Edisi 31 Tahun VII | Rabu, 25 Nopember 2009 Jam 02:15
Pengukuhan Pengprov Judo Aceh
Kembalinya Anak Hilang
Shaleh L.SeumaweSudah dibaca sebanyak 311 kali.
Olahraga bela diri Judo, kembali sejajar dengan cabang olah raga lainnya di Aceh. Pengukuhan Pengprov PJSI Aceh dilakukan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI George Toisutta, selaku Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI).
Setelah sekian lama tak terdengar, lagu Indonesia Raya dan Patriot Olah Raga, Kamis pekan lalu, kembali bergema di Gedung Olah Raga (GOR) KONI Aceh. Alunan lagu kebangsaan itu, turut diiringi Korps Musik Kodam Iskandar, sekaligus menandai Pelantikan Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) Aceh oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI George Toisutta selaku Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PB PJSI).
Pengukuhan ini, mensejajarkan Pengprov PJSI Aceh dengan 32 cabang olah raga lainnya yang terdaftar di KONI Aceh. “Ibarat anak hilang, hadirnya Pengprov PJSI Aceh kita harapkan mampu memberikan catatan prestasi bagi Aceh, baik di level nasional maupun Internasional,” kata T. Pribadi, Wakil Ketua KONI Aceh.
Untuk masa bakti 2009-2013, Pengurus Provinsi PJSI Aceh dipegang Kol. Inf Joko Warsito (Astel Kodam IM) dengan staf khusus dijabat Letkol Inf. A Daniel Chardin (Dandim 0101 AB) serta beberapa pengurus lainnya (lihat boks). Peresmian Pengurus PJSI Provinsi Aceh ini merupakan salah satu upaya Pengurus Besar PJSI dalam membina dan meningkatkan olahraga beladiri Judo di Provinsi Aceh.
Kasad berharap dengan keberadaan Pengurus Daerah PJSI yang baru ini, atlit Judo dari Provinsi Aceh dapat terbina dengan baik sehingga mampu melahirkan atlet unggulan yang siap berkiprah pada even tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Kasad, keberhasilan pembinaan atlit olahraga termasuk atlit judo selain ditentukan oleh potensi atlit dan kemampuan pelatih juga sangat ditentukan oleh kerja keras pengurus dalam membina para atlit dalam menjalankan program kerjanya. Disamping itu, dalam upaya meraih prestasi yang dibanggakan, diperlukan upaya pembinaan secara bertahap dan berkesinambungan. “Kesiapan atlit untuk bertanding, salah satunya ditentukan oleh perhatian pengurus terhadap atlit, baik dalam pembinaan fisik dan mental maupun keterampilan dalam menjalankan organisasi secara profesional,” tegas Kasad.
Ketua Umum Pengprov PJSI Aceh, Joko Warsito kepada media ini mengatakan. Pihaknya siap mengemban amanah tersebut. Dia berharap, PSJI Aceh mendapat dukungan sepenuhnya dari pemerintah daerah serta insan olahraga di Aceh. “Setelah dilantik, saya dan kawan-kawan segera menyusun program kerja dan latihan. Insya Allah, dalam PON mendatang, kita sudah mampu mengirimkan atlit,” kata Joko optimis.
Kata dia, selain mengirim sejumlah pelatih dan atlit ke Jakarta, pihaknya akan segera membentuk pengurus cabang di kabupaten/kota. Pembentukkan itu, sejalan dengan program kerja yang harus dilakukan. “Untuk sementara, pendekatan yang saya lakukan melalui kesatuan TNI yang ada. Ini untuk memudahkan koordinasi saja. Mudah-mudahan, Judo mendapat tempat di hati atlit dan anak muda Aceh,” sebut mantan Dandim 0101/Aceh Besar ini.
Sekedar mengingatkan, Judo mulai dikenal di Indonesia sejak tahun 1942 ketika tentara Jepang mulai menduduki Indonesia. Pada hari-hari tertentu tentara Jepang berlatih Judo di lingkungan asramanya, lama kelamaan tentara Jepang bergaul dan bersahabat dengan orang-orang lingkungan asrama tentara Jepang, maka orang Indonesia yang menjadi sahabat dekat tentara Jepang ikut berlatih Judo dan dipilih betul-betul sangat selektif dengan tujuan jangan sampai membahayakan keberadaan tentara Jepang di Indonesia pada waktu itu.
Pada tahun 1949 berdiri perkumpulan Judo pertama di Jakarta bernama “Jigoro Kano Kwai” yang di pimpin oleh J.D. Schilder (orang Belanda). Perkumpulan tersebut berlatih di gedung YMCA, jalan Nusantara, Jakarta. Anggota perkumpulan Judo tersebut terdiri dari berbagai lapisan antara lain pelajar, mahasiswa, umum, ABRI, anak-anak, orang dewasa, pria dan wanita. Selain belajar Judo mereka juga belajar Jiujitsu (salah satu jenis beladiri Jepang) yang merupakan induk dari olahraga Judo. Pada waktu itu perkumpulan-perkumpulan Judo yang masih berdiri sendiri-sendiri atau belum ada organisasi yang lebih besar yang menaunginya.
Pada tanggal 20 Mei 1955, didirikan perkumpulan Judo yang diberi nama “Judo Institute Bandung” (JIB) oleh Letkol Abbas Soeriadinata, Mayor Uluk Wartadireja, Letkol D. Pudarto, Pouw Tek Siang, dengan pelatih Tok Supriadi (orang Jepang).
Pada tanggal 25 Desember 1955 dibentuk organisasi Judo Indonesia yang diberi nama Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) sebagai organisasi Judo tertinggi di Indonesia, yang mengatur dan mengelola kegiatan Judo secara nasional maupun internasional. Pada tahun itu juga PJSI telah diakui oleh Komite Olympiade Indonesia sebagai Top Organisasi Judo di Indonesia. Pada tahun yang sama Indonesia secara resmi mendaftar dan diterima sebagai anggota International Judo Federation (IJF) yang menjadi organisasi Judo tertinggi di dunia.
Tahun 1957, Judo untuk pertama kalinya diikut sertakan dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) IV di Makasar, Sulawesi Selatan sebagai salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan. Tahun 1958 – 1959, ketua Komisi Tekhnik Persatuan Judo Indonesia Djakarta (PJID) yaitu Dachjan Elias, Dan IV berangkat ke negara Jepang untuk memperdalam pengetahuan olahraga Judo. Sekembalinya dari Jepang ia segera mengambil langkah-langkah untuk menggiatkan organisasi, sehingga dalam waktu satu tahun terbukti organisasi PJID lebih dikenal oleh masyarakat Judo termasuk di daerah-daerah di luar Jakarta.
Tahun 1960, PJSI akhirnya melakukan pendekatan kepada PJID untuk berfungsi menjadi satu organisasi. PJID menyambut dengan tangan terbuka ajakan PJSI karena hal itu yang ditunggu-tunggu dan telah menjadi cita-cita dari PJID sejak awal didirikannya. Dalam Kongres ke II tanggal 20 Desember 1960 di Bandung, dibentuklah satu PJSI baru yang merupakan gabungan dari PJSI lama dan PJID dengan susunan pengurus bangsa Indonesia di dalamnya. Setalah bergabung maka hanya ada satu organisasi saja yaitu PJSI dengan kemajuan-kemajuan yang pesat.
Tahun 1961, pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke V di Bandung diikuti oleh pejudo-pejudo pilihan dari berbagai macam daerah yang tadinya tidak pernah ada kesempatan untuk ikut bertanding. Jago baru muncul dan bibit penuh bakat nampak me-ngesankan, sebagai juara I pada waktu itu adalah Soedjono yang mewakili dari daerah Riau.
Tahun 1962, dalam Asian Games IV di Jakarta Judo tidak termasuk olahraga yang dipertandingkan tetapi bersifat demonstrasi. Perhatian masyarakat terhadap Judo waktu itu sangat besar. Indonesia berhasil menduduki tempat kedua dalam beregu setelah Jepang sebagai negara asal dari olahraga beladiri ini. Tahun 1964, Pejudo Indonesia turut serta dalam persiapan Olympiade 1964 di Tokyo, Jepang. Tahun 1966, Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) mengadakan kongresnya di Jakarta. Pada tahun ini juga pejudo Indonesia ikut serta dalam GANEPO ASIAN ke I di Kamboja dengan hasil.
Anton Darmadja Juara III kelas bulu. Fanny Setiawan Atmadja Juara III kelas ringan. Tony Atmadjaja Juara III kelas menengah. Pieter Rusdhan Tandjono Juara III kelas berat
Tahun 1967, Indonesia ikut dalam Kejuaraan Judo Se-Asia di Manila, Philipina, dipimpin oleh Dachjan Elias. Hasilnya. Tony Atmadjaja Juara III kelas menengah. Paulus Prananto Juara III kelas berat.
Pada tahun 1967 juga pejudo Indonesia ikut serta dalam Universiade di Tokyo, Jepang. Indonesia berhasil memperoleh medali perunggu yang merupakan satu-satunya medali bagi kontingen Indonesia yang direbut Tony Admadjaja dalam kelas bebas.
Tahun 1968, PJSI yang berkembang dengan baik serta mendapat dukungan positif, dan bersama daerah-daerah/Komda-Komda mengadakan Kongres ke IV, bersamaan dengan diadakan kejuaraan nasional. Pada bulan Oktober 1968, Indonesia sebagai anggota Judo Federation of Asia diundang untuk hadir dalam Kongres JFA ke II di Tokyo, Jepang.
Tahun 1969, pada bulan Agustus/September diadakam Pekan Olahraga Nasional (PON) ke VII di Surabaya, cabang olahraga Judo dipertandingkan. Tahun 1970, pada bulan Mei, Indonesia menghadiri Kongres ke IV, Judo Federation of Asia yang sekarang menjadi Judo Union of Asia (JUA). Pada saat itu juga diadakan kejuaraan Judo se Asia ke II, bertempat di Taipeh, Taiwan. Dalam pertandingan Judo perorangan, Indonesia berhasil merebut mendali perunggu pada kelas ringan dipersembahkan oleh pejudo Johannes Hardjasa. Sedangkan dalam beregu Indonesia berhasil merebut Juara III.
Tahun 1971, Indonesia mengikuti kejuaraan dunia di Ludwighafen, Jerman Barat dan mengikuti Kongres International Judo Federation (IJF). Dalam kejuaraan dunia Indonesia diwakili oleh empat pejudo yaitu : 1. Tony Atmadjaja kelas ringan dan kelas berat, 2. Fanny Atmadjaja kelas menengah, 3. Hendri Atmadjaja kelas menengah, 4. Iswandi Setiawan kelas ringan. Indonesia termasuk dalam “16 Besar” untuk kelas ringan, yaitu urutan ke 12.
Tahun 1972, bulan Agustus/September, PJSI mengikuti Kongres IJF di Muenchen, Jerman Barat. Utusan Indonesia adalah Ketua Harian PJSI Soedjono. Tahun 1973, diselenggarakan PON ke VIII di Jakarta dari tanggal 4-15 Agustus. Judo termasuk cabang olahraga yang dipertandingkan dalam PON sampai sekarang.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |