Edisi 45 Tahun VII | Rabu, 3 Maret 2010 Jam 08:49
Kilas Balik
Omar Al Farouq Pernah Tawarkan Bantuan Al Qaeda ke Aceh
Shaleh L.SeumaweSudah dibaca sebanyak 147 kali.
Harian Kompas, Rabu, 18 Desember 2002 memberitakan. Omar Al Farouq Pernah Tawarkan Bantuan Al Qaeda di Aceh.
Syahdan, Omar Al Farouq, wakil Al Qaeda di Asia Tenggara, pernah berkunjung ke Aceh pertengahan Desember 1999. Ia tinggal selama tiga hari di Desa Tanjung Baroh, Aceh Utara. Dalam kunjungan itu, Al Farouq menawarkan bantuan Al Qaeda untuk Aceh.
Pengakuan itu diwartakan Harian Kompas, berdasarkan pengakuan dari Teungku Fauzi Hasbi Gedong alias Abu Jihad, Ketua Front Mujahidin Aceh kepada Kompas di Bandung, Selasa (17/12). Pengakuan Fauzi Hasbi Geudong ketika itu, terkait dengan analisis yang disampaikan Sidney Jones dari ICG. Menurut Kompas, Fauzi, menyatakan keheranannya karena hingga saat ini masih banyak elite politik yang berpendapat Al Farouq hanyalah sosok rekayasa imajiner. Bahkan, ada pula yang berpendapat, Al Farouq bukan pemegang paspor Kuwait, tetapi asli Indonesia.
Menurut Fauzi, selama tiga hari Omar Al arouq yang hidup sangat sederhana itu membicarakan masalah-masalah jihad dan syariat Islam dengan ulama dan tokoh masyarakat setempat. Ia juga menceritakan hubungannya dengan banyak tokoh Islam di Indonesia, termasuk Abu Bakar Ba’asyir dan Agus Dwikarna.
Begitupun, Omar Al Farouq sangat kecewa ketika tawaran bantuan Al Qaeda ditolak. “Kami katakan, konflik Aceh bukan perang agama yang membutuhkan jihad dalam konsep Al Qaeda. Konflik Aceh menyangkut kekecewaan daerah terhadap ketidakadilan pemerintah pusat,” ujarnya.
Menurut Fauzi Hasbi, Al Farouq juga kecewa melihat wanita Aceh tidak mengenakan cadar. “Kami menghargai visi agamanya. Namun, kami menolak jika diterapkan di Aceh. Bayangkan saja, berfoto pun dilarang. Wanita tidak boleh keluar rumah, apa-lagi sekolah atau bekerja,” kata Fauzi Hasbi.
Bertolak dari sikap demikian, Fauzi Hasbi terperanjat ketika International Crisis Group (ICG) dalam laporannya, How the Jamaah
Islamiyah Terrorist Network Operates, yang diterbitkan 11 Desember 2002, menyebut dirinya sebagai bagian dari jaringan JI (Jamaah Islamiyah) di Aceh.
Fauzi menyebut laporan ICG tersebut tendensius, tidak ilmiah, dan insinuatif. Datanya tidak akurat dan dimanipulasi agar tampak berkaitan. Misalnya saja, informasi mengenai kunjungan Al Farouq di Aceh. Dalam laporan ICG ditulis, ia ditemani Husein, asal Arab Saudi.
Jelas ini keliru, karena Al Farouq datang bersama seorang Indonesia sebagai pemandu. Begitu pula ia disebut berbicara melalui telepon dengan Ayman al-Zawahiri, saat orang kedua di Al Qaeda ini berkunjung ke Aceh bulan Juni 2000. “Saya bahkan tidak tahu al-Zawahiri berkunjung ke Aceh. Jadi aneh kalau disebut mengadakan pembicaraan melalui telepon. Dari mana sumber informasi itu, tidak disebut dalam laporan tersebut,” ujarnya.
Menurut Fauzi Hasbi ketika itu, laporan demikian dapat menjadi sumber bencana karena menggiring pembaca pada kesimpulan tertentu. Contohnya lagi, Sidney Jones, wakil ICG di Indonesia, berulang kali menyebut dalam laporan itu, jaringan JI di kalangan orang Aceh. Tapi tidak satu pun bukti dikemukakannya, kecuali sekadar dugaan-dugaan semata. masih kata Fauzi Hasbi seperti ditulis Harian Kompas. Dalam konteks sekarang, sebutan “jaringan JI di kalangan Aceh” akan membentuk opini bahwa ada JI di Aceh. Penggiringan demikian sangat berbahaya dan dapat menimbulkan konflik baru. Bahkan, mengundang intervensi pihak luar dengan alasan mencari anggota JI. Rakyat Aceh yang sudah menderita, akan tambah menderita lagi. “Sidney Jones sendiri tahu jika visi Al Farouq tidak dapat kami terima di Aceh. Ia juga tahu, jangankan JI, Laskar Jihad dan FPI (Front Pembela Islam-Red) kami tolak ketika hendak masuk ke Aceh,” ujar Fauzi Hasbi.
Menurut Fauzi Hasbi, hubungannya dengan banyak tokoh Islam garis keras terkait dengan posisi orangtuanya, Abu Hasbi Geudong, sebagai orang kedua setelah Daud Beureueh dalam DI (Darul Islam). Ketika Hasbi Geudong menetap di Kuala Pilah, Negeri Sembilan, Malaysia, bertetangga dengan Abdullah Sungkar. “Abdullah Sungkar itu bosnya Abu Bakar Ba’asyir. Ia dikunjungi banyak orang, termasuk Hambali. Jadi, sebagai teman dan tetangga orangtua saya, wajar jika saya mengenal mereka. Mengenal bukan berarti terlibat. Apalagi mereka sangat tertutup pada saya jika membicarakan masalah politik,” ujar Fauzi Hasbi.
Menyangkut organisasi yang dipimpinnya, FMA (Front Mujahidin Aceh), Fauzi Hasbi mengatakan tidak ada kaitannya dengan JI. Sebab, FMA terbuka untuk setiap warga Muslim. Sedang tujuannya menegakkan syariat Islam melalui proses politik, bukan kekerasan. Syariat Islam itu sendiri bukan ala Taliban di Afganistan. Tapi sesuai dengan kehidupan rakyat Aceh. “Setelah pemerintah memberlakukan syariat di Aceh, otomatis tujuan kami sudah tercapai,” ujarnya Sayang, Fauzi Hasbi Geudong kini telah meninggal dunia. Dia diculik orang tak dikenal, saat pergi ke Ambon, Maluku. Entah ada kaitannya dengan konflik Poso atau tidak, yang pasti Fauzi Hasbi mengakhiri hidupnya di sana. Dan, dia tak merasakan serta melihat negeri endatunya: Aceh, kini telah berlaku Syariat Islam.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |