Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:48
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 35 Tahun VII | Rabu, 23 Desember 2009 Jam 11:29

Hidayah Mendekatkan Diriku Kepada Allah

Saniah LSSudah dibaca sebanyak 219 kali.

Kata orang bijak, lebih betuah seorang bandit kemudian bertaubat dan menjadi alim, dari pada seorang alim berprilaku seperti bandit. Nauzubillahminzalik.

Siapa tak kenal Iwan (nama samaran—red), warga Kampung Jawa Lama, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Dia seorang pemabuk yang kerap buat onar di kampungnya.  Tiap malam dia teler karena meneguk minuman haram. Bersama anggota “gengnya”, dia juga ngelinting ganja dan menghisapnya.

Tapi itu dulu. Sekarang Iwan sudah taubat. Hidayah Allah diraihnya. Iwan berubah menjadi manusia taat. Kini, setiap waktu Iwan menuaikan kewajibannya, shalat lima waktu. Bila waktunya tiba, Iwan hadir di barisan shaf terdepan.

Perubahaan sikap, perilaku dan ibadah ayah tiga anak ini mengundang tanda tanya sebagian warga kampung tersebut. Pemabuk itu telah kembali ke jalan yang benar.

Kepada media ini, pria berusia 40-an dan berprofesi sebagai penarik beca mesin itu bertutur. Perangainya sudah berubah, tak seperti enam tahun silam, sebelum tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004. “Hidayah dari Allah SWT telah turun kepada saya, waktu itu saya menyaksikan di tivi bagaimana ganasnya bencana alam tsunami yang meluluh lantakkan Aceh dan menelan ribuan nyawa para syuhada,” cerita Iwan kepada MODUS ACEH, sepekan lalu.

Waktu itu, seperti diceritakan Iwan, dia seperti orang ketakutan dan berpikir kiamat sudah tiba. “Saya mengenang segala kebejatan dan dosa-dosa yang pernah saya lakukan. Kelakuan saya kepada istri dan anak-anak. Kalau ingat itu semua, saya merasa seorang yang sangat kotor, hinadina. Alhamdulillah, kini saya tidak pernah menyentuh barang haram itu lagi, dan tangan ini juga tidak sering menampar dan memukul istri serta anak-anak,” ucapnya lirih.

Atas sikap dan perubahaan diri Iwan tadi, masyarakat Kampung Jawa Lama, yang dulu membenci Iwan, beralih dan menghormati Iwan. “Saya sangat terharu, ternyata masyarakat kampung yang dulu mengutuk kebejatan perilaku saya, beralih menjadi sangat simpati. Kadang mereka (sebutan warga kampung) memberi saya pekerjaan tambahan selain menarik beca mesin. Dengan penghasilan tambahan itu saya pun bisa membiayai sekolah anak dan mengempulkan asap dapur rumah,” tuturnya sambil berkaca-kaca, di teras sebuah warung.

Kata Iwan, yang sangat menyentuh dan patut dicerna dengan baik adalah, hidup ini ibarat roda yang berputar kita tidak pernah tahu kapan roda itu akan berhenti dan kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput untuk kembali menghadap Sang Khalid. “Kapan saja jika Allah menginginkan, kita bisa sewaktu-waktu dipanggil-Nya. Waktu itu tidak ada yang bisa kita bawa selain sehelai kafan dan mendiami tanah berukuran dua kali tiga meter. Ketika  di kubur kita pun akan menanti hari kebangkitan, namun terlebih  dulu menerima siksaan di kubur, untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di dunia ini,” tutur Iwan. Terkesan, dia mulai ikhlas menjalani hidup ini.

Iwan mengaku, karena perangai jeleknya dulu, ayahnya masuk rumah sakit dan akhirnya meninggal dunia. “Ibu meminta saya untuk berubah, karena saya anak tertua di keluarga. Namun, pertaubatan saya berumur pendek. Bertemu dengan teman-teman lama dan saya pun mulai mabuk-mabukan kembali,” ungkapnya mengenang masa lalu yang kelam.

Iwan juga berfalsafah. “Jika kita berteman dengan bandit maka jadi bandit lah kita, namun jika kita berteman dengan orang alim maka jadi alim lah kita”.

Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku kita selain kedua orangtua. Makanya Iwan sekarang ini tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-temannya yang dulu suka meneguk minuman berakohol dan melinting ganja. “Kadang saya dicibir teman-teman. Namun saya hanya bisa berdoa buat mereka semoga mendapat hidayah seperti saya”.

Perilaku masa lalu yang jelek tersebut merupakan pelajaran yang berharga bagi Iwan. Ia bercerita kepada anak-anaknya agar tidak mengikuti jejak masa lalunya itu. Iwan menerapkan ilmu agama kepada anak-anaknya dengan cara menyuruh anak-anaknya ikut pengajian di balai pengajian. “Ilmu agama saya masih dangkal. Mengaji saja saya belum fasih. Kadang si Sulung mengajarkan saya mengaji, saat mengaji saya melihat istri dan ibu berlinang air matanya,” papar Iwan berkisah.

Menurut Iwan, harta bukan tolak ukur kebahagian. Sebaliknya, kebahagian itu tumbuh dari dasar hati ketika seorang hamba mensyukuri apa yang ada pada dirinya. Iwan mengaku, lebih baik ia miskin harta dari pada ia miskin iman dan miskin akhlak. “Kalau dulu saya bersama teman-teman kalau kepingin makan ayam atau kambing, habis mabuk-mabukan, kami pun nyolong. Saya benar-benar bejat!” jeritnya penuh penyesalan.

Iwan tidak tahu apakah Tuhan telah memaafkan segala dosa-dosanya. Katanya, taubat nasuha itu menurut ustad di masjidnya, jika ia tidak kembali melakukan perbuatan-perbuatan bejat yang pernah ia lakukan sebelumnya. “Makanya selagi nafas ini masih diraga, saya terus beribadah dan memperdalam ilmu agama. Saya ingin menjadi ayah yang baik bagi anak-anak saya, dan menjadi suami yang setia bagi istri saya. Saya tidak mau lagi menjadi ‘sampah’ masyarakat, mabuk-mabukan dan buat onar di kampung,” tutupnya penuh harap.

Apa yang terjadi pada Iwan juga terjadi pada kebanyakan orang yang telah diberikan hidayah oleh Allah untuk kembali ke jalan yang benar. Membuka pintu hatinya, menyadarkan segala perbuatan kejinya, dan tidak mengulangi kembali perbuatannya tersebut. Bersyukurlah mereka yang telah diberikan Allah hidayah, sebab hidayah itu tidak datang tanpa diminta dengan doa. Baik doa dari kedua orangtua, istri, sanak saudara, maupun dari anak-anak mereka. Anak-anak yang saleh.***

Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: