya dengan teroris itu, Senin pekan lalu.

Sumber MODUS ACEH dari jajaran Polres Aceh Besar mengatakan, tim ini dipimpin langsung Kasat Intel Aceh Besar AKP Afriadi, Informasi awal, kata dia, dari laporan masyarakat ketika melihat salah seorang dari anggota kelompok itu turun ke desa untuk membeli perlengkapan logistik. Warga juga kerap mendengar suara letusan sejata dari dalam hutan. Itu sebabnya, warga tadi melaporkannya pada polisi. Pengintaian pun dilakukan.

Rupanya, keberadaan tim pengintai, kata sumber itu, tercium oleh kelompok yang diduga teroris itu. Kelompok sipil bersenjata inipun berusaha melakukan penyergapan. Kalah jumlah dan persenjataan, tim pengintai merasa terpojok. Kasat intel yang memimpin, buru-buru mengontak markas dan minta pengiriman bantuan. “Kasat intel sangat panik dan nyaris menangis saat itu,” kata sumber tadi.

Pengakuan sumber MODUS ACEH ini sejurus dengan peryataan Kapolda. Menurut Kapolda, tim kecil dari Polres Aceh Besar yang melakukan pengintaian sempat dikejar oleh kelompok tersebut sehingga malam itu juga Polda Aceh mengerahkan pasukan brimob dalam jumlah besar untuk menyisir dan menyergap komplotan itu. Ketika sedang melakukan pengintaian dan penyisiran itulah, Kamaruddin bersama rekannya kembali dari mencari ikan. “Dalam keremangan malam itu, anggota kami mengira warga sipil yang terlihat membawa senapan ikan itu adalah bagian dari kelompok itu. Mereka sempat diminta berhenti. Mungkin karena merasa tak salah apa-apa, langsung saja mereka meluncur sehingga terjadilah penembakan,” kata Kapolda seraya meminta maaf.

Misi tetap dilanjutkan. Hasilnya, menurut Kapolda, malam itu tim gabungan berhasil menangkap empat tersangka dan berbagai barang bukti, seperti, seragam PDL loreng dari luar negeri, ransel, tenda, uang, kepingan CD yang berjudul perlawanan kaum tertindas, dan sejumlah buku panduan dan perlengkapan yang dimiliki oleh kelompok teroris.

Sementara empat tersangka yang ditangkap masing-masing bernama, Ismed Hakiki (40) dan Zakky Rahmatullah (27) keduanya asal Kecamatan Picung, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Dua lainnya asal Kabupaten Aceh Besar yaitu Yudi Zulfahri (27) warga Perumnas Lambheu, Kecamatan Darul Imarah dan Masykur Rahmat (21), warga Gampong Miruek, Kecamatan Krueng Barona Jaya. Mereka kini dalam tahanan Mapolda Aceh.

Kamis pagi pekan lalu, polisi kembali menciduk seorang tersangka teroris lainnya benama Surya. Polisi mengaku menemukan satu pucuk senjata api jenis M16 beserta 17 butir peluru, satu senapan angin, satu senapan kayu yang biasa digunakan untuk latihan militer dan tas berisi seragam militer.

Berbagai alasan pihak kepolisian, rupanya tak begitu saja diterima sahabat Raja Rimba. “Anda bayangkan sendiri, jika benar ada 50 orang warga sipil yang diduga sebagai jaringan Jamaah Islamiyah (JI), mengunakan senjata dan latihan militer, kenapa polisi tak mampu menditeksi keberadaan mereka secara akurat,” bantah salah seorang rekan korban.

Dia berkisah, jika benar ada 50 orang warga sipil di Desa Jalin, tak begitu sulit rasanya bagi polisi untuk menyergap. Sebab, selain butuh banyak logistik, jumlah puluhan orang itu tetap saja menebar rasa curiga. “Pengalaman kami dulu, kalau sudah 50 orang, maka akan tercipta jalan baru. Ramput-rumput pasti mati karena sering dilalui. Karena itu, agak janggal rasanya bila pengempungan mengalami kesulitan,” sebut seorang mantan anggota GAM yang juga rekan korban.

Kecamatan Kuta Cot Glie berada di sisi lereng Gunung Seulawah. Jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari Kota Jantho, Ibukota Aceh Besar. Dari Banda Aceh, kita harus menempuh jarak kurang lebih 20 kilometer.  

Nah, Kamis pagi pekan lalu, wartawan media ini menuju ke Desa Lamleupung, Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar. Tujuannya, mencari informasi tentang penyisiran yang dilakukan anggota Brimob Polda Aceh di Pegunungan Jalin, Aceh Besar.

Rasa was-was mulai terasa saat memasuki Desa Lamleupung, Kecamatan Kuta Cot Glie. Maklum, kawasan yang dituju, dulunya merupakan salah satu basis GAM di Aceh Besar atau akrab disebut Markas Gajah Kheng.

Saat sampai di desa tersebut, wartawan media ini mencoba mencari tahu rumah Keuchik, Abdul Majid, yang juga salah satu saksi dalam peristiwa tersebut. Dari informasi warga di sana, rumah yang dituju berhasil ditemui.

Rumah itu berkonstruksi kayu. Dindingnya papan berwarna kecoklatan. Saat itu, seorang perempuan menyambut kedatangan kami dengan hangat. “Betul ini rumah Pak Keuchik,” tanya wartawan media ini. “Betul, sebentar, saya panggil Bapak,” kata seorang perempuan, sambil mempersilahkan duduk. Dia adalah istri Abdul Majid, Keuchik Desa Lamleupung.

Saat itu, Abdul Majid mengenakan baju berwarna orange perpaduan celana panjang. Perawakannya tinggi besar. Usianya masih muda, sekitar 30 tahun. Kumis tipis menghiasi wajahnya.

Saat kami memperkenalkan diri dari MODUS ACEH, Abdul Majid mengaku tak dapat memberi keterangan lebih banyak. “Menyangkut masalah penembakan itu, sudah ada ultimatum dari KPA untuk tidak lagi mengungkitnya. Tapi karena kalian sudah datang dan pergi dari jauh, saya terima juga,” katanya dalam dialek Aceh.

Kata Abdul Majid. Senin (22/02) sore, dirinya bersama Karimuddin (36), Suheri (14) dan seorang teman lain, pergi ke Krueng Linteung di pegunungan Jalin, Aceh Besar. “Dulu sering saya ke sana mencari ikan. Tapi sudah dua tahun nggak pernah lagi,” ujar Abdul Majid.

Rombongan itu berangkat selesai saat Ashar. Saat memasuki daerah pegunungan mereka bertemu rombongan berjumlah sepuluh orang, berpakaian preman. Kira-kira 200 meter di depannya, mereka bertemu lagi dengan rombongan kedua, jumlahnya enam orang. “Saya ingat betul, mereka menjinjing senjata M-16, dan mereka tidak bertanya apa-apa,” jelas Keuchik Abdul Majid. Sebelumnya, saat bertemu rombongan pertama, mereka sempat ditanyakan tujuan ke situ.

Abdul Majid tak dapat memastikan, kelompok pria bersenjata dari dari mana. “Bisa jadi, itu yang disebut polisi sebagai anggota JI,” jelas dia. Saat itu, Abdul Majid dan tiga orang rekannya tidak langsung mencari ikan. Tapi baru dikerjakan setelah magrib berlalu. Hanya dua jam mereka mencari ikan, setelah itu pulang. Dalam perjalanan pulang  mereka memacu cepat kenderaannya.

Nah, dalam perjalanan pulang dan keremangan malam itulah, dari sisi jalan, terdengar seseorang menyapa dengan kata-kata: “Teratai” Abdul Majid dan rekannya mengaku tak mengerti sapaan itu. Lalu, seketika melutus satu tembakan: dorrrr! ke udara. Tak lama kemudian, terdengar berondongan peluru yang dihujani ke arah mereka. Tiga diantaranya mengenai Karimuddin dan Suheri.

Karimuddin, mantan kombatan GAM atau akrab disapa Raja Rimba tewas dalam perjalanan saat hendak dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara, Banda Aceh. Seperti pengakuan Abdul Majid, sebelumnya Karimuddin tidak pernah pergi mencari ikan ke sana. “Ini yang pertama sekali dia ikut mencari ikan,” jelas Abdul Majid. Sedang Suheri, sampai saat ini masih dirawat di Rumah Sakit tersebut dan dijaga ketat pihak kepolisian.

Menyangkut pemberitaan beberapa media bahwa Suheri merupakan anak dari Karimuddin. Abdul Majid membantahnya. “Itu warga sini juga. Dan bukan anak Karimuddin. Kebetulan saat itu dia berboncengan dengan Karimuddin,” jelasnya.

Ketika hendak menyambangi rumah korban, yang juga satu desa dengan Abdul Majid, dia melarang kami untuk masuk. “Sia-sia saja, bakal kecewa nanti. Disitu sudah dijaga pihak KPA, sangat sulit untuk tembus ke sana sejak dua hari lalu. Ada beberapa wartawan yang datang ke sana dan sekarang mereka tidak mau lagi melayani wartawan,” jelas Abdul Majid.

Karena penasaran dan ingin membuktikan kebenaran tersebut, wartawan media ini mencoba datang ke rumah korban yang berjarak 200 meter dari rumah Keuchik Abdul Majid. Hasilnya, disepanjang jalan menuju rumah Karimuddin, terkesan masyarakat  di sana menaruh curiga. Dari jalan menuju  rumah korban terlihat beberapa pemuda lalu-lalang. Berbagai informasi tentang kejadian penembakan tersebut tertutup dan tak ada satupun pihak keluarga korban yang bisa dimintai keterangan.***


Kenapa Irwandi (Tgk Agam) Memilih Diam

Berbeda dengan peristiwa di Bener Meriah, Nagan Raya dan Bireuen. Gubenur Aceh Irwandi Yusuf alias Tgk Agam, lebih memilih diam, terkait tertembaknya Kamaruddin alias Raja Rimba.

Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf suka berkomentar tentang banyak hal, itu biasa. Tapi, jika Irwandi Yusuf alias Tgk Agam “berpuasa” berbicara, terkait penembakan Kamaruddin (36) alias Raja Rimba, ini baru luar biasa. Maklum, Raja Rimba adalah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan anggota Komite Peralihan Aceh (KPA) Wilayah Aceh Besar.

Berbeda dengan sejumlah peristiwa sebelumnya, Irwandi terkesan begitu “bernafsu” untuk mengeluarkan pernyataan. Bahkan, sempat membuat kuping banyak kalangan merah.

Masih ingat kasus Badruddin di Sawang, Aceh Utara. Irwandi dengan lantang bersuara. Kecuali itu, peristiwa pembakaran Kantor KPA di Bener Meriah. Akibat peristiwa itu, lima orang anggota KPA setempat tewas terpanggang api. Orang nomor satu Aceh ini bahkan, ikut berkunjung ke dataran tinggi Gayo tersebut.

Belum lagi trauma itu usai, muncul pula kasus Abdul Razak, yang diduga pelaku sejumlah teror, penculikan dan aksi bersenjata. Ketika itu, Tgk Agam tak kuasa untuk menahan diri alias angkat bicara. Terakhir, peristiwa tertembaknya tiga mantan anggota KPA, di Bireun dan Aceh Besar. Saat itu, Irwandi dengan tegas menyatakan pendapatnya. Termasuk sejumlah teror yang menimpa kantor dan anggota KPA lainnya.

Sebut saja kasus yang menimpa anggota KPA di Bener Meriah. Irwandi dengan suara lantang berkomentar. “Saya harap kepada aparat penegak hukum untuk segera melakukan pengusutan,” kata Irwandi saat jumpa pers pada peresmian pembibitan dan pembukaan lahan perkebunan sawit di Pulo Harapan, Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen, beberapa waktu lalu.

Masih kata Irwandi, siapa saja yang melanggar hukum harus diproses dan jangan ada yang melindungi pelaku pelanggaran hukum. Selain itu, insiden tersebut, setidaknya dapat menggangu perdamaian yang sedang berlangsung di Aceh. “Saya sangat menyesalkan kejadian ini,” katanya.

Di sudut lain, terhadap kasus penembakan anggota KPA di Bireuen dan Aceh Besar, Irwandi Yusuf malah turut menghadiri pemakaman korban. Kepada wartawan saat itu dia mengatakan, karena Aceh sudah damai, ia meminta kepada kelompok yang tidak suka dengan perdamaian untuk bergabung dengan kelompok yang cinta perdamaian. “Kepada KPA dan Partai Aceh saya harap untuk bersabar, karena kesabaran itu sangat dibutuhkan dalam menyikapi peristiwa ini. Kepada polisi kita minta untuk dapat mengusut dan menuntaskan kasus tersebut,” ujarnya kala itu.

Hanya itu? Masih ada. Kata Irwandi, kasus penembakan itu semacam bentuk teror yang dilakukan pihak-pihak tertentu terhadap KPA dan Partai Aceh. Irwandi mengatakan Pemerintah Aceh turut berduka cita atas musibah yang menimpa salah seorang jajaran petinggi KPA Wilayah Batee Iliek tersebut. Kepada keluarga yang ditinggalkan diharapkan dapat bersabar dalam menghadapi cobaan itu.

Tak hanya itu. Saat peristiwa tewasnya Husaini (45) mantan kombatan GAM yang ditahan Polres Lhokseumawe, tewas di Rumah Sakit Kesrem, Lhoseumawe. Irwandi dengan tegas mengatakan. “Itu tugas polisi untuk mengungkapnya secara tuntas. Apapun hasilnya, sampaikan kepada publik agar rakyat tidak salah persepsi,” ucap Irwandi

Nah, terkait penembakan Kamaruddin alias Raja Rimba yang diklaim Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman sebagai salah tembak, Irwandi justeru tak bersuara. Konfirmasi yang dikirim media ini melalui pesan singkat (SMS) ke telpon selulernya, juga tak dijawab. Bisa jadi, inilah misteri Tgk Agam, sejalan dengan niatnya untuk maju sebagai Gubernur Aceh, kedua kalinya. Entahlah.***


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: