Wartawan MODUS ACEH, Hamdhani, Ikhwati dan Fitri Juliana serta kawan-kawan, meraih Mochtar Lubis Award 2010 untuk kategori liputan pelayanan publik. Ketekunan dan kepekaan, menuai prestasi.
Jurnalisa
TAK seperti biasa, Juli Saidi dan beberapa wartawan media ini, Kamis malam lalu, betah di ruang redaksi. Padahal, jadwal tenggat waktu (deadline) belum dimulai dan berlangsung.
Sesekali, matanya tertuju ke jam dinding yang terpasang di sudut ruangan. Lalu, beralih ke salah satu situs berita nasional. Persis pukul nol-nol. “Nah, ini dia hasil pemenangnya. Alhamdulillah, berhasil. Kita mendapat Mochtar Lubis Award 2010,” teriak Rizki Adhar, sambil tersenyum. Juli beranjak ke kursi Rizki. Dia membalas kegembiraan tadi.
Pantas saja, sejak sore hari, Rizki yang juga sekretaris redaksi media ini tak beranjak dari depan komputer. Bersama Juli Saidi, dia enggan buka mulut. Makanya, begitu dia bersuara, langsung memancing perhatian awak di redaksi. “Sejak sore saya terus memantau hasil pengumuman dari panitia,” sebut Rizki.
Inisiatif itu sengaja dilakukan Rizki dan Juli Saidi. Maklum, pimpinan redaksi media ini, Muhammad Saleh dan Hamdani tak hadir ke Jakarta. Malam itu juga, Rizki memberitahu kabar gembira tersebut kepada Hamdani dan kawan-kawan di redaksi. “Syukur dan Alhamdulillah,” sebut Hamdani, singkat.
Seperti disampaikan Panitia Mochtar Lubis Award 2010 dan berita di sejumlah media cetak nasional. Untuk tahun ini, panitia Mochtar Lubis Award, menerima 233 karya dari 5 kategori dan 7 proposal fellowship. Hasilnya, Kamis (22/7) sore lalu, telah ditetapkan para juara.
Sebelumnya, dari total 233 karya yang masuk, para juri memilih 32 karya yang masuk kategori berita berkaitan dengan pelayanan publik, 69 karya feature, 63 karya foto jurnalistik, 27 karya investigasi, dan 21 karya liputan mendalam bagi wartawan televisi.
Yang menarik, Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) Jakarta, selaku penyelenggara, menetapkan juara kembar untuk kategori berita terkait pelayanan publik yaitu:
Muchamad Nafi dan kawan kawan dari Majalah Tempo dengan karya berjudul "Jebol Fulus di Jalur Busway" edisi 22 Juni 2009 serta Hamdani dan kawan-kawan dari Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH dengan karya berjudul: "Rupiah Dikejar Limbah Terlupakan" yang termuat pada edisi 9-15 November 2009.
Untuk kategori penulisan features, juri juga memutuskan untuk dua juara kembar yaitu: Mohammad Iqbal dari Batam Pos dengan karya berjudul "Doa dalam Sepotong Kaos Bola" edisi 24 Januari 2010
dan Yunas Santhani Azia dari The National Geographic Indonesia dengan karya berjudul "Jalan Menuju Bintang" dimuat Mei 2010
Sedangkan untuk kategori foto jurnalistik, juri memberikan penilaian tertinggi kepada Septiawan fotografer Sinar Harapan dengan karya berjudul "Priok Berdarah" edisi 14 April 2010 serta Harianto fotografer Media Indonesia dengan karya berjudul "Wisata Derita Sidoarjo" edisi 30 Mei 2010.
Untuk kategori laporan mendalam bagi wartawan televisi dimenangkan Veronika Vervy Puspitasari, jurnalis TPI dengan karya berjudul "Seafood Berpewarna dari Teluk Jakarta" disiarkan 6 Juni 2010.
Pimpinan Redaksi Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH, Muhammad Saleh mengatakan. Apa yang diraih Hamdani dan kawan-kawan, merupakan bukti nyata dari kepekaan dan ketekunan dari seorang jurnalis dalam memahami kondisi serta situasi di sekitarnya. “Dari sanalah ide dan gagasan itu lahir, untuk kemudian kita tuangkan dalam bentuk liputan yang tajam, terpercaya, mendalam serta independen. Tentunya, dengan tetap memihak publik,” kata Saleh.
Menurut Saleh, prestasi seperti ini bisa diraih (wartawan) siapa saja, asalkan serius serta yakin dalam bertugas dan menjalankan profesi. “Itu sudah kita buktikan bersama-sama selama dua tahun berturut-turut (2008-2009) untuk jenis lomba serupa di Adiwarta Sampoerna Award,” ungkap Saleh.
Kata Saleh, perolehan anugerah atau prestasi ini, merupakan kebanggaan. Sebab, ditengah munculnya berbagai kritik dari publik terhadap liputan media cetak yang cenderung tendensius serta tidak independen, MODUS ACEH justeru berhasil tampil dengan penghargaan yang membanggakan dan idaman setiap jurnalis. “Biarlah fakta yang berbicara. Biarlah orang yang menilainya. Kita tetap rendah hati dan berada di jalur kredo jurnalisme jalan tengah,” ujarnya.
Memang, tahun 2008 lalu, MODUS ACEH, juga meraih predikat atau anugerah Adiwarta Sampoerna Award untuk liputan investigasi politik yang dilaksanakan PT HM Sampoerna Tbk, Jakarta. Tahun 2009, liputan hukum tampil sebagai finalis di ajang perlombaan serupa. “Mudah-mudahan, untuk tahun ini, trophy Adiwarta dapat kembali kita boyong ke Banda Aceh. Insya Allah,” kata Saleh bersemangat.
Perhelatan di bidang karya jurnalistik bertajuk Mochtar Lubis Award 2010 ini, merupakan yang ketiga kalinya. Tahun ini, karya yang masuk ke panitia juga hasil karya para jurnalis daerah. "Yang menarik di tahun ini, wartawan-wartawan terbaik yang datang tidak hanya dari Jakarta, tapi juga banyak yang dari daerah," kata Direktur Program Mochtar Lubis Award, Ignatius Haryanto, saat membuka malam penghargaan tersebut, Kamis (22/7/2010), di Hotel Santika, Jakarta.
Mantan kontributor The New York Times itu menyatakan, kondisi ini sangat menggembirakan. Karena itulah, ia berharap Mochtar Lubis Award dapat membawa suatu kompetisi sehat antar wartawan di negeri ini. Hasil terbaik dari karya jurnalistik ini juga dikembalikan pada publik juga.
Di dalam deretan finalis Mochtar Lubis Award 2010 terdapat beberapa jurnalis daerah yang masuk seperti dalam kategori Berita Pelayanan Publik ("Rupiah Dikejar Limbah Terlupakan" di Tabloid MODUS ACEH), Features ("Doa dalam Sepotong Kaos Bola" di harian Batam Pos), dan dua proposal lapoan jurnalistik dalam Mochtar Lubis Fellowship yang berasal dari wartawan Pos Metro (Jambi) dan Pikiran Rakyat (Jawa Barat). "Acara Mochtar Lubis Award ini mudah-mudahan bisa menjadi tolak ukur keberhasilan pers kita di Tanah Air," ujar Ignatius.
Sekedar mengulang saja, 2010 adalah tahun ketiga Mochtar Lubis Award dilaksanakan. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memacu prestasi para wartawan di Indonesia untuk menghasilkan karya-karya jurnalistik terbaik yang berguna untuk kepentingan publik.
Mochtar Lubis Journalism Award merupakan penghargaan untuk pencapaian tertinggi jurnalisme di Indonesia. Penghargaan ini merupakan upaya meningkatkan kualitas jurnalisme Indonesia melalui pemberian insentif atas jurnalis-jurnalis yang berprestasi.
Mochtar Lubis Journalism Award bertujuan untuk menunjukkan kepada publik karya-karya jurnalistik terbaik Indonesia dari tahun ke tahun. Penghargaan ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan prestasi jurnalisme yang merupakan bagian tak terpisahkan dari proses demokratisasi di Indonesia.
Pelaksanaan penghargaan ini dilakukan lewat dua kegiatan: pemberian penghargaan (award) berupa uang tunai kepada karya jurnalistik bermutu tinggi, dan pemberian fellowship selama 4 (empat) bulan untuk pengerjaan karya jurnalistik investigatif yang akan diterbitkan sebagai buku
Mochtar Lubis (dilahirkan tanggal 7 Maret 1922 di Padang, meninggal tanggal 2 Juli 2004 di Jakarta) adalah seorang jurnalis dan pengarang ternama asal Indonesia.
Sejak zaman pendudukan Jepang ia telah dalam lapangan penerangan. Dia turut mendirikan Kantor Berita ANTARA, kemudian mendirikan dan memimpin Harian Indonesia Raya yang telah dilarang terbit. Dia mendirikan majalah sastra Horizon bersama-sama kawan-kawannya.
Pada waktu pemerintahan rezim Soekarno, ia dijebloskan ke dalam penjara hampir sembilan tahun lamanya dan baru dibebaskan pada tahun 1966. Pemikirannya selama di penjara, ia tuangkan dalam buku Catatan Subversif (1980). Pernah menjadi Presiden Press Foundation of Asia, anggota Dewan Pimpinan International Association for Cultural Freedom, dan anggota Federation Mondial pour le Etudes sur le Futur.
Novelnya, Jalan Tak Ada Ujung (1952 diIngriskan A.H. John menjadi A road with no end, London, 1968), mendapat Hadiah Sastra BMKN 1952; cerpennya Musim Gugur menggondol hadiah majalah Kisah tahun 1953; kumpulan cerpennya Perempuan (1956) mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955-1956; novelnya, Harimau! Harimau! (1975), meraih hadiah Yayasan Buku Utama Departeman P & K; dan novelnya Maut dan Cinta (1977) meraih Hadiah Sastra Yayasan Jaya Raya tahun 1979. Selain itu, Mochtar juga menerima Anugerah Sastra Chairil Anwar (1992).
Penggunaan nama Mochtar Lubis sebagai upaya mengenang perjuangannya dalam mengedepankan pers independen yang lepas dari pengaruh kekuasaan mana pun. Mochtar Lubis pernah memimpin Harian Indonesia Raya yang sempat dibredel akibat pemberitaan aksi protes mahasiswa di Jakarta atas kedatangan PM Jepang. Kasus tersebut menunjukkan bagaimana Indonesia Raya di bawah Mochtar Lubis memilih mati daripada harus tunduk pada kekuasaan.***
Penyerahan Mochtar Lubis Award/dok atau cari photo yang sesuai dengan web
Boks:
Finalis Mochtar Lubis Award 2010
Fotojurnalistik
- "Berebut Air di Rusunawa" oleh Ramdani - Media Indonesia (24 Januari 2010)
- "Forgotten" oleh Yudhi Sukma Wijaya - The Jakarta Globe (9 Juli 2009)
- "Ketika Murka Bicara" oleh Tony Hartawan - Koran Tempo (15 April 2010)
- "Priok Berdarah" oleh Septiawan - Sinar Harapan (14 April 2010)
- "Wisata Derita Sidoarjo" oleh Hariyanto - Media Indonesia (30 Mei 2010)
Liputan Mendalam
- "Dibuang Sayang Penyakit Menyerang" oleh Ade Nurul Fuad - TPI (30 Mei 2010)
- "Jajanan Digigit, Penyakit Menjangkit" oleh Ade Nurul Fuad - TPI (18 April 2010)
- "Kukang di Ujung Kepunahan" oleh Rahmawati - TVONE (18 Desember 2009)
- "Mereka Memanggilku Amoi" oleh Mukhammad Nur Handoyo Putro - TVONE (20 Maret 2010)
- "Seafood Berpewarna dari Teluk Jakarta" oleh Veronika Hervy Puspitasari - TPI (6 Juni 2010)
Fellowship
- "Membongkar Sindikat Perburuan dan Perdagangan Harimau Sumatera TNKS" oleh Muhamad Usman, Posmetro Jambi
- "Para Pemburu Air: Kesalahan Pengelolaan Air Bersih di Kota Bandung dan Dampak Sosial yang Diakibatkannya" oleh Zaky Yamani, Pikiran Rakyat
- "Siapa yang Mencuri Ayat Rokok di UU Kesehatan" oleh Istiqomatul Hayati & Wahyu Dhyatmika, Koran Tempo
Pelayanan Publik
- "Praktek Ilegal Upah Pungut", oleh Bagja Hidayat - Majalah Tempo (1 November 2009)
- "Duit Pengikat Buat Pejabat" oleh Irwan Andriatmanto - Majalah Gatra (20 Januari 2010)
- "Tabung Melon Pencabut Nyawa" oleh Taufik Alwie - Majalah Gatra (12 Mei 2010)
- "Jebol Fulus Di Jalur Busway" oleh Muchamad Nafi - Majalah Tempo (22 Juni 2009)
- "Rupiah Dikejar Limbah Terlupakan" oleh Hamdani SE - Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH (9-15 November 2009)
Features
- "Goresan Ongge di Kombou Velle" oleh Arifuddin Kunu - Koran Tempo Makasar (25 Mei 2010)
- "LUBe, Demokrasi Gaya Papua" oleh Aryo Wisanggeni G - Harian Kompas (10 Juli 2009)
- "Doa dalam Sepotong Kaos Bola" oleh Mohammad Iqbal - Harian Batam Pos (24 Januari 2010)
- "Candi Agung di Tubir Danau" oleh Rieska Wulandari - The National Geographic Indonesia (edisi Maret 2010)
- "Jalan Menuju Bintang" oleh Yunas Santhani Azia - The National Geographic Indonesia (edisi Mei 2010)
- "Lelaki dengan Tujuh Perkara" oleh Bambang Sulistyo - Majalah Gatra (9 Desember 2009)
Investigasi
- "Pondok Bambu Rasa Istana" oleh Budi Riza - Majalah Tempo (11 Januari 2010)
- "Mafia di Gerbang KPK" oleh Yuliawati - Majalah Tempo (8 Maret 2010)
- "Terungkap, Korupsi Tiket Diplomat" oleh Anton Septian, Muhammad Nur Rochmi - Koran Tempo (11-13 Feb, 17,18,19, 20 Feb, 1 Maret 2010)
- "Bantuan Sosial Diduga Diselewengkan" oleh Ichsan Amin - Koran Tempo Makassar (26 April - 5 Juni 2010).***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |