Judi Togel merajalela di Sabang. Aparat Syariat Islam, belum bertindak. Ibarat pasar malam, para pecandu bebas berkeliaran.
Jalaluddin Z. Ky
Kota Sabang tak hanya akrab dengan sebutan: pelabuhan bebas. Kini, kota itu mendapat sebutan baru: kawasan ‘bebas’ praktik judi toto gelap alias togel. Lihat saja, para pecandu judi ini dengan sangat berani dan terang-terangan melakukan transaksi haram tersebut secara terbuka.
Lokasinya pun tak pilih waktu dan tempat. Warung-warung kopi mendadak jadi ‘markas’, dengan menempatkan agen sebagai penerima repas (bon judi-red). Kurang yakin? Jika Anda ke Sabang, singgahlah di beberapa warung. Jangan kaget, praktik judi togel sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat, di sana.
Kenapa begitu bebas? Nah, disinyalir, permaianan judi ini ikut di back-up oknum tertentu. Hasilnya, sebagian warga di kota itu mengaku resah. Tapi apa lacur, aparat penegak hukum, baik dari kepolisian maupun Satpol PP/WH, terkesan memejamkan mata.
Serupa tapi tak sama, begitulah banyak orang menyebutnya. Maklum, para pelakon judi togel di Sabang tak mengenal status. Mulai dari warga kelas bawah hingga oknum pengawai negeri sipil (PNS). Induk semangnya tetap saja warga turunan. Sementara, operasionalnya diberikan kepada warga pribumi. Termasuk beberapa oknum tertentu.
Pantauan MODUS ACEH, judi togel sudah berjalan subur di Pulau Sabang. Padahal, satu tahun lalu peredaran judi ini masih dengan cara-cara sembunyi. Kini, para agen dan pembeli sudah melakukan tranksaksi dengan cara terbuka di tempat-tempat umum. Bila Pemerintah Kota Sabang dan aparat penegak hukum tak cepat mengambil langkah pencegahan, bukan tidak mungkin akan dilakukan kalangan para pelajar.
Sumber MODUS ACEH yang terlibat langsung dalam perdagangan angka judi togel di Sabang mengungkapkan. Kegiatan perjudian tadi di tampung oleh oknum aparat tertentu. Sementara para agen di lapangan juga ada para PNS aktif yang bertugas di salah satu instansi.
Menjelang bulan Ramadhan, para pelaku judi togel tidak menghiraukan suasana keramaian dan cendrung bermain di muka umum. “Faktanya sudah benar-benar diluar batas. Tapi, aparat kok diam saja,” kata sumber tadi.
Sistem yang dilakukan para pemain pun tergolong lumayan mantap, yaitu dengan memanfaatkan fasilitas handphone atau telepon seluler. Bagi para pembeli dapat mengirimkan angka-angka pilihan mereka dengan pesan singkat (SMS). Begitupun, sesekali ada yang mencoret-coret fasilitas umum. Itu sebabnya, masyarakat di Kota Sabang mengaku resah melihat kelakuan para pecandu judi yang tengah marak ini. Dampaknya, bisa menjalar kepada anak di bawah umur bahkan para ibu rumah tangga.
Walaupun Sabang diberlakukan Syariat Islam, namun pihak yang bertugas menjaga jalannya syariat justeru diam seribu bahasa. Bahkan, terkesan menutup mata dengan apa yang terjadi di depannya. Jual beli nomor buntut terjadi hampir di setiap sudut kota.
Selain togel, peredaran minuman keras (miras) juga marak di Sabang. Kisah ini tetap saja miris dan bernasib setali tiga uang. Sebab, belum ada langkah penindakan dari aparat hukum terkait seperti Dinas Syariat Islam. “Harusnya, mereka lebih proaktif menindak para pelaku yang selama ini terang-terangan melakukan aksinya. Termasuk menertibkan penginapan yang ada di Kota Sabang.” Keluh seorang masyarakat yang tak ingin disebut namanya kepada media ini.
“Bayangkan, sekarang sudah bukan pandangan aneh lagi jika banyak penginapan di kota ini yang dihuni atau digunakan anak muda yang disinyalir berbeda jenis dan bukan muhrim.” Ujar warga yang berprofesi sebagai pedagang ini.
Haruskan kondisi ini terus berlanjut, terutama menjelang bulan Ramadhan? Kita tunggu aksi nyata dari para aparat penegak hukum. Ayo siapa berani?***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |