Edisi 35 Tahun VII | Rabu, 23 Desember 2009 Jam 11:29
Minum Kopi Ala Norwegia
Laporan Muhammad Armiyadi Signori (Norwegia)*Sudah dibaca sebanyak 404 kali.

Suasana kedai kopi di Norwegia.
Masyarakat Norwegia menyebut dirinya dengan Nordmenn. Mereka masyarakat ‘maniak’ kopi bersama dua saudara Skandinavianya, Denmark dan Finlandia serta Swiss dan Belgia. Rata-rata mengkomsumsi kopi 7-10 kilogram perkapita per tahun.
Norwegia terletak di bagian barat semenanjung (jazirah) Skandinavia dan berbatasan dengan Swedia, Finlandia dan Rusia. Negara ini memiliki garis pantai yang panjang. Lebih dari 500 km2 (193 mil2). Norwegia terletak di bagian utara Arctic Circle, tetapi pantai barat biasanya tetap bebas es sepanjang tahun akibat aliran air hangat Gulf Stream.
Negara dengan jumlah penduduk 4.753.400 jiwa dan pendapatan per kapita sebesar 93,759 dolar AS di tahun 2008 ini, dengan tingkat pengangguran sebesar 2.6%. merupakan negara yang sangat makmur dan aman sehingga Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2009 menempatkan negara ini pada rangking pertama sebagai negara paling diinginkan di dunia untuk tempat tinggal.
Dibalik fakta tadi, satu hal yang patut diketahui. Masyarakat Norwegia memiliki kegemaran minum kopi. Sama halnya dengan rakyat Aceh. Di Norwegia, tingkat konsumsi kopi sangat tinggi terutama bila dibandingkan dengan masyarakat Indonesia yang hanya 0,6 kg perkapita pertahun, tentu menarik untuk melihat perilaku minum kopi mereka.
Tingginya konsumsi kopi Nordmenn juga mengelitik para ilmuan Norwegia untuk mencurigai efek buruk minum kopi. Negara ini memiliki kasus bibir sumbing dan cacat pada langit-langit mulut relatif tinggi, pada 2,2 anak yang lahir dengan cacat untuk setiap 1.000 kelahiran.
Para peneliti memutuskan untuk melihat hubungan antara konsumsi kopi dan minuman berkafein lainnya dengan cacat di bagian wajah diantara orang-orang Norwegia, karena orang-orang Norwegia cenderung minum banyak kopi dan kesimpulan hubungannya walau tidak terlalu signifikan.
Tanpa Gula
Berbeda dengan kebiasaan orang Indonesia yang selalu menambahkan gula ke dalam kopi, Nordmenn tidak melakukan itu, mereka benar-benar menikmati kopi secara murni tanpa campuran lain. Tapi jangan salah, bukan mereka tidak suka gula, nyatanya kue-kue mereka banyak mengandung gula. Mereka beralasan bila menambahkan gula, maka rasa kopi yang sebenarnya tidak bisa di dapatkan, lagian mereka mau minum kopi bukan air manis.
Walaupun demikian, bagi kita yang tidak terbiasa minum kopi tanpa gula, tidak perlu kuatir, kafe mereka juga menyediakan gula terpisah dari kopi karena seperti negara Eropa lainnya, Norwegia juga banyak di datangi pendatang luar baik sebagai turis, pelajar, pencari kerja ataupun pencari suaka politik (termasuk dari Aceh) yang sudah pasti punya selera kopi yang berbeda.
Tak Perlu Tempat Khusus
Kalau di Indonesia, orang – orang menghabiskan banyak waktu di warung untuk minum kopi (walaupun banyak alasan lain yang membuat mereka betah di warung), bagi Nordmenn minum kopi tidak perlu waktu lama atau tempat khusus, seperti layaknya kita minum aqua di Indonesia. Pagi, malam, tempat kerja, sekolah, cowok ataupun cewek sama saja, selalu minum kopi. Makanya bukan hal yang aneh bila banyak mahasiswa yang membawa kopi ke ruangan kelas.
Untuk mendapatkan kopi juga sangat gampang, karena banyak tempat menjual kopi walaupun itu bukan warung kopi atau kafe, kita bisa mendapatkan kopi di semua Mini Market ataupun mal-mal. Kalau di Mini Market biasanya mereka cuma menjual kopi dalam tempat plastik dan tidak menyediakan tempat duduk untuk menikmati kopi. Jadi cara minumnya terserah pembeli.
Bagi Nordmenn yang suka merokok pada saat minum kopi, tentu akan lebih suka menikmati kopi di luar ruangan, karena kalau merokok di dalam ruangan, alarm kebakaran akan berbunyi dan mereka akan di kenakan denda sekitar 1500 kroner.
Untuk harga kopi, bervariasai, di kantin mahasiswa kita bisa mendapatkannya dengan harga 10 kroner (sekitar Rp 16.000 rupiah), di Mini Market 20 kroner ( Rp 32.000 rupiah), untuk tempat lebih elit lagi harganya lebih tinggi dengan pendapatan yang tinggi, harga ini tidak memberatkan bagi mereka.
Sepertinya kita patut mencontoh cara mereka menikmati kopi, untuk kebutuhan ”ngopi” tidak pernah mengurangi jam kerja dan produktifitas kerja.***
* Aktivis World Achehnese Association, Mahasiswa Magister Mental Health Care, Hedmark University, Norwegia
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |