Edisi 5 Tahun VII | Rabu, 20 Mei 2009 Jam 12:21
Beasiswa Tidak Untuk Aisyah Jamian
Saniah LSSudah dibaca sebanyak 341 kali.
Berulang kali, Aisyah Jamian mencoba dan mengurus beasiswa pendidikan ke luar negeri. Namun, tak beres serta tak cair. Begitu sulitkah? Atau karena tak punya koneksi?
Padahal warga Banda Aceh yang lahir di Pidie ini, berstatus anak yatim piatu, dari keluarga yang serba kekurangan. Namun, semangatnya untuk belajar dan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi perlu diacungkan jempol.
Dia memang perempuan mandiri meski terus merasakan dan mengalami kekecewaan, karena tidak mendapat bantuan apapun dari Pemda Aceh.
Pantang menyerah! Itulah tekad Aisyah. Itu dia buktikan, dengan berserah diri kepada Allah SWT dan semangat serta kegigihannya. Walau ada rasa kecewa yang mendalam pada dunia pendidikan Aceh. Perempuan berdarah Aceh ini akhirnya bisa juga melanjutkan pendidikan strata tiga (S-3) di Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) dengan hasil jerih payahnya sendiri.
Ironisnya, pada tahun 2008, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Aceh, ada mengalokasikan anggaran pendidikan Aceh Rp 1.5 triliun dan Rp 150 miliar untuk beasiswa keluar negeri. Tragisnya, mahasiswi seperti Aisyah, justeru tidak mendapatkan beasiswa itu? Padahal kalau ditilik, Aisyah seorang yang cerdas, dari keluarga kurang mampu dan yatim piatu.
Media ini, mewawancarai perempuan berusia 37 tahun ini. Dia sedang menyelesaikan tesis S3 di UKM-Selangor-Malaysia. Berikut penuturannya.
Bisa Anda ceritakan riwayat pendidikan S-1?
Wah! Ceritanya panjang dan membuat saya kecewa.
Kenapa?
Menempuh jenjang pendidikan memerlukan uang yang banyak. Namun dari sejak awal saya melangkah kaki ke IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, tahun 1988, saya tidak mempunyai uang banyak, saya menempuh pendidikan hanya bermodalkan semangat dan kemauan serta senjata sabar.
S-1 Anda jurusan apa?
Di IAIN saya mengambil jurusan Penyiaran dan Penerangan Fakultas Dakwah. Walaupun keuangan kere, kadang saya cuma makan pagi saja, siang dan malam tidak, kadang makan siang, pagi dan malam tidak, dan begitulah.
Anda sangguh dan tahan?
Mau apa lagi. Dengan tekat bulat saya menerima ijazah S1 di IAIN pada 24 Januari 1994. Saya termasuk penerima ijazah dalam katagori sepuluh besar. Selesai yudisium bersama 10 orang lainnya, kami dipanggil Sofyan Anuar Mufid, selaku ketua jurusan ketika itu, untuk berjumpa beliau. Kami diberikan harapan bahwa kami mendapat tempat di kampus.
Lalu?
Kemudian saya coba minta untuk jadi asisten dosen.
Hasilnya?
Dapat, tapi hanya beberapa semester saja, itu pun dengan gaji Rp 70.000/semester. Dengan uang segitu tentu tidak cukup untuk keperluan sehari-hari. Maka saya pun mencari kerja sampingan. Seribu satu macam kerja harus saya lakukan untuk menampung hidup, diri sendiri dan keluarga.
Berapa jumlah keluarga Anda?
Keluarga saya berjumlah 7 orang, saya anak keempat. Dari semua saudara-saudara, cuma saya yang mengecap pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Itu pun dengan biaya sendiri.
Lantas, apa yang Anda lakukan?
Untuk mengobati penderitaan karena tidak mendapat peluang pekerjaan di setiap institusi pemerintah yang ada membuka peluang penerimaan pegawai baru, maka saya menanam cita-cita unutk kuliah S-2. Saya membuat permohonan dan mengisi fomulir pendaftaran ke UKM-Malaysia. Ternyata saya lulus dan diterima. Sementara di tanah air saya malah tidak diterima. Pada awal tahun 2000 saya pun mendapat surat panggilan kelulusan saya itu. Tapi karena bergaya mampu, padahal tidak ada biaya, maka saya tunda pendaftaran selama dua semester.
Anda tidak mendapat sponsor?
Tidak tahu kepada siapa dan di mana mendapatkan sponsor, dengan duit yang terkumpul dari jerih payah saya selama bekerja, itu pun sudah ‘ikat perut’, tidak makan demi pendidikan. November tahun 2001, saya mendaftar kembali menjadi mahasiswi di UKM-Malaysia, Fakultas Pengajian Islam, Jurusan Dakwah dan Kepimpinan.
Bagaimana ceritanya Anda bisa membayar biaya kuliah?
Ya, memang tidak sedikit. Saya kerja sambilan...hanya dapat menampung makan, sewa rumah dan SPP semua berhutang. Dari semester ke semester hutang dengan UKM semakin meningkat. Akhirnya saya mencari informasi bagaimana harus mendapatkan beasiswa. Ternyata setiap mahasiswa yang belajar ke luar negeri mereka mendapat bantuan di Pemda dan dari kabupaten.
Apa langkah Anda kemudian?
Dari informasi yang ada, saya kumpul duit untuk pulang ke Aceh, mencari dana. Harapan saya saat itu, kalau pun tidak banyak, tapi cukup untuk balik ke Malaysia.
Lalu?
Saya buat permohonan ke Pemda Aceh. Saya kirim melalui kawan. Kata teman saya yang sudah dapat kalau ke kabupaten pergi sendiri. Dengan semangat dan gaya pelajar membawa berkas-berkas yang diperlukan, saya pergi ketempat yang biasa mahasiswa lain antar permohonan.
Apa yang Anda peroleh saat itu?
Pagawai yang ada tunjuk ke sana dan ke sini. Sampai-sampai pegawai di sana dibilang: sekarang sudah tidak ada dana, jadi permohonan tidak diterima. Ini sungguh aneh.
Kenapa?
Saat dana sudah cair, rupanya ada mahasiswa yang dapat (sebab dia ada ‘orang dalam’; pegawai atas yang bisa mengatur pegawai yang pegang dana bantuan pendidikan begitu informasi yang saya peroleh—red).
Bagaimana perasaan Anda kemudian?
Hancur hati saya, ditambah lagi bantuan yang dari Pemda Aceh nama saya juga tidak ada. Sekali lagi saya menghutang uang pelajar Malaysia untuk pulang ke Aceh. Sampai di kantor gubernur harus pasang orang tengah lagi. Sebab nama saya tidak ada, akhirnya saya coba bicara pada salah seorang wartawan lokal. Kebetulan dia teman adik saya yang tahu persis perjuangan saya.
Berhasil?
Tunggu punya tunggu yang berhujungkan kemarahan, yang menjadi hak saya, tidak saya tak dapatkan. Padahal teman-teman saya yang lain mendapatkan bantuan beasiwa tersebut. Memang pahit kalau dikenang, rasa kecewa, putus asa, dan rasanya tidak dapat menyesaikan kuliah lagi. Tapi sebagai orang yang beriman dengan yakin dan percaya kepada Allah SWT yang menjaga setiap hamba-Nya, saya tetap berjuang untuk pendidikan ini.
Tapi Anda bisa lulus S-2, bagaimana ceritanya?
Berkat doa keluarga, kawan-kawan yang tahu perjuangan hidup saya, akhirnya saya berhasil mendapatkan segulung ijazah S2 pada tahun 2005. Setelah saya mendapatkan ijazah niat di hati mau pulang ke negara sendiri, namun Allah berkehendak lain. Saya tak jadi pulang karena Aceh paska tsunami. Maka, untuk selamatkan keadaan, saya coba memberanikan diri sekali lagi dengan mengisi formulir, menyambung S3. Walaupun keuangan memang tidak ada, tetapi karena sudah terbiasa tanpa tempat bergantung, hanya Allah SWT saja yang memahami dan melindungi hamba-Nya. Status sebagai pelajar S3 saya daftar pada 26 Juli 2005 dan Alhamdulillah, sekarang saya sedang menyelesaikan tesis tahap akhir.
Apakah teman-teman Anda sedaerah tidak membantu?
Satu yang berbeda di kalangan intelek Aceh/atau mahasiswa Aceh yang belajar di luar negeri dengan mahasiswa dari negara-negara lain. Mereka, kalau dapat bantuan lebih, akan membantu kawannya yang se-negara. Beasiswa dari Aceh memang senantiasa saya coba dan coba minta, walaupun saya tahu kesulitan akan saya rasakan lagi. Tapi saya bersyukur masih ada teman yang membantu dan saya tidak melupakan jasa mereka.
Siapa mereka?
Mukhlis dan Suhartini, asal Lhokseumawe. Mereka berdua banyak membantu saya, diantara banyak mahasiswa Aceh di sana.
Sekarang apa harapan Anda kepada Pemerintah Aceh?
Harapan saya kepada Pemerintah Aceh, kalau mau sumberdaya manusianya mempunyai kualitas dalam aspek pendidikan perlu diutamakan. Dan keutamaan yang saya maksudkan adalah perhatian yang sejujurnya kepada pelajar-pelajar yang mempunyai potensi namun tidak ada biaya untuk melanjutkan pendidikan. Jangan yang dibantu yang pintar saja, tapi bantu juga mahasiswa yang mau belajar. Sepatutnya Pemerintah Aceh malu, anak bangsanya bergantung nasib di negara orang tanpa perhatian yang adil dan wajar.
Lantas apa yang ingin Anda lakukan, setelah lulus S3?
Begini, mau dibilang ya mungkin tidak, sebab prinsip saya orang yang beriman, mencintai negara adalah syariat, bukan adat, maka dari itu kalau saya jadi penganggur biarlah jadi penganggur di Aceh. Dengan umur saya yang semakin dewasa persaingan yang semakin tingggi untuk mendapatkan peluang pekerjaan, saya serahkan semua kepada Allah SWT untuk menentukan di mana tempat saya mencari makan nanti.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |