Edisi 45 Tahun VII | Rabu, 3 Maret 2010 Jam 08:49
JI di Aceh: Fakta atau Alibi
Shaleh L.SeumaweSudah dibaca sebanyak 160 kali.
Dugaan adanya anggota JI di Aceh, menuai beragam pendapat. Wagub Aceh Muhammad Nazar dan Direktur ICG Asia Pacifik, Sidney Jones, mengaku masih ragu.
Seakan berkejaran dengan waktu. Markas Besar (Mabes) Polri, Jakarta, tak ragu menerjunkan 50 anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror ke Aceh. Pengiriman itu, untuk memback-up Polda Aceh, terkait dugaan, Aceh menjadi arena latihan para anggota JI atau Jamaah Islamyiah.
Dugaan itu kian sahih, setelah tim Polda Aceh berhasil menciduk lima pria yang diduga sebagai anggota JI yang kini “bermarkas” di Aceh. Bukan hanya itu, sejumlah barang bukti termasuk senjata M-16 juga ditemukan. “Mereka melakukan kegiatan latihan militer di kawasan pedalaman hutan Aceh karena mungkin tidak terganggu. Sebab, Aceh sekarang sudah aman, bisa saja disangka itu situasi lokal,” kata Kapolda Aceh, Irjen Pol Adityawarman, pekan lalu.
Kapolda Aceh menguraikan, kawasan hutan pedalaman Aceh Besar diperkirakan menjadi markas pelatihan kelompok yang diduga jaringan teroris. “Kita bukan kecolongan karena dugaan kita kelompok ini bukan peruntukan di sini. Karena di sini aman, sehingga mereka bisa ada di Aceh,” katanya.
Menurut Kapolda, pihaknya masih menunggu informasi dari Mabes Polri karena kelompok tersebut diduga merupakan suatu ujung dari jaringan teroris.
Karena itu kata Kapolda, pihaknya terus mendalami keberadaan kelompok tersebut yang diperkirakan berjumlah 50 orang yang terdeteksi sejak lima bulan terakhir. Kapolda juga mengaku kaget dengan besarnya jumlah anggota kelompok tersebut yang diduga memiliki senjata api. Diyakini kelompok itu berbaur dan cikal bakalnya sudah cukup lama berada di kawasan tersebut.
Polisi terus mendalami dugaan terkait dengan jaringan terorisme yang diduga dari barang bukti yang berhasil diamankan berupa pisau komando, pisau lempar, teleskop, ransel, VCD, perlengkapan pakaian dan tenda seragam. Polisi juga mengamankan baju lainnya bertuliskan “Abu Mush`ab” yang di bagian dada terdapat tulisan “Makhab` Aly Wahdah (stiba)” Makassar beserta uang jutaan rupiah.
Begitupun, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar mengaku masih meragukan adanya jaringan JI di Aceh. “Saya belum tahu pasti, apakah benar keempatnya anggota JI, begitu juga yang dikatakan ada 50-an anggota JI lainnya yang sedang latihan menggunakan senjata di daerah itu. Sekali lagi saya belum tahu pasti,” ucap Wagub kepada wartawan, Rabu (24/02) di Kantor Gubernur Aceh.
Karena itu, Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar meminta agar petugas penyidik, benar-benar menyelidiki kepastian keterlibatan warga yang ditangkap tersebut, sehingga bukan berdasarkan pengakuan yang asal mengaku saja. Sebaliknya, Nazar mempertanyakan kebenaran anggota JI yang katanya telah berbulan-bulan latihan di daerah itu. Apa benar? Atau seperti apa, mereka selama ini. “Tolong jangan memanfaatkan atau membawa-bawa Aceh dengan isu radikal seperti itu, karena masyarakat telah capek bertahun-tahun hidup dalam konflik,” tegasnya.
Pengamat teroris dari International Crisis Group (ICG), Sidney Jones mengaku, dia tak yakin jika beberapa pelaku yang ditangkap Polda Aceh, pekan lalu adalah jaringan teroris. “Mungkin benar mereka melakukan latihan militer. Tapi latihan militer bukan berarti teroris. Kita harus menunggu hasil investigasi,” katanya dalam acara diskusi Mencegah Terorisme dengan Membangun Kepeduliaan dan Rasa Kemanusiaan” di Jakarta, Sabtu, pekan lalu.
Lebih lanjut diungkapkan Sidney, terlalu dini untuk menetapkan mereka yang ditangkap akhir-akhir ini sebagai jaringan teroris. “Kita belum tahu mereka merencanakan apa,” kata Sidney.
Sidney juga menyangsikan jika kegiatan yang dituding sebagai terorisme di Aceh akhir-akhir ini berkaitan dengan jamaah Islamiyah (JI). “Tipis kemungkinan ada kaitan dengan JI. JI sekarang tidak begitu aktif. Selain itu di Aceh agak kebal dengan keadaan seperti itu. Dengan ideologi yang coba ditanamkan jaringan terorisme,” tuturnya.
Dikatakannya, warga Aceh sangat dekat dengan agama. Sehingga hampir tidak mungkin ada aksi radikal di Aceh. “Kalau ada aksi radikal. Itu sesuatu yang baru di Aceh,” ujarnya.
Pendapat Sidney Jones berbeda dengan beberapa tulisan dan analisis sebelumnya. Ketika tertangkapnya Fadli Sadama alias Acin, pemilik senjata api ilegal yang digunakan untuk merampok Bank Rakyat Indonesia (BRI) Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireuen misalnya, (baca: MODUS ACEH, Edisi 14/VII). Sidney menduga adanya jaringan JI di Aceh.
Kepada media ini, Sidney Jones mengatakan. “Umumnya, hubungan JI di Aceh sangat lemah, walaupun baik JI maupun GAM (sebelum damai—red) bisa dilihat sebagai kelompok sempalan dari Gerakan Darul Islam. Kalau GAM, pada 1976, keluar dari DI untuk memperjuangkan kemerdekaan sebagai gerakan ethno-nasionalis, JI keluar DI pada tahun 1993 sebagai kelompok Salafi Jihadi, yang sama sekali tidak cocok dengan GAM,” ungkap Sidney Jones.
Penjelasan itu disampaikan Direktur International Crisis Group (ICG) Asia Pasicifc, Sidney Jones, saat diminta pendapatnya mengenai kemungkinan adanya jaringan JI di Aceh. Kata Sidney pada bulan Desember 1999, menurut Ken Conboy dalam bukunya “The Second Front”, Omar al-Faruq, utusan al-Qaeda yg ditangkap di Indonesia, pernah ke Aceh untuk melihat apakah GAM mau bergabung dengan jihad global. Hasilnya, ketika itu GAM sama sekali tidak tertarik.
Namun, ada beberapa anggota JI yang punya jaringan di Aceh. Misal, salah satunya peserta dalam Kuliah Harbiyah Dauroh-II, tahun 2000, di Camp Hudaibiyah, akademi militer milik JI di Mindanao, Filiphina. “Orang Aceh itu namanya Muntohar. Itu keterangan dari seorang tahanan dari Semarang, namanya Siswanto, dia mengaku ikut satu kelas dengan Muntohar,” kata Sidney Jones.
Bukan hanya itu. Kata dia, menurut keterangan Parmin alias Yaser Abdul Baar alias Aslam, kenalan Noordin Top, yang ditangkap April 2008. Salah satu orang yang dibai’at sebagai anggota JI di Ponpes Darusyahada, Boyolali, tahun 1999 adalah seorang Aceh. Namanya, Azwar Abdul Azis dan dia sudah kembali ke Aceh.
Sementara itu, salah satu anggota JI yang terlibat dengan beberapa pemboman dan baru bebas dari tahanan sebut Sidney Jones adalah, Jhoni Hendrawan alias Gembrot alias Idris. Dia pernah mengajar di Pesantren Baitul A’la di Pidie, tahun 1993 hingga 1994. Profesi itu ditekuninya, setelah lulus dari al-Mukmin, Ngruki, tahun 1993.
David Pintarto, salah satu mantan anggota kelompok JI di Karachi, Pakistan, lahir di Sei Liput, Aceh Tamiang. David kemudian dideportasikan dari Pakistan tahun 2003. Begitupun, dia tidak pernah terlibat aksi kekerasan. “Beberapa anggota keluarga dia pernah mondok di Ponpes Ibaturrohman, Stabat, Sumatra Utara, yang dikenal berafiliasi dengan JI Duku. Sekarang lebih ke Jamaah Ansharut Tauhid, organisasi yang didirikan Abu Bakar Ba’asyir tahun lalu. “Ponpes tersebut dipimpin oleh seorang lulusan Ngruki dari Jawa Barat, namanya Nur Janatah. Bapaknya terkenal sebagai pejuang Darul Islam (DI),” sebut Sidney Jones.
Menurut Sidney Jines. Ponpes Nurul Huda di Cilacap, sering dikunjungi Saifuddin Zuhri, yang bulan Juni lalu ini ditangkap Densus 88. Dia, diduga dekat dengan Noordin Top. “Sekarang dia menampung 14 anak yatim Aceh yang jadi korban tsunami,” papar Sidney.
Hanya itu? Tunggu dulu. Masih kata Sidney Jones. Raja Husein alias Marzuki, yang sekarang tinggal di Lampung, adalah salah satu warga Aceh yang pernah ikut latihan militer di Afghanistan. Namun, Marzuki tidak pernah terlibat aksi kekerasan.
Sumber media ini menyebutkan. Paska gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam. Persis pertengahan 2005, sejumlah pimpinan JI, sempat mengadakan pertemuan di Aceh Tamiang, Kuala Simpang. Pertemuan itu, nyaris tak terhendus aparat keamanan. Maklum, daerah itu, sedang disibukkan dengan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh.
Tak jelas, apa agenda dan misi dari pertemuan tersebut. Sumber lain media ini menyatakan. Pertemuan tadi, semata-mata sebagai mobilisasi bantuan bagi korban gempa dan tsunami, khususnya yang beragama muslim. Kecuali itu, untuk menditeksi munculnya gerakan permurtadan yang dilakukan para misionaris asing yang masuk ke Aceh.
Tapi, sumber lain media ini justeru membantahnya. Kata dia, pertemuan di Aceh Tamiang tersebut, merupakan penjajakan awal JI, untuk masuk ke Aceh. “Indikasinya ya itu tadi, ada beberapa warga Aceh yang memang pernah dilatih di Afganistan dan menjadi anggota JI. Namun, karena doktrin dan ajaran JI sulit diterima di Aceh, makanya pengaruh jaringan ini sangat-sangat lamban,” ungkap sumber media ini yang dikenal dekat dengan kalangan intelijen.
Pengamat terorisme Indonesia, Nasir Abbas, juga enggan berkomentar. Saat ditanya media ini melalui pesan singkat (SMS), Nasir membalas. “Minta maaf Pak, saya tidak mau komentar,” tulisnya singkat. Lalu. Benarkah Salendra Adi Pakta alias Ismed Hakiki (40), asal Pendeglang, Provinsi Banten yang ditangkap anggota Polda Aceh sebagai anggota JI? Nasir Abbas membalasnya. “Saya tidak kenal nama itu,” sebut dia.
Lepas dari ada atau tidaknya jaringan Jamaah Islamiyah di Aceh. Agaknya, kerja keras aparat keamanan untuk mengungkapnya, tentu sangat diperlukan. Selain itu, sikap masyarakat dengan tidak mudah terpengaruh dan menerima ajaran jihad secara membabi-buta, menjadi kunci utama. Sebab bukan mustahil, pemberlakuan syariat Islam, menjadi pintu masuk bagi berbagai kepentingan politik dan agama, untuk kemudian menjadikan daerah ini kembali ke pusaran konflik yang berdarah-darah. Lantas, benarkah ada jaringan JI di Aceh? Fakta atau hanya sebatas alibi?***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |