Tabloid Berita Mingguan MODUS ACEH - Jalan T. Panglima Nyak Makam, Kompleks Pertokoan Lambhuk, Banda Aceh.close
MODUS ACEH MODUS ACEH

Minggu, 01 Agustus 2010 Jam 03:48
HALAMAN UTAMA MODUS ACEH
GALLERY PHOTO MODUS ACEH
PROFIL MODUS ACEH
REDAKSI MODUS ACEH
UNTUK KIRITIK DAN SARAN, SILAHKAN HUBUNGI KAMI! KONTAK REDAKSI MODUS ACEH

MODUS ACEH » Daerah » Bireuen
Edisi 41 Tahun VII | Selasa, 2 Februari 2010 Jam 07:06

Saat Nurdin dan Busmadar Pecah Kongsi

SuryadiSudah dibaca sebanyak 155 kali.

Hubungan kolegial dan kedinasan Bupati Bireuen, Nurdin Abdul Rahman dengan wakilnya, Busmadar Ismail, diisukan sedang retak. Pemicu utama, persoalan mutasi pejabat.

Aura perpolitikan di Kabupaten Bireuen semakin panas. Bayangkan, belum lagi persoalan “penyakit” defisit anggaran yang tak kunjung pulih. Disusul pula masalah hasil pemeriksaan BPK-RI Perwakilan Banda Aceh tahun 2008. Hasilnya, ada kas bon Rp 26 miliar dan tunggakan pajak Rp 15 miliar lebih di Pemkab Bireuen.

Persoalan tersebut belum terselesaikan hingga saat ini. Akibatnya, DPRK setempat membentuk Panitia Khusus (Pansus). Tujuannya, untuk menelusuri temuan tak elok tadi. Kini, berembus kabar teranyar, hubungan kolegial dan kedinasan antara Bupati Nurdin Abdul Rahman dengan Wakil Bupati Busmadar Ismail, sedang mengalami keretakan.

Sebenarnya, desas-desus merenggangnya hubungan Nurdin-Busmadar sudah terasa sekitar beberapa bulan lalu. Tapi persoalan itu baru mengemuka dan menjadi rahasia umum sejak sebulan terakhir. Persisnya, sejak Bupati Nurdin melakukan mutasi secara dadakan enam pejabat struktural di lingkungan Pemkab Bireuen, Rabu, 30 Desember 2009.

Bertempat di ruang kerjanya, hari itu Bupati Nurdin melantik dan mengambil sumpah enam pejabat Eselon II dan III. Kabarnya, dalam mutasi pejabat tersebut, Nurdin tidak berkoordinasi dengan Busmadar. Hal ini membuat Busmadar agak tersinggung. Apalagi kemudian dia mengetahui, ada beberapa pejabat yang tergolong orang dekatnya, ikut tersingkirkan dalam mutasi tersebut.

Busmadar agak kesal, karena ada di antara mereka, dulu dia yang menempatkan dan mempertahankan pejabat tersebut di posisi strategis. Makanya, ketika tiba-tiba Nurdin mendepak mereka ke posisi lain, tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan dirinya, Busmadar kurang bisa menerima.

Kedongkolan atas sikap Nurdin itu, dapat terbaca dari keengganan Busmadar menghadiri acara mutasi hari itu. Padahal Busmadar ada di tempat.

Herannya, Nurdin bagai tidak peduli dan merasa tidak melakukan sesuatu yang telah membuat Busmadar kesal atas kebijakannya tadi. Mantan salah seorang konseptor perjanjian damai RI-GAM itu, bersikap biasa saja. Tak lama berselang, dia kembali meng-reshuffle kabinetnya, Senin, 11 Januari lalu. Hari itu, bertempat di Aula Setdakab Bireuen, Nurdin melantik 27 pejabat struktural di berbagai tingkatan dalam lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bireuen.

Dalam mutasi hari itu, Busmadar tidak hadir juga. Padahal ketika itu dia juga ada di tempat. Tidak diketahui dengan pasti, kenapa hari itu Busmadar tidak menemani Nurdin, sebagaimana lazimnya kalau dia tidak berhalangan. Yang tersirat, sama halnya dengan mutasi sebelumnya. Diduga, Busmadar tidak mau menghadirinya, karena Nurdin tidak berkompromi dengan dirinya dalam mutasi kali ini.

Busmadar tentu saja sewot. Dengan tidak dilibatkan dalam penyusunan kabinet pemerintahan mereka itu, berakibat sejumlah pejabat yang selama ini dikenal sebagai orang dekatnya, terdepak dan kehilangan jabatan. Salah seorang diantaranya Yusri, S.Sos, M.Si, yang sebelumnya menjabat Kepala Dinas Pendidikan, dimutasi menjadi Staf Ahli Bupati Bidang  Pembangunan dan Kerjasama Antar Lembaga. Nurdin menempatkan Drs. Asnawi, M.Pd, menggantikan posisi Yusri di jabatan tersebut.

Selama ini, Yusri dikenal sebagai salah seorang pejabat yang cukup berpengaruh di jajaran Pemkab Bireuen. Sebelumnya, Yusri merupakan salah seorang tim sukses pasangan Nurdin-Busmadar saat menuju pucuk pimpinan daerah itu dalam pilkada lalu. Dia juga dikenal punya hubungan kedekatan dengan Busmadar. Selain itu, dia juga termasuk salah seorang yang ikut menentukan penempatan pejabat di lingkungan Pemkab Bireuen pada posisi tertentu.

Makanya, begitu diangkat menjadi Kadis Pendidikan Kabupaten Bireuen sejak Oktober 2007, posisinya cukup kuat di jabatan tersebut. Beberapa kali demo besar-besaran terkait beberapa kasus di Dinas Pendidikan yang dipimpinnya, namun Yusri tidak tergoyahkan sedikit pun.

Bahkan, Bupati Nurdin sendiri sudah beberapa kali melakukan mutasi dan hendak menempatkan ‘jagoannya’ tadi, Drs. Asnawi, M.Pd, untuk menggantikan Yusri, tapi selalu gagal. Penyebabnya, karena di belakang Yusri ada tangan kuat Busmadar yang mem-back up-nya.

Nah, baru kali ini hasrat Nurdin kesampaian. Setelah dia nekad mengambil kebijakan sendiri. Begitu juga dengan jabatan-jabatan basah lainnya, kebanyakan Nurdin menempatkan orang yang selama ini dikenal lebih dekat dengan dia. Sementara pejabat dari kubu Busmadar semakin terpinggirkan.  

Yang bikin penasaran, kenapa kali ini Nurdin begitu berani mendepak orang-orang Busmadar dari jabatan strategis? Kemudian, kenapa Nurdin, terkesan berjalan sendiri dan tidak mau berkoordinasi dengan Busmadar dalam mutasi? Adakah keretakan hubungan di antara mereka? Itulah pertanyaan yang masih berselimut misteri sampai sekarang.

Untuk menjawabnya secara pasti memang bukan suatu hal yang gampang. Sebab, mereka berdua sama-sama membantahnya. Terutama soal dugaan keretakan hubungan kolegial dan kedinasan. Kedua tampuk pimpinan Kabupaten Bireuen itu mengaku, tidak ada masalah prinsipil di antara mereka. Hubungan keduanya masih berjalan normal dan akur-akur saja.

Kepada wartawan, Minggu, 23 Januari lalu, Bupati Nurdin Abdul Rahman menepis isu yang berkembang tentang keretakan hubungannya  dengan Wakil Bupati (Wabup) Busmadar Ismail. Nurdin menyatakan, hubungannya dengan Busmadar masih tetap harmonis. Meskipun diakuinya, dalam rapat-rapat atau diskusi terkadang ada perbedaan pendapat di antara mereka. “Kadang-kadang suara saya dalam berbicara lebih keras atau sebaliknya, tapi itu bukan suatu masalah,” kata Nurdin.

Dijelaskan Nurdin, perbedaan pendapat itu tidak berdampak buruk terhadap kinerja pemerintahan di Kabupaten Bireuen. Sebab, kata dia, semuanya berjalan on the track (pada jalurnya). “Perbedaan pendapat itu wajar dan mungkin dapat menjadi rahmat bagi kita semua.” kata Nurdin, bak petuah seorang mubaligh.

Bantahan hampir sama juga dikemukakan Busmadar Ismail. Dia mengakui, isu yang berkembang tentang hubungan kolegialitas dan kedinasannya dengan Bupati Nurdin memang sangat beragam. Tapi, menurut Busmadar, sebenarnya tidak ada masalah yang krusial di antara mereka. “Hubungan kami masih tetap baik dan tidak ada masalah sama sekali,” bantah Busmadar.

Terkait mutasi pejabat di Pemkab Bireuen beberapa waktu lalu yang tidak dilibatkan dirinya, Busmadar menjelaskan, mutasi itu merupakan hak penuh Bupati. Bagi dia, hal itu tidak masalah, jika tidak diikutkan dalam pergantian atau peremajaan pejabat di lingkungan Pemkab Bireuen.

Tentu, itu hak mereka membantahnya. Sebab, mustahil pula mereka mengakuinya, walaupun hal tersebut benar adanya. Tapi secara kasat mata dan realita di lapangan tak dapat disembunyikan. Logikanya, tak mungkin ada asap kalau tidak ada api. Dan asap itu sebenarnya sudah beberapa waktu lalu mengepul. Cuma baru kelihatan dan terasa benar  belakangan ini.  

Hasil penelusuran MODUS ACEH diketahui, penyebab Nurdin bersikap tidak mau kompromi dengan Busmadar dalam mutasi pejabat kali ini. Masalahnya begini. Sekitar awal Desember 2009 lalu, Busmadar telah melakukan hal yang hampir sama seperti yang dilakoni Nurdin sekarang. Waktu itu, diam-diam Busmadar melakukan mutasi fungsional di jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Bireuen.

Melalui Surat Keputusan (SK) yang ditandantanganinya, diduga Busmadar telah memutasi sekitar 33 Kepala SMP dan SMA dalam Kabupaten Bireuen. SK pengangkatan dan penempatan mereka hanya diteken Wabup dan tidak ditandatangani Sekdakab Biruen. Entah prosedurnya memang  begitu atau bukan, tidak diketahui dengan jelas. Yang pasti, “mutasi siluman” itu diduga dilakukan secara diam-diam dan sarat kepentingan. Apalagi Busmadar melakukan hal itu saat Bupati Nurdin tidak berada di tempat. Waktu itu Nurdin sedang menunaikan ibadah haji.

Padahal sebelum berangkat ke sana, Nurdin sudah mewanti-wanti agar sepeninggalnya nanti, tidak boleh ada mutasi atau pergantian pejabat apapun di lingkungan Pemkab Bireuen. Tapi yang terjadi sebaliknya, Busmadar justeru “main belakang”. Dia tidak peduli dan tetap melakukan mutasi.

Sepulangnya dari tanah suci, Nurdin mendapat kabar, ternyata Busmadar telah “membangkang” di belakangnya. Hal itulah yang diduga sebagai pemicu utama Nurdin murka dan tak mau mengalah lagi. Dia membalasnya dalam dua kali mutasi. Dengan mendepak sejumlah pejabat yang berasal dari kubu Busmadar. Akibatnya, antara Teungku Nurdin dan Teungku Busmadar pun bicah (pecah) kongsi. Mungkin, ini sebuah gelagat buruk sebuah manajemen pemerintahan. Apa betul Teungku?***

Baca berita selanjutnya:

Baca berita sebelumnya: