Edisi 43 Tahun VII | Rabu, 17 Februari 2010 Jam 08:21
Jangan Sepelekan Keringat Dingin
Fitri JulianaSudah dibaca sebanyak 1120 kali.
Kencan pertama atau wawancara kerja merupakan beberapa momen yang biasa menjadi biang keladi munculnya keringat dingin di telapak tangan dan kaki. Umumnya di alami para wanita. Jangan sepelekan kondisi ini!
Keringat dingin, tak hanya menandakan seseorang sedang nervous, melainkan juga gejala awal serangan penyakit tertentu. Ibarat mesin, keringat berperan penting sebagai alat termoregulasi atau pengatur suhu tubuh manusia. Pengeluaran keringat juga merupakan bagian dari proses sekresi atau pembuangan sisa-sisa garam dan juga racun dari dalam tubuh. Bukan hanya itu, fungsi lain keringat adalah memelihara keasaman pH kulit, sehingga bakteri dan jamur tidak mudah tumbuh.
Di negara tropis seperti Indonesia, orang cenderung lebih mudah berkeringat karena kelembaban udara dan temperatur udara yang cukup tinggi. Suhu udara yang tinggi membuat tubuh menyimpan panas sehingga untuk mengembalikan diri ke suhu normal, tubuh perlu melakukan penguapan. Hasil penguapan tersebut muncul dalam bentuk keringat.
Sering kali, tetesan keringat dianggap sebagai gangguan oleh banyak wanita. Make up jadi gampang luntur, baju lepek, bau badan tidak sedap, serta berbagai keluhan lain. Padahal, banyak ahli mengatakan, munculnya keringat justru merupakan salah satu pertanda bahwa tubuh kita dalam kondisi sehat. Dibandingkan wanita, tubuh pria memproduksi keringat dua kali lebih banyak, berhubung jumlah kelenjar keringat yang aktif di tubuh mereka juga lebih banyak.
Mau tahu berapa banyak tubuh memproduksi keringat dalam sehari? Tak kurang dari dua hingga tiga liter! Itu sebabnya, supaya tubuh terhindar dari dehidrasi, sangat disarankan untuk minum setidaknya delapan gelas air sehari, yang kira-kira setara dengan dua liter per hari.
Keringat adalah respon dari keadaan emosional. Saat kita grogi atau gugup, ada peningkatan aktivitas saraf simpatis dalam tubuh yang juga mengakibatkan kenaikan sekresi ephinerphin dari kelenjar adrenalin.
Substansi ini bekerja pada kelenjar keringat, yakni pada telapak tangan dan ketiak, memproduksi keringat. Hal inilah yang menyebabkan “keringat dingin” tersebut. Semakin grogi seseorang, aktivitas ephinerphin pun semakin meningkat, dan keringat dinginpun semakin menjadi-jadi.
Berhubung keringat dingin bukanlah gangguan kesehatan, melainkan sekadar gejala penyakit, banyak dokter tidak merekomendasikan penanganan khusus. Pasalnya, begitu Anda bisa menyingkirkan penyebabnya, maka keluhan keringat dingin akan lenyap dengan sendirinya.
Jika Anda curiga munculnya keringat dingin adalah akibat stres atau kecemasan, cobalah mengatasinya terlebih dahulu dengan relaksasi. “Bila tidak berhasil juga, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau psikolog,” ujar Robert Wesselhoeft III, M.D, direktur Pusat Kesehatan Keluarga dari Tufts University School of Medicine, Boston.
Selain itu amati juga riwayat kesehatan keluarga, mulai dari riwayat penyakit jantung, diabetes, alergi, kanker, sampai menopause dini. Jika ternyata Anda mengalami ketidakseimbangan hormon estrogen di dalam tubuh, tak ada salahnya mempertimbangkan menjalani terapi sulih hormone dan perbaiki juga gaya hidup.
Banyak ahli meyakini bahwa berbagai jenis gangguan kesehatan sebenarnya bisa diatasi dengan menerapkan pola hidup yang sehat, terutama dengan memastikan tubuh Anda mendapatkan asupan gizi yang seimbang, setiap hari. Jangan lupa, untuk melakukan olahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol, dan menghentikan kebiasaan merokok.
Menurut dr Jusri Ichwani SpPD, keringat dingin merupakan gejala yang harus ditangani. “Jika tidak, para manula bisa drop hingga koma,” tuturnya.
Penyebab keluar keringat dingin bercucuran lainnya adalah kadar gula turun. Itu biasanya terjadi pada mereka yang menggunakan obat diabetes secara oral. “Setelah minum obat, seharusnya para lansia makan. Tapi, karena tidak bernafsu, mereka enggan makan,” ungkap Jusri. Dampaknya, kadar gula cepat menurun drastis. Turunnya kadar gula itu membuat badan cepat drop. Dengan begitu, diperlukan pertolongan pertama untuk menghindari akibat yang fatal. “Berikan air gula atau teh manis,” pesan-nya.
Keringat juga bisa disebabkan oleh faktor psikis misalnya merasa tertekan, takut, ataupun cemas. Pasalnya, ketika menghadapi tekanan atau stres, otak secara otomatis mengirimkan sinyal kepada tubuh untuk memproduksi hormon adrenalin. Denyut nadi juga bertambah cepat dan pembuluh darah cenderung menyempit. Selain karena penyebab di atas, keringat dingin juga bisa muncul sebagai salah satu gejala penyakit tertentu, antara lain:
1. Kurang gizi atau gizi buruk
Kekurangan asupan makanan membuat proses metabolisme dalam tubuh berlangsung sangat keras. Energi yang seharusnya tercukupi dari cadangan lemak terpaksa digantikan dengan cara memproses energi cadangan yang tersimpan di dalam otot. Akibatnya, tubuh terus-menerus melakukan pembakaran. Sebagai konsekuensi, panas tubuh meningkat sehingga keringat diproduksi untuk menurunkan suhu badan.
Gejala lain: Rambut kusam, kulit kering dan keriput, sering gelisah, konsentrasi lemah.
2. Alergi
Penderita alergumumnya memproduksi keringat lebih banyak karena kulit mereka amat sensitif terhadap perubahan temperatur udara. Cuaca yang agak terik dan kelembapan yang agak tinggi bisa membuat penderita alergi bersimbah peluh seperti orang yang baru saja menyelesaikan perlombaan lari maraton. Padahal, belum tentu mereka sendiri merasa kegerahan. Gejala lain: Kulit kemerahan, bersisik, dan gatal.
3. Kadar gula rendah (hipoglikemia)
Serangan hipoglikemia terjadi saat kadar gula dalam darah turun melampaui batas normal (kurang dari 80 mg/dL). Untuk mengatasinya, tubuh segera memproduksi glukosa dari glikogen yang tersimpan di hati. Proses ini melibatkan pelepasan epinefrin, yang cenderung menyebabkan rasa lapar, kecemasan, dan meningkatnya kesiagaan. Sehingga tubuh memproduksi keringat dingin dalam jumlah banyak. Gejala ini biasa timbul pada orang dengan asupan makanan terganggu atau pasien diebetes yang rutin minum obat antidiabetes oral, tetapi tidak mau makan. Akibatnya, kadar gula di bawah normal.Kondisi ini harus segera diatasi karena kadar gula darah yang terlalu rendah dapat mengancam jiwa. Bila ini terjadi, segera minum teh manis atau makan makanan yang mudah dicerna. Gejala lain: Sakit kepala, sesak napas, kehilangan kesadaran.
4. Kistik fibrosis
Ini adalah penyakit kelainan gen yang dapat menimbulkan infeksi paru-paru berulang. Penyebab munculnya kelainan yang antara lain ditandai dengan keringat berlebih ini sering dikaitkan dengan adanya hambatan pada metabolisme tubuh seseorang. Berita baiknya, penyakit ini jarang diderita oleh orang Asia.Gejala lain: Sesak napas, batuk, berat badan sulit naik, kadang-kadang disertaidemam
5. Hiperhidrosis
Penderita hiperhidrosis selalu mengeluarkan keringat dalam kondisi apa pun. Hiperhidrosis antara lain disebabkan oleh penyakit yang menyerang sistem endokrin, seperti gondok, diabetes melitus, keganasan (kanker) pada kelenjar getah bening, keracunan alkohol, ataupun kelainan-kelainan pada sistem saraf yang menyebabkan fungsi saraf simpatik terganggu.
Gejala lain: Bagian tubuh yang mengalami hiperhidrosis berwarna merah muda atau putih kebiruan. Pada kasus lebih parah, kulit pecah-pecah dan bersisik, terutama kaki.
6. Fluktuasi hormon
Meningkatnya kadar hormon adrenalin karena berbagai sebab bisa membuat kelenjar keringat terbuka dan pembuluh darah menyempit. Kadar hormon estrogen yang rendah pada wanita menjelang menopause juga bisa menjadi penyebab munculnya keringat berlebihan, terutama di malam hari. Gejala lain: Mood-swing, sakit kepala, perasaan gelisah.
7. Penyakit jantung
Keluhan serangan jantung sering kali disalahartikan sebagai masuk angin, karena gejalanya yang hampir sama. Padahal, berbagai gejala tersebut disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri. Penyempitan pembuluh darah ini membuat tubuh ’menyetel’ dirinya dalam posisi siaga, yang salah satu tanda-tandanya adalah dengan mengeluarkan keringat dingin. Gejala lain: Sesak napas, cepat lelah terutama setelah beraktivitas, rasa nyeri pada dada, rasa tidak enak di ulu hati, tidur tidak bisa dengan bantal rendah.
8. Reaksi obat
Sebagian besar obat pereda demam bekerja dengan cara meningkatkan produksi keringat untuk menurunkan suhu tubuh. Obat pencegah kehamilan dan beberapa jenis obat penenang juga bisa mendatangkan efek samping serupa. Jenis obat lain, seperti aspirin, vitamin B3, dan viagra, juga bisa menyebabkan produksi keringat berlebih apabila dikonsumsi dalam dosis tinggi. Gejala lain: Muncul reaksi alergi dalam berbagai bentuk.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |