Edisi 27 Tahun VII | Jum'at, 30 Oktober 2009 Jam 03:23
Kau dan Aku, Pacar Selingkuhanmu
Saniah LSSudah dibaca sebanyak 448 kali.
Baru hitungan minggu hubungan asmara Mia (nama samaran-red) dan Haris (nama samaran-red) terjalin, berakhir di tengah jalan. Mia merelakan Haris kembali ke pangkuan pacarnya, Nita (nama samaran-red).
Haris tidak sanggup melukai hati Nita dan ingin kembali kepangkuan gadis itu lagi. Maklum, saat diputuskan Haris, Nita dalam keadaan sakit. Tragedi cinta itu terjadi persis diujung September 2007 silam.
Seperti diceritakan Mia kepada media ini, Selasa, 20 Oktober lalu. Awalnya Haris memutuskan Nita—perempuan berdarah Aceh yang telah dipacari Haris selama tiga tahun di Jakarta. Setelah Mia menuntut kejelasan statusnya sebagai selingkuhan Haris.
“Kapal cinta Haris dan Nita sudah mulai oleng sebelum aku mengenal Haris,” demikian Mia membuka awal ceritanya kepada media ini. Lanjutnya, “perkenalanku dengan Haris berawal dari pertemuanku dengan adik kelasku Budi yang waktu itu berkunjung ke kost-anku di Gaperta.” Setelah pertemuan yang tak disengaja itu, Haris (entah dari mana Haris mendapatkan nomor HP Mia—mungkin dari Budi) mulai sering menelpon Mia. Keakraban itu pun mulai terjalin dan hari-hari Mia tidak lagi disibukkan dengan persoalan organisasi dan kerjanya sebagai seorang jurnalis.
“Aku sadar bahwa Haris sudah mempunyai pacar karena Haris jujur kepadaku soal ini. Dia tidak pernah menutupi tentang hubungannya dengan Nita yang sudah dirajut selama tiga tahun lebih itu,” cerita Mia. Karena Haris pria yang jujur dan tidak neko-neko, entah mengapa setiap hari perasaan cinta Mia ke Haris mulai tumbuh. “Aku merasa nyaman aja saat berdekatan dengannya, apalagi kalau kita berdiskusi mengenai pekerjaan, nyambung aja. Malah dari segi pemikiran Haris sangat dewasa dan aku sangat mengaguminya”.
O...ya dari cerita Mia kalau Haris dengan Mia terpaut usia 5 tahun, Haris berusia 23 tahun sementara Mia berusia 28 tahun. Haris menurut Mia berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di intansi pemerintahan di Banda Aceh. Sejak berkenalan dengan Mia, setiap weekend, Haris menyepatkan waktunya berkunjung ke Medan. Dan setiap ada kesempatan Haris pun mengajak Mia kongkow-kongkow ke mal atau café di bilangan dokter Mansur, Gajah Mada, dan Warkop Harapan.
Keakraban mulai terjalin tak wajar, begitu cerita Mia. Perasaan cemburu Mia mulai tumbuh apalagi saat Haris menerima telpon dari Nita saat mereka lagi bersama. “Tiba-tiba moodku jadi nggak bagus, Haris coba mengerti kondisi ini hingga akhirnya ia pun mematikan HP-nya dengan alasan ini dan itu kepada Nita. Dari sini aku mengetahui kalau Haris juga ada hati ke aku hingga sebulan setelah kami jalan, Haris pun mengungkapkan perasaannya kepadaku, dan aku dengan rela menjadi kekasih gelapnya saat itu.”
Mia kembali bercerita, pertengkaran hebat terjadi awal September 2007 lalu. Sepertinya Nita mulai mencium gelagat perselingkuhan Haris dengan Mia. Hubungan Haris dan Nita yang sering putus nyambung-putus nyambung sejak mereka berdua berjauhan kembali terucapkan. Ketika itu bukan Nita yang minta putus melainkan Haris. Demikian papar Mia kepada media ini. “Aku pernah tanya apakah ia memutuskan Mia karena aku? Haris bilang bukan. Haris mengatakan bahwa sejak Nita dan Haris berjauhan, lain kota. Nita mulai mengekang Haris dengan segala ketidak-percayaannya itu. Haris pun mengaku kepadaku sudah capek harus terus bertengkar untuk menyakinkan Nita. Haris mengaku kalau dia masih sayang pada Nita. Menurut Haris, Nita wanita sangat baik yang pernah dia kenal, dan tidak pernah selingkuh seperti yang dilakukannya sekarang ini.”
Usai bercerita, Mia terdiam sesaat sepertinya ada yang sesak didadanya. Ia pun melanjutkan ceritanya. “Sejak ia putus dengan Nita, aku pun sah menjadi pacarnya 15 September 2007 lalu, namun tepat 22 September, berkelang seminggu, aku terpaksa harus pergi tinggalkan Haris, setelah aku menyadari Haris sangat mencintai Nita dan tak akan mungkin berpisah dengan Nita, sebab hubungan Nita dan Haris sudah terlalu jauh.” Mia kembali menarik nafas, terdengar berdesah lewat HP ketika ia melepaskan sesak yang ada di dadanya. “Sakit memang, tapi aku mau gimana lagi. Aku juga tidak mau menjadi selingkuhannya tanpa kejelasan hubungan kami. Walau aku akui Haris cinta pertama dan terakhir bagiku, setelah 10 tahun yang lalu aku menjomblo, karena tunanganku meninggal dunia sebab penyakit levernya,” aku Mia berat sambil mengenang. Mia pun melanjutkan ceritanya bahwa sejak ia dan Haris putus Mia pun harus melalui hari-harinya dengan penuh kekecewaan.
“Aku hampir saja melakukan hal konyol. Setelah aku ketabrak sepeda motor dan kepalaku dijahit lima jahitan, aku sadar. Aku nggak perlu bunuh diri karena cinta, toh kalau Tuhan berkendak, lambat atau cepat bakal memanggilku juga. Aku bersyukur, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk hidup,” ujar Mia yang kini menyadari bahwa hidup adalah pilihan, kehidupan juga cuma datang sekali, dan selagi hidup ia tidak ingin melakukan hal konyol itu lagi, bunuh diri karena cinta yang tak jelas itu.
Haris adalah masa lalu percintaannya yang buram. Kisah buram percintaannya dengan Haris telah ia kubur dalam-dalam, hingga Mia pun berpesan, bahwa menjadi kekasih gelap itu tak ada enaknya yang ada hanya kepahitanya saja. “Kita akan merasa bahagia kalau sudah dekat disampingnya. Tapi ketika ia menjauhi yang ada perasaan was-was dan cemburu yang terlalu,” demikian tutup Mia diakhir ceritanya kepada media ini via phone Selasa sore, 20 Oktober lalu. Memang, langkah, rezeki, pertemuan, jodoh, dan maut adalah milik Allah SWT.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |