Edisi 41 Tahun VII | Selasa, 2 Februari 2010 Jam 07:06
Unsyiah
Semoga tak Jadi Jantung Pisang
Koresponden Banda AcehSudah dibaca sebanyak 124 kali.

MODUS ACEH | Chairul
Unjuk rasa mahasiswa di seputaran kampus Unsyiah Banda Aceh.
Belasan mahasiswa Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, menggelar unjuk rasa di seputaran kampus. Menuntut rektor perguruan tinggi ternama itu transparan dalam mengelola dana.
Kekhawatiran civitas akademika Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, bakal ada aksi demontrasi mahasiswa terhadap rektor perguruan tinggi negeri itu, akhirnya terbukti juga. Selasa pekan lalu, belasan mahasiswa yang menamakan dirinya Forum Bersama (Forbes) Mahasiswa Unsyiah, turun ke jalan dan mengusung isu transparansi pengelolaan dana oleh Rektor Unsyiah, Prof Dr. Darni Daud.
Selain berorasi, para intelektual muda kampus ini, juga meneriakkan yel-yel. Isinya, menuding sang rektor tak terbuka dalam mengelola dana, baik yang berasal dari internal Unsyiah, bantuan asing maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). “Kami menuntut Rektor Unsyiah sebagai pimpinan tertinggi di Unsyiah untuk melakukan transparansi pengelolaan keuangan yang berlimpah di Unsyiah,” teriak Robby Firmansyah, koordinator aksi.
Bukan hanya itu, para mahasiswa juga menuntut Rektor Unsyiah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pendidikan di lembaga itu karena mendapatkan Akreditasi C. Termasuk memberitahukan kepada seluruh rakyat Aceh dan elemen yang ada di Unsyiah bahwa, BHP merupakan neraka bagi pendidikan di Indonesia dan juga di Aceh. Alasannya, BHP merupakan pisau pemutus hubungan tanggung jawab negara dengan rakyatnya yang berhak mendapatkan pendidikan sebagaimana diatur dalam konstitusi negara.
Aksi itu dimulai pukul 11.30 WIB hingga 12.00 WIB. Dalam aksinya, para mahasiswa menilai, transparansi dalam pengelolaan dana penting, sebagai cermin manajemen keuangan yang bersih. Tapi, keinginan itu malah jauh panggang dari api.
Menurut catatan Forbes, sejak tahun 2006 sampai saat ini, Rektorat selalu bernyanyi tentang manisnya transparansi pengelolaan keuangan ketika berhadapan dengan mahasiswa. Nyatanya, sampai sekarang nyanyian tersebut bohong belaka dan tidak pernah terwujud. Unsyiah yang mengelola banyak dana baik dari APBN, APBA maupun bantuan lembaga donor lainnya dalam bentuk hibah, namun tak pernah sedikitpun transparansi dalam pengelolaannya.
Setelah lima belas menit berorasi di Pintu Gerbang Unsyiah, para pendemo berjalan kaki menuju Biro Rektorat Unsyiah. Namun, belasan mahasiswa itu hanya sampai di pintu pagar belakang. Mereka batal masuk ke Gedung Rektorat Unsyiah. Dalam orasinya di luar pintu pagar Rektorat, Robby Firmansyah kemudian membacakan tiga tuntutan Forbes.
Sementara itu Pembantu Rektor (Purek) III Unsyiah, Dr Rusli Yusuf membantah tudingan mahasiswa tadi. Kata dia, penggunaan dana di Unsyiah sudah sesuai Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA). Dia mengaku penggunaan anggaran di Unsyiah sudah transparan. “Dana dari APBN, penggunaannya sesuai Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) yang kami usulkan. Jika ada penggunaan di luar DIPA, ketika diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan bermasalah,” kata Rusli.
Begitu juga dengan dana dari APBA, juga diaudit BPK, Inspektorat Aceh, dan Tim Anti Korupsi Pemerintah Aceh (TAKPA). “Sedangkan hibah dari donatur, pihak kampus hanya mengusulkan dan merancang program. Sedangkan pengelolaannya langsung oleh NGO bersangkutan,” kata Rusli.
Mengenai Akreditasi C, Rusli mengakui hal itu, karena ada fakultas baru. Misalnya, Fisip dan Kelautan yang belum terakreditasi, tetapi sedang proses pengurusan. “Kalau akreditasi fakultas lain, rata-rata mendapat A dan B,” sebutnya.
Soal BHP, menurut Rusli justru semakin menunjukkan tanggung jawab negara dalam bidang pendidikan. Dengan UU BHP, alokasi APBN untuk pendidikan minimal 50 persen. Sedangkan dari mahasiswa, maksimal untuk operasional kampus 33 persen. Biaya dari mahasiswa juga berkurang jika disubsidi dari pemerintah daerah melalui APBA.
Walau sudah mengeluarkan argumen, para mahasiswa yang tergabung dalam Forbes tak mudah percaya dengan alasan Rusli. Sebagai salah satu kampus terbesar di Aceh, menurut Koordinator Forbes, Robi Firmansyah, dari dulu hingga sekarang Unsyiah tak banyak berubah. “Unsyiah sangat dibangga-banggakan para petingginya kepada pihak luar, laksana seorang gadis desa yang menjadi idola di sebuah kampung. Seakan tanpa cela, Rektor Unsyiah berani mengikrarkan diri untuk menjadikan Unsyiah sebagai kampus BHP dan bergabung dengan kampus-kampus lainnya di Indonesia sebagai agen neolib untuk menjual institusi pendidikan kepada penguasa modal,” teriak Robi.
Bukan hanya itu sebut Robi, akreditasi dari Dirjen Dikti yang merupakan kebanggaan dari sebuah lembaga pendidikan, buktinya tak bersahabat dengan Unsyiah. Harusnya, akreditasi C tak layak dan menjadi tamparan bagi civitas akademika Unsyiah. Sebab, dana yang dimiliki Unsyiah saat ini begitu besar. “Kondisi ini sungguh memalukan jika insan Unsyiah masih punya tanggung jawab sosial terhadap Rakyat Aceh. Sungguh memilukan jika ada lulusan Unsyiah tak dianggap ketika bersaing dengan lulusan universitas lain di Indonesia. “Padahal, Unsyiah sering dielu-elukan sebagai jantung hati rakyat Aceh. Kalau kondisi ini dibiarkan terus, bukan mustahil akan menjadi “jantung pisang” bagi rakyat Aceh,” kata Robi Firmasyah, menutup penjelasannya kepada media ini.***
Baca berita selanjutnya: |
Baca berita sebelumnya: |