Edisi 11 Tahun VII | Kamis, 2 Juli 2009 Jam 03:12
Tragedi Pembunuhan Ida Lena
Duka Masih Membalut Pante Lhong
SuryadiSudah dibaca sebanyak 433 kali.
Ida Lena (22) telah pergi dijemput maut. Tewasnya gadis penjual nasi itu, meninggalkan duka yang cukup mendalam bagi anggota keluarganya.
Sudah dua bulan lebih, Nuriah Puteh dirundung duka. Makan tidak enak, tidur pun tidak nyenyak. Hari-hari dihabiskan perempuan berusia 53 tahun ini, dalam kesedihan. Maklum, sejak anak bungsunya, Ida Lena, menghilang dari rumah, Senin, 27 April lalu. Nuriah tak tenang hidupnya.
Persis, Rabu, 17 Juni lalu. Ida Lena ditemukan di kebun kosong milik penduduk setempat, di Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, tak jauh dari rumahnya.
Tapi sayangnya, gadis desa itu sudah tidak bernyawa lagi. Nuriah sangat terpukul, begitu melihat kondisi jasad putrinya itu tinggal kerangka dan hanya tertutupi daun kelapa.
Nuriah shock, anaknya itu begitu cepat menghadap sang khalik dengan cara menggenaskan. Padahal, sepengetahuannya, selama ini Ida Lena tidak pernah punya musuh. Dia tahu persis, karena putri kesayangannya itu sangat manja dengannya. “Dia anak yang baik dan selalu terbuka dengan saya,” gumam Nuriah dengan suara serak.
Diceritakan Nuriah, Ida Lena adalah anak bungsu dari delapan bersaudara hasil perkawinannya dengan Banta Risyah (kini almarhum). Ida Lena hanya sempat mengenyam pendidikan formal sampai tamat SD. Sehari-hari dia berjualan nasi di warung kopi, Kota Matang Glumpang Dua. Pergi pagi dan pulang menjelang sore. Sepulang kerja, Ida Lena hanya di rumah bersama keluarga dan dia jarang keluar rumah.
Sebenarnya, Ida Lena orangnya ramah dan suka bergaul dengan siapa saja. Tapi selama ini dia tidak punya teman laki-laki yang spesial. Sepengetahuan Nuriah, putrinya itu tidak pernah menjalin hubungan khusus dengan seorang pria. Kalau pun ada, hanya berteman biasa saja, sebagaimana layaknya sesama perempuan.
Makanya Nuriah sangat terkejut begitu mengetahui, pembunuh buah hatinya itu adalah pacar Ida Lena sendiri, Isma Fajri. Sungguh, kata Nuriah, dia tidak mengetahui sama sekali, Ida Lena telah berpacaran dengan laki-laki pembawa maut yang berasal dari Desa Lheut, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya itu.
Ida Lena tidak pernah bercerita dia tentang hubungannya dengan Isma Fajri. Lelaki berusia 22 tahun itu, juga tidak pernah bertandang ke rumahnya. Padahal antara rumah Yanti, tempat tinggal Isma Fajri dengan rumahnya berdekatan. Hanya berjarak sekitar beberapa puluh meter.
Demikian juga dengan Ida Lena sendiri. Nuriah tidak pernah sekalipun melihat dia pergi dan bertemu dengan Isma Fajri di rumah tetangganya itu. Dapat dikatakan, hubungan percintaan mereka sangat rahasia dan tertutup rapi. Tanpa seorang pun dari pihak keluarga Ida Lena yang mengetahuinya. Bahkan sampai sekarang Nuriah dan beberapa anggota keluarganya, mengaku tidak mengenal tersangka pembunuh berdarah dingin itu.
Seperti diakui Eliana (30), kakak kandung almarhumah. Dia sangat heran dan menyesali tidak pernah mengetahui hubungan asmara adiknya itu dengan Isma Fajri. Padahal diakuinya, antara dia dengan Ida Lena sangat akrab, dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain. “Kemana-mana kami sering pergi berdua dan berbelanja ke pasar,” ujar Eliana.
Bahkan, celana jeans yang masih melekat di kerangka Ida Lena saat ditemukan hari itu, dia beli bersamanya beberapa waktu lalu di Kota Matang Glumpang Dua. “Tapi saya tidak pernah tahu dia telah menjalin hubungan dengan si bangsat itu!” kutuk Eliana dengan nada tinggi.
Memang, diakui Dek Gam, abang almarhumah. Hubungan khusus antara adiknya dengan Isma Fajri baru tercium beberapa hari menjelang menghilangnya Ida Lena. Menurut Dek Gam, bermula dari pesan singkat (SMS) yang dikirim lelaki pembawa maut itu ke HP Ida Lena. De k Gam mengaku sempat membacanya.
Kebetulan waktu itu, HP Ida Lena tertinggal di rumah. Iseng-iseng Dek Gam membukanya, begitu bunyi SMS masuk. Dilihat dari kotak masuk tertera pengirimnya dari seorang laki-laki bernama Isma Fajri. Ketika dia baca isi SMS itu, intinya si lelaki tersebut minta bertemu dengan Ida Lena di tempat biasa.
Kalimat yang tertera di situ persis seperti orang sedang berpacaran. Bahkan yang membuat Dek Gam agak merinding bulu romanya, terdapat juga kalimat-kalimat seronok ditulis Isma Fajri, yang kesannya sudah terlalu jauh jalinan hubungan kedekatan mereka.
Untuk mengecek kebenaran dan menghindari hal-hal yang bisa membawa aib bagi keluarga. Lalu Dek Gam berusaha menemui Isma Fajri di tempat tinggalnya, di rumah Yanti, tetangga mereka. Ketika Dek Gam menanyakan hal tersebut, awalnya dia berkilah dan tidak mengakui punya hubungan cinta dengan Ida Lena.
Begitupun, Dek Gam tidak kehilangan akal. Dia terus mendesak dan memperlihatkan bukti SMS tadi. Setelah itu baru Isma Fajri tidak dapat berkutik lagi. Lelaki yang selama ini bekerja sebagai penambang pasir itu, akhirnya berterus-terang mengakui, memang benar selama ini dia berpacaran dengan Ida Lena.
Walaupun Isma Fajri telah mengakui punya hubungan khusus dengan adiknya, Dek Gam tidak mempermasalahkannya lagi. Dia tidak mau munafik. Sebab, katanya, dia sendiri juga pernah menyukai perempuan dan itu dianggapnya manusiawi.
Hanya saja, dia berpesan pada lelaki yang juga hanya tamatan SD itu, kalau mau bertemu adiknya, dia datang saja ke rumah secara baik-baik. Jangan minta bertemu di luar. Dek Gam beralasan, kesannya nanti tidak bagus, seakan-akan adiknya itu bukan wanita baik-baik.
Apalagi dia minta bertemu di tempat biasa. Berarti selama ini mereka sudah sering bertemu. Itu saja yang dia sarankan. Dek Gam mengaku tidak pernah mengkasarinya. “Saya juga tidak melarang mereka berpacaran. Asalkan secara baik-baik dia datang ke rumah,” jelas Dek Gam dengan tenang.
Yang membuat Dek Gam geram, kenapa kemudian Isma Fajri masih nekat minta bertemu di luaran. Setelah itu Ida Lena menghilang dan ternyata Isma Fajri sendiri yang mengeksekusinya. Dia menjerat leher korban dengan tali nilon. “Sesuai pengakuannya kepada polisi, setelah meninggal dia setubuhi lagi adik saya. Benar-benar biadab si begundal itu!” cerca Dek Gam. Kali ini dia tidak bisa tenang lagi dan agak tersulut emosi.
Begitu korban menghilang, sebenarnya pihak keluarganya sudah mencurigai Isma Fajri telah berbuat macam-macam terhadap Ida Lena. Sebab, sehari kemudian lelaki berperawakan kecil itu pun secara tiba-tiba tidak terlihat lagi di desa tersebut.
Ternyata benar, pemuda yang mengaku punya kekasih bernama Ida Zubaidah itu telah melarikan diri. Begitupun, setelah melalui perburuan yang cukup panjang dan melelahkan selama dua bulan lebih, akhirnya membuahkan hasil. Tim gabungan aparat Kepolisian dari Polsek Peusangan dan Tim “Waled” dari Polres Bireuen, berhasil menciduk tersangka dalam suatu penyergapan di sebuah kawasan di Banda Aceh, Selasa, 23 Juni lalu.
Meskipun sudah sedikit berlega hati, setelah polisi berhasil menangkap Isma Fajri, bagi keluarga yang ditinggalkannya masih menyimpan duka yang teramat mendalam. Sebab, Ida Lena pergi meninggalkan mereka untuk selamanya begitu cepat dan dengan kondisi yang sangat memilukan.
Tak ada angin dan hujan. Sebelumnya, memang tidak ada firasat tertentu yang dirasakan pihak keluarga, sebagai tanda-tanda akan berpulangnya ke Rahmatullah gadis semampai itu. Cuma Nuriah, sang ibu yang merasa agak gelisah, tanpa dia ketahui penyebabnya, menjelang menghilangnya Ida Lena dari rumah ketika itu.
Lima hari sebelum kejadian, Nuriah pernah bermimpi kehilangan seluruh pakaiannya yang tersimpan dalam lemari. Dalam mimpi itu, dia juga melihat lemari pakaian tadi telah busuk. “Ya, mungkin mimpi itu sebagai pertanda saya akan kehilangan orang yang sangat sayangi. Dan lemari busuk itu menandakan jasadnya itu sudah membusuk dan yang tersisa hanya tulang-belulang saja,” kata Nuriah sambil menyeka bulir-bulir bening yang keluar dari matanya.
Bagi Nuriah, berpisah dengan anaknya, Ida Lena, sangat mengiris kalbu. Dia mengaku selalu membayangkan wajah putri bungsunya itu di pelupuk mata. Maklum, selama ini Ida Lena adalah teman tidur Nuriah.
Sering, kata Nuriah, ketika tiba-tiba terbangun tengah malam, dalam perasaan dia seakan-akan Ida Lena masih hidup dan tidur di sampingnya. “Ketika saya raba barulah saya sadar, ternyata dia tidak ada di samping saya dan telah pergi meninggalkan saya untuk selamanya,” ujar Nuriah dengan suara agak berat.
Tergambar nuansa kesedihan yang amat sangat mendalam di wajah perempuan tua itu. Saya tak sanggup lagi menatapnya dan buru-buru mohon diri. Mendung duka masih bergelayut di Pante Lhong.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |