TABLOID BERITA MINGGUAN MODUS ACEH MENGUCAPKAN SELAMAT MENUNAIKAH IBADAH PUASAclose
MODUS ACEH MODUS ACEH

Senin, 06 September 2010 Jam 18:21
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

Edisi 30 Tahun VII | Rabu, 18 Nopember 2009 Jam 01:16
Kilas Balik

Napak Tilas Brimob Aceh

Rizki AdharSudah dibaca sebanyak 729 kali.

BRIMOB dikenal dengan Mobile Brigade (Mobbrig) merupakan satuan elit polisi. Karena didukung dengan persenjataan lengkap dan memiliki pasukan dalam jumlah besar. Mobbrig Aceh pertama sekali dibentuk tahun 1947, pembentukan ini atas saran Residen Aceh.

Data dan informasi yang diperoleh MODUS ACEH dari Direktorat Humas  Polda Aceh menyebutkan. Kesatuan Brimob Aceh pertama didirikan dalam bentuk Detasemen, dengan personil 47 orang. Komandan Detasemen pertama adalah Poniman. Dialah orang pertama yang menempati Asrama Keudah (Asrama TNI-AD— Keudah sekarang) dan bergabung dengan TBI ex. TKR.

Kondisi Satuan Mobbrig kala itu juga relatif terbatas, namun Mobbrig telah memiliki  persenjataan yang  terhitung memadai. Keberadaan Mobbrig sejak berdirinya hingga memasuki tahun 50-an sudah terlihat eksistensinya dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. Diantara peran yang diperlihatkan Mobbrig Aceh pada tahun 50-an adalah, ketika komandannya dijabat  Muhammad Daim. Diantara momen yang dipercayakan masyarakat pada Mobbrig ketika itu,  ikut menerima penyerahan kedaulatan rakyat daerah Sabang dari sekutu kepada pemerintah Indonesia.

Ketika itu, dengan jumlah 48 personil. Mobbrig yang didukung persenjataan lengkap langsung berhadapan dengan sisa sekutu, Belanda, karena wilayah Sabang setelah proklamasi kemerdekaan RI masih diduduki sekutu, baru kemudian diserahkan kepada Indonesia.

Dalam mewujudkan keamanan dalam negeri, khususnya mengantisipasi pemberontakan DI/TII di Aceh. Djawatan Kepolisian Negara (DKN) menugaskan sejumlah Kompi Mobbrig dari luar Aceh, diantaranya Mobbrig Kompi 5113 Semarang, Kompi Radio 5120 Bandung, Kompi 5165 Cileduk, Jakarta, Kompi 5151 Palembang, dan 5143 serta 7 Kompi Mobbrig dari Medan, termasuk Kompi 5129, dan kompi lainnnya dari Tanjung Balai, Sidikalang.

Seluruh personel  Mobbrig ditugaskan merata ke seluruh Aceh sesuai dengan kebutuhan terutama untuk meredam gejolak pemberontakan DI/TII Pimpinan Tgk.Daud Beureueeh.  Tidak sedikit  prajurit Mobbrig yang gugur dalam penugasan di Aceh dan banyak yang disemayamkan di Taman Makam Pahlawan, Kampung Ateuk Banda Aceh. Sebagai bukti, sejumlah nama prajurit Brimob masih menghiasi tembok Taman Makam Pahlawan tersebut.

Sistim rotasi terus bergulir terutama dalam penugasan Mobbrig ke Aceh untuk meredam pemberontakanm DI/TII yang dipimpinan Tgk. Bereueh. Sejurus itu, pasukan silih berganti. Kompi BKO dialihtugaskan, termasuk penugasan Satuan Mobbrig Kompi 5136 yang sudah ada ditarik ke Jakarta, digantikan dengan Kompi 516.

Komandan Kompi Mobbrig yang dikenal kala itu  adalah Inspektur Polisi Tk.I Siswoyo yang kemudian digantikan Inspektur Polisi Tk I Legiwo (tahun 1952-1954). Tahun 1960 Mobbrig resmi tersusun menurut organisasi yang ditetapkan DKN (Djawatan Kepolisian Negara) dan Mobbrig menjadi Brimob (Brigade Mobil) untuk organisasinya berbentuk komandemen/resimen yang terdiri dari batalyon-batalyon

Brimob Aceh menjadi Batalyon 515 Rencong Sakti sebagai bagian dari Brimob Komandemen V Sumut/Aceh, kemudian berubah menjadi Resimen V Brimob Sumut/Aceh dengan Danyon Ajun Komisaris Polisi (AKP) Muhammad Daim.

Batalyon 515 terdiri dari tiga Kompi, 5164 disebut Kompi A dengan Danki Inspektur Tk-II Ahmad Sulaiman. Kompi 5272 (pindahan dari Tanjung Balai) disebut Kompi B dengan Komandan Kompi Inspektur Tk-II Yanis Ibrahim. Kemudian digantikan Inspektur Tk-II Mustafa. Kompi C dengan Komandan Kompi Inspektur TK-I T.B Sukmadi Angkawidjaya, kemudian digantikan Inspektur Tk. II Suryadi

Memasuki tahun 1963, jabatan Komandan Batalyon 515 Rencong Sakti diserahterimakan dari AKP Muhammad Daim kepada AKP Muhammad Djamhur Bratakusumah, dan Inspektur TK-I T.B Sukmadi menjadi kepala staf. Tahun 1965 jabatan Danyon diserahterimakan kepada AKP M. Nur Situmorang, bersamaan dengan meletusnya peristiwa G 30 S/ PKI. Brimob memiliki peran dalam penumpasan pergolakan komunis di Aceh.

Terakhir reorganisasi Brimob terjadi tahun 1971, dari bentuk Batalyon menjadi Satuan. Komandan pertama dijabat Kapten Pol. Drs. Abdul Karim dengan Danki Lettu Pol. Sunarno. Komandan Kompi Lettu Pol. Lukman Djafri. Tahun 1982 jabatan Dansat Brimob diserahterimakan kepada Kapten Pol Drs. Sumadi Mudjiono dengan Komandan Kompi Lettu. Pol SB.Gea.

Memasuki periode 1983, Brimob Aceh  menjadi Kompi BS Tap-02, sementara Komandan  Kompi dijabat Letda. Pol. M. Nasser Amir, Wadanki Letda Pol. Ahmad Banta dan tahun 1984, terjadi lagi perubahan sebutan bagi kompi-kompi  di seluruh Indonesia.

Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol: Skep 552/1983 tanggal 14 November 1983 tentang Likuidasi Satuan Batalyon dan Redislokasi Kompi BS. Di era  tahun 1984 terjadi perubahan atas sebutan kompi-kompi Brimob di seluruh Indonesia dan Kompi Brimob Polda Aceh menjadi Kompi 5164. Itu berarti, kembali kepada nama asal kompi yang pernah ada di daerah masing-masing, mengingat nama kompi tersebut memiliki peran dan jasa dalam meredam gerakan  pemberontakan DI/TII.

Atas perintah Kapolri Jenderal Polisi Anton Sudjarwo tahun 1985, dibentuk kembali Satuan Brimobda Aceh, sekaligus membawahi Kompi 5164. Awal diresmikannnya kembali Satuan  Brimob Polda Aceh, pimpinan Polri mengunjuk Dansat Mayor Pol. Drs. Karmiyun (alm.) dan Komandan Kompi Lettu Pol. Ahmad Banta.

Tahun 1987 jabatan Dansat dijabat Kapten Pol. Rochiyat sementara Danki tetap Lettu Pol. Ahmad Banta.  Menyusul pergantian Dansat di tahun 1988, pejabat lama  digantikan Kapten Pol. Drs. Fajar Prihantoro dan Tahun 1990 menyusul alih jabatan Danki Brimo Aceh kepada Lettu Pol. Drs. Samsul Hidayat.

Memasuki  tahun 1991, Dansat dijabat Mayor Pol. Drs. Suyono yang juga bertindak selaku Dansatgas Operasi Jaring Merah yang berkedudukan di Lhokseumawe. Selanjutnya Dansat   dijabat Kapten Pol. Basroni.  Tahun 1993 jabatan Dansat Brimob diserahterimakan kepada Kapten Pol Basroni, selang empat tahun kemudian, jabatan Dansat serahterimakan kepada Mayor. Pol.Drs. Bambang Waskito.  Dan tahun 1998 atas keputusan Kapolri, kembali terjadi perubahan dan validasi Korps Brimob Aceh sehingga memiliki kompi lebih banyak. Kompi dikembangkan menjadi 4 terdiri dari Kompi A /5164. Kompi B/5272,Kompi C/579 dan Kompi D/9801.

Tahun 1988 Kapolda mengunjuk pejabat sementara   Dansat Brimob Mayor Pol Drs, Suroso Mihardjo sehubungan dengan kelulusan Dansat Brimob Mayor Pol  Drs. Bambang Waskito untuk memasuki Dik Seskoad dan selang tahun 1999, jabatan Dansat Brimob kembali diserahterimakan kepada Mayor. Pol Drs. Amhar Azeth, sekaligus selaku Wadansatgas Yustisi Operasi Sadar Rencong III.

Pada tahun tersebut Polda Aceh menggelar beberapa operasi khusus kepolisian dan Brimob merupakan pendukung utama, diantaranya. Operasi Wibawa. Operasi Sadar Rencong- I. Operasi   Sadar Rencong II. Operasi Sadar Rencong III- 2000. Operasi Cinta Meunasah I,II, dan III. Operasi Gakkum.

Seiring dinamika pelaksanaan tugas yang diemban Sat-Brimobda Aceh dalam mendukung komando, khususnya Polda NAD. Jajaran Sat- Brimob Aceh kembali diserahkan kepada Letkol Pol Drs. Erry Subagio dan pada  tahun 2001 jabatan Dansat kembali diserahkan kepada Ajun Komisaris Besar Drs, Samsul Hidayat. Kemudian berturut – turut dijabat oleh pejabat sementara Kasat Brimobda Kompol Drs. Rio Jambak, kemudian dialihkan kepada   AKBP Drs. Dicky Atotoy.

Pasca tsunami, jabatan Kasat Brimob diserahterimakan kepada Kombes Pol Drs. Adios Salova dan sejak awal tahun 2009 lalu, jabatan Kasat Brimob kembali dialihkan kepada Kombes Pol Drs. Jodi Heriyadi (alm) yang didampingi Wakasat AKBP Drs. Herman Sikumbang. Kini jabatan Dansat Brimobda Polda Aceh dijabat AKBP Drs Hariono.***


Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: