Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:49
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 35 Tahun VII | Rabu, 23 Desember 2009 Jam 11:07
Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda

Masih Sebatas Simbol dan Nama Besar

Shaleh L.Seumawe dan Fitri JulianaSudah dibaca sebanyak 235 kali.

Garuda Indonesia, di Bandara Sultan Iskandar Muda.
MODUS ACEH | Rizki Adhar
Garuda Indonesia, di Bandara Sultan Iskandar Muda.
Ditengah padatnya aktivitas, maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, malah mengurangi volume penerbangan. Dari dua atau bahkan tiga kali, menjadi satu kali dari dan ke Banda Aceh. Pemerintah Aceh dan wakil rakyat hanya bisa diam.

Hujan ringan turun di bumi Serambi Mekkah sekitar 15 menit sebelum Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Bandara Sultan Iskandar Muda, Kamis, 6 Agustus 2009 lalu. Podium tempat SBY pidato terpaksa dipindahkan ke lokasi yang tertutup tenda. Semula, podium itu berada di lokasi terbuka di seberang tenda tempat undangan.

Begitu hujan turun petugas langsung menyelamatkan podium dengan membungkus microfon dengan kantung plastik. Ketika itu, jam menunjukkan sekira pukul 10.00 WIB. SBY sendiri masih berada di ruang VIP. Begitupun, bandara yang menelan dana sekitar Rp 600 miliar lebih ini terlihat sangat menonjolkan nuansa Islami.

Bandara ini dibangun dengan nilai investasi Rp 125 miliar yang berasal dari dana internal Angkasa Pura II. Selanjutnya, Rp 478 M dari Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR NAD-Nias). Pengembangan Bandara ini meliputi gedung terminal penumpang baru, memperpanjang landasan pacu, memperluas apron atau parkir pesawat, dan membangun tower atau menara.

Kehadiran SBY untuk ketiga kalinya (baik saat menjadi menteri maupun Presiden RI—red) ketika itu, sekaligus merubah wajah Bandara Sultan Iskandar Muda. Dari rute penerbangan domestik (nasional) menjadi bandara internasional. Pengukuhan ini, disaksikan Direktur Garuda, Emirsyah Satar, Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal, Panglima TNI, Jenderal Djoko Santoso, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik.

Ibarat gadis cantik. Paska bencana tsunami dan konflik. Aceh diharapkan kembali berhias diri dan menampilkan daya tarik. Salah satunya, melalui bandara sebagai pintu masuk lalulintas udara. Maklum sajalah, gempa dan tsunami, 26 Desember 2004 silam, diikuti dengan program rehabilitasi dan rekonstruksi, Aceh menjadi wilayah tanpa batas.

Setiap hari, ratusan penumpang dari berbagai negara dan daerah, datang ke Aceh. Keperluannya tentu macam-macam. Dari urusan pemerintahan, bisnis hingga politik atau hanya sekedar berwisata, melihat sisa-sisa bencana tsunami yang masih tertinggal. “Saya senang tinggal di Aceh. Selain bekerja di NGO, saya juga menikmati indahnya Aceh, terutama Calang dan Sabang, kata Edward, seorang warga Amerika Serikat kepada media ini, sesaat hendak pulang ke negaranya.

Pendapat serupa juga dilontarkan Hamzah bin Abdul Razak, seorang pelancong dari negeri jiran Malaysia. “Saya kira, antara Aceh dan Malaysia punya sejarah serumpun yang kuat. Makanya, saya bawa istri dan anak ke Aceh untuk melancong. Saya lihat, Aceh punya prospek bagus untuk bisnis wisata. Saya sudah ke Sabang,” kata Hamzah.

Bisa jadi, karena peluang inilah, Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air serta Air Asia termasuk beberapa maskapai penerbangan swasta lain, membuka rute ke Aceh. Terutama, tahun-tahun pertama proses rehab-rekon Aceh. Sayangnya, begitu arus penumpang mulai redup, sejalan dengan berakhirnya tugas BRR NAD-Nias, beberapa maskapai tadi, memilih hengkang dari Aceh. Tinggallah empat maskapai tadi.

Untuk meraup rupiah, Garuda Indonesia dan Lion Air, membuka jadwal dua kali penerbangan, pagi dan sore. Sementara Sriwijaya hanya sekali penerbangan pada siang hari. Sementara Air Asia khusus melayani rute Aceh-Kuala Lumpur.

Tak jelas, apakah secara bisnis, rute tadi menguntungkan, yang pasti, hampir saban hari tak ada seat atau kursi yang kosong. “Ya, kalau hari-hari biasa, lebih murah naik pesawat ke Medan atau Jakarta dari pada naik bus. Waktunya lebih singkat,” kata Hamid, salah seorang penumpang kepada media ini.

Memang, untuk hari-hari biasa, diluar libur dan hari besar nasional seperti Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru atau masa libur sekolah. Harga tiket Banda Aceh-Jakarta hanya berpatok pada kisaran Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta untuk kelas ekonomi (pesawat Garuda). Sementara Lion dan Sriwijaya pada kisaran Rp 600 ribu. Jika hari libur, harganya melonjak bisa mencapai Rp 1.800 ribu. Kalau melalui calo, bisa Rp 2 juta untuk kelas ekonomi. Jangan tanya kelas bisnis, bisa Rp 4 juta.

Surutkah minat penumpang? Inilah yang menarik. Walau harga tiket selangit. Tetap saja minat penumpang untuk menggunakan jasa penerbangan tinggi, kalau tak elok disebut besar. Lihat saja, selain warga lokal, seat pesawat masih dinominasi sebagian besar para penumpang warga negara asing yang masih bekerja atau beraktivitas di Banda Aceh. Selain itu, beberapa pengusaha nasional dan internasional, yang berminat menanamkan investasinya di Aceh. Belum lagi, warga Aceh yang pergi ke Kuala Lumpur dan Penang, untuk tujuan berobat atau liburan.

Nah, diam-diam, Pemerintah Aceh mengatur siasat. Ibarat pepatah, sambil menyelam minum air. Status Bandara Sultan Iskandar Muda pun didongkrak. Dari penerbangan domestik (dalam negeri) menjadi bandara internasional. Berbagai prasyarat dipenuhi, termasuk fasilitas gedung, lantasan pacu serta berbagai aksesoris lainnya. Puncaknya, penetapan status tadi dikukuhkan langsung Presiden  SBY.

Faktanya? Seperti lazim terjadi, tak selalu manis atau seindah aslinya. Kendati berstatus sebagai bandara Internasional. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) masih terkesan seperti bandara domestik. Itu terlihat dari perawatan yang mulai minim, khususnya kamar perawatan mandi, ruang yang kosong. Belum lagi volume penerbangan dari dan ke luar negeri yang hanya dilakukan Air Asia. Kalau pun ada, hanya penerbangan jamaah haji, setahun sekali. Di sinilah sebenarnya, peran pemerintah daerah dituntut untuk lebih peduli.

Hanya itu? Tunggu dulu. Seakan lupa pada sejarah. Maskapai Garuda Indonesia yang lahir dari modal perjuangan rakyat Aceh, justeru mengambil langkah ekstrim. Untuk sementara mengurangi aktivitas penerbangannya (flight) dari dan ke Aceh. Dari skedul sebelumnya sebanyak dua kali sehari menjadi satu kali. Informasi itu disampaikan General Manager Garuda Indonesia, Banda Aceh, Banjari Suhardi, kepada pers, Rabu (16/12).

Dia mengaku menerima kabar tersebut dari kantor pusat Jakarta pada akhir November 2009 lalu. “Skedul penerbangan Garuda untuk sementara dikurangi dari dua kali sehari menjadi satu kali untuk periode Desember 2009,” kata Banjari.

Menyikapi hal tersebut, pihaknya kemudian menyampaikan pengurangan frekwensi flight itu kepada mitra usaha travel agent dan pelanggan lainnya. Di saat bersamaan, juga disampaikan surat kilat (telex) ke kantor pusat untuk meminta agar skedul penerbangan tidak dikurangi.

Dalam surat telex tersebut, ada tiga alasan utama mengapa dirinya meminta skedul penerbangan dari dan ke Aceh dipertahankan, yakni mobilitas pimpinan dan karyawan Pemerintah Daerah Aceh dalam tugas dan kunjungan kerja yang naik cukup tinggi di akhir tahun, peringatan lima tahun tsunami, serta beberapa acara kesenian dan seminar.

“Permintaan kami tersebut sampai awal Desember belum dipenuhi, dan menurut Kantor pusat, memang ada beberapa kondisi yang sangat memaksa terjadi pengurangan skedul. Selain rute Aceh, juga ada 22 rute penerbangan dari tujuh destinasi yang terpaksa dikurangi,” jelasnya. Pengurangan skedul tersebut tambah dia, bahkan juga terjadi pada rute yang sangat padat, mengingat sejumlah daerah merayakan Natal dan Tahun Baru.

“Karena belum dipenuhi, kami mencoba melakukan komunikasi dan minta perhatian ke pusat agar paling tidak dipenuhi sebagian, yaitu untuk penerbangan langsung dari tambahan 7 kali sehari menjadi ditambah 4 kali sehari,” ucap Banjari. Permintaan kedua ini pun belum membuahkan hasil. Pihaknya lantas melakukan komunikasi kembali ke pusat untuk bisa dipertimbangan penambahan pada beberapa hari menjelang peringatan tsunami, pasca acara dan menjelang Tahun Baru .

Banjari mengaku, pihaknya sampai saat ini masih terus melakukan komunikasi ke Garuda pusat untuk bisa diberikan tambahan skedul yang telah diminta. “Atas kondisi tersebut kami mohon maaf sebesar-besarnya karena dengan pengurangan tersebut akan mengurangi kenyamanan pelanggan setia di Aceh,” ucap Banjari Suhardi.

Sebenarnya, putusan yang tidak bijak dari pimpinan Garuda Pusat itu, bukan tahun ini saja terjadi. Hampir setiap akhir tahun selalu berulang. Akibatnya, tentu konsumen atau masyarakat yang dirugikan. Itu disebabkan, harga tiket yang naik beratus kali lipat. “Saya terpaksa beli juga walau harganya tiga kali lipat. Sebab, harus berobat ke Jakarta,” kata Anissa, seorang penumpang. “Kalau saya sih tidak ada masalah, sebab dibayar kantor. Tapi, kenaikan harga tanpa kontrol seperti ini, jelas merugikan konsumen,” kata Jamal (samaran), seorang staf di Sekretariat Pemerintah Aceh.

Bagi yang berkantong tebal atau pejabat pemerintah, tentu tak soal. Jangankan seratus kali lipat, seratus ribu lipatan pun tak masalah. Sebab, mereka difasilitasi oleh negara. Sebaliknya, bagi warga biasa, tentu sangat memberatkan. Belum lagi soal antrean seat.

Kalau begitu, di mana letak keunggulan dan nama besar Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda sebagai bandara internasional, jika maskapai Garuda Indonesia saja hanya sekali terbang dari dan ke Banda Aceh? Bukankah kebijakan itu bisa disebut sebagai penghinaan dan pelecehan terhadap sejarah dan rakyat Aceh? Sayang, kondisi ini tak membuat Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dan kalangan DPR Aceh, gerah. Setidaknya, mendukung permohonan Manager Garuda Banda Aceh, meminta penambahan jadwal penerbangan dari dan ke Banda Aceh seperti jadwal normal sebelumnya. Entahlah.***

Sekilas Bandara Internasional SIM
Bandara yang berlokasi 55 kilo meter dari Kota Banda Aceh ini menjadi bagian terpenting bagi masyarakat Aceh pada saat bencana tsunami melanda daerah ini, 26 Desember 2004. 

Karena berlokasi di datararan yang lebih tinggi dari kota, bandara ini selamat dari bencana dan menjadi pusat lalu lintas seluruh bantuan dan relawan yang datang ke Aceh. 

Bandara Sultan Iskandarmuda menempati areal seluas 115,96 hektar dengan gedung terminal sebesar 1.928 m2.  Karena dinilai tidak lagi mencukupi arus penumpang yang bertambah banyak, saat ini telah dibangun terminal baru di atas lahan seluas 2 hektar dengan luas gedung 600 m2.   Adapun terminal dan gudang-gudang alam akan dibongkar dan lahannya dijadikan apron. 

Terminal baru ini sanggup menampung kurang lebih 800 penumpang per hari yang sebelumnya hanya 300 penumpang per hari.  Terminal ini terdiri dari 3 lantai; lantai dasar untuk ruang check in, kedatangan, kargo dan kantor airlines, lantai 2 digunakan sebagai ruang keberangkatan, briefing office dan outlet komersial.  Sementara lantai 3 digunakan untuk ruang AMC dan waving gallery.

Saat ini, terdapat satu executive lounge, Garuda bagi para penumpang yang menunggu keberangkatan pesawat.  Terdapat pula dua restauran di ruang tunggu dan 3 lainnya di lobby luar. Bandara ini juga dilengkapi tiga toko yang menjual souvenir dan dua toko yang menjual makanan ringan. Selain itu, landasan pacu diperpanjang dari 2.500 m menjadi 3.000 m, sehingga mampu menampung pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747. Terminal baru ini dilengkapi dengan belalai/garbarata sebanyak 2 unit dan ditempatkan di kedua sisi gedung.


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: