Edisi 33 Tahun VII | Rabu, 9 Desember 2009 Jam 09:10
Anugerah Adiwarta Sampoerna Award 2009
Karya Terbaik Untuk Prestasi Membanggakan
Rizki AdharSudah dibaca sebanyak 400 kali.
Ratusan jurnalis dari berbagai media cetak dan elektronik se-Indonesia bersaing untuk menjadi yang terbaik pada ajang Anugerah Adiwarta Sampoerna Award 2009. Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH terpilih sebagai salah satu finalis.
Mulut Hamdani, wartawan Tabloid Berita Mingguan MODUS Aceh, liputan Bireuen, tak henti-hentinya komat-kamit. Bisa jadi, dia sedang berdoa. Meski ruangan sejuk, sesekali ia tetap menyeka keringat di kening. Raut wajah ovalnya mengisyaratkan keteganggan, saat dewan juri Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) 2009, membacakan para finalis dan pemenang ajang lomba karya jurnalistik bergengsi di tanah air.
Malam itu, Kamis pekan lalu, Hamdani hadir ke Grand Ballroom XXI Djakarta Theater, Jakarta. Bersama puluhan finalis lainnya di Indonesia, Hamdani adalah salah satunya. Pada lomba karya jurnalistik terbaik tadi, Hamdani mengirim liputannya tentang Tragedi Simpang KKA. Tema yang diusung: Sepuluh Tahun Tanpa Kepastian Hukum. Tulisan Hamdani, sudah termuat pada tabloid ini, edisi NO.4/TH.VII Minggu II, 11-17 Mei 2009.
Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) merupakan ajang penghargaan dan kompetisi tahunan bergengsi bagi para jurnalis Indonesia. Ajang ini diadakan PT. HM Sampoerna Tbk, sejak tahun 2006 lalu. Tujuannya, untuk mengapresiasi karya-karya jurnalistik anak bangsa. “Kami berharap, pemberian anugrah ini dapat memotivasi para jurnalis tanah air agar terus berkarya dan meningkatkan kualitas mereka,” kata Niken Rahmad, Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna Tbk dihadapan para juri, finalis serta tokoh pers nasional seperti Karni Ilyas, Bambang Harimurti, Assegaf serta Herawati Diah, istri BM Diah.
Khusus untuk tahun 2009, pihak penyelenggara memberi penghargaan khusus kepada jurnalis perempuan berbakat. “Penghargaan ini atas kerjasama pihak Sampoerna dengan Yayasan Suara Perempuan Indonesia yang dipimpin Ibu Herawati Diah,” jelas Niken.
Dari ketiga puluh enam bidang yang diperlombakan, panitia memilih dua kategori yaitu, investigatif dan kemanusiaan. Ada 13 finalis diantaranya adalah jurnalis yang berasal dari luar kota, seperti: Bandung, Bali, Surabaya, Pontianak, Makasar, Aceh serta Padang. “Secara umum, terjadi peningkatan kualitas karya dan kami sebagai dewan juri berusaha betul bahwa yang terlahir dari AAS ini adalah tulisan-tulisan yang lebih baik dan lebih baik,” papar Effendi Gazali, salah satu anggota dewan juri final untuk media cetak dan online.
Effendi mengakui, di AAS 2009 ini lebih banyak karya-karya yang berani masuk ke berbagai bidang yang pada tahun-tahun sebelumnya dan belum pernah dibahas. “Misalnya untuk bidang politik, banyak karya yang membahas soal intelijen seperti kasus Munir dan itu merupakan perkembangan yang menarik,” tambah pakar komunikasi politik dan dosen UI, Jakarta.
Untuk tahun keempat ini, Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009 juga mencatat peningkatan di segala sisi, baik jumlah karya, peserta, bahkan kualitas dibandingkan tahun lalu. Persaingan ketat juga terjadi antara jumlah peserta dari media nasional dan lokal. Dari total 112 media peserta, 52 adalah peserta dari media lokal yang didominasi media cetak
Tidak hanya jumlah media yang meningkat, namun jumlah peserta yang lolos sebagai finalis pun ikut bertambah. Dari 62 finalis AAS 2009, tujuh diantaranya bermarkas di Surabaya dan sekitarnya. Aceh, Pontianak, dan Batam masing-masing diwakili dua orang finalis, sedangkan Bali, Bandung, Makassar, Medan, dan Padang masing-masing diwakili satu finalis. Total jurnalis dari media lokal yang masuk dalam babak final AAS 2009 berjumlah 18 finalis.
Dari Aceh, Hamdani, wartawan Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH dan Martha Andival, wartawan Aceh Feature. Bagi MODUS ACEH, prestasi sebagai finalis AAS 2009 bukanlah kali pertama diraih. Tahun 2008 lalu misalnya, dua orang wartawan tabloid yang terbit di Banda Aceh ini, Arsadi Laksamana dan Martha Andival (kini mantan jurnalis MODUS ACEH) juga lolos sebagai finalis AAS. Bahkan Arsadi Laksamana terpilih menjadi jawara untuk kategori investigasi bidang politik.
Yang menarik, selama penyelenggaraan AAS, Irawan Santoso adalah satu-satunya wartawan yang selama tiga tahun berturut-turut lolos ke babak final dan keluar sebagai pemenang. Memasuki tahun ke-4, Irawan kembali terpilih sebagai salah satu finalis kategori liputan investigatif dan kemanusiaan, keduanya untuk bidang politik.
Wartawan lain yang kembali menominasikan tahun ini adalah M.Yuniadhi Agung (Kompas), Rusman (Majalah Art-i) Hendri Firzani (Gatra).Tahun ini, media dengan peserta terbanyak adalah Femina dengan 17 peserta, diikuti Kompas (16 peserta), Gatra (11 peserta) dan Vivanews.com (10 peserta). Jakarta Globe berhasil menjadi media dengan jumlah nominasi terbanyak yaitu 9, disusul Gatra (6 nominasi). Seluruh pemenang AAS 2009 masing-masing mendapatkan tropi, sertifikat, dan uang tunai Rp 18 juta, sedangkan para finalis mendapatkan sertifikat dan uang tunai Rp 3 juta.
Diantara peserta, ada beberapa media yang baru pertama kali berpartisipasi antara lain: RUAI TV, Surabaya City Magazine, Aceh TV, Metro TV, Ujung Pandang Ekspress, Harian National News, the globaljournal.com, dan beritabaru.com.
Khusus untuk katagori seni dan budaya, Seno Gumira, salah seorang anggota dewan juri mengatakan, untuk karya AAS 2009 bidang seni dan budaya, dewan juga tidak memahaminya dalam pengertian sempit, yaitu hanya pada kesenian saja, tapi meluas ke hal tradisi dan pendidikan. “Ini membuat kami harus melakukan banyak pertimbangan dan sangat tidak mudah untuk memilih finalis,” ungkap Seno.
Usai penutupan AAS, dua wartawan senior Indonesia, Bambang Harimurti dan Norca Massardi, memberi apreasiasi khusus kepada Tabloid Berita MODUS ACEH. Dia mengaku salut dengan prestasi para jurnalis daerah yang mampu menghasilkan dan bersaing dengan para jurnalis ibukota dalam menghasilkan karya dan melakukan investigasi. “Wah, saya lihat MODUS ACEH sudah dua tahun masuk finalis. Ini prestasi yang perlu dipertahankan dan lanjutkan,” kata Norca, mantan Pemred MBM Forum Keadilan, Jakarta kepada Pimpinan Redaksi MODUS ACEH, Muhammad Saleh yang turut hadir malam itu. Saleh, pernah bersama Norca saat bergabung sebagai wartawan Forum Keadilan di Jakarta. “Ini bukti dari kerja serius dan sungguh-sungguhnya. Saya kira, kualitas media dan berita dapat dilihat dari para finalis malam ini,” sebut BHM. Selamat untuk para pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009!***
Finalis Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009
KEMANUSIAAN
Bidang Ekonomi & Bisnis:
- Muhlis Suhaeri – Borneo Tribune. Judul Karya: “Sembelit di Pelabuhan Dwikora Pontianak”.
- Prilia Herawati – Femina. Judul Karya: “Taklukan Krisis dengan Potensi Lokal”.
- Dili Istimora Eyato – Seputar Indonesia Biro Jawa Timur. Judul Karya: “Kreatif Terjepit Lahan yang Menyempit, Tumpang Sari hingga Internet untuk Bertani (Seri)”.
Bidang Politik:
- Asrori Karni – Majalah Gatra. Judul Karya: “Belajar Curang Sejak Kanak-Kanak”.
- Martha Andival – Aceh Feature. Judul Karya: “Hukum Rajam di Aceh”.
- Irawan Santoso – Majalah Mahkamah. Judul Karya: “Demo Maut di Sumut”.
Bidang Hukum:
- Asrori Karni – Majalah Gatra. Judul Karya: “Ketika Murid Memerkarakan Kiai”.
- Hamdani – Tabloid Modus Aceh. Judul Karya: “Mengenang Tragedi Simpang KKA: Sewindu Menunggu Tanpa Kepastian Hukum”.
- Andri Saubani – Harian Republika. Judul Karya: “Jangan Ambil Pengadilan Tipikor”.
Bidang Sosial:
- Ratna Hidayati – Koran Tokoh. Judul Karya: “60 Ribu Anak Korban Wisatawan Seks di Asia Tenggara”.
- Marta Nurfaidah – Harian Surya. Judul Karya: “Geliat Asa di Liponos Ex Penderita Kusta Surabaya (Seri)”.
- Dewi Kurniawati – Jakarta Globe. Judul Karya: “Misseries of Our Migrant Workers: A world of Peril, Crime, and Crushed Dreams”.
Bidang Seni & Budaya:
- Rusman – Majalah Art-i. Judul Karya: “Membangun Seni untuk Rakyat”.
- Rustika Herlambang – Majalah Dewi. Judul Karya: “Tarian Kehidupan Eko Supriyanto”.
- Kurniasih Suditomo – Majalah Tempo. Judul Karya: “Amir, Sang Maestro”.
Bidang Olahraga:
- Hendri Firzani – Majalah Gatra. Judul Karya: “Piranha Pemangsa Juara Dunia”.
- Rochmat Haryadi – Majalah Gatra. Judul Karya: “Sang Naga Siap Taklukan Las Vegas”.
- Muhammad Iqbal – Harian Batam Pos. Judul Karya: “Juru Masak di Brooklyn, Pencetak Juara Tinju di Batam”.
INVESTIGATIF
Bidang Ekonomi & Bisnis:
- Bagja Hidayat – Majalah Tempo. Judul Karya: “Akal-Akalan Biaya Admin Listrik”.
- Ratna Sahara – Mitra Bisnis. Judul Karya: “Merambah Pasar Internasional Melaui Sulam dan Tenun Minangkabau”.
- Veronica Wahyuningkintarsih – Femina. Judul Karya: “Money Game, Bukan Sulap Bukan Sihir”.
Bidang Politik:
- Asrori Karni – Majalah Gatra. Judul Karya: “Waspada Rekayasa Sistemik Pemilih Efektif”.
- Irawan Santoso – Majalah Mahkamah. Judul Karya: “Ada Judi di Balik Pergantian Kapolri?”.
- Amiruddin – Harian Fajar. Judul Karya: “Jaminkan Mobil Demi Kursi”.
Bidang Hukum:
- Kuncarsono Prasetya – Harian Surya. Judul Karya: “Carut Marut Penataan Reklame Surabaya”.
- Agus Wahyuni – Borneo Tribune. Judul Karya: “Sengketa Batas Berujung Konflik”.
- Muhammad Zuhri – Tribun Batam. Judul Karya: “Mudahnya Beli Ekstasi di Batam (Seri)”.
Bidang Sosial:
- Zaky Yamani – Pikiran Rakyat. Judul Karya: “Menggadaikan Citarum untuk Jakarta”.
- Muhlis Suhaeri – Borneo Tribune. Judul Karya: “Ketika Lingkungan Terkoyak”.
- Hera Diani – Jakarta Globe. Judul Karya: “Cost of Smoking (Series)”.
Bidang Seni & Budaya:
- Bagja Hidayat – Majalah Tempo. Judul Karya: “Lambang dalam Pusaran Mafia Purbakala”.
- Muhlis Suhaeri – Borneo Tribune. Judul Karya: “Tato Bagi Masyarakat Dayak”.
- Aan Haryono – Seputar Indonesia Biro Jawa Timur. Judul Karya: “Artefak Orba yang Berkarat”.
Bidang Olahraga:
- Tjahjo Sasongko – Kompas.Com. Judul Karya: “Regenerasi Tidak Bisa Dipaksakan”.
- Didik Kusbiantoro – Antara Biro Jawa Timur. Judul Karya: “Rasionalisasi atau Mati”.
- Tjahjo Sasongko – Kompas.Com. Judul Karya: “Disini Kita Bukan Serumpun”.
Pemenang Anugerah Adiwarta Sampoerna 2009
KATEGORI FOTO BERITA
- Olahraga: Eko Suswantoro, Surabaya Post “Nasib Pengadil yang Tak Adil”.
- Sosial: Sutanta Aditya, Harian Global Medan, “Histeris”
- Seni Budaya: Yudhi Sukma Wijaya, The Jakarta Globe, “Baca Mantra”.
- Ekonomi bisnis: Moch. Subechi Nurcahyo, Harian Jawa Pos Surabaya, “Demi Rp.69 Milyar”.
- Politik: Yudhi Sukma Wijaya, The Jakarta Globe, “Squeaky Clean”.
- Hukum: Khalsa Alkalis, Harian National News, “Baju Tahanan”.
KATEGORI CETAK DAN ONLINE, LIPUTAN INVESTIGATIF
- Olahraga: Tjahjo Sasongko, Kompas.com, “Regenerasi Tidak Bisa Dipaksakan”.
- Sosial: Zaky Yamani, Pikiran Rakyat, “Menggadaikan Citarum untuk Jakarta”.
- Seni Budaya: Bagja Hidayat, Majalah Tempo, Lambang Dalam Pusaran Mafia Purbakala”.
- Ekonomi bisnis: Bagja Hidayat, Majalah Tempo, “Akal-akalan Biaya Admin Listrik”.
- Politik: Asrori Karni, Majalah Gatra, “Waspada Rekayasa Sistemik Pemilih Fiktif”.
- Hukum: Kuncarsono Prasetya, Harian Surya, “Carut Marut Penataan Reklame Surabaya”.
KATEGORI CETAK DAN ONLINE, LIPUTAN KEMANUSIAAN
- Olahraga: Hendri Firzani, Majalah Gatra, “Piranha Pemangsa Juara Dunia”.
- Sosial: Ratna Hidayati, Koran Tokoh, “60 Ribu Anak Korban Wisatawan Seks di Asia Tenggara”.
- Seni budaya: Rusman, Majalah Art-i, “Membangun Seni untuk Rakyat”.
- Ekonomi bisnis: Muhlis Suhaeri, Harian Borneo Tribune, “Sembelit di Pelabuhan Dwikora Pontianak”
- Politik: Asrori Karni, Majalah Gatra, “Belajar Curang Sejak Kanak-kanak”.
- Hukum: Asrori Karni, Majalah Gatra, “Ketika Murid Memerkarakan Kiai”.
KATEGORI TELEVISI
- Dokumenter: Reporter Akmal Yusmar dan juru kamera Putera Ikhsan, Hariyo February dan Wayan Astapala, RCTI, “Andalas Pulang Kampung (Program Urban)”.
- Investigatif: Reporter Ninik Kusumawardhani dan juru kamera Safriady, Metro TV, “Menggadaikan Jasa Serumpun Melayu (Program Secret Operation)”.
KATEGORI PENGHARGAAN KHUSUS
- Jurnalis Muda Berbakat: Aan Haryono, Harian Seputar Indonesia Jatim.
- Anugerah Herawati Diah: Dewi Kurniawati, The Jakarta Globe.
Biar Lokal Prestasi Nasional
Meski terletak di ujung pulau Sumatera, wartawan dari Aceh mampu bersaing di kancah nasional. Ini terbukti dari beberapa prestasi dari ajang kompetisi bergengsi. Jurnalis Aceh selalu masuk nominasi bahkan menyabet prestasi. Beberapa penghargaan yang diperoleh jurnalis Aceh untuk Tingkat Nasional adalah:
- Mardani Malemi (Rakyat Aceh) : 10 besar pada LOMBA PENULISAN JURNALISTIK RUU ADMINISTRASI PEMERINTAHAN KERJASAMA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA-SfGG GTZ-AJI JAKARTA (Februari 2008).
- Fransisca Ria Susanti (Aceh Feature Service) : Juara II Isu Perburuhan diadakan AJI - ACILS - dan FES (Maret 2008).
- Samiaji Bintang (Aceh Feature Service) : Juara II Esay Hak Azasi Manusia (HAM) yang diselenggarakan DEPKUMHAM (April 2008).
- Arsadi Laksamana (MODUS ACEH) : Juara I Sampoerna Award 2008 Kategori Investigasi Politik.
- Samiaji Bintang (Aceh Feature Service) : TIga Besar Sampoerna Award 2008 untuk kategori Humaniora Hukum dan Politik.
- Novia Liza (Aceh feature Service) : Meraih Penghargaan Jurnalis Muda Berbakat 2008 Sampoerna Award 2008.
- Ricky Fechrizal (Aceh Point ; Saat ini The Globe Journal): Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia).
- Fairuz (Aceh Magazine) Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia).
- Mardani Malemi (Rakyat Aceh) : Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia).
- Terakhir, Arsadi Laksamana meraih Juara III penulisan tentang Orang Hutan untuk Tingkat Nasional pada awal Januari 2009 lalu. Diadakan oleh AJI Jakarta - ProMedia Indonesia - Orangutan Conservation Services Program (OCSP) atas dukungan USAID.
- Marta Andival (MODUS ACEH) Terpilih menjadi Peraih Beasiswa Investigasi Nasional 2008 (AJI- SIDA Swedia), Peraih Beasiswa Liputan Investigasi Bahaya Rokok dalam peringatan hari tembakau dilaksanakan oleh Aji Jakarta, nominasi Anugerah Adiwarta 2008 dan nominasi Anugerah adi warta 2009 (Aceh Feature).
- “Bakau Azhar”, ditulis oleh Junaidi Mulieng dimuat Tabloid MODUS ACEH, Minggu V Juli 2008. Masuk Finalis Mochtar Lubis Fellowship 2009.
- Mencari Angka dalam Jerami oleh Daspriani Y. Zamzami dari Majalah Aceh Kini, Januari 2008. Muctar Lubis Award dalam kategori Public Service.***