Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:50
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 25 Tahun VII | Sabtu, 17 Oktober 2009 Jam 08:27

Aku Dihina, Dibuang dan Dianggap Sampah

Saniah LSSudah dibaca sebanyak 348 kali.

“Mereka (sebutan orangtua dan saudara-saudara—red) memanggilku si Keling karena akulah anak yang paling jelek dan berkulit hitam diantara kelima saudara kandungku yang lain,” aku Dana,  pria berusia 24 tahun yang kini tinggal di Kalimantan Tengah.

Lewat Handphone (HP), pria bernama asli Abdul Malik Dana Suci membeberkan kisah perjalanan hidupnya kepada media ini, Jumat, 9 Oktober lalu. Ia berharap agar orangtua jangan pernah membeda-bedakan dalam memberi kasih sayang kepada anak-anaknya, walau anak itu cacat sekali pun. “Apapun rupa anak itu, setiap anak pasti ada sisi baik diantara kekurangan fisik yang ia miliki. Dan jangan pernah menyia-nyiakan mereka apalagi membeda-bedakan mereka dengan kasih sayang,” kata Dana (panggilan akrab Abdul Malik Dana Suci-red).

Lika-liku kehidupan Dana dari sejak kanak-kanak tak ada kata ‘manis’ semua dikecap dengan ‘pahit’. Walau demikian, diploma lulusan Politeknik Negeri Medan Jurusan Akutansi ini tetap tersenyum dan bersikap positive thinking kepada kedua orangtuanya, tanpa dendam apalagi sakit hati diperlakukan tidak adil. Karena Dana yakin walau ia hidup tanpa sanak saudara apalagi orangtua di sisi, namun Tuhan itu selalu ada disisinya dan selalu memberi kemudahan dalam setiap ujian hidup yang ia jalani.

Sejak berusia 11 tahun Dana mulai diasingkan keluarganya. Ia sekolah di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri Tasikmalaya setelah mendapat beasiswa dengan prestasi Sekolah Dasar yang ia raih di Jakarta, tempat kelahirannya. Lepas dari keluarga, merantau dan mandiri dalam usia remaja yang masih belia merupakan anugerah terindah bagi Dana. Ia tidak merasa dibuang.

“Aku merasa nyaman saat jauh dari rumah dan keluargaku. Itu karena aku merasa selalu diperlakukan tidak adil oleh kedua orangtuaku. Aku terus dihina dan dibeda-bedakan oleh orangtuaku. Malah yang lebih menyakitkan setiap kali aku dibawa ke rumah bibi atau pamanku, saudara dari ayah dan ibuku itu malah ikut mencaci aku dengan kata-kata yang sama, “si keling yang jelek ini kok dibawa kemari?” Seolah kehadiranku tidak pernah diharapkan sama sekali oleh mereka. Aku pun merasa seperti bukan anak kandung orangtuaku.”

Oh ya, selama di Tasikmalaya, Dana tidak pernah dijenguk orangtuanya, apalagi ditelepon untuk bertanya kabar. Menurut pengakuan cowok kelahiran tahun 1985 ini, ia pernah sekali dijemput ke Tasikmalaya, itu pun karena lebaran. “Kalau tidak lebaran mereka tidak akan menjemputku,” kata Dana dengar tegar.

Masih katanya lagi, hidupnya di Tasikmalaya sangat miris. “Ada uang aku makan, kalau nggak ada uang aku tidak makan. Terkadang untuk memenuhi kebutuhan sekolah dan makanku, aku pun ngutang sana-sini. Setelah dapat upah dari mengajar mengaji baru aku bayar hutang-hutangku itu.”

Cerita Dana lagi. Pada tahun 1999, waktu itu dia masih duduk di kelas 2 SMP. Orangtua Dana menjemput paksa Dana dari sekolah, membawa pulang anak security ini ke Jakarta dengan alasan mau menyekolahkannya di sana. Jelas hal ini ditentang guru-guru Dana di sekolah. Sebab, ia termasuk murid yang berprestasi di sekolah, makanya guru-guru keukeuh mempertahankan Dana tetap bersekolah di Tasikmalaya.

“Guru-guruku malah menyakinkan kedua orangtuaku bahwa mereka yang akan membiayai semua keperluan sekolahku jika orangtuaku tidak mampu. Namun orangtuaku tetap menolak dan terus berkeinginan membawa pulang aku ke Jakarta.” Hingga suatu hari ketika Ramadhan, orangtua Dana pun menipu guru-gurunya. Orangtua Dana beralasan bahwa mereka membawa pulang Dana ke Jakarta karena mau anak keduanya ini ber-Hari Raya di sana. Dengan alasan itu, maka guru-guru Dana di sekolah tidak menaruh curiga. Dana pun dibawa pergi dan tidak pernah kembali lagi ke Tasikmalaya.     

“Semua barang-barangku dikemas orangtuaku. Pada hari itu tanpa sempat pamit dengan guru dan teman-teman, aku diboyong pulang ke Jakarta. Sampai di sana orangtuaku malah mengirim aku ke Medan. Aku pun diiming-imingkan akan melanjutkan sekolahku hingga ke jenjang lebih tinggi bila aku mengikuti keinginan orangtuaku itu yang menginginkan aku tinggal dengan paman dan bibiku di sana.”

Dana dititipkan pada pamannya yang bekerja sebagai pelaut. Waktu itu menurut pengakuan Dana, pamannya yang mempunyai istri orang Philipina itu belum lagi mempunyai anak, singkat kata Dana diadopsi sebagai anak angkat. “Bibiku orang Philipina itu malah mengadang-gadangkan aku nanti akan di kuliahkannya ke Philipina. E…jangankan kuliah untuk makan aja aku pun susah, bila aku tidak melakukan pekerjaan rumah. Aku sudah seperti pembantu dibuatnya.”

Cerita Dana, awalnya si bibi bersikap manis, namun ketika paman Dana kerja ke luar kota, ia pun diperlakukan layaknya anak tiri dan pembantu. Kalau Dana tidak menyapu dan membersihkan rumah dengan bersih, si bibi tidak segan-segan memarahi, bahkan tidak memberinya makan. “Aku harus membersihkan rumah hingga tidak ada abu seinci pun. Malah jika paman dan bibiku bertengkar, bibi selalu menjadikan aku ‘kambing hitam’. Katanya akulah penyebab pertengkaran mereka.”

Aku mencoba bersabar. Namun suatu hari, cerita Dana kepada MODUS ACEH, ketika bibinya lagi di kamar mandi, anak bibi yang masih kecil menangis dalam ayunan, waktu itu Dana lagi di kamar jadi ia tidak mendengar. Sambil keluar si bibi marah dengan kata-kata yang menyakitkan. Akhirnya tak tahan Dana pun berkata akan pergi meninggalkan rumah. E…bukan menahan kepergian Dana, si bibi malah dengan kasar menyuruh Dana untuk pergi meninggalkan rumah pamannya itu.

Dari cerita Dana lagi, kalau sang paman adalah tipe suami yang takut istri. Jadi pamannya pun tidak bisa menahan amarah istrinya itu. Dana pun akhirnya pergi meninggalkan rumah dan tinggal di sekolah. Ia kadang-kadang tidur di atas meja di kelas beralaskan koran. Dan atas kebaikan pihak sekolah, akhirnya WC yang belum siap itu pun menjadi kamar tidur bagi Dana kala itu. (bersambung)


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: