Penduduk daerah sepanjang Selat Malaka sejak dulu telah berinteraksi dengan para pedagang baik dan India, Cina maupun Arab dan Persia karena berada di jalur perdagangan internasional.
Tidak jarang interaksi perdagangan juga dilanjutkan dengan hubungan perkawinan antara pedagang dengan penduduk setempat terutama dengan keluarga penguasa negeri di kawasan tersebut.
Negeri Jeumpa dan Perlak termasuk kawasan yang berlokasi di sepanjang Selat Malaka bahkan menjadi pintu gerbang pertama yang disinggahi para rombongan pedagang dan pelancong dari India, Arab, dan Persia yang akan melintasi Selat Malaka sebelum melanjutkan ke Cina dan kawasan timur lainnya.
Di Aceh ditemukan banyak situs bersejarah yang berhubungan dengan Kerajaan Islam di masa Lalu. Di antara sekian banyak kerajaan Islam tersebut, ada tiga yang sangat berpengaruh yakni Kerajaan Islam Perlak, Kerajaan Islam Samudra Pasai dan Kerajaan Islam Aceh Darussalam.
Selain itu, terdapat juga banyak Kerajaan Islam lainnya seperti Kerajaan Isak, Bireuen, Samalanga, Meureudu, Lingga Gayo, Tamiang, Lamuri, Pidie, dan lain sebagainya. Secara umum, para pendiri kerajaan-kerajaan itu masih ada hubungan darah antara satu dengan yang lainnya terutama dengan tiga kerajaan Islam besar tersebut dan Kerajaan Islam Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Aceh bahkan di Indonesia.
Raja-raja Islam yang pernah memerintah di kerajaan-kerajaan Aceh bisa dirunut pada tiga figur penting yakni Mayang Seludang, Maharaj Syahriar Salman, dan Sayid Ali Muktabar.
Mayang Seludang adalah puteri dan penguasa Negeri Jeumpa yang nenek moyangnya berasal dan Indo-Cina sedangkan Maharaj Syahriar Salman adalah keluarga bangsawan dan Dinasti Sasanid Persia dan Sayid All Muktabar adalah cucu Rasulullah SAW.
Maharaj Syahriar Salman
Diantara sekian banyak rombongan pedagang asing yang melintasi Selat Malaka adalah rombongan dari Persia. Dalam rombongan itu ada satu orang yang istimewa karena ia bukan pedagang biasa namun seorang pangeran dari Istana Persia, Salman namanya. Nama lengkapnya adalah Maharaj Syahriar Salman. Ia berasal dan keluarga kerajaan Persia yang pernah berjaya antara tahun 224 sampai tahun 651 M.
Dalam perjalanan ke Asia Tenggara ini, Pangeran Salman singgah di negeri Jeumpa dan berinteraksi dengan penduduk lokal. Selain tampilan fisiknya yang menarik, sebagai seorang dari keluarga Istana, Pangeran Salman mendapatkan perhatian khusus sehingga diambil menantu oleh penguasa negeri Jeumpa dan akhirnya dinikahkan dengan Puteri lstana Jeumpa yang bernama Mayang Seludang.
Karena sudah menikah dengan Puteri Jeumpa. Pangeran Salman tidak ikut bersama rombongan meneruskan perjalanan ke Selat Malaka sebaliknya ia bersama isterinya hijrah ke Perlak setelah mendapatkan izin dari mertuanya “Meurah Jeumpa”.
Mengetahui bahwa Pangeran Salman adalah keturunan dan Dinasti Sassanid yang Persia dan isterinya Puteri Mayang Seludang adalah puteri Meurah yang memerintah Negeri Jeumpa di sebelah Barat Perlak. Meurah Perlak dan rakyatnya menyambut baik kedatangan mereka. Kebetulan Meurah Perlak sendiri tidak mempunyai anak sehingga mereka berdua diperlakukan sebagai anaknya sendiri. Setelah Meurah Perlak mangkat, maka Pangeran Salman diangkat menjadi Raja Perlak yang baru.
Dari perkawinannya dengan puteri Mayang Seludang, Pangeran Salman dianugerahi empat putera dan seorang puteri. Keempat putera itu adalah Syahir Nuwi, Syahir Dauli, Syahir Pauli, dan Syahir Tanwi dan seorang puteri itu adalah Tansyir Dewi.
Syahir Nuwi atau Meurah Fu dikemudian hari menggantikan ayahnya menjadi penguasa Perlak dengan gelar Meurah Syahir Nuwi. Syahir Dauli mengembara ke ujung paling Barat Sumatera dan karena kecakapan dan keterampilannya ia diangkat menjadi Meurah di Negeri Indra Purba (sekarang Aceh Besar). Syahir Pauli merantau ke Barat lalu menetap dan kemudian menjadi Meurah di Negeri Samaindera (Sekarang Pidie). Dan Syahir Tanwi kembali ke negeri ibunya di Negeri Jeumpa yang kemudian diangkat menjadi Meurah Negeri Jeumpa menggantikan kakeknya. Keempat putera Maharaj Syahriar Salman itu menjadi penguasa negeri-negeri mulai ujung Barat dan sampai ujung paling Utara pulau Sumatera dan dikenal dengan kaum imam empat (koom imeum peuet) atau penguasa empat.
Di kemudian hari, keturunan Dinasti Sasanid dan Persia dari pihak ayah dari turunan Dinasti Meurah Jeumpa dari pihak ibu menyebar ke semua negeri sepanjang selat Malaka. Keturunan imam empat di kemudian hari menjadi raja-raja di kawasan Melayu melalui hubungan bisan dengan para raja di kawasan tersebut.***