Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:49
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 40 Tahun VI | Rabu, 21 Januari 2009 Jam 01:03

Legenda Para Auliya Aceh (5): Raden Fatah: Ujung Tombak Pasai Menaklukkan Majapahit

Al-Ustadz Dr. Hilmy BakarSudah dibaca sebanyak 2172 kali.

Bagi masyarakat Hindu-Majapahit, tidak ada tokoh yang dibenci dan dicaci sedemikian hebatnya, selain Raden Fatah (Raden Patah) yang dituduh sebagai anak durhaka yang melawan orang tua dan menentang tradisi Hindu nenek moyangnnya, bahkan dituduh meruntuhkan kehebatan peradabannya sendiri di Kerajaan Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa Hindu. Raden Fatah dianggap bertanggung jawab bersama para Wali Songo mengubur peradaban Hindu-Jawa yang diangung-agungkan selama berabad-abad dan menggantikannya dengan tradisi dan peradaban Islam. Itulah sebabnya pribadi agung ini senantiasa difitnah dan didiskreditkan, bahkan segaja disamarkan sejarah hidupnya yang agung dan mulia, dituduh sebagai anak haram dan durhaka oleh mereka yang dendam terhadap keberhasilan proses Islamisasi tanah Jawa.

Sebenarnya Raden Fatah adalah anak dari Maha Raja Majapahit Brawijaya V. Menurut Babat Tanah Jawi, ibunya adalah seorang puteri yang berasal dari Cina yang sangat cantik dan menjadi istri dari Prabu Brawijaya V, sehingga menimbulkan kecemburuan Permaisuri Kerajaan yang berasal Cempa (Jeumpa) bernama Darwati (Dharawati). Ketika sedang hamil, putri Cina tersebut diusir dari Istana Majapahit atas permintaan Permaisuri, diberikan kepada Aria Damar di Kerajaan Palembang, dan Raden Patah lahir di Palembang. Namun cerita Babat ini perlu dikritisi kebenarannya.

Permaisuri Prabu Brawijaya V yang dikatakan berasal dari Cempa, bernama Darwati (Dharawati), sebenarnya adalah Puteri Jeumpa dan seorang Muslimah yang taat, seorang wanita pejuang dari Pasai yang dikirim oleh Maulana Malik Ibrahim dan para Wali di Pasai untuk memberikan jalan kepada dakwah Islamiyah di Kerajaan Majapahit. Wanita mulia ini rela berpisah dari sanak saudaranya dan berjuang di garda terdepan masyarakat Hindu-Majapahit, meninggalkan kepentingan pribadinya demi untuk pengembangan dakwah Islamiyah. Apakah wanita agung ini memiliki akhlak yang buruk dan perangai jahat sehingga rela mengusir saudaranya sendiri, apalagi Puteri Cina itu juga diketahui seorang Muslimah?

Disinilah kejanggalan cerita Babat Tanah Jawi yang ditulis oleh cendekiawan Jawa ini.Bahkan sudah masuk kepada dataran fitnah terhadap seorang Muslimah pejuang agung Puteri Jeumpa Darwati yang memang diketahui memberikan dukungan terhadap Islamisasi Majapahit dan perlindungan terhadap para pendakwah Islam dari Pasai yang menyebarkan Islam. Wanita agung ini adalah saudara ibunda Maulana Rahmatillah (Raden Rahmat/Sunan Ampel), beliaulah juga yang mengundang dan memberikan dukungan kepada Sunan Ampel ini berdakwah ke tanah Jawa. Putri Jeumpa Darwati adalah kerabat dan kader Kerajaan Islam Pasai yang ditugaskan untuk memberikan jalan kepada proses Islamisasi Majapahit, atau minimal mencegah ambisi Majapahit untuk menyerang Kerajaan Pasai. Tidak mungkin seorang Muslimah yang sudah mengedepankan kepentingan Islam akan berbuat keji seperti itu.

Itulah sebabnya, sejarah yang dikemukakan Babat Tanah Jawi, yang menjadi referensi utama masyarakat Jawa harus ditelaah ulang karena mengandung banyak sekali kejanggalan. Yang menjadi pertanyaan, kenapa dan bagaimana Raden Patah dapat menjadi murid utama dan menantu dari Sunan Ampel, darimanakah hubungan ini? Apakah ini terjadi dengan sendirinya dan apa hubungannya dengan grand strategi para Wali Pasai dalam menaklukkan Kerajaan Majapahit?

Jika memang benar puteri Cina yang tidak jelas identitasnya itu telah melahirkan Raden Patah, maka Permaisuri Darwati adalah diantara orang yang telah merancang kepergian puteri Cina ini dari Majapahit menuju Kerajaan Islam Palembang mitra dari Kerajaan Islam Pasai saat itu, karena disana sudah ada keponakannya Maulana Rahmatillah yang menjadi Ulama. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat Jawa sangat patuh kepada Rajanya yang mereka anggap titisan para Dewa. Untuk menaklukkan Majapahit secara totalitas, harus digerakkan oleh keturunan dari Maha Raja Majapahit sendiri. Itulah sebabnya sebelum lahir putra mahkota ini, diungsikan ke Kerajaan Islam dengan harapan akan lahir dan besar sebagai seorang Muslim. Maka Raden Patahpun lahir di Palembang dan menjadi seorang Muslim yang taat serta berguru kepada Maulana Rahmatillah (Sunan Ampel), dan menjadi murid setianya yang ikut ke Ampel Denta Surabaya.

Menurut sumber lain, Raden Patah sebenarnya memiliki hubungan dengan Sunan Ampel dan juga para Wali Songo, sehingga mendapat kedudukan yang mulia dan terhormat di kalangan mereka. Bahkan Raden Patah dijadikan menantu oleh Maulana Rahmatillah. Itulah sebabnya ada yang menghubungkan bahwa sebenarnya yang dikatakan sebagai Puteri Cina itu adalah Puteri Jeumpa (Campa) Darwati sendiri. Karena sejarah hidup Putri Darwati yang menjadi Permaisuri Majapahit tidak banyak ditulis di Jawa, termasuk di Babat Tanah Jawi. Kisah hidup dan perjuangannya menjadi misterius dan tidak dikenal luas oleh masyarakat Jawa. Itulah sebabnya kemudian ada ahli sejarah yang menghubungkan bahwa Puteri Cina itu adalah Puteri Darwati yang berasal dari Cempa (Jeumpa). Apalagi di banyak manuskrip Jawa, istilah Cempa sering diidentikkan dengan Cina.

Ketika kecil, Raden Patah juga dikenal dengan nama Pangeran Jin Bun, sebuah  nama Cina, yang kemudian mengelirukan banyak orang tentang asalnya dari Cina. Boleh saja nama ini adalah nama panggilan atau nama samaran untuk menghindar dari hasad orang-orang Majapahit yang percaya kepada ramalan bahwa Majapahit akan diruntuhkan oleh salah seorang keturunan Majapahit sendiri, sebagaimana disebutkan Babat Tanah Jawi.

Raden Patah mendapat pendidikan dari Maulana Rahmatillah dan para ulama di Kerajaan Islam Palembang sebelum beliau hijrah ke tanah Jawa. Ketika Maulana Rahmatillah sudah mendirikan pesantren di Ampel Denta Surabaya, Raden Patah ikut menyusul ke tanah Jawa dan tinggal di Ampel Denta berguru kepada Maulana Rahmatillah atau Sunan Ampel. Setelah memiliki pengetahuan yang memadai, Raden Patah diperintahkan gurunya untuk mengembangkan dakwah Islamiyah ke sebelah barat, kawasan hutan dan tanah subur yang bernama Bintara. Di daerah ini Raden Patah mendirikan pesantren dan mengajarkan Islam, banyak masyarakat yang memeluk Islam dan tinggal bersamanya sehingga Bintara menjadi ramai dan berkembang menjadi kota baru.

Babat Tanah Jawi menceritakan perkembangan Bintara: Prabu Brawijaya mendengar berita bahwa ada orang yang bertempat tinggal di hutan Bintara, terkenal di mana-mana tentang kebesaran pedukuhan dan kesaktiannya. Raja memanggil para menteri untuk menanyakan benar-tidaknya kabar itu. Adipati Terung memang benar adanya berita itu. Sang Prabu lalu memerintahkan untuk memanggilnya……Raden Patah segera berangkat ke Majapahit. Sang Prabu sangat gembira, jatuh hatinya kepada Raden Patah sebab rupanya sangat mirip sang Prabu. Lalu diakui sebagai putra, diangkat menjadi adipati Bintara, serta diberi abdi sepuluh ribu orang….. Lama-lama pedukuhan Bintara (Demak) menjadi semakin gemah-ripah (makmur-sejahtera).

Setelah memiliki pengikut yang banyak, maka sudah saatnya para Wali dan pengikutnya untuk mendirikan sebuah Kerajaan Islam di tanah Jawa sebagai pendukung gerakan dakwah Islamiyah dan sekaligus menjaga Islam dan pengikutnya dari gangguan Kerajaan Hindu, terutama Majapahit. Karena Bintara yang dipimpin Raden Patah telah berkembang pesat, maka para Wali memutuskan untuk mendirikan kerajaan Islam di Bintara, yang dinamakan dengan Kerajaan Islam Demak, sebagai Kerajaan Islam pertama di tanah Jawa dan mengangkat Raden Patah sebagai Sultan Kerajaan Islam Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah pada tahun 1481 M. Selanjutnya Kerajaan Islam Demak menjadi patron kepada Islamisasi di pusat kekuasaan Kerajaan Hindu terbesar dan termegah, Majapahit. Berdirinya Kerajaan Demak telah melemahkan Majapahit yang terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

Tentang keruntuhan Majapahit, Babat Tanah Jawi dalam Runtuhnya Majapahit, menceritakan bagaimana proses runtuhnya kerajaan Hindu terbesar di tanah Jawa tersebut akibat dari penyerangan yang dilakukan oleh para Wali dan Sultan Demak. Diceritakan bahwa seluruh kaum muslimin dari penjuru Jawa telah berkumpul di Bintara-Demak dengan kekuatan yang sangat besar. Lalu mereka berangkat menuju pusat Kerajaan Majapahit. Semuanya lalu bersama berangkat ke Majapahit. Banyaknya barisan tak terhitung. Kota Majapahit dikepung. Orang Majapahit banyak takluk kepada adipati Bintara, tak ada yang berani menyambut perang…Dikisahkan selanjutnya Prabu Brawijaya meninggalkan istana dan Kerajaan Majapahit akhirnya takluk dan runtuh oleh Kerajaan Islam Demak.

Keruntuhan Majapahit oleh Kerajaan Islam Demak, telah mengakhiri kejayaan Kerajaan Hindu di tanah Jawa. Sejak saat itu pusat kekuasaan di tanah Jawa telah beralih dari Kerajaan Majapahit  ke Kerajaan Islam Demak. Islamisasi di tanah Jawa terus dijalankan oleh para Wali dan murid-muridnya yang mendirikan banyak pondok pesantren di seluruh tanah Jawa. Sejak berdirinya Kerajaan Islam Demak, maka telah berdiri pula kerajaan-kerajaan Islam lainnya di tanah Jawa yang berafialiasi ke Kerajaan Demak. Pada saat yang sama, hubungan antara Kerajaan Demak dengan Kerajaan Palembang, dan khususnya dengan Kerajaan Islam Pasai semakin erat. Karena para petinggi, khususnya para Sunan yang memegang kendali spiritual di Kerajaan Demak adalah anak dan cucu dari para petinggi dan ulama di Kerajaan Pasai.

Akhirnya memang tidak dapat dibantah bahwa Kerajaan Islam Pasai telah memiliki peran sentral dalam mengembangkan dakwah Islamiyah di Nusantara, terutama dalam melahirkan gerakan para Wali yang telah mendirikan Kerajaan Islam dan meruntuhkan dominasi Kerajaan Hindu-Majapahit. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Raden Patah adalah ujung tombak Kerajaan Islam Pasai melalui Wali Songo dalam meruntuhkan Kerajaan Hindu-Majapahit yang telah menyerang Pasai sebelumnya.

BERSAMBUNG


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: